Tentang Hati

Tentang Hati
Dua Lelaki


__ADS_3

Menari, meliukkan seluruh anggota gerak, mengerlingkan mata dan melafalkan syair lagu membuat kami begitu menikmati malam yang belum genap menyentuh angka delapan. Keseruan yang ditawarkan oleh Maya dan Mas Rendra benar-benar kami sambut dengan gegap gempita.


Tak ada lagi kecanggungan perasaan dan gerakan antara aku dan Pak Aryan. Kami terlena hingga tak menyadari kehadiran Dion di ruangan ini. Ia sudah duduk di sofa dengan santainya. Punggungnya ia sandarkan sementara kaki kirinya ia silangkan di kaki kanannya. ia biarkan lengan kanannya terentang di puncak sandaran sofa. Sementara paha kanannya ia manjakan dengan sentuhan dari tangan kirinya.


Begitu ku sadari kehadirannya, langsung ku hentikan gerakku menikmati musik. Segera ku hamburkan diriku untuk duduk di sebelahnya. "Sudah lama?" ucapku dengan senyum serba salah. Keyakinanku akan kehadirannya jauh sebelum aku menyadarinya, sudah tertanam kuat di pikiranku meskipun dia belum menjawab pertanyaanku.


Dion tersenyum sambil mengacak rambutku. "Sudah cukup lama untuk melihat tunanganku menari dengan lelaki lain."


"Maaf, kawan, aku pinjam sebentar tunanganmu," izin Pak Aryan yang kemudian mendudukkan dirinya di sofa dekat kami.


Dion tersenyum smirk. "Lain kali, akan ku carikan seorang wanita untukmu, jangan ganggu wanitaku!"


Mas Rendra pun ikut bergabung dengan kami. "Jangan jadi workaholic makanya, nanti tunanganmu dipepet terus sama yang punya banyak waktu.


"Kamu nyindir aku, Ren?" tembak Pak Aryan.


Mas Rendra memamerkan cengirannya. "Malam ini jangan rebutan Rosa dulu, ya! Kita happy-happy," pinta Mas Rendra.


"Ngapain aku ikut rebutan? Rosa sudah jadi milikku," tutur Dion penuh keyakinan.


Dion menarikku lembut ke dalam pelukannya. Tak ku elak apa yang dia inginkan. Ku balas pelukannya tanpa segan di hadapan mereka. Lengkungan sempurna pada sudut bibirku membentuk sebuah senyum termanis. Tak ada lagi canggung yang ku perlihatkan.


"Mas Dion, pinjam Rosanya sebentar, ya, buat bantuin nyiapin makanan buat kita," pinta Maya.


"Mau buat apa?" tanya Dion melepaskan pelukannya.


"Sambal, Mas, buat tambahan cocolan ikan bakar. Sambal bawaannya kurang nendang," tutur Maya dengan celemek yang dipakainya.


Dion berdiri dan meminta celemek Maya, "Biar aku saja yang bikin sambal."


Maya ragu-ragu memberikan celemeknya. "Yakin, Mas?"


"Aku bakal bantuin dia," timpal Pak Aryan berikutnya.


Aku dan Maya hanya melongo dan saling pandang. Dua lelaki tampan sepakat duet mau bikin sambal. Apa lagi ini? Biarkan sajalah, daripada duel di ring kan mending duel di dapur.


"Lihat tuh dua lelakimu, akur bener," seloroh Mas Rendra.


"Adem ya, Mas, lihatnya," timpal Maya.


"Baguslah," jawabku sambil sesekali mencuri pandang ke arah mereka.


Pemandangan langka, dua lelaki tampan yang biasanya berkutat dengan berbagai laporan, kali ini berkencan di area masak memasak. Rasanya terlihat lebih se*si daripada hamparan roti sobek saat mereka menceburkan diri di kolam renang. Tak kalah mempesona dari chef-chef tampan profesional yang wara-wiri di televisi. Kalau hanya chef Juna yang cool saja, lewatlah.

__ADS_1


"Sa, mata!" teriak Mas Rendra mengagetkan fantasiku.


Buru-buru ku hilangkan jejak pandanganku dari kedua lelaki itu. Ku alihkan pada Mas Rendra dan Maya yang intens menatapku. Rasa tak enak, ku kamuflasekan dengan senyum canggung.


"Balik nang laptop!" Maya menirukan gaya Mas tukul memandu acara malamnya yang sudah dibungkus itu.


Kami kembali memfokuskan mata pada film yang sedang menampilkan adegan perpisahan Rahul dan Anjeli. Luka lama terkenang kembali. Bulir bening mengintip manja dari sudut mataku. Perlahan menetes dan mengalir menjelajahi pipi. Warna putih pada netraku berganti merah menandakan perubahan rasa yang memburai hati.


"Kalian, mudah sekali menangis," ungkap sebel Mas Rendra melihat air mata yang kami lelehkan hanya untuk sebuah adegan film.


"Sedih, Mas," Maya berucap dengan tisu yang lagi-lagi digunakan untuk menyeka air matanya.


"Kalian para lelaki mana ngerti perasaan begini," timpalku sesenggukan.


"Makanya kalian susah move on kalau putus cinta," ledek Mas Rendra.


*****


Dion PoV


Aku dan dia duet bikin sambal. Bukankah itu aneh? Tentu saja. Namun, aku menghargainya. Dia tidak canggung untuk berbaur denganku. Padahal diantara kami saling mengetahui perasaan masing-masing.


"Kamu, biasa masak?" tanyanya.


"Kita sepertinya anggota asosiasi laki-laki yang biasa mengerjakan segalanya sendiri," terangnya.


