Tentang Hati

Tentang Hati
Kutukan Manajer Baru


__ADS_3

Ku ketuk, pintu ruangan yang membuatku gamang itu. Belum apa-apa, perasaanku sudah takut duluan. Takut, karena ingatanku tentang ruangan itu belum sepenuhnya bisa ku hapuskan.


"Masuk," terdengar suara dari dalam ruangan itu.


Laki-laki?


Bolehkah, aku berharap jika suara itu milik Mas Rud?


Ku gelengkan kepalaku.


Berusaha menepis, endapan perasaan tentang mantan kekasihku itu.


"Ini tidak benar, lupakan!" aku menguatkan diriku sendiri.


Ku tegakkan pandanganku. Perlahan, ku buka pintu ruangan manajer yang baru. Mulai terpampang di pelupuk mataku, seorang lelaki, tersenyum lebar tengah terduduk di belakang meja kerjanya. Matanya mengarah pada posisi kedatanganku.


"Mas Rud," tanpa sadar mulutku menyebut namanya lirih.


Iya ... lelaki itu ... Mas Rud ....


Mas Rudku!


Aku tidak salah.


Coba lihat!


Itu mata teduh yang bisa membuaiku.


Deg!


Bukan.


Bukan dia.


Aku menghentikan kaki yang baru saja ku langkahkan.


"Silakan masuk!" kalimat perintah itu, mengembalikan hayalan liarku yang salah.


Dengan berat, kembali ku tuju kursi di depan meja kerja manajer baruku.


"Selamat pagi, Pak! Bapak, memanggil saya?" sapaku pada manajer baru yang selintas wajahnya gak asing di mataku.


"Silakan, duduk!" pinta beliau.


"Rosa, apa kamu sudah benar-benar sehat?" tanyanya yang terasa janggal karena menanyakan kabarku bukan masalah pekerjaanku.


"Iya, Pak. Saya sudah siap untuk bekerja kembali." jawabku formal.


Ku akui, radar penglihatanku tak bekerja baik saat ini. Pemilik wajah di hadapanku ini, siapa? Aku tak yakin untuk bisa tau jawabannya dengan benar. Yang tersetting di pikiranku, ini adalah wajah Mas Rud. Meski aku yakin bukan, tapi otakku menolaknya.


"Nanti, temani saya makan siang!" perintah Pak Manajer Baru yang belum ku ketahui namanya tersebut.


"Bagaimana, Pak?" aku ingin mendengar kalimatnya lagi.


"Kamu, melamun?" tanyanya kemudian.


"Tidak, Pak." jawabku mengelak.


"Temani saya meeting di luar, sekarang," perintahnya, langsung beranjak dari kursinya.


Aku bingung dengan tugas mendadakku. Spontan, aku mengikuti langkah Pak Manajer Baru meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Silakan, ambil tas kamu! Saya tunggu di lobi," ucapnya yang tak ku bantah.


*****


Aku berjalan penuh kebingungan menuju mejaku.


Brug!


Kaki ku menabrak ujung kaki mejaku.


"Aduh," pekikku.


"Kenapa, Sa?" Maya rupanya mendengar pekikanku.


"Nabrak meja," jawabku lugas.


"Jangan ngelamun mulu," Maya mengingatkan.


"Aku gak ngelamun, aku lagi mikirin manajer baru tuh," ceritaku pada Maya.


"Jangan bilang, kalau kamu suka sama Pak Aryan?" selidik Maya.


"Pak Aryan?" sebutku ulang.


Maya menghentikan pekerjaannya, "Manajer baru itu, namanya Pak Aryan. Kamu belum tahu?"


Mendengar nama Aryan, ada sekelebat bayang yang ku temukan di ingatanku. Langsung ku sambar tas di mejaku dan melangkah cepat menuju lobi kantor. Teriakan Maya ku abaikan.


"Kamu, Mas Aryan?" tanyaku setelah berdiri di hadapan Manajer baruku itu.


Dia mengulas senyumnya.


"Tega sekali, kamu melupakanku, teman," ucapnya.


"Dunia ini sempit, akan selalu ada yang pergi dan datang." senyumnya perlu dipertanyakan.


Bukan itu, jawaban yang ingin ku dengar, Pak," tukasku.


"Panggil Mas, aku bukan Bapakmu," perintahnya.


Pak Aryan, kenapa kamu begitu mirip sekali dengan Mas Rud? Apakah kriteria Manajer di kantor ini, harus seperti kalian?


"Malah melamun, ayo, pergi sekarang!" ajaknya.


"Kita bukan mau meeting beneran, kan?" aku curiga.


"Temani aku sarapan," pintanya.


"Itu bukan bagian dari pekerjaan saya, Pak," tolakku.


