Tentang Hati

Tentang Hati
Tidakmu Untukku


__ADS_3

Cling!


Sebuah pesan WA masuk ke HPku.


Nomor tanpa nama, begitu yang bisa ku tangkap dari notifikasi yang sekilas lewat di layar bagian atas.


Ku biarkan dalam beberapa waktu. Ingin ku biarkan begitu saja tapi hatiku yakin kalau itu berasal dari Mas Rud. Mengingat ekspresinya yang muram setelah diberi wejangan Eyang, pasti ada sesuatu yang ingin dia sampaikan. Aku galau. Jika ku biarkan, aku penasaran tapi jika ku buka, aku tahu akan semakin penasaran. Ku timang-timang langkah apa yang harus ku ambil.


Akhirnya aku tak bisa menampik bahwa aku harus membuktikan kata hatiku. Benarkah itu darinya?


Sore nanti aku bakalan balik ke Jakarta.


Pesan yang isinya hanya merujuk pada tiga lelaki. Pak Aryan langsung tereliminasi, karena tadi pagi dia sudah bilang pesawatnya akan take off jam sembilan malam. Kedua, tentu saja Dionku. Namun itu juga langsung keluar dari daftar tersangka. Untuk apa dia bicara begitu, lewat WA lagi? Satu-satunya orang yang menjadi pelakunya adalah Mas Rud, sesuai tebakanku tadi.


Satu pertanyaan terjawab. Pertanyaan berikutnya adalah Mengapa ia mendadak balik ke Jakarta? Apakah karena kejadian tadi? Ataukah ada hal lain yang terjadi?


"Ku balas atau tidak, ya?" gumamku terjebak langkah pertama yang sudah ku ambil. Aku sudah basah jadi lebih baik aku mandi sekalian. Percuma dibuka dan dibaca kalau tidak dibalas.


Jemariku mulai sibuk memilih satu per satu huruf, menyusun sebuah kata dan berakhir di dua suku kata "Aku beri". Akan mengetikkan kata selanjutnya tapi ada seseorang yang datang mengagetkanku.


"Kok, kaget, sih? Aku hanya memanggil namamu lirih," bisik Dion di telinga kananku.


Refleks aku mematikan HPku dan tersenyum untuk menutupi debaran jantungku yang tidak normal. Rupanya Dion menangkap gelagatku yang tak biasanya.


"Boleh aku melihatnya?" pinta Dion bernada lembut tapi terdengar menusuk di telingaku.


Ragu-ragu, tapi akhirnya ku serahkan juga benda itu padanya. Dion menyalakan HP itu, dan sebentar kemudian kembali menyerahkan padaku.


"Kamu ingin balik ke Jakarta juga, nanti sore? tanyanya setelah membaca pesan itu.


"Tentu saja, tidak," jawabku jujur.


"Lalu, kenapa kamu terlihat gugup, Sayang? tanya Dion seraya menghapus titik keringat yang mulai bermain di keningku.


"Aku hanya kaget kamu datang tiba-tiba," alasanku.


"Benarkah?" Dion meraih daguku dan mengangkatnya sehingga terciptalah garis lurus antara mataku dan matanya.


"Kalau kamu sedekat ini, aku jadi semakin gugup, Di," ucapku seraya mengalihkan pandanganku dari manik matanya yang lembut tapi menghujam itu.


"Mengapa kamu semakin gugup?" Dion malah semakin mendekatkan dirinya padaku, bukan hanya wajahnya.


Aku semakin salah tingkah. Rasanya Dion sengaja untuk menelaah perasaanku lebih dalam. Apakah dia masih ragu dengan perasaanku padanya? Ataukah memang aku yang belum seratus persen yakin akan dirinya? Mungkinkah dia juga membaca jika aku masih gamang?

__ADS_1


Ku lepaskan napas keresahanku. "Aku hanya ingin tahu alasannya meninggalkanku," jujurku.


"Untuk apa?" tanyanya masih dengan posisi yang sama.


"Rasanya aku masih penasaran, aku ingin melupakan dia dengan sempurna, Di," ungkapku.


"Apakah seandainya kamu tahu, kamu bisa melupakannya dengan sempurna? Ataukah justru kamu akan meninggalkanku untuk kembali padanya?" telisik Dion serius.


Aku tak tahu. Aku juga tak mengerti mengapa aku ingin sekali mengetahui apa yang terjadi kala itu. Sepertinya hatiku belum sepenuhnya rela jika dia meninggalkanku begitu saja. Apalagi sekarang dia begitu kekeh untuk kembali. Kembali saat aku sudah menemukan penggantinya.


"Aku akan tetap di sampingmu apapun alasan yang ia berikan, Di. Aku sudah memilihmu dan tidak akan mundur. Hubungan ini sudah jauh melangkah, tak mungkin aku berhenti di tengah jalan," jelasku.


Dion meraihku ke dalam pelukannya. Pelukan yang begitu hangat dan seakan tak mau lepas. "Aku tidak mengizinkanmu berhubungan lagi dengannya walaupun hanya untuk mencari tahu alasannya meninggalkanmu. Aku bisa mengalah untuk hal lain tapi untuk masalah ini aku tidak bisa. Maafkan, jika aku egois tentang Rud," Dion menutup ucapannya dengan sebuah kecupan lembut di keningku.


Aku tak sanggup untuk berkata-kata lagi. Satu hal yang dia inginkan untuk ku penuhi adalah satu hal yang ingin ku ketahui. Sesuatu yang sangat susah untuk ku putuskan. Namun, aku harus tetap memilih.


"Maafkan aku, Di," mohonku untuk semua yang telah ku lakukan padanya.


