Tentang Hati

Tentang Hati
Perjalanan Suci


__ADS_3

Maaf dan memaafkan ternyata berdampak sangat besar bagi ketenangan pikiran. Menghanyutkan kehidupan dalam kedamaian. Segala hal yang awalnya sulit, kurasa menjadi mudah. Pekerjaan Dion yang pada mulanya kami khawatirkan, perlahan mulai menunjukkan hasil sebuah perjuangan. Tulisanku pun semakin menarik banyak orang untuk membacanya. Intinya, kehidupan kami, merasa lebih berkah dan selalu dilimpahi nikmat. Hingga tak terasa, waktu sudah berlalu begitu cepat.


Kehamilanku sudah memasuki trimester kedua. Dan tepat hari ini, aku memulai sebuah perjalanan panjang yang sudah aku persiapkan sejak beberapa bulan yang lalu. Umrah.


Kembali melakukan penerbangan dengan waktu puluhan jam, mengingatkanku pada bulan madu beberapa waktu lalu. Perbedaannya, waktu itu kami terfokus untuk memberikan nikmat pada mata. Memberinya kesenangan dunia dengan pemandangan indah hasil ciptaan sang Kuasa. Kini, langkah kami dibawa pada sebuah perjalanan suci. Bukan hanya memanjakan diri sebagai manusia yang membutuhkan hiburan tetapi memberikan sentuhan spiritual pada jiwa-jiwa yang haus akan kedekatan dengan sang Pencipta alam.


Miqat. Hal pertama yang harus kulakukan untuk mengawali langkah apapun adalah dengan berniat. Tak hanya untuk ibadah yang akan aku jalani ini, hal lain dalam hidup pun seharusnya harus didasari oleh niat yang baik. Seperti ketika aku menerimamu dulu. Aku tak bisa menyebutkan apa niatku, tetapi semua hanya berlandaskan kenyamanan. Entah itu langkah awal yang salah ataukah benar, tetapi kuyakini jika memilih Dion adalah keputusan paling tepat.


Salat tahiyatul masjid sebanyak dua rakaat di Masjidil Haram, membuka ingatan bagaimana niatku memilihnya diridhoi Allah, kami dipersatukan. Dua anak cucu Adam, dijauhkan dari hubungan yang haram dan dituntun untuk menjalani sebuah ikatan halal dengan mengikrar janji sehidup semati.


Mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali memang tak sebanyak aku memutari hati sejumlah lelaki sebelum menyandarkan cinta pada sang pencintaku yang berjuang tanpa mengenal rintangan. Dion tanpa gentar, selalu membelengguku. Terus berjalan di sekitar hingga tak ada lelaki lain yang sanggup hadir untuk membelokkan arah jalanku. Sama seperti tawaf ini, terus berjalan pada lintasan. Semakin merapat dan akhirnya sanggup mendekat.


Dua rakaat pendekat pada sang Maha Pemikat di Hijr Ismail membuatku teringat jika selama ini ada dua lelaki yang terus mendekati tanpa henti. Pada akhirnya melengserkan setengah lingkaran pejuang dan dia menjadi pemenang. Meraih pahala dengan jalan menyempurnakan setengah agama.


Tujuh kali aku berlari kecil antara Bukit Shafa dan Marwah, sa'i. Kilas balik perjalanan Siti Hajar, ibunda Nabiyullah Ismail mencari air ketika putra semata wayangnya kehausan di tengah gurun yang panas dan gersang. Aku seolah dibawa pada kisah kelam saat hati sukar menentukan pilihan. Berlari dari satu hati ke hati yang lain. Menorehkan luka pada tiga hati manusia. Gamang, membuat perasaanku dihantam oleh serangan.


Saat tahallul menjadi rukun terakhir, syukur alhamdulillah terlahir dari bibir. Kelegaan dari prosesi panjang ibadah umrah telah berjalan dengan lancar. Tak ubahnya seperti cerita cinta kami yang terukir dengan begitu indah. Entah bagaimana awalnya tetapi yang terpenting akhirnya adalah hal bahagia.