"Aku memintamu, bukan sebagai atasanmu, tapi sebagai temanmu. Bukankah, kamu sendiri yang mengatakan, kita berteman." jelasnya.


"Tapi, ini jam kerja, Pak." alasanku berikutnya.


"Sekarang, saya memerintahkanmu sebagai seorang atasan!" tukasnya tak mau kalah.


Lagi-lagi, ku hela nafas panjang hari ini. Sikap suka memaksakan keinginannya ini, lagi-lagi sama dengan Mas Rud. Terbayang jelas, saat Mas Rud memaksa memilih kebaya couple-an untuk acara lamaran Tria kala itu. Episode-episode lalu tentang Mas Rud lagi-lagi harus ku saksikan. Bagaimana bisa membuangnya bersih, jika kini ada lagi yang terus mengingatkanku padanya.


"Bagaimana kabar lelaki yang menunggumu di gerbang rumahmu kemarin?" tanyanya.


"Baik, dia Pacar saya, Pak." aku berharap dengan jawabanku ini, dia menjaga jarak dariku.

__ADS_1


"Beruntung sekali, dia," celetuknya.


"Saya yang beruntung, Pak, jadi pacarnya." aku berniat memamerkan kebaikan Dion.


"Bisa begitu?" dia mulai penasaran.


"Maaf, Pak, bolehkah saya tidak menceritakan masalah pribadi saya kepada Bapak?" pintaku.


"Bukankah, teman adalah tempat berbagi?" tanyanya.


Tempat berbagi? Kata itu, langsung mengingatkanku pada Dion. Aku menemukan jawaban brilliant untuk kalimatnya kali ini.


"Saya sudah punya tempat berbagi, pacar saya adalah orangnya. Terimakasih untuk penawaran Bapak." yakinku.


Pak Aryan tak membantah jawabanku kali ini.


"Jadi, saya bisa kembali ke ruangan saya untuk kembali bekerja, Pak?" tanyaku.


"Ikut saya ke mobil!" perintahnya.


Dengan terpaksa, aku mengikuti perintahnya yang sudah berulang kali ku tolak.


*****


Maya mengernyitkan dahinya melihatku setengah berlari meninggalkan mejaku. Kalimatnya yang ku acuhkan pun, membuat Maya semakin penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi padaku. Dia sampai berdiri mematung di belakang mejanya tak kurang dari 5 menit. Mas Rendra yang sedang lewat pun, lantas menghampiri sang tunangan.


"Ada apa, Sayang?" tanya Mas Rendra sambil menepuk pundak Maya.


Maya tersadar dari kebengongannya, " Itu Rosa Mas, buru-buru banget pergi setelah ku bilang manajer baru kita namanya Pak Aryan."


Mas Rendra jadi ikut berpikir. Keningnya berkerut, " Wah, ada kutukan manajer baru kayaknya."


"Maksud, Mas?" Maya tak mengerti.


"Semenjak Rosa masuk, Manajer Baru naksir tuh sama dia. Kemarin, Rud, gak menutup kemungkinan kalau Pak Aryan, juga begitu, kan?" Mas Rendra menganalisa.


Maya mengamini analisa Mas Rendra. Kepalanya manggut-manggut, "Betul, Mas, Kutukan Manajer Baru."


*****


Perjalanan 15 menit, ku habiskan dalam diam. Pak Aryan pun, mengunci mulutnya. Mobil Pak Aryan berhenti di sebuah taman kota. Beliau mengajakku duduk di bangku plastik yang di sediakan sebuah gerobak yang bertuliskan "Rujak Cingur Khas Surabaya". Tempat ini, sebenarnya jauh di luar ekspektasiku. Tapi jujur, aku suka, sudah lama aku tak menikmati rujak cingur pedas favoritku.


"Tidak menyangka ya, aku bakal ngajak makan di tempat ini?" tanyanya melihatku sedikit bengong.


"Jujur, sih, iya, Pak." aku menjawab dengan senyum.


"Ini adalah tempat makan favoritku," dia bercerita.


Aku memasang senyum dan anggukan kepala untuk ceritanya.


"Jujur, aku gak punya banyak temen akrab. Makanya, waktu kemarin kamu meminta menganggapmu sebagai temen, aku seneng banget." jelasnya.


"Saya serius, kok, dengan ucapan saya kemarin. Kita bisa berteman," kataku setelah mendengar kisahnya.


"Terimakasih," balasnya.


"Kemarin, kok, Bapak bisa jadi driver taksi online?" aku penasaran.


"Aku suka cari tantangan baru aja, sekalian mengenal banyak orang." katanya.


"Kita adalah teman, panggil aku, Mas, aja! 1 lagi, jangan pakai kata saya, aku aja ya," pintanya.

__ADS_1


Aku setuju dengan permintaannya kali ini. Gak ada salahnya untuk punya banyak teman.


__ADS_2