
Langit sore mengembuskan sepoi angin sejuk. Hangatnya sinar matahari memberikan keteduhan dari teriknya siang yang sudah beranjak perlahan. Di taman apartemen, kami menikmati tawa riang anak kecil yang tengah bermain. Melayangkan angan seandainya saja anak kecil itu adalah buah hati kami yang sudah besar.
"Mas, taman ini sangat ramah anak," celetukku seraya menikmati sepiring siomay berdua.
"Lagi bayangin momong anak di sini, ya?" goda Dion sambil menyuapiku seiris telur tanpa bagian kuningnya.
"Kayaknya cuma bisa bayangin deh, Mas. Bukankah kita harus segera pindah dari sini?" tanyaku tanpa memperlihatkan raut kesedihan.
"Mau pindah ke mana?"
"Ke hatimu," godaku berikutnya.
"Kenapa gak ke hatiku, aja?" sela sebuah suara yang pasti bisa ketebak dia siapa, Pak Aryan. Siapa lagi kalau bukan dia penghuni apartemen ini yang akrab dengan kami.
Tanpa ragu dia ikut nimbrung dan ikut mencicipi siomay yang sedang kami makan. Seolah tak merasa jijik, dia mencomot siomay hingga akhirnya kami makan sepiring bertiga. Seperti saudara sungguhan yang ramai-ramai makan bersama.
"Hatimu gak ada penghuni, Pak. Gak punya tetangga nanti," ucapku mengabaikan perasaannya yang mungkin saja bisa tersakiti.
"Makanya, huni dong!" balasnya enteng lagi-lagi mencomot sepotong pare.
"Dia penghuni hatiku, jangan main serobot aja!" timpal Dion sambil menyuapiku seiris siomay.
"Kalian tahu gak? Benci sama cinta itu beti, lho. Berantem terus, jangan-jangan jodoh," selorohku seraya mengambil irisan terakhir yang ada di piring.
Mereka berdua saling pandang mendengar kalimat nyelenehku. Dion sangat menolak pernyataanku, terlihat dari ekspresi tak terimanya. Sementara Pak aryan tetap santai, sama sekali tak terpengaruh. Membuatku sebel karena tak pernah bisa membuat lelaki jomblo itu marah. Sepertinya, emosi adalah hal terlarang dalam kamus hidupnya. Bukan lagi makruh tapi haram.
__ADS_1
"Pak, sepertinya kami belum bisa pindah besok atau lusa, kalau menunggu weekend, gimana?" tanyaku mengingat kembali pembicaraanku dengan Dion sebelumnya tentang pindah rumah.
"Emang kapan aku bilang kalian harus pindah?" timpal Pak Aryan dengan pertanyaan juga.
"Kami tahu aturan," sela Dion.
"Gak ada aturan begitu dalam keluarga," timpal Pak Aryan sambil menerima sepiring siomay lagi dari abang siomay yang baru mengantarkan.
"Hari minggu kami pindahan," celetuk Dion sudah menentukan hari. Padahal tadi kami belum membahasnya. Jangankan waktunya kapan, ke mana kami akan pindah pun masih menjadi misteri.
Kukernyitkan dahiku meminta penjelasan. Namun Dion justru bersikap sangat tenang seolah tak berkata apapun yang membuatku jatuh penasaran. Semakin kutajamkan penglihatan semakin Dion memberiku senyuman. Lelah mencari jawab lewat isyarat, kupilih bersuara.
"Mas, udah dapat tempat baru? Kos-kosan? Kontrakan? Rumah petak? Apartemen? Perumahan? PMI?" cercaku tanpa henti.
"Tetap tinggal di sana! Kalau kalian pindah apartemen itu aku jual pada orang lain," ancam Pak Aryan menyalahi perjanjian yang kami sepakati tadi pagi.
Ya ... Dion tak menerima begitu saja perjanjian jual beli antara dia dan Pak Aryan. Mereka bersepakat jika apartemen itu akan Dion beli lagi jika nanti ia sudah kembali memiliki uang. Kesepakatan tanpa hitam di atas putih. Berlandaskan kepercayaan yang akhirnya justru dimanfaatkan Pak Aryan sebagai senjata untuk mengancam.
Apakah Dion sudah salah menaruh kepercayaan? Tidak. Dia hanya tidak tepat mengambil keputusan. Pak Aryan tidak akan membiarkan kami berjauhan. Dia pindah ke sini pasti juga untuk mengikis jarak. Jadi, tak akan pernah dia mengikhlaskan kami meninggalkannya sendirian. Aku tahu lelaki itu kesepian dan membutuhkan teman. Dan kami adalah teman yang dia punya. Mungkin bukan satu-satunya, tapi kami adalah sahabat yang paling dekat.
