
Jumat, hari yang amat ku tunggu di minggu ini. Malam ini aku akan meninggalkan Jakarta untuk menghadiri pernikahan Maya dan Mas Rendra. Keberangkatanku ke Yogya akan ditemani Dion. Meski acara pernikahannya masih hari Minggu, namun aku harus berangkat sekarang. Mas Rendra adalah sepupu Dion, bagaimanapun ia harus ada sebelum hari H. Sementara, ia juga tidak mungkin membiarkanku pergi sendiri. Alhasil Dion memutuskan untuk berangkat malam ini.
"Ma, kami berangkat dulu, ya," pamitku pada Mama sebelum kami berangkat ke stasiun.
Mama memberiku pelukan hangat. "Kalian kan di Yogya hanya dua atau tiga hari, kenapa menangis? Kayak mau dibawa suamimu ke rumah mertua saja," goda Mama melihatku bercucuran air mata.
"Iya, Ma, kayaknya Rosa berharap bisa lama di Yogya, nih. Mungkin pengen dinikahin sekalian," Dion ganti menggoda sambil menyalami Mama.
Mama kemudia mengulur senyumnya. "Nikahin sekalian, aja. Sepertinya dia sudah gak bisa pisah darimu."
"Mama kok gitu sih, aku kan jadi seneng," jujurku.
"Tuh kan udah ngarep," celetuk Kristy yang sedari tadi sibuk memasukkan barang-barangku ke bagasi.
"Kalian seneng banget kalau aku buru-buru keluar dari rumah ini," gerutuku sambil membuka pintu mobil.
Dion pun mengikuti masuk mobil, dia duduk di belakang kemudi. Dia tetap yang menyetir walaupun judulnya diantar Kristy. "Sayang, di depan, dong! Emangnya aku sopir?"
"Kasihan kalau Kristy harus sendirian di belakang," alasanku.
"Pindah aja, Mbak! Aku udah kebal jadi obat nyamuk kalian," papar Kristy santai.
Berpindah tempat duduk pun akhirnya ku lakukan. Bukannya turun, aku malah menerobos sela kursi yang ada di bangku depan. Berhasil terduduk manis di bangku samping sopir tanpa adanya kesulitan berarti. Aku pun membenahi pakaianku yang sempat berantakan dengan aksiku tadi.
"Mas Dion gak nyesel cinta sama Mbak Rosa? Jadi cewek kok gak ada elegan-elegannya di depan cowok," celetuk Kristy mengomentari aksi pindah dudukku.
"Aku pencinta cewek bar-bar, Kris," Dion membeberkan fakta gila.
"Kalian emang pasangan abnormal," nilai Kristy.
Mobil pun berjalan memecah keramaian jalanan. Melewati serangkaian kemacetan dan akhirnya sampailah di stasiun Gambir. Mobil berhenti dan semua barang diturunkan Dion dari bagasi.
"Kamu langsung pulang saja Kris, gak usah nungguin kami masuk, nanti kemaleman," suruh Dion sambil memberikan beberapa lembar kemerahan.
"Mbak, ingat ya yang aku ajarkan semalam! Jadi putri keraton yang manis. Jangan petakilan di rumah calon mertua!" pesan Kristy sok tua.
Dion yang mendengar hanya tersenyum saja. Ia sudah sangat hafal, bagaimana eratnya persaudaraanku dengan Kristy. Saling sayang dalam bingkai perdebatan. Tak jarang Kristy justru yang menasihatiku. Memberi wawasan tentang bagaimana seharusnya aku bersikap kepada Dion. Bersikap lebih dewasa dari usianya, terkadang membuatku seolah yang jadi adiknya.
"Dion mencintaiku apa adanya," jawabku cuek.
Kristy membesarkan bola matanya sambil berkacak pinggang. "Itu karena Mas Dion cinta buta sama Mbak. Keluarganya? Mereka pasti gak akan sembarangan memilihkan calon istri untuk Mas Dion. Harus punya bibit, bebet dan bobot yang berkualitas. Jaga harga diri, jangan malu-maluin!"
Dion mendekat dan merangkulku. "Kamu jangan khawatir, Kris, aku bisa mengatasi semua itu. Serahkan semuanya padaku! Dia udah jinak kalau sama aku."
Ish ... jinak? Dikata aku buas kalau gak ada dia. Seenaknya saja. Dasar mereka, kompak banget kalau udah ngeledekin aku.
