
Efek obat yang ku minum tadi pagi berhasil membuatku terlelap selama 3 jam. Selain ampuh untuk membuatku istirahat, obat itu ampuh juga untuk mengusir penyakit yang bersarang di perutku ini. Saat terbangun ku melihat Dion tengah fokus dengan laptop di depannya. Aku pun tak mau menyadarkannya jika aku sudah bangun. Ku curi-curi pandang padanya.
"Andaikan kamu gak ada di sini, bagaimana aku bisa melewati ini, Di?" batinku dengan mata masih tetap memandangnya.
Ku pejamkan mataku perlahan. Membayangkan yang akan terjadi ketika Mas Rud pergi dan aku harus sendiri melewati ini.
Rasanya aku gak sanggup!
Tok-tok-tok!
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar rawatku. Dion menolehkan pandangannya ke arah pintu. Nampak Kristy melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
"Mas Dion, Mbak Rosa tidur?" tanya Kristy saat melihat mataku terpejam dan Dion menoleh ke arahnya.
"Masuk Kris! Sebentar lagi Mbakmu akan bangun kok," jelas Dion.
"Ini aku bawain makanan, Mas!" Kristy menyerahkan kantong warna ungu yang dibawanya.
"Gimana keadaan Mbak Rosa, Mas?" Kristy ingin tau.
"Alhamdulillah, sudah jauh lebih baik Kris, semoga besok udah boleh pulang," jawab Dion.
"Syukurlah, Mas!" ucap Kristy sambil menatapku.
"Gimana, Tante?" Dion tanya balik.
__ADS_1
"Tinggal pemulihan Mas, asalkan pikirannya gak terbebani lagi, inshaa Allah akan segera sehat seperti sebelumnya," Kristy menjelaskan.
"Alhamdulillah, jaga Tante Kris, biar aku disini yang jaga Rosa. Bilang Tante, Rosa akan baik-baik saja," kata Dion.
"Iya, Mas. Terimakasih ya, Mas, udah jagain Mbak Rosa!" ucap Kristy.
Aku membuka mataku setelah ku rasa pembicaraan mereka selesai.
"Kris," panggilku
Kristy berjalan ke arahku dan duduk di kursi sebelahku
"Mbak Rosa udah sehat?" tanya Kristy
Kristy pun memelukku dan dia malah menangis.
"Kok, malah nangis?" tanyaku.
"Jangan sakit lagi, ya, Mbak! Kami sayang Mbak Rosa," Tangisan Kristy semakin keras.
"Iya, ini sudah sehat," aku sok tegar.
Tegar menghadapi penyakitku dan masih rapuh jika harus mengingat kacaunya perasaanku. Aku tau, kata-kata Kristy dan tangisannya itu bukan mengarah pada sakitku ini, tapi pada perasaanku yang getir.
"Jangan nangis, malu tuh sama Dion!" kataku memecah kesedihan.
__ADS_1
"Mbakmu, akan bahagia di sini, jangan kau tangisi," Dion meyakinkan.
Perlahan Kristy dapat menenangkan dirinya. Ia tak lagi meneteskan air matanya. Hanya sesekali masih sesenggukan.
"Kamu jaga Mama, ya! Yakinkan beliau, untuk tidak terbebani dengan masalahku. Tunggu aku pulang dan akan menyelesaikan semua ini," pesanku pada Kristy.
Kristy mengangguk, dan memelukku erat. Ku belai rambutnya memberikan penguatan padanya.
*****
Sepeninggal Kristy, Dion mendekatiku dan duduk di kursi yang di tinggalkan adik tersayangku. Dia menatapku dan lagi-lagi memamerkan senyumnya.
"Kamu tegar apa sok tegar, Sa?" goda Dion padaku.
"10 tahun, belum bisakah membuatmu tau, aku jujur atau bohong Di?" ku balikkan kata-kata Dion.
Dion kembali mengulas senyumnya mendengar kalimatku.
"Berbahagialah! Jangan biarkan hatimu terus dikuasai kesedihan," nasihat Dion sambil mengelus rambutku.
Kata-kata Dion itu lembut didengar namun punya arti yang dalam. Aku mencoba mengulas senyum. Dion memahami arti senyumku dan kembali membelai rambutku.
Tiba-tiba, pintu kamarku kembali di ketuk dari luar. Aku dan Dion spontan melihat ke arah datangnya suara tersebut.
Perlahan pintu terbuka dan ....
__ADS_1