Tentang Hati

Tentang Hati
Sepi Sendiri


__ADS_3

Suasana kantor benar-benar sepi tanpa mereka. Aku meredam kekacauan hatiku dan memilih fokus dengan kerjaan yang menumpuk. Secangkir kopi duduk manis disebelah laptopku. Ku seruputnya selagi panas untuk menghilangkan kantuk yang melekat erat di mataku.


Aku menjadi acuh dengan kesehatanku. Makan siangku, ku lewatkan begitu saja. Nafsu makanku sedang minus, tak ada selera.


Jam kantor yang sudah berakhir pun, tak lantas membuatku beranjak untuk pergi. Melemburkan diri adalah jawaban yang paling tepat untukku. Hingga pukul 20.00 aku setia menatap laptopku.


"Aku tetap harus pulang!" gumamku.


Ku bereskan mejaku dan ku langkahkan kaki menjauhi ruanganku. Langkah demi langkah, akhirnya menuntunku pada sebuah kedai bakso di ujung jalan sekitat 500m dari kantorku.


"Bakso urat dan jeruk angetnya, Mbak," ucap Mbak yang mengantarkan pesananku.


Ya ... makanan inilah yang akan menghuni perutku seharian ini. Mangkuk ini cepat sekali ku kosongkan. Berharap dengan kosongnya mangkuk ini, HPku yang sedari tadi sunyi akan sedikit ramai. Walaupun setelah ku tunggu tetap saja "ZONK".


*****


Hariku yang sepi menjadi sempurna dengan malam yang sunyi juga. Tak ada kabar apapun dari Mas Rud.

__ADS_1


"Mungkin dia sibuk," aku berusaha positif thinking.


Ku utak-atik HPku, berharap ada WA masuk.


Sepi ... sepi ... sepi ....


Alangkah menyiksanya kesendirian ini.


Tak ada Mas Rud yang ku rindukan gombalannya. Tak ada Maya dan Mas Rendra yang jahil. Dan tak ada mama yang ku sayangi, meskipun sering kali aku berselisih paham dengan beliau.


Ya ... Mama sedang menginap di rumah eyang. Dan itu membuatku sangat ketar-ketir. Akan ada suatu prahara lebih besar, yang akan terjadi setelah ini. Aku yakin mama sedang menghadapi pengadilan di rumah eyang.


*****


Hari ke dua berjalan seperti hari kemarin. Kadar kesepianku lebih tinggi, sehingga menurunkan fokus kerjaku. Tak ada sarapan, makan siang dan mungkin makan malampun aku lewatkan. Aku juga bingung, kenapa rasanya aku gak merasa lapar.


Tak ada makanan di perutku, sejalan dengan tak ada kabar berita dari Mas Rud. Entah kemana kekasih yang ku cintai itu!

__ADS_1


*****


Hari ketiga, kesepianku semakin akut. Keacuhanku pada makanan, juga semakin tak terkendali. Aku seperti lupa bahwa aku manusia yang butuh makan. Entah kapan terakhir kali, yang namanya nasi itu ku suapkan ke mulutku.


Yang dipikiranku, hanyalah menghilangnya Mas Rud secara tiba-tiba. WA ku dibaca tapi tak dibalasnya. Teleponku dibiarkan tanpa jawaban.


Apa yang terjadi?


*****


Hari keempat,


Seharusnya Mas Rud sudah kembali dari kemarin, tapi sampai jam makan siang tak ada tanda-tanda ia akan datang ke kantor.


Maya dan Mas Rendra pun seakan hilang ditelan bumi. Mengapa mereka seolah sudah merencanakan untuk pergi dariku tanpa kabar? Ada tanya besar yang bergelayut di otakku.


Otakku memanas karena ku paksa untuk terus berpikir. Kepalaku terasa pusing dan berputar-putar. Perutku terasa melilit dan semakin sakit yang tak tertahan. Badanku melemah dan aku hilang kendali atas kesadaranku.

__ADS_1


Ku rasakan semua menghitam. Pandanganku gelap dan aku tak dapat melihat. Tapi telingaku, masih dapat ku mendengar dari kejauhan. Sayup-sayup suara yang memanggil-manggil namaku. Sekali, dua kali dan berulang-ulang. Hidungku terus saja membaui aroma minyak kayu putih yang khas! Ingin ku buka mata, tapi rasanya berat dan teramat berat.


Aku tak berdaya.


__ADS_2