
Kurasakan sisi ranjang sebelahku yang tadinya kosong kini telah berpenghuni. Tunggu! Bukannya tadi aku sedang di sofa? Kok sekarang sudah ada di sini? Dionkah yang memindahkanku? Kurasa memang dia. Siapa lagi yang akan melakukannya jika bukan suamiku ini? Tepatnya, siapa yang berani melakukan itu jika ada Dion di sampingku.
Kupandangi wajah yang tengah terlelap ini. Tenang dan memancarkan sebuah ketampanan yang tak bisa ku sangkal. Perlahan, kuulurkan tanganku, membelai pipinya. Mengingat jika aku baru saja membuatnya kecewa. Kewajiban yang seharusnya kutunaikan, harus menjadi sebuah dosa karena aku yang terbawa rasa. "Maafkan, aku."
Lagi, kupandangi wajah ini tanpa jeda. Bibir indah yang tebal, begitu mengganggu pikiranku. Bukan karena terbawa nafsu semata. Namun juga terantuk ingatan sebuah helaan napas panjang yang lolos dari sana. Kekecewaan karena aku menolaknya. Kudekati benda kenyal itu, sedikit memiringkan kepala dan tanpa ragu aku menyentuhnya dengan bibirku juga.
Sebuah kecupan kecil yang kubiarkan menghangatkannya. Melepaskan sedikit rasa bersalah karena tadi kubiarkan dia melepaskan hasrat kekecewaan. Kubenamkan kepalaku di sisi tubuhnya. Melingkarkan lengan kiriku di perutnya dan kembali memejamkan mata.
*****
"Rud sudah berhasil dibebaskan, Yang," ucap Dion setelah selesai mengangkat telepon.
Mendengarkan kalimat itu, rasanya tubuhku seperti baru saja ter-charge. Semangatku kembali menggelora. Binar wajahku semakin cerah dan tentu saja senyumku merekah. "Alhamdulillah, dia baik-baik, saja, kan?"
Dion tersenyum. Aku bahagia, itu artinya tidak ada lagi kekhawatiran yang harus kutujukan padanya. Mobil yang kutumpangi terus menembus kemacetan pagi. Kelegaan ini menghilangkah jenuh yang biasanya bertahta kala harus bersitegang dengan hiruk pikuk jalanan kota yang tiada pernah sepi.
"Kamu, bahagia?" tanya Dion dengan senyum merekah yang kurindukan setelah perselisihan semalam.
"Aku lega," balasku untuk meredam sebuah kecemburuan jika saja rasa itu ada di hatinya.
"Nanti malam, ada jatah berarti, ya?" goda Dion dengan senyum nakalnya.
"Maaf, Anda belum beruntung, Tuan Dion Wijaya. Palang Merah ...!" seruku dengan setengah mengejek.
"Serius?" Dion menelisik lebih jauh, berharap aku hanya bercanda dan memang begitu kenyataannya. Aku hanya iseng menggodanya.
"Serius," jawabku dengan ekspresi sedih.
Dalan hati, aku tertawa karena bisa mengerjainya. Maafkan! Bukan bermaksud keterlaluan dengan mempermainkan suatu hasrat yang harus disalurkan dengan benar, tetapi aku hanya ingin memberikan sebuah kejutan. Sebenarnya tak tega juga ketika melihat raut mukanya, ingin segera membongkar permainan. Namun kepalang tanggung, toh hanya sekitar dua belas jam lagi, semua kebohongan ini akan selesai.
"Puasa, dulu!" ucapku sambil mencium punggung tangannya dan segera keluar mobil karena kami sudah sampai di depan kantorku.
*****
__ADS_1
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Pak Aryan yang kebetulan bertemu di lift.
"Habis ngerjain suami," jujurku dengan cengiran senyum.
"Dosa, tau," selorohnya santai.
"Sekali, ini," aku mencari pembenaran untuk sikapku yang tak pantas ditiru.
"Jangan-jangan yang semalam juga kamu kerjain?" telisik Pak Aryan dengan nada menuduh.
Semalam? Ada apa dengan semalam? Oh ... aku ingat! Semalam Dion pamit nyamperin Pa Aryan. Apakah mereka menjadi teman curhat sekarang? Ish!
"Semalam, apa?" aku meyakinkan jika pikiranku salah. Dion mana mungkin ember. Kalau Pak Aryan yang bisa menerka ekspresi Dion, aku baru percaya. Karena lelaki matang itu memang kadang suka benar dengan tebakan pikirannya.