Untuk waktu panjang yang kamu habiskan memperjuangkan cintaku. Untuk kesabaran yang kamu miliki ketika berhadapan dengan keketusanku. Untuk hatiku yang masih ada celah untuk nama yang lain. Untuk keraguan yang harusnya ku hempaskan. Dan untuk rasa yang belum ku genapkan untukmu.


"Jangan terus mengucap maaf padaku, Sayang. Akulah yang seharusnya meminta maaf atas keegoisanku. Memaksamu untuk melupakan seseorang yang mungkin tidak bisa kamu lupakan. Aku sadar, bagaimana kisah kita berawal. Mengerti dengan sangat, bagaimana perasaanmu terlahir untukku. Namun sekarang aku adalah pemilikmu. Dan aku tahu, aku adalah pemilik yang sangat keras kepala. Dia memang menjadi yang pertama bagimu tapi akan ku pastikan akulah yang akan menjadi yang terakhir dalam hidupmu. Aku mohon, maafkan pencintamu yang posesif ini, ya, Sayang!" ucap Dion seraya kembali merengkuhku ke dalam pelukannya. Kecupan lembut tiada hentinya ia sentuhkan pada puncak kepalaku.


Aku tenggelamkan kepalaku ke dalam dada bidangnya. Menyerahkan hati yang memang telah ia miliki. Meluluhkan sedikit rasa yang masih bersisa bukan untuknya.


Dia menundukkan pandangannya untuk dapat menatap mataku. " Hmmm."


"Bagaimana jika akhirnya aku gak bisa melupakan Mas Rud?" entah kenapa aku menanyakan masalah yang seharusnya pantang aku tanyakan itu.


"Apakah itu berarti kamu gak bahagia bersamaku? Hingga masih ada dia di hatimu," tukas Dion.


"Entahlah, aku juga gak mengerti dengan hatiku sendiri. Sudah jelas aku disakiti tapi kenapa aku masih penasaran dengannya," curhatku.


"Kalau aku melepaskanmu, apakah kamu akan bahagia?" tiba-tiba saja terlontar kalimat itu dari mulut Dion.


Seketika aku tegakkan tubuhku. Melepaskan pelukannya dan menempelkan telunjukku di bibirnya. Ku gelengkan kepalaku pertanda aku tak menginginkan sesuatu yang baru saja aku dengar. "Sudah ku bilang, jangan lepaskan aku! Aku bahagia denganmu, terlalu bahagia. Hingga aku takut jika aku bahagia sendiri. Apakah kamu bahagia bersamaku? Apakah kamu bahagia meski tahu aku masih belum bisa sepenuhnya melupakannya? Apak ...?"


Bibirku ganti dia sentuh dengan jari telunjuknya. "Jika aku tak bahagia denganmu, aku pasti sudah memilih wanita lain yang banyak datang menawarkan cinta padaku."


"Wanita, lain?" tanyaku dengan mengernyitkan dahi.


"Hmmm," Dion hanya menjawab dengan gumaman.


"Siapa?" aku terlalu penasaran untuk tidak menanyakan wanita-wanita yang baru saja Dion sebutkan.

__ADS_1


"Betty La Fea, Esmeralda, Paula-Paulina, Marimar, ...," sebut Dion dengan entengnya.


"Mereka tante-tante semua, Sayang. Apakah sekarang kamu mulai menyukai wanita-wanita matang?" celetukku mulai kehilangan rasa cemburu dan beralih perasaan kalah saing.


Bisa-bisanya ia menyandingkanku dengan wanita paruh baya yang kulitnya tak lagi elastis. Apakah yang dia cari dengan meninggalkanku dan memilih mereka?


Aarrgghh!


"Kenapa? Mereka berpengalaman, Sayang." tukasnya tanpa rasa bersalah.


"Pengalaman itu hanya masalah waktu, semua bisa dipelajari. Aku bahkan bisa lebih berpengalaman daripada mereka, kalau aku mau belajar." selorohku tak mau dianggap polos.


"Ayo, belajar sekarang! Aku adalah guru terbaik. Tampan dan tanpa bayaran. Dan yang pasti memuaskan," promo Dion besar-besaran.


"Kalau kamu gurunya, nanti aku prakteknya sama siapa? Pak Aryan?" aku asal menyebutkan nama.


"Ya akulah, kenapa berani-beraninya kamu menyebutkan namanya di depanku?" tutur Dion mulai terpancing cemburu.


"Karena hanya dia lelaki di dekatku yang gak kamu cemburui," jelasku.


Dion mencubit hidungku tanpa segera melepasnya. "Aku diam bukan berarti aku tidak cemburu."


"Kalau Mas Rud?" tiba-tiba keluar begitu saja nama itu dari pengucapanku.


"Sudah ku bilang kalau aku egois tentangnya. Jangan pancing emosiku. Bukankah kamu tahu, bagaimana jika kecemburuanku memuncak?" pengucapannya santai tapi tegas.


Membuatku merinding, mengingat bagaimana dia dibakar cemburu kala itu. Apartemennya menjadi saksi sesuatu itu terjadi untuk pertama kalinya, kecupan di bibir. Ku geleng-gelengkan kepalaku, tak mau lagi kejadian itu terulang lagi.


"Kita temuin pengantin baru, yuk! Kita udah lama meninggalkan mereka," ajakku mencari keselamatan jiwa raga.


"Ayo! Kita main pengantin baru!" ucap Dion dengan senyum culasnya.


Sebuah cubitan ku hadiahkan pada pahanya. "Jangan mesum terus, halalin dulu!"


*****


Kali ini author malu-malu mau promoin mereka, secara mereka lebih femes daripada author TENTANG HATI, he-he




__ADS_1


__ADS_2