"Bukankah itu menyedihkan?" seruku mulai mengulek sambal.


Dia tersenyum, "Hmmm ...,"


"Aku pernah melihatmu pada acara rutin pengusaha muda di "Sky Hotel" bulan lalu, siapa kamu sebenarnya?" tanyaku untuk menemukan jawab rasa penasaranku.


"Aku juga melihatmu, rupanya kamu bukan orang sembarangan juga," terangnya.


"Ini sepertinya topik yang gak perlu dibahas lagi, kita sudah tahu jawabannya," paparku dengan senyum tulusku.


Bukan rahasia lagi jika acara rutin yang ku maksud adalah ajang berkumpulnya para pengusaha muda yang sukses mengembangkan bisnisnya di rentang usia dibawah empat puluh tahun. Aku melihatnya menghadiri acara tersebut, tentu saja bukan sebagai manajer, tapi sebagai pewaris tunggal "Najendra Grup".


Kenyataan itu tidaklah penting untukku. Siapa pun dia, tak akan mempengaruhi hubunganku denganmu. Sepuluh tahun waktu yang ku habiskan untuk memperjuangkan cintaku padamu, sudah lebih dari cukup untuk mengenal bagaimana pemikiranmu. Kamu bukanlah seorang perempuan yang tergila-gila dengan materi. Terbukti dengan penolakanmu terhadap perjodohan dengan Ardi, anak bungsu dari pengusaha properti yang sudah memiliki anak cabang usaha hingga ke Singapura.


"Hmmm ... pedes, tapi aku suka. Pas di lidahku," nilainya setelah aku memintanya untuk mencoba sambal buatanku.


Dia mengulang dua kali untuk mencicipi, "Selera kita sama".

__ADS_1


Kalimat ambigu, selera untuk apa yang ingin dia jelaskan. Entah mengapa pikiranku menduga jika selera samanya itu untuk urusan hati bukan urusan "kecapan lathi" alias sesapan rasa di lidah.


"Selera boleh sama tapi pemenangnya hanya satu," ucapku seraya melepaskan celemek dan siap menyajikan sambal di meja ruang tamu di mana semua makanan sudah siap disantap.


Ku lihat kamu mengangkat bahu. "Tak ada yang tahu jalan takdir untuk sebuah perjodohan Tuhan," dia pun melepaskan celemek dan mengikutiku kembali berkumpul dengan semuanya.


*****


"Mengapa menangis, Sayang? Apa Rendra menyakiti kalian?" tanya Dion saat melihatku dan Maya bergelut dengan tisu dan air mata.


Aku tak menjawab karena lidahku kelu dikalahkan oleh air mata. Dion seolah mengerti dengan jawaban apa yang tak bisa ku ungkapkan. Dia mengalihkan pandangannya pada layar televisi. Kemudian dia mencubit hidungku, "Kamu selalu begitu, Sayang, nonton film aja sampai menangis sesenggukan. Pantas saja waktu aku tinggal kemarin, kamu begitu merindukanku."


Ku pamerkan mata berairku. Tanganku menunjuk hati yang bersembunyi di dalam organ dalamku. Dion kemudian mengacak rambut di puncak kepalaku. Dia menghapus air mata yang meleleh menganak sungai. "Aku tak akan meninggalkanmu seperti Anjeli meninggalkan Rahul."


"Anjeli, sahabat yang terlibat cinta diam-diam," seru Maya dengan suara paraunya.


"Cinta yang sempat mengalah tapi pada akhirnya dipersatukan dalam bahagia," timpal Pak Aryan kemudian.


"Akankah seperti kisah Pak Aryan dan Rosa?" celetuk Mas Rendra yang mendapatkan tendangan dari Dion.


"Sudah-sudah, ayo kita makan, jangan terlarut dengan romansa percintaan fiktif mereka," Dion mulai mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan nasi putih, ikan bakar, lalapan dan sambal buatannya tentunya.


"A-ak ...," Dion menyuruhku membuka mulut.


Mulutku terbuka dan suapan manis dari tunanganku itu memanjakan lidah yang rindu akan kecapan rasa. "Sambalmu enak, pedesnya pas," nilaiku.


Suapan kedua, ketiga dan selanjutnya tetap dilakukan Dion. Disela-sela itu, dia sentuhkan juga suapan itu pada mulutnya.


"Pedes, minum dong!" pintaku dengan mulut menahan rasa puncak dari pedasnya cabe.


Sebuah gelas berisikan air putih segera mendekat pada bibirku. Segera ku teguk untuk sedikit menetralkan rasa yang membelenggu lidahku.


"Kalian berdua sigap sekali melayani Tuan Putri," goda Mas Rendra setelah melihat Pak Aryan yang segera tanggap mengambil segelas air saat aku kepedesan.


"Sayangnya, poliandri dilarang ya, Mas," goda Maya.


"Iya, Sayang, kalau saja poliandri diperbolehkan di masa yang akan datang, ku pikir merekalah yang akan pertama mendaftarkan diri," ungkap Mas Rendra dengan tawa mengejeknya.


"Aku akan jadi satu-satunya lelaki dihidupnya," tegas Dion sambil kembali menyuapiku.


"Aku tak akan menjadi yang ketiga diantara mereka. Akan ku tunggu sampai jadi satu-satunya," jelas Pak Aryan.


"Selamat, Sa, hidupmu tak akan pernah kesepian sepanjang masa, akan ada lelaki yang bergantian menjagamu dengan cintanya!" seloroh Mas Rendra dengan uluran tangannya untuk menjabat tanganku.

__ADS_1


__ADS_2