"Semalam, suamimu kusut di apartemenku. Kasihan, dia! Jatah malamnya kamu pending," jelas Pak Aryan tanpa canggung.
Dion ...!
Bisa-bisanya dia membocorkan rahasia ranjang ke luar rumah.
Mungkin saja dia bisa membaca raut wajahku. Ekspresi sebal terpancar jelas karena aku memang tak pandai bersandiwara. Atau bisa juga ia asal menebak tetapi kebetulan benar adanya. Biarlah!
"Berikan jatah suamimu! Dosa kalau kamu menolaknya, apalagi karena lelaki lain. Kalau suamimu itu bukan Dion, kurasa kau sudah didiamkan," terang Pak Aryan sebelum melangkah keluar karena pintu lift sudah terbuka.
Tertegun sebentar. Aku mencermati kalimat Pak Aryan yang memang benar adanya. Aku harus segera minta maaf, itu langkah pertama yang harus kulakukan. "Aww ...," pekikku karena kaget ada seseorang yang menarik tanganku menjauhi lift yang mulai tertutup.
"Mau turun lagi? itu lift udah mau jalan, liat!" ucap Pak Aryan setelah berhasil membawaku keluar dari lift.
"Terimakasih, Pak," ucapku seraya berjalan di belakangnya.
"Yang harus kamu lakukan sekarang ini bukanlah mengucapkan terimakasih padaku tapi fokus, jangan kebanyakan melamun," terang Pak Aryan sambil terus berjalan dengan gaya elegannya.
"Nih, minum! Katanya iklan yang di televisi, kalau gak fokus itu karena gak minum AKUBE," sebotol air mineral yang diambil dari nampan Bang Kotan yang kebetulan lewat, ia serahkan ke tanganku.
__ADS_1
Ia tersenyum dan kemudian meninggalkanku yang tengah berdiri terpaku karena tiba-tiba dihadiahi minuman layaknya iklan yang sering aku tonton. Kutimang-timang botol itu dan sejenak kemudian tersenyum. Segera menuju meja, duduk dan membuka segel botol tersebut. Meneguknya dan berpikir, benarkah Pak Aryan setulus itu dengan perasaannya?
*****
Teleponku berdering sekitar setengah jam sebelum jam kantor berakhir. Nama suamikulah yang terpampang di layarnya. Tanpa menunggu lama, langsung kuangkat dengan penuh senyuman. Mungkin inilah saatnya aku meminta maaf. Bukan karena atas nasihat Pak Aryan, tapi juga karena kesadaranku sendiri.
"Aku nanti pulang telat dari kantor, kamu pulang duluan aja, ya," kabar yang ia sampaikan dengan segera.
"Baiklah, kamu gak usah khawatir. Jangan pulang terlalu malam, ya!" pintaku dengan sebuah kalimat yang aku simpan di hati "Ada kejutan nanti malam".
"Iya, apakah kamu sekarang tidak bisa berpisah lama dariku?" godanya setengah tertawa.
"Yaaa ... mungkin begitu," akuku malu hingga memilih kalimat yang tidak terang-terangan mengakui.
"Pengen gemesin, deh," godanya dari ujung sana yang sanggup membuatku tersipu malu.
"Udah, jangan diterusin! Aku takut makin gak bisa lama- lama jauh darimu" ucapku untuk mengakhiri godaannya.
"Ya udah, pulangnya hati-hati! Kalau Aryan pulang cepet, bareng dia aja, gak 'pa 'pa," suruh Dion yang membuatku langsung ingin menyela sebuah pertanyaan.
"Gak cemburu?" tanyaku santai.
"Aku percaya sama dia, tapi ... kalau kamu ...?" kalimatnya digantung.
"Aku juga bisa kamu percaya, seratus persen. Eh ... 99,9999 persen deh," klarifikasiku.
"Yang 0,0001 persen?" telisiknya.
"Khilaf," seruku sambil tertawa.
"Ya sudah khilaf aja, palingan khilafnya juga apa? Membelai setengah helai rambut cepaknya," ejek Dion yang justru membuatku terkikik.
"Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya, ya. Nanti kalau terus-terusan ngobrol, pulangku makin malam. Aku merindukanmu istriku, Sayang. Mmuuuaaacchh ....," ujarnya mesra sebelun menutup panggilannya.
__ADS_1
Aku hanya sanggup senyum-senyum sendiri dengan semua kelakuan manisnya. Merasa sangat dicintai, dihargai dan diberi kebebasan dalam batas. Karena sesungguhnya cinta itu bukan hanya sekadar saling menjaga tapi juga saling percaya.