Keluarga kami pun adalah keluarga nomor dua baginya. Sebagai anak tanpa saudara dengan orang tua tunggal yang disibukkan dengan banyak pekerjaan, sudah pasti dia banyak menghabiskan waktunya seorang diri. Apalagi statusnya tanpa pasangan, bukankah itu sangat menyedihkan?
"Tak kusangka kamu bertindak curang," timpal Dion, tentu saja kata itu tak keluar sungguhan dari hatinya.
"Untuk apa aku pindah ke sini kalau akhirnya kalian tinggalkan sendiri?" ujar Pak Aryan yang membuat hatiku trenyuh.
__ADS_1
Kusikut lengan Dion pelan. Memberinya kode untuk tak lagi mendebat. Kalimat Pak Aryan bukan lagi candaan. Ada kesedihan yang tersirat. Aku menangkap maksud di balik kalimat itu. Dia tak ingin ditinggalkan seorang diri kali ini.
Dion mengerti, dia beranjak mendekati Pak Aryan dan menepuk pundaknya pelan. Meninggalkanku berdua dengan dalih membayar siomay padahal dia ingin aku menghibur hati teman lelakinya itu. Mengesampingkan rasa cemburu yang kadang datang, ia membiarkan aku bicara berdua dengan rival kamuflasenya.
"Bang," panggilku ketika kami bicara serius. Panggilan itu akan kembali menjadi Pak saat kami bercanda.
"Abang sudah begitu baik pada kami. Aku dan Mas Dion Sayang sama Abang. Namun, kalau harus menempati apartemen yang sudah kami jual, Mas Dion yang akan kehilangan harga dirinya, Bang. Bukankah Abang tau, bagaimana tingginya gengsi dan harga diri suamiku itu? Aku harus berbakti padanya tapi juga tak bisa meninggalkan Abang. Jadi, biarkan aku membujuk Mas Dion. Dan aku minta, Abang jangan membiarkan kami tinggal cuma-cuma."
Pak Aryan melihatku sejenak tanpa mengedipkan mata. Senyum yang tadi bersembunyi perlahan mulai menampakkan diri. Tangannya perlahan mengacak puncak kepalaku tanpa ragu. Aku yang sebenarnya was-was jika Dion melihat. Takut jika kecemburuannya kembali datang. Menghancurkan kepercayaan yang sudah Dion berikan dan usahaku membujuk Pak Aryan.
"Kalian adalah keluarga yang aku miliki. Kesampingkan rasa tidak enak hati padaku, seperti aku mengesampingkan semua perasaan yang ada di hati. Bersama kalian, hanya itu yang aku inginkan. Biarkan aku menjadi Abang dan bersiap disebut sebagai uncle oleh buah hati kalian."
Kuusap lengannya dengan lembut. "Kita keluarga, Abang adalah kakak sulung yang kami sayang."
Kulihat senyum itu mengembang sempurna. Bahagia bisa melihatnya kembali seperti Pak Aryan yang selalu menawarkan tawa. Tak pernah bersedih dengan kesendirian yang kuyakin itu pasti menyesakkan. Seberapa pandai dia menyembunyikan rasa sepi, pasti di saat dia sendiri, rasa ingin memiliki itu datang menghampiri.
"Bang, minta siomaynya lagi!" pintaku memecah suasana.
Pak Aryan memilih kol yang sudah dipotong menjadi beberapa bagian. Dicocolkan pada bumbu dan siap menyuapiku. Tiba-tiba uluran tangan lain mengambil alih sendoknya dan mendekatkan pada bibirku.
"Makanlah, Sayang. Hanya suapan suamimu yang bisa menyulap siomay ini hingga memiliki rasa yang luar biasa lezatnya," ucap Dion dengan senyum smirknya.
Aku hanya geleng-geleng dengan kelakuan suamiku yang penuh cemburu itu. Kuterima suapannya sambil melirik pada lelaki lain yang ada di belakangnya. Sedang tersenyum juga. Jika begini bahagiaku sempurna. Suamiku sudah kembali begitu pula dengan Abang apartemen depan. Persaingan dalam pengertian yang bisa memilih waktu yang tepat.
Lelaki di sampingku ini memiliki kebaikan hati yang sama. Aku beruntung bisa dihadirkan diantara mereka. Meskipun dengan status yang berbeda, mereka tetap menyayangiku tulus. Jika saja aku bisa membelah diri, pasti aku meminta Tuhan untuk memberikan mereka kebahagiaan.
__ADS_1