Berkesempatan hadir di Baitullah, rasanya seperti memasuki suatu dunia tersendiri. Di mana di sini pikiran hanya dipenuhi oleh urusan cinta pada Sang Pemilik Alam Semesta. Kemewahan dunia yang selalu dikejar di luar sana, di sini semua menepi. Wudhu selalu terjaga dan lantunan ayat suci tiada henti terlantun dari bibir-bibir pemilik jiwa yang merindu surga.


Waktu dan ibadah adalah dua hal yang tak dapat dipisah. Bagaikan air dalam wadah, tak ada celah untuk maksiat berkhianat. Siang dan malam berlalu bersama Al Quran. Salat terus didirikan, seolah tiada rasa letih yang datang. Bibir terus memuji, cinta itu datang bertubi. Semakin detik berganti, semakin rasa itu tak dapat tersisih.

__ADS_1


Sembilan hari, seolah hanya sekejap mata. Ingin waktu berhenti saat ini, agar dunia di luar sana tidak memanggil untuk segera kembali. Pulang pada dunia yang fana. Ibadah hanya jadi sekedar penghilang kewajiban tanpa disadari bahwa itu adalah kebutuhan. Bukan Sang Khaliq yang diuntungkan melainkan kitalah yang dirugikan jika meninggalkan.


Dan kini, saat kami harus kembali melangkah keluar dari tanah suci, ada rindu yang teramat kuat menghinggapi. Tak ingin berpisah meskipun kami belum juga melangkah. Hanya sebuah doa kupanjatkan semoga suatu saat kami dipanggil kembali untuk menjadi tamu agungnya.


Di sini, perjalanan kami akan kembali ke indonesia. Di bawah langit Saudi Arabia, kami tak berhenti menoleh ke belakang. Kenangan yang biasanya harus dihempaskan, di tempat ini, yang namanya kejadian hari kemarin adalah mimpi yang akan terus terkenang dan berharap akan segera diwujudkan menjadi nyata kembali.


"Mas, rasanya aku gak ingin pulang."


"Kita berdoa semoga segera dipanggil lagi beribadah di sini," balas Dion sambil menggenggam jemariku.


Kuangkat kedua tanganku, menangkup keatas mengaminkan doa yang Dion panjatkan. Jika kemarin aku diserbu candu novel online, sekarang aku selalu merindu dihadirkan di tanah kelahiran sang nabi terakhir.


"Benar sekali, Sayang. Besok lagi jika kita memiliki rezeki lebih, lebih baik menelusuri jejak perkembangan islam di berbagai belahan dunia, gimana?"


"Setuju. Beberapa hari ini, hanya dengan mengunjungi beberapa tempat wisata religi saja, aku sudah dibuat terkagum-kagum. Semakin terpacu untuk mengenal lebih dalam dan mimpiku bisa menulis novel bertema religi."


"Semoga mimpimu terwujud, Sayang."


Lagi-lagi aku mengaminkan kalimat doa dari Dion.


Mekkah dan Madinah, dengan banyak bangunan bersejarah bagi perkembangan islam, memberiku banyak inspirasi. Telah tergambar beberapa judul dengan pilihan kata itu. Antara "Cinta Halal di Masjidil Haram", "Cintamu Seperti Masjid Quba, pertama di hatiku", atau bisa juga "Raudlah, Mekarnya Bunga Cinta di Masjid Nabawi."

__ADS_1


"Novelis gitu ya, semua hal bisa dijadikan cerita novel," sindir Dion sambil tersenyum.


Memang, di otak penulis walaupun masih amatir sepertiku, apa yang ada di sekitar adalah sebuah inspirasi yang mahal. Jangankan sesuatu yang luar biasa, hal kecil saja bisa mendatangkan ide segar.


"Ya ... gitu deh. Mas, juga bisa aku jadikan inspirasi novel keduaku."


"Apa judulnya?" selidik Dion yang curiga dengan gelagatku yang menyembunyikan tawa dibalik senyum.


"Suami botakku, i love you!" celetukku sambil memalingkan wajah.


"I love you too," balas Dion sambil mencubit hidungku gemas.


"Kenapa dijawab? Itu judul novel," gerutuku.


Dion memamerkan senyumnya. "Aku tahu kamