
Kami terhanyut dengan perasaan masing-masing. Sampai tiba-tiba saja terdengar suara tembakan. Keadaan semakin kacau, terjadi baku tembak di mana-mana. Para tamu pun sudah kocar-kacir berlari kesana kemari.
Mas Rud melindungi tubuhku yang masih dalam pelukannya. Aku tak bisa melihat apa yang terjadi. Sampai ku sadari, jika Mas Rud mengeluarkan pistol. Dia melepaskan pelukannya padaku dan menembak seseorang. Aku menutup mataku, tak sanggup melihat kekacauan yang terjadi di depan mata kepalaku. Tiba-tiba saja ku dengar suara tembakan yang begitu keras. Ku buka mataku dan ku lihat Mas Rud roboh bersimbah darah. Peluru itu menembus dada kanannya.
"Mas Rud ...." teriakku sambil mendekap tubuhnya.
Aku berteriak histeris melihat keadaan Mas Rud. Aku bingung untuk meminta bantuan kepada siapa. Keadaan sudah kacau balau. Mayat tergeletak dimana-mana dan darah segar mengalir begitu saja. Akhirnya aku berusaha untuk memapahnya sebisaku. Darah yang mengalir dari luka tembak Mas Rud, ikut melumuri gaunku. Aku kesulitan membawanya pergi dari lokasi berdarah tersebut.
''Biar aku yang memapahnya,'' tiba-tiba saja Pak Aryan sudah ada di belakangkku dan mengambil alih tubuh Mas Rud.
''Lukanya, Pak,'' aku mengingatkan.
''Kita bawa ke tempat aman dulu, baru kita hentikan perdarahannya,'' ucap Pak Aryan mempercepat langkahnya.
Aku mengikuti langkah kedua lelaki itu. Pak Aryan membawa Mas Rud ke mobilnya, membaringkannya di bangku tengah.
Pak Aryan mencari-cari kain yang bisa ia gunakan tapi tak bisa menemukannya. ''Kamu, punya kain untuk menghentikan perdarahannya?''
''Bisa pakai ini, Pak?'' aku mengambil syal dari dalam tasku. Ku lihat Pak Aryan mengangguk tanda mengiyakan. ''Baik, Pak, saya akan membalut lukanya. Bapak silakan nyetir.''
Pak Aryan segera menuju bangku belakang kemudi. Aku pun segera menghentikan perdarahan dengan membalut lukanya.
Ku tatap wajahnya yang nampak menahan rasa sakit itu. Bibirnya terlihat memucat. Dalam kelemahannya, dia masih bisa menggenggam tangankku. Aku pun membalasnya dan berusaha menguatkannya. Perasaanku sudah tak karuan, segala rasa menjadi satu.
''Gimana lukanya?'' suara Pak Aryan membuatku tersadar.
''Sudah saya balut, Pak, tapi bibirnya memucat,'' aku benar-benar khawatir.
''Sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit, tenanglah.'' Pak Aryan berusaha menenangkanku.
Dan benar saja apa yang Pak Aryan katakan, lima menit kemudian kami sudah memasuki halan rumah sakit. Semoga Mas Rud segera tertangani.
*****
Mas Rud sudah masuk ruang operasi sejak lima menit yang lalu. Aku dan Pak Aryan duduk menunggu di bangku panjang dekat ruang operasi. Pak Aryan melepaskan jasnya dan memberikannya padaku. ''Sementara pakailah, sambil menunggu Dion membawakan pakaian ganti untukmu.''
__ADS_1
Aku pun memakainya. Gaun yang ku pakai sudah penuh dengan noda darah. Selain itu, aku membutuhkan jasnya Pak Aryan untuk menutupi gaunku yang lumayan terbuka.
Aku dan Pak Aryan sama-sama terdiam.Aku tak ingin berbicara apapun meski aku tahu jika sebenarnya Pak Aryan memiliki sejumlah pertanyaan untukku. Aku masih fokus dengan keadaan Mas Rud di dalam sana. Masih terus terbayang di ingatanku, bagaimana wajah lemahnya mencoba tersenyum padaku sebelum memasuki ruang operasi tadi.
''Sayang, bagaimana keadanmu?'' suara Dion memecah lamunanku. Dion duduk di sebelahku dan memperhatikanku. ''Jangan khawatir, dia pasti akan baik-baik saja. Gantilah pakaianmu dulu,'' Dion menyerahkan paper bag besar padaku.
Aku mengambilnya dan segera meninggalkan mereka berdua untuk mengganti baju di toilet.
*****
Pak Aryan PoV
Acara lelang amal? Hanyalah alasanku untuk bisa mengobrol denganmu. Aku sadar, aku bukan siapa-siapa bagimu. Sekedar atasan dan label pertemanan diantara kita yang kau tawarkan padaku malam itu, sempat membuatmu canggung dan sempat menjauhiku. Karena pada akhirnya kamu mendapati bahwa aku adalah atasan barumu, bukan driver online seperti kamu pertama mengenalku.
Aku melihatmu sebagai seorang gadis yang menarik. Humble dan penuh keceriaan. Hadirmu memberi warna pada hidupku yang selama ini monoton. Terfokus pada belajar dan minus dalam pertemanan.
Aku tahu, kamu pasti sudah memiliki kekasih. Mana ada lelaki yang sudi membiarkan hatimu menganggur tanpa siraman kasih sayang. Dan aku sudah menyiapkan diri untuk kenyataan itu.
Pada akhirnya, aku mengenal lelaki sempurna yang berstatus sebagai kekasihmu. Hangat, pengertian, dan penuh kasih sayang. Aku sudah merelakan jika rasaku padamu akan berhenti di pertemanan. Namun, aku hanya ingin sekali waktu, kamu bisa menghabiskan waktu denganku. Seperti kali ini, awalnya aku ragu, apakah kekasihmu itu akan mengizinkanmu berdua denganku, lelaki yang ia tahu menyimpan rasa untukmu. Namun nyatanya, lelakimu benar-benar seorang kekasih idaman, dia mengabulkan keinginanku.
Oleh karenanya, hari ini aku amat bahagia. Apalagi melihatmu tak lagi canggung di hadapanku. Aku menemukanmu seperti malam itu, saat kita bertemu dalam canda dan tawa.
"Bukakan pintu gerbangnya dong, temenku yang baik!" Iya, aku memanggilmu dengan sebutan ''teman baik''. Aku ingin kamu menerimaku dengan baik meskipun hanya sebagai teman.
Dan trikku berhasil. Hari ini ku menemukan seorang Rosa yang membuatku tertarik pada awal jumpa. Gadis yang gak jaim dan selalu mengulum senyum. Bedanya, malam itu kamu berdandan anggun dengan kebaya, sedangkan pagi ini kamu cantik dalam kepolosan. Hanya kaos oblong putih berpadu rok jeans selutut yang kamu lekatkan di tubuhmu. Sementara rambutmu kamu kuncir kuda, menampakkan leher jenjangmu yang menggoda.
Ah, itu belum seberapa menggoda. Setelah ku make over , kamu terlihat semakin menggoda naluri kelelakianku. Gaunmu yang menampakkan bahu indahmu itu, sukses membuatku berulangkali menelan salivaku. Namun rupanya, kamu tak percaya diri dengan apa ku lihat indah di dirimu.
''Gaun ini terlalu terbuka, Pak. Saya gak nyaman,'' terangmu.
"Acara ini untuk kalangan terbatas, kok. Kamu santai saja, gaun ini nampak cantik kamu pakai." ungkapku dengan senyum termanisku.
Benar ROSA, kamu begitu cantik hingga aku tak berkutik. Jika saja kamu belum termiliki, pasti aku akan berjuang sekuat jiwa ragaku untuk memilikimu. Ah, betapa bahagianya jika itu terjadi.
Aryan ... jangan ngelunjak!
__ADS_1
Rupanya kamu belum juga percaya dengan apa yang aku ucapkan. Kamu masih saja mematut dirimu, lagi dan lagi. "Jangan merayu, saya, Pak! Nanti kalau Bapak baper, repot." ucapmu santai.
