Tentang Hati

Tentang Hati
Obrolan Sepupu Rese


__ADS_3

Dion PoV


Malam masih menginjak pukul 22.00 WIB. Baru saja ku langkahkan kakiku kembali ke apartemen. Pintu yang tidak terkunci membuatku yakin jika Rendra masih berada di dalam sana.


"Kirain nginep?" celetuk Rendra.


Aku memilih merebahkan tubuh lelahku di sofa. "Rencanaku tadi, Rosa yang nginep sini, tapi gagal. Kamu datang gangguin terus."


"Ciih, udah kebelet buka segel? Jangan sepupuku! Pak ustaz bilang itu namanya zeno, eh salah zina maksudnya," tutur Rendra sambil asyik memakan kacang rebus dari rumahmu.


Ku lempar bantal sofa ke arah Rendra. "Jangan sok suci, itu Maya masih segelan, gak?"


"Itu ... jangan diragukan, kamu pasti ragu, ha-ha-ha ...," Rendra tertawa dengan bangganya.


"Ish ...," gumamku.


Sepupu ajaibku ini memang doyan bercanda. Walaupun cap cowok gombal sudah melekat pada dirinya tapi aku yakin dia masih cukup beradab. Dia bukan tipe yang bisa menghancurkan masa depan anak gadis orang.


"Besok, sehabis ngantor aku mau ngadain farewell party, mau ikut, gak?" tawar Rendra.


"Itu, kan, buat temen-temen kantormu, ngapain ngajak aku?" aku menolaknya.


Rendra ganti mencicipi singkong keju yang juga dibawakan mamamu. "Orang cuma aku, Maya, Rosa sama Pak Aryan, double date."


"Double date? Itu calon istriku, mau kamu umpanin ke Aryan?" gerutuku.


"Ya ... siapa tahu Rosa minat sama yang lebih mapan?" seloroh Rendra tanpa rasa berdosa.


"Kita duel aja, yuk! Biar Maya jadi janda sebelum sempat kamu nikahin," tantangku.


Obrolan kami terdengar seperti dua orang yang sedang dibakar amarah, padahal kami masih sama-sama dalam PW (Posisi Wuenak). Aku rebahan di sofa sementara Rendra lesehan di karpet dengan berbagai makanan di mulutnya. Aku menyadari omongan Rendra hanya candaan tapi entah kenapa ada sedikit gusar yang membayang di hatiku.


"Bagaimana kelakuan Aryan ke Rosa di kantor?" selidikku.


Rendra menelisik ekspresiku. "Masih dalam kategori wajar, sih, untuk ukuran seorang lelaki yang naksir perempuan bersuami."


Aku manggut-manggut. Sesuatu yang bisa ku tolerir. Mengingat aku sendiri yang menggitu menggila ketika mengejarmu, tentunya dengan catatan status jomblo yang kamu sandang.


"Bagaimana dengan Rud?" Rendra balik bertanya.


"Bukankah kamu lebih dekat dengannya, seharusnya aku yang bertanya. Bagaimana perasaan sahabatmu itu pada Rosaku, sekarang?" tanyaku balik.


Rendra menghentikan kunyahannya dan menatapku. "Entahlah, sepertinya dia menyesal telah merelakan Rosa kamu ambil."


Helaan napas panjang ku lakukan. Mendengar taksiran jawaban seperti itu, seakan menghadirkan sedikit luka di atas kebahagiaan sempurna karena telah melamarmu. Ada ketakutan yang menyeruak dari balik hati kecilku.


"Gak perlu takut, aku yakin Rosa gak akan meninggalkanmu hanya untuk kembali pada Rud yang sudah meninggalkannya," hibur Rendra.


"Hmmm ...," gumamku.


"Rud lebih ganteng, sih, emang. Mana sekarang jadi bodyguard Tuan Alex, macho banget, tuh," ejek Rendra kemudian.


Kembali ku lemparkan bantal sofa ke arah Rendra. "Kalau kamu berada di kubunya, enyah segera dari sini! Tuh, kacang balikin isinya terus kulitnya rapetin lagi."


*****


Aduh ... di mana sih Hpku? Masa dari tadi nyari gak ketemu-ketemu. Terakhir kali, aku pakai di mana, ya? Hmmmm .... ya, aku pakai buat order ojol. Habis itu? Aduh ... kenapa bisa lupa, sih? Telepon Kristy buat ngabarin aku pulang telat? Ah, itu pakai HP Dion. Dion .... Ya... ya ... ya ... aku pakai HP waktu nunggu Dion di kamarnya. Fix, ketinggalan di kamar Dion, di ranjang. Aku lupa membawanya waktu terburu-buru keluar karena melihat Dion baru selesai mandi.


"Kris, pinjem HPnya dong, buat telepon Dion," kataku lembut.


"Panggil Mas, napa sih, Mbak!" saran Kristy seraya menyerahkan HPnya.


"Nanti kalau udah nikah, aku panggil Mas," janjiku.


"HP, Mbak, ke mana?" tanya Kristy.


"Kayaknya ketinggalan di apartemen dia," jawabku sambil mulai menelepon.


"Nah lo, awas ketahuan, diputusin ntar!" Kristy menakut-nakutiku.

__ADS_1


"Sssstt ... jangan berisik!" marahku.


Telepon pertamaku lolos dari angkatannya. Telepon keduaku sepertinya juga akan berakhir sama. Namun menjelang titik akhir pengharapan, suara itu terdengar dari ujung sana.


"Ada apa, Dik?" sapa lembut Dion padaku.


