Tentang Hati

Tentang Hati
Pikir mereka


__ADS_3

Mas Rendra PoV


Suasana acara lamaranku dan Maya mulai sepi. Para tamu sudah mulai meninggalkan ruangan ini sejak 30 menit yang lalu. Tinggal keluarga besar kami yang masih asyik mengobrol.


"Alhamdulillah, acaranya berjalan lancar ya, Yah," Bundaku nampak bahagia.


"Iya Bun, awalnya Ayah deg-degan," Ayahku mengelus dadanya.


"Kok, ayah yang deg-degan," Bunda tak mengerti.


"Takut kayak yang di TV-TV kali, Mbak," Om Septian ikut bersuara.


Bunda mengernyitkan dahinya. Belum mampu menemukan teka-teki yang dimainkan Ayah dan Om Septian. Melihat itu, Ayah dan om Septian justru senyum-senyum.


"Ayah, jangan senyum-senyum, kasih tau dong!" Bunda memaksa.


"Takut ada perempuan datang, terus ngaku-ngaku dihamilin sama Rendra," Om Septian tertawa ngakak.


Bunda langsung mencubit lengan om Septian. Tak cukup itu saja derita yang dialami Om Septian, karena sebuah tendangan juga ku layangkan ke kakinya yang berbalut celana panjang berwarna krem itu.


"Kamu pikir, aku lelaki seperti apa?" aku mendengus.


"Hanya kamu yang tau jawabannya," kekeh Om Septian.


Aku semakin kesal mendengar celotehan omku tersebut.


"Sayang, jangan terpengaruh Om Septian, dia iri sayang, lihat aku laku duluan!" ucapku sambil memeluk Maya di hadapan semua orang.


Maya terlihat malu dengan perlakuanku kepadanya.


"Bunda, sepertinya Rendra sudah ngebet nikah nih, apa perlu kita percepat saja akadnya?" goda Ayah.


"Ide bagus Ayah, biar kita cepet dapet cucu," Bunda ikutan menggoda.


"Dengan senang hati, Ayah," aku sangat antusias dengan ide sang ayah.


"Hmmmm ... gimana, ya? Gak jadi deh!" Ayah semakin menggoda.


Aku memanyunkan bibirku karena sadar telah dikerjain oleh ayahku sendiri.


"Mana Dion dan Rosa, kok gak keliatan dari tadi?" Om Septian tiba-tiba ingat.


"Dion apa Rosa yang Om cari?" selidikku.


"Rosalah, ngapain cari Dion?" jujur Om Septian.


"Om udah siap, dihajar Dion? Berani-beraninya gangguin Rosa," aku mengingatkan.


"Sumpah deh, si Rosa tu punya inner beauty yang woww banget, pantesan Dion kejar mati-matian," Om Septian mengungkapkan.


"Rosa emang manis, apalagi kalau tersenyum," Bunda menambahkan.


"Ayah, jadi mau juga," Ayah ikut berkelakar.


"Aaayaaaaaaahh," ucap Bunda sambil mencubit manja lengan ayah.


"Ono opo to iki, kok rame men?" suara Eyang Putri ikut meramaikan obrolan keluarga kami.


"Mas, mau nambah istri lagi, Bu" jelas Om Septian nakal.


"Hust, saru! Kudune kowe yo le, sing ngenalne calonmu ning ibu," jelas Eyang Putri.

__ADS_1


"Tuh Om, masa kalah sama Rendra," aku memanas-manasi.


"Aku maunya Rosa, Bu!" jelas Om Septian.


"Rosa yang gak mau sama kamu, Om, Dion yang bucin aja dianggurin, apalagi Om," tandasku.


Keseruan obrolan kami terhenti setelah Dion datang.


"Eyang, maaf Dion pamit dulu, nanti malem Dion bakalan temuin Eyang lagi. Sekalian pamitin Rosa," pamit Dion sambil mencium tangan eyang putri.


"Om, Tante, Dion duluan, ya," ucap Dion sambil buru-buru meninggalkan ruangan itu.


"Kenapa tuh, dia, buru-buru amat," Om Septian curiga.


"Ada sesuatu yang penting paling. Kan kita semua tahu, kalau Dion paling semangat kumpul-kumpul keluarga gini. Jadi gak mungkin ngilang kalau gak penting." aku menjelaskan.


Semua orang menyetujui penjelasanku. Dion memang tipe orang yang sayang keluarga. Rosa yang notabene nyuekin dia 10 tahun aja tetep diperhatiin, apalagi keluarga yang punya hubungan darah.


