
Mobil sedan berkaca film gelap itu melaju di jalanan Jakarta dengan kecepatan sedang. Aku dan Pak Aryan yang berada di dalamnya tak terlibat banyak obrolan pada awalnya. Aku sibuk dengan lelaki lain di ujung sana. Dengan santainya aku bercanda gurau bahkan bermanja dengan lelaki lain di hadapan Pak Aryan. Tak masalah kan? Karena lelaki lain itu adalah kekasihku sendiri.
"Udah, kangen-kangenannya?" tanya Pak Aryan begitu aku selesai menelepon.
Aku tersenyum manis. "Kangen untuknya gak ada habis-habisnya, Pak."
"Orang lagi jatuh cinta, emang begitu," tukas Pak Aryan.
Kalimat Pak Aryan itu membuatku penasaran. "Bapak, pernah jatuh cinta?"
Yang ku dengar kemudian adalah suara tawa Pak Aryan. Dia kemudian tersenyum padaku. Tangannya hampir saja menyentuh puncak kepalaku, tapi aku berhasil menepisnya.
"Jangan main pegang-pegang, dong, Pak!" marahku.
"Aku hanya gemas dengar pertanyaanmu," kilahnya.
"Pertanyaan saya biasa aja, tuh, Pak," aku cemberut.
"Iya, biasa tapi aku mencium aroma ambigu dari pertanyaanmu. Kamu bukan sekedar tanya apakah aku pernah jatuh cinta, tapi kamu penasaran aku lelaki normal atau gak, karena sampai sekarang gak punya pacar." jelas Pak Aryan.
Aku meliriknya penuh arti. " Bapak, benar."
"Kamu meragukanku sebagai lelaki?" tanya Pak Aryan.
"Sesuatu itu kalau gak ada bukti namanya bualan, Pak," tuturku.
Tiba-tiba saja Pak Aryan menepikan mobilnya di jalanan yang agak sepi. Aku yang bingung refleks menoleh ke arahnya. Dalam sekejap dia sudah menarik tengkukku dan ....
Jarak wajah kami hanya tinggal beberapa cm saja. Ujung hidungku hanya berjarak dua cm dari ujung hidungnya. Aku mematung, tak merespon apapun.
"Aku, bisa buktiin kalau aku lelaki normal," hembusan hangat napas Pak Aryan itu menyadarkanku.
Aku memalingkan wajahku ke luar jendela di sebelah kiriku. Aku sadar jika aku salah dengan pertanyaanku. Sesungguhnya bukan seperti ini maksud bukti dari pernyataanku. Namun, aku tak bisa menyalahkan Pak Aryan dengan bukti yang ingin ia tunjukkan.
"Jangan memancing keliaran lelaki, Sa," ucap Pak Aryan lembut tapi terdengar begitu mengerikan di telingaku.
Pak Aryan benar, aku tak boleh melakukan itu lagi. Aku harus bisa mengerem kalimat yang keluar dari mulutku. Beruntung, kali ini yang ku jahili adalah Pak Aryan yang masih bisa mengendalikan dirinya.
Bagaimana jika Mas Rud yang ada di posisinya? Aku pasti sudah tak berkutik di bawah rengkuhan sentuhannya. Perasaanku pasti bergemuruh tak tentu arah, kembali terjatuh pada rasa yang indah untuknya. Dan pada saat itu terjadi, aku tak tahu apakah rasaku pada Dion masih bisa ku berikan seutuhnya.
Dion?
Aku teringat pada lelakiku yang sedang berada di Surabaya itu. Lelaki yang beberapa waktu lalu menelepon dan bilang kemungkinan jadwalnya di Surabaya akan molor.
Aku menyenderkan kepalaku dan memejamkan mata. Entah kenapa tiga lelaki ini hadir bergantian memenuhi ruang pikirku. Dion, kekasihku yang begitu sabar dan perhatian. Mas Rud, mantan yang datang dengan begitu indah tapi menghilang dengan menyakitkan. Serta Pak Aryan, yang aku yakin menaruh rasa padaku tapi ikhlas berhenti dipertemanan.
Lamunan ini membawaku bermain jauh dari kenyataanku hingga tak ku sadari tangan Pak Aryan membelai rambut di puncak kepalaku. "Maafkan, aku. Aku tak bermaksud menakutimu tadi. Percayalah, aku tak akan menyakitimu."
Kali ini, ku biarkan tangannya menyentuhku. "Maafkan, saya juga, Pak. Saya sudah keterlaluan tadi."
Pak Aryan melihatku dengan senyumnya. "Kita lupakan yang tadi, ok!"
Ku balas anggukan, aku menyetujui kalimat Pak Aryan. Bagaimanapun, aku respek dengannya, rasanya padaku tak membuatnya egois untuk berbuat semaunya. Aku menghargai perasaanya, aku menyadari tak ada yang bisa mengendalikan dengan siapa dia akan jatuh cinta. Selama dia menjaga sikapnya, aku juga akan menjaga perasaannya.