*****
Pukul 20.45 WIB, jadwal kereta Taksaka Malam yang ku tumpangi akan berangkat. Ya ... aku memilih kereta api sebagai kendaraan yang akan membawaku ke Kota Pelajar itu. Rasa penasaranku mencoba moda transportasi ini karena seringnya dipameri Mas Rendra bagaimana enaknya menikmati perjalanan dengan kendaraan jenis ini.
__ADS_1
"Ini kursi kita, duduklah di dekat jendela. Aku akan memasukkan barang-barang kita ke dalam bagasi dulu," ucap Dion penuh senyum.
Melihat ke luar jendela yang gelap, itulah hal yang ku lakukan setelah duduk. Hanya lampu-lampu yang berkelap-kelip menjadi penghias sepinya malam. Indah. Begitulah visual yang bisa di tangkap oleh mataku.
Pikiranku tertuju pada pemandangan malam di luar sana. Seringkali manusia berpikir picik bahwasanya malam adalah kegelapan yang menakutkan. Mereka tidak pernah melihat malam dengan sudut pandang yang lain. Malam yang sunyi memberikan ketenangan untuk jiwa-jiwa yang dilanda keletihan. Seperti aku, aku menilai Dion hanya dari sudut pandang kerisihanku. Merasa terganggu dengan kehadirannya yang membawa cinta tapi aku tak menyukainya. Untung saja aku sudah tersadar sekarang. Sadar bahwasanya Dion adalah cinta yang tak boleh ku sia-siakan begitu saja.
Dion duduk di sebelahku begitu barang-barang kami sudah masuk di bagasi. Senyumnya ia kembangkan sempurna. "Nikmatilah perjalanan pertamamu dengan kereta api."
Ku balas senyumannya. "Aku ingin menikmati perjalanan ini berdua denganmu. Sebagaimana perjalanan cinta kita, aku berharap kita akan berdua selamanya."
"Apa kamu mulai mengantuk?" tanya Dion saat aku menyandarkan kepalaku di bahunya.
Ku gelengkan kepalaku. "Aku ingin seperti ini sepanjang perjalanan."
Dion mengacak puncak kepalaku. "Kamu tahu, gak? Pasangan itu kalau habis berantem, biasanya lebih mesra dan manja, loh," Dion tersenyum smirk padaku.
"Kamu, nyindir aku?" seketika aku menegakkan kepalaku dan mataku menyasar mata teduhnya.
"Bukan, itu tetanggaku, si Arif dan Khanza yang punya novel "Cinta Si Cupu"," jelas Dion.
"Kamu pinter ngeles, ya," ku cubit perutnya.
"Sakit, Sayangku!" pekik Dion
"Makanya jangan nyindir-nyindir aku," gerutuku.
"Boleh," jawabku seraya memperhatikan seorang pramugari yang berjalan ke arah kami dengan troli berisi aneka cemilan.
"Cantik," batinku sambil mengeja nama yang tertera di name tag-nya. Asa_bernisle_tih, nama yang aneh. Jangan sampai kelakuannya juga aneh melihat tunanganku yang tampan itu.
"Mbak, tehnya satu, kopi itemnya satu," ucap Dion ramah.
"Mau makan, gak, Sayang?" tawar Dion.
Berpikir ... makan lagi gak, ya? Terakhir mengisi perut tadi sebelum magrib. Hmmm ... makan aja kali, ya, daripada malam-malam laper. Kan gak bisa bikin mi instan di sini, eh ...
"Menunya, apa aja, Mbak?" tanya Dion setelah aku menganggukkan kepala menyetujui penawarannya.
"Ada aku untuk kau cintai, Mas. (Eh ... maaf ini hanya pikiran Rosa yang kelewat cemburu, ha-ha-ha)
"Ada nasi rames, nasi goreng, mi goreng, ...,"
"Mi goreng, aja," jawabku sebelum pramugari itu selesai membacakan menu yang tersedia.
"Mi goreng satu," ulang Dion pada pramugari tersebut.
Hush ... hush ...pergilah! Dasar pramugari, gak bisa juga lihat laki bening sedikit. Udah tau ada cewek cantik di sampingnya, masih aja tuh mata berbinar nakal menatap Dionku.
"Dion menyentil hidungku. "Mata, tuh, serem tau aku ngelihatnya,"
__ADS_1
"Habis kamu sih, gantengnya kebangetan. Kalau mau keluar, simpen dulu napa gantengnya, biar gak bikin ngiler cewek-cewek," gerutuku.