Ya ... itulah Dion!


Semakin mengenalnya, maka akan semakin menemukan kenyataan bahwa dia itu sangat mengagumkan.


*****


Mobil Dion melaju meninggalkan acara lamaran Maya. Lantunan lagu Cakra khan-Kekasih Bayangan ZX menjadi teman yang menyuarakan sepi di ruang kemudi tersebut. Tak ada bibir yang bergerak mengalunkan kata. Suasana hening ini, sepertinya tercipta, karena kesepakatan yang diajukan oleh Dion. Dia memintaku untuk tak lagi membahas masalah Dion di lamaran Maya tadi.


Dan inilah yang terjadi, kami berdua saling terdiam.


"Lagu siapa nih,cbagus," kataku mulai bicara.


"Laguku," jawab Dion sambil tersenyum.


"Cakra Khan, bukan, sih," tanyaku lagi tak menggubris jawaban Dion.


"Ihh ... beneran aku, Di," aku geregetan.


"Coba dengerin dulu lagunya sampai selesai!" pinta Dion.


Aku pun lantas mendengarkan lagu itu dengan sepenuh hati. Sungguh melodi yang menghanyutkan. Seakan menyenandungkan suasana hatiku kali ini.


"Ada yang baper, kayaknya," ucap Dion memecah keseriusanku.


"Sedih, aku, Di," ceritaku.


"Kenapa?" tanya Dion sambil menoleh ke arahku.


"Kasihan yang jadi kekasih bayangannya, nyesek," jawabku.


"Baru denger gitu aja kamu dah sedih, Sa, aku ngalamin sepuluh tahun biasa aja," tukas Dion sambil melirik manja ke arahku.


Mendengar pengakuan Dion, aku mengarahkan pandanganku tepat di sudut mata kirinya. Sorot mata itu begitu teduh dan lembut. Berbeda dengan sorot mata yang ku temukan beberapa waktu yang lalu.


Aku yakin, mata itu telah melalui banyak kisah untuk menemaniku.


Mata yang teduh, saat menghangatkan perasaanku.


Mata yang menyipit, karena tawa untuk membahagiakanku.


Mata yang berair, karena melihat aku terluka


Dan mata yang garang, karena harus menahan amarah.

__ADS_1


"Kenapa melihatku seperti itu? Apa kamu sudah siap jatuh cinta kepadaku," Dion menggodaku.


" Aaaaa ...?" aku tergagap karena Dion membuyarkan lamunanku dan juga atas pertanyaannya yang to the point.


"Jangan berlebihan memperhatikan wajahku, emang kamu gak tau kalau wajahku ini penuh pesona," Dion tersenyum penuh arti.


Kenarsisan Dion itu menggema hebat di ruang dalam telingaku.


"Sebegitu mempesonanyakah dirimu," aku sengaja mendekatkan wajahku dengan wajahnya.


"Coba aja, asal jangan nyesel kalau tergoda," celetuk Dion.


"10 tahun aja aku gak tergoda, masa yang cuma beberapa menit bisa membuatku jatuh cinta," yakinku.


"Mana pernah, kamu menatapku selama 10 tahun bersamaku," Dion mengingatkan.


Begitukah?


Selama 10 tahun bersamamu, bagaimana aku memperlakukanmu, Di?


Hmmmm ....


Aku tak mengingatnya.


Kok, bisa sih?


Apakah 10 tahun itu, tak meninggalkan seberkas kisah pun antara kita?


Selain kisah pedih penolakanku tentunya.


Daaannn ....


Aku ingat!


Aku ingat bagaimana awalnya, saat kamu mulai memainkan matamu di mataku.


Waktu seragam putih-biru, membalut tubuh ABG ku, kau adalah teman sekelasku.


Dion ... kau duduk di bangku sebelahku. Tiap waktumu, kau habiskan untuk menatapku.


Saat aku tak sengaja melihatmu, kau melihatku.


Saat aku tak sengaja melihatmu lagi, matamu masih menatapku.


Begitu ....


Begitu dan terus begitu.


Satu jam.


Satu hari.


Satu tahun ajaran.


Satu tingkat kenaikan masa sekolah.


1 Dasawarsa.


Dan sampai detik ini, kamu masih tetap menatapku.


Aahh ... Di!

__ADS_1


Aku bisa gila, jika membayangkan jadi kamu!


"Apa kamu baru menyadari, kalau aku segila itu karena mencintaimu?" Dion membuyarkan ingatanku.


__ADS_2