"Iya, repot. Karena kamu miliknya orang. Sudahlah, ayo!" Aku mengajakmu untuk memasuki rumah tersebut.
Aku begitu percaya diri bisa berjalan di sampingmu, untuk memasuki area acara lelang amal tahunan keluarga Tuan Sanjaya. Aku tahu, ini kali pertama buatmu. Aku bisa membuat ini sebagai langkah awalmu, jika saja Tuhan menakdirkan kita berjodoh.
Aryan jangan ketinggian, jangan menjadi duri di jalan percintaan orang lain meskipun itu wanita yang kamu inginkan.
"Wah, Kak Aryan, datang sama siapa, nih?" tanya Key, putra sulung Tuan Sanjaya, yang tak lain adalah temanku.
Rasanya ingin aku jawab jika kamu adalah kekasihku, tunanganku atau malah istri tercintaku. Namun aku masih waras untuk tak melakukan hal itu.
"Nona manis jangan sampai terjerat cinta dengan pria yang satu ini, dia adalah pembohong, he-he," tukas Key sambil setengah berbisik di telingamu. "Ya kan, Kak Aryan, putra dari Tuan Najendra Dharma, raja perfilman Indonesia," kata Key sambil memandangku.
Ku lihat ekspresimu dipenuhi oleh kata tanya. Aku yakin, setelah ini kamu akan mengintrogasiku tentang fakta yang baru disampaikan Key padamu. Namun percayalah Rosa, siapapun aku, aku tak akan pernah memaksamu untuk mencintaiku dengan memanfaatkan kuasaku.
Akan ku jaga bahagiamu, meskipun itu bukan untukku. Namun setidaknya, hari ini kamu telah membuatku begitu bahagia. Kamu bersedia di sampingku, dan sebagai penghargaan dariku, maka aku selalu menemanimu sepanjang acara.
"Pak, saya ke toilet dulu, ya!" izinmu padaku.
"Gak perlu aku temani, kan?" sahutku dengan senyum menggoda.
Lima belas waktu berlalu, tapi kamu tak kunjung kembali. Aku mencoba memahami, mungkin inilah uniknya perempuan. Aku menikmati acara lelang, sambil menantimu. Sampai tiba-tiba, sebuah suara tembakan terdengar dari arah luar toilet.
Oh My God, Rosa! Aku segera berlari menuju kerusuhan itu. Tak ku pedulikan lagi bahaya yang mengancam diriku sendiri. Jalan menuju tempatmu, kacau. Tembakan demi tembakan terdengar meletup-letup. Mayat mulai bergelimpangan dan darah mengalir dimana-mana. Ku lihat perempuanku, sedang memapah seseorang yang bersimbah darah.
Segera ku berlari ke arahmu dan mengambil alih tubuh lelaki itu. ''Biar aku yang memapahnya.''
''Lukanya, Pak,'' kamu mengingatkan.
''Kita bawa ke tempat aman dulu, baru kita hentikan perdarahannya,'' ucapku mempercepat langkah.
Aku tidak fokus pada siapa lelaki yang ku papah ini. Namun aku melihat ketegangan dari raut wajahmu. Aku yakin, lelaki ini spesial untukmu. Namun, dia bukan Dion kekasihmu. Siapa dia?
Aryan jangan kepo!
__ADS_1
Aku tak bisa memungkiri jika aku begitu penasaran. Perasaan apa yang kamu simpan untuk lelaki berdarah itu? Apakah dia kekasihmu yang lain? Ah, mana mungkin. Apalagi saat ku melihat Dion hadir setelah kamu menceritakan apa yang terjadi. Sepertinya Dion juga mengenal lelaki ini dengan baik. Namun kenapa dia tidak cemburu, padahal aku saja jelas-jelas bisa melihat dari cara pandang kalian, bahwa ada hati yang berbalut cinta.
Misteri rasa apalagi ini? Kamu, kekasihmu dan lelaki yang kau khawatirkan itu?