*****
Malam ....
Malam ini udara terasa lebih panas dari biasanya. Seolah ikut setia kawan dengan suasana hatiku yang menghangat. Sosok yang biasanya menentramkan hatiku, kini sedang jauh di sana. Apakah aku merindukannya? Mungkin, aku mungkin merindukannya atau malah aku sangat merindukannya. Hari yang ku lalui tanpanya, seolah ada yang kurang istimewa.
Aku rindu dengan cintanya yang menggebu. Aku rindu dengan pertahanannya yang tak berlebihan menyentuhku. Aku rindu masakannya, kelembutannya, kejahilannya dan tentu saja cubitan manjanya di hidungku.
Ah ... Di, apakah aku benar-benar telah jatuh cinta padamu? Waktu dua bulan yang telah kita lalui ini, sungguh indah. Perlahan dan semakin mengenalmu, rasanya membuat rasaku padamu semakin dalam.
"Kenapa di luar?" tiba-tiba Mama sudah berdiri di ambang pintu kamarku menuju balkon.
Aku menoleh. "Ngadem, Ma, udaranya panas banget."
__ADS_1
Mama berjalan menuju tempatku berdiri. Mensejajariku, memandang jalanan yang masih memperlihatkan lalu lalang orang-orang dan para pedagang.
Mama mulai mengajakku mengobrol meski tatapannya belum ia alihkan. "Sa, dulu Mama dan Papa suka sekali menghabiskan malam di balkon. Bercengkerama dan merangkai asa untuk masa depanmu dan Kristy."
"Masa depanku, Ma?" aku penasaran.
"Iya, Papa bilang jika nanti kamu mau menikah, kamu harus menikah dengan lelaki yang kamu cintai dan dia pun juga mencintaimu. Jika kamu mencintainya, maka kamu akan bahagia. Dan jika dia juga mencintaimu, maka Papa akan merasa tenang karena ada seseorang yang akan menggantikannya untuk menyayangimu." ungkap Mama.
Aku terdiam mendengar perkataan Mama. Ada sekelebatan bayang lelaki yang bermain di otakku. Lelaki yang aku cintai? Entah kenapa wajah Mas Rud yang langsung bermain di otakku, padahal barusan jelas-jelas aku merasa bahwa aku mulai jatuh cinta dengan Dion. Orang yang mencintaiku? Wajah Dionlah yang tergambar jelas di pikiranku. Padahal aku juga bisa merasakan bahwasanya Mas Rud juga masih mencintaiku.Ah, aku bingung. Mengapa mencintai dan dicintai pada diriku, menghadirkan dua nyawa yang berbeda?
"Bagaimana hubunganmu dengan Dion?" Mama menyelidik.
"Baik, Ma," jawabku yang ku balut dengan senyuman.
Mama melihatku. "Mama pikir, Dion lelaki yang baik untukmu."
Sejujurnya, aku membenarkan penilaian Mama. Hanya Dion lelaki yang memperjuangkanku tanpa mengenal lelah. Hanya Dion yang sabar menghadapi kekeraskepalaanku. Hanya Dion yang sanggup menjagaku bahkan dari keliaran nafsunya sendiri.
Hanya Dion ....
"Kapan kalian akan menikah?" tanya Mama.
"Menikah?" aku mengucapnya terbata.
Mama mengernyitkan dahi. "Mau nunggu apa lagi?"
Nunggu apa, ya? Aku juga tidak tahu. Bukankah aku sebagai perempuan sebaiknya menunggu dinikahi?
Menunggu dinikahi?
Rasanya Dionlah yang menunggu kesiapanku untuk dinikahinya.
"Nunggu dilamarlah, Ma," aku bergurau.
Aku memamerkan senyum di hadapan Mama, memberikan ketenangan padanya. Selama ini, aku sudah sering membuat Mama sakit karena aku, perjodohan dengan Ardi dan juga kehilangan Mas Rud. Dua kisah itu berhasil membuat Mama tenggelam dalam kepedihan hati dan pikirnya. Rasanya memang hanya Dion yang sanggup membuat Mama tenang dan bisa tersenyum bahagia.
Benar, sebuah lagu dari Mahen "Pura-Pura Lupa" terdengar mengalun merdu. Itu adalah penanda teleponku sedang dirayu oleh penelepon di ujung sana. Aku buru-buru masuk ke kamar dan mengambil HP yang tergeletak di ranjangku.
Dion
Begitulah nama yang merayu HPku. "Dion" lugas sekali aku menamainya. Kenapa bukan panggilan sayang yang ku sematkan? Entahlah, itu adalah nama yang tersimpan di HPku semenjak aku mengenalnya. Memang terdengar ironis, tapi bagiku "Di" panggilan untuk Dion kekasihku adalah panggilan sayangku untuknya. Bukan ayang, beb, cintaku, darling, atau panggilan romantis lainnya.