"Apa aku harus begini?" tanya Dion sambil memasang Hoodi ke kepalanya dan menutupi matanya dengan kaca mata hitamnya.
Aku menyipitkan mataku. "Begini, jauh lebih baik. Kalau perlu pakai masker."
Kembali Dion mengacak puncak kepalaku. Menebarkan racun-racun yang melemahkan seluruh tulang-tulangku. "Kenapa ganti kamu yang cemburu?"
"Karena aku baru sadar kalau di luar sana banyak gadis-gadis yang kagum dengan wajah tampanmu," ucapku sambil mengerucutkan bibirku.
"Aku tak peduli dengan mereka, aku hanya peduli padamu, Sayang," ungkap Dion sambil menggenggam jemariku.
Melelehlah hatiku untuk kesekian kalinya. Berceceran sudah kepingan-kepingan kecemburuan dan bermetamorfosis menjadi untaian cinta yang makin pekat. Begitulah Dion, selalu bisa membuatku melambung dengan guyuran cinta dan gombalannya.
"Permisi, Mas, silakan ini mi gorengnya," Mbak genit tadi kembali untuk mengantarkan makanan pesenanku.
"Makanlah," suruh Dion kemudian setelah menyiapkan meja makan yang tersembunyi di balik pegangan kursi yang kami duduki.
"Kamu gak mau?" tawarku.
"Makan saja, aku sudah makan tadi. Jangan sampai kamu terlihat kurus di hadapan Papi dan Mami. Nanti aku dimarahin, gak becus ngurus tunanganku," celoteh Dion.
Papi dan Mami ...
Aku jadi grogi membayangkan bertemu dengan calon mertuaku itu. Seperti apa beliau? Apakah Papi galak seperti Papaku? Atau malah asyik seperti Mami?
"Santai saja, mereka orangnya asyik, kok," terang Dion seraya mengusap rambutku lembut.
"Aku takut jika Papi berwajah kaku kayak polsuska itu!" paparku saat kebetulan ada petugas yang menjaga keamanan kereta api lewat. Lelaki bernama Jo Whylant itu tak sedikitpun menampakkan senyum di wajah tampannya.
"Aku yang akan kaku kalau kamu terus-terusan memandangnya seperti itu," celetuk Dion dengan wajah masam.
"Yang ada juga aku yang bakalan kaku, lihat tuh, dua pramugari yang berjalan ke sini. Dari tadi melihatmu tanpa berkedip," jelasku ganti berwajah masam.
Dion memutar matanya ke arah jam dua. Dia tersenyum, seakan mengejekku yang memiliki banyak saingan malam ini. "Terimakasih, Mbak," ucap Dion setelah pramugari bernama Veyona itu memberikan teh dan kopi pesanan kami.
Veyona, wanita cantik berkulit putih dengan mata indahnya itu tak berhenti curi-curi pandang pada tunanganku yang indah ini. Seorang pramugari lain yang membawa kertas dan pulpen untuk mencatat pesanan penumpang di kursi depanku pun sama genitnya. Melirik Dion dengan ujung mata beningnya itu. Haist! Rancy ... ku catat namamu! Blacklist! Kalian semuanya mata keranjang! Dion itu milikku, jangan coba-coba menggodanya!
"Aku mencintaimu, Sayang," bisik Dion begitu kedua pramugari itu sudah berlalu.
"Ayo, makan lagi," Dion menyuapiku dengan mesra.
Ish! Lagi-lagi aku tak mampu menampik kelembutannya. Mulutku tak bisa menolak untuk menganggurkan makanan yang siap ia suapkan di depan bibirku.
"Apakah aku sudah terhipnotis olehmu?" tanyaku dengan ekspresi manjaku.
"Kamu sudah terperangkap umpan cintaku, tak akan bisa lepas lagi," ungkapnya melambungkan anganku.
"Kalian mesra sekali, aku jadi iri," sebuah suara mengagetkanku. Spontan ku tolehkan pandanganku ke depan. Kursi di barisan depanku sudah memutar sempurna dan membuat kami saling berhadapan. Dua pasang mata yang berbeda kepemilikan menatapku dengan sorot mata yang berbeda. Sepasang mata teduh menyipit berbalut senyum dan sepasang mata dengan sorot dingin menghujam tepat di pandangan mataku. Mereka!
__ADS_1