"HPku kayaknya ketinggalan di ranjang kamarmu, deh, Di. Bisa kamu lihat dulu, gak?" jelasku.


"Oh, aku cek dulu, ya. Gak usah dimatiin teleponnya," pinta Dion.


"Ada, nih, mau aku anterin sekarang?" tanya Dion kemudian.


Aku menarik napas lega. "Gak usah, besok aja titipin Mas Rendra."


"Baiklah, tapi aku gak jamin kalau datamu gak bakalan bocor," tutur Dion.


Senyum ku kembangkan meskipun ia tak bisa melihatnya. "Aku gak keberatan tapi kalau ada efek sampingnya kamu tanggung sendiri, ya."


"Aku justru makin semangat," goda Dion.


"Boleh semangat bongkar dataku asal jangan begadang sampai pagi!" ancamku.


"Aku gak janji, Sayang," ucap Dion yang ku rasa bersanding dengan senyum smirknya.


*****


Dion PoV


Ku timang-timang HPmu yang masih beràda di tanganku. Sebenarnya aku gak kepikiran untuk memata-matai dengan mengubek-ubek privasimu. Namun izin yang kamu berikan cuma-cuma membuatku ingin tahu. Apalagi kata "efek samping" yang menjadi peringatanmu seperti menjadi lecutan keras untuk semakin kepo.


"Tumben, HPmu dua, punya gebetan baru, ya?" tuduh Rendra.


Ku perhatikan HPmu dengan seksama. "Hmmmm ....,"


"Main hati, dia. Awas nanti gak dapet dua-duanya!" ingat Rendra.


Ku coba memasukkan tanggal lahirmu sebagai password, gagal. "Coba lagi, lah, banyak gadis di luaran sana," jawabku pending untuk kalimat Rendra sebelumnya.


Pletak!


Ku usap kepalaku yang jadi korban kekerasannya. Sekaligus memberikan rangsangan pada otakku agar bisa menemukan rangkaian angka yang kamu pilih untuk mengamankan alat rahasiamu ini.


"Anak mana?" tanya Rendra yang membuat serangkaian angka hendak muncul kembali bersembunyi.


"Anak gadis," jawabku sekenanya.


"Banyak gadis bukan perawan, pastiin dulu," ide konyol Rendra.


Otakku masih ku peras untuk menemukan kode rahasiamu. Jika tanggal lahir yang paling kamu banggakan saja terlewat, berarti apa lagi?


"Kalau dipastiin dulu, yang ada gak jadi perawan," jawaban leletku kembali untuk kalimatnya.


"Ha-ha-ha ... lagian kamu bohongin aku, siapa yang percaya kalau seorang Dion bisa berpaling dari Rosa," papar Rendra dengan tawa menggelegarnya.


Ku abaikan kalimat-kalimat Rendra yang unfaidah itu. Pikiranku masih berkutat untuk mencari sandi yang bisa membuka HPmu. Iseng ku masukkan tanggal lahirku, berhasil. Berhasil? Aku tak percaya, ini sesuatu yang bahkan tak berani ku khayalkan. Senyumku mengembang sempurna, bukan hanya karena berhasil menemukan passwordmu tapi lebih karena serangkaian angka yang kamu pilih untuk sesuatu yang amat penting bagimu, password.


"Malah senyum-senyum, ini malam jumat, kamu gak kesurupan, kan?" tanya Rendra.


"Kesurupan, dong! Kesurupan panglima Tian Feng," celetukku.


"Beginilah cinta, Deritanya tiada berakhir," Rendra malah menirukan gaya khas Panglima Tian Feng.


"Kayaknya kamu yang kesurupan," ungkapku melihat kekonyolan Rendra.


"Pulang sana, aku takut habis ini kamu ganti kesurupan sun go kong," usirku.


Bukannya pulang, Rendra malah bergaya menyerupai Sun go kong dengan segala tingkah konyolnya. Mulutnya pun ikut menyanyikan soundtrack film fenomenal tersebut.


🎶🎶🎶

__ADS_1


Seekor kera terpuruk terpenjara dalam gua


Di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa


Bertindak sesuka hati loncat ke sana kesini


Hiraukan semua masalah di muka bumi ini


Dengan sehelai bulu dan rambut dari tubuhnya


Dia merubah, menerpa, menerjang segala apa yang ada


Walau halangan rintangan semakin panjang membentang


Tak jadi masalah dan tak kan jadi beban pikiran


Berkelana setiap hari demi mendapat kitab suci


Dengan dukungan dari gurunya temukan jati diri


Semua kan dihadapi dengan gagah berani


Walau aral rintangan setiap saat datang tuk menguji


Kera sakti


Tak pernah berhenti bertindak sesuka hati


Kera Sakti


Menjadi pengawal mencari kitab Suci


Kera Sakti


Liar, nakal, brutal, membuat semua orang menjadi gempar


Kera Sakti


Hanya hukuman yang dapat menghentikannya


Walau halangan rintangan membentang


Tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran


Kera sakti


Tak pernah berhenti bertindak sesuka hati


Kera Sakti


Menjadi pengawal mencari kitab Suci


Kera Sakti


Liar, nakal, brutal, membuat semua orang menjadi gempar


Kera Sakti


Hanya hukuman yang dapat menghentikannya


Walau halangan rintangan membentang


Tak jadi masalah dan tak jadi beban pikiran


 🎶🎶🎶


Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat sepupu reseku yang masih menggila itu. Sepupu yang sebentar lagi akan aku rindukan karena ia harus pindah ke Yogya. Aku pasti akan merindukan kegilaanmu ini.


 

__ADS_1


 


__ADS_2