Aku kembali ke balkon. Telepon Dion belum ku angkat karena masih ada Mama.
"Apa itu anak laki-laki, Mama?" tanya Mama menggodaku.
Masih ingat kan, kalau Mama sudah menganggap Dion sebagai anak laki-lakinya? (episode 52)
"Aku, yang anak perempuan, Mama," aku cemberut.
Mama langsung memutar balik badannya dan masuk ke kamarku untuk kemudian keluar kamar. Setelah Mama pergi, baru aku mengangkat telepon Dion yang kedua.
"Sudah tidur?" tanya Dion begitu aku mengangkat teleponnya.
"Belum, ngobrol sama Mama," jawabku.
"Ngobrolin apa? Aku, ya?" PDnya
"Kok, tahu?" tanyaku balik.
"Beneran?" Dion antusias.
Sengaja aku menjeda kalimatku, aku ingin menjahilinya.
"Ngobrolin apa?" Dion mulai gak sabar.
Aku berdehem. "Mama tanya kapan kita menikah?"
__ADS_1
Eitss ... kok, teleponnya dimatiin?
Kenapa lagi, dia? Syokkah? Pingsan? Langsung balik ke Jakarta?
Ah, itu mengada-ada. Senekat-nekatnya Dion, dia bukan jin yang bisa mengedipkan mata untuk berpindah tempat.
Nah ... ini baru Dion.
Dia pindah dari telepon ke video call.
Pertama yang ku lihat adalah wajah penuh senyumnya. Rasanya aku jadi terbelenggu rindu. Baru mendengar pertanyaan kapan nikah aja kebahagiaan sudah memenuhi batinnya apalagi benar-benar sudah sah.
"Di, apa kamu sebahagia, itu?" tanyaku.
"Apa kamu gak bahagia? Apa hanya aku yang bahagia?" Dion menyelidik.
Aku tak menjawab pertanyaannya. Hanya ku pasang senyumku. "Kapan kamu pulang? Aku kangen."
"Sekarang," jawab Dion.
"Jangan bercanda!" gerutuku.
"Apa kamu sudah sekangen itu, padaku?" Dion menggodaku.
"Sebenernya gak juga, sih," aku ganti menggodanya.
"Masa?" Dion memastikan.
"Iya," jawabku.
"Iya?" Dion memastikan lagi.
"Masa," aku mengerjainya.
"Baiklah, aku tahu kalau kamu sudah kangen berat padaku. Sabarlah tunggu abang datang melamarmu," Dion mulai merayu.
"Cepet lamar adik, Bang! Jangan sampai adik dilamar orang duluan," ingatku.
"Sabar sebentar, ya, Adik sayang. Beberapa hari lagi Abang datang melamarmu," tutur Dion.
"Udah, ah, jangan bercanda. Teleponnya aku matiin, ya?" kataku.
Aku langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu persetujuan. Aku senyum-senyum sendiri, entahlah apa aku mulai gila. Gila akan rayuan gombalnya Dion. Rayuan yang mungkin sekedar candaan, toh sanggup juga membuatku melayang.
"Seenaknya saja matiin telepon, aku masih kangen," omel Dion saat teleponnya ku angkat lagi.
"Aku gak kangen, tuh, silakan kangen sendiri, ya!" aku tersenyum smirk.
"Awas, ya, tunggu aku pulang! Kamu beraninya kalau aku jauh," ancam Dion.
Aku matiin lagi teleponnya. Rasanya bahagia banget bisa bikin dia geregetan. "Aku gak mau denger ancamanmu, takut!" Aku mengangkat teleponnya sebentar dan aku matikan lagi.
Dion menelepon lagi, aku angkat lagi. "Aku merindukanmu, Sayang, Mmuuaach ...."
Ku lihat wajah penuh senyumnya. "Puas-puasin menggodaku, Sayang. Nanti kalau aku pulang, aku pastikan kamu bakalan pikir-pikir ulang untuk menggodaku."
Aku mencerna kalimatnya lebih dalam. Ini bukan sesuatu yang indah untuk ku lanjutkan. "Sayang, aku mencintaimu,"
"Aku, gak!" balas Dion dengan senyum smirknya.
Dan dia ganti menutup teleponnya. Kenapa dia ganti menggodaku? Belum sempat beralih pikir, dia menelepon lagi.
"Aku juga mencintaimu, Sayang! Merindukanmu, menyanyangimu, menginginkanmu dan akan memakanmu! Mmuuaaach ...." Dan Dion kembali menutup teleponnya.
Aku benar-benar gila akan cintanya.
Dia ... dia ... dia ... aku mencintainya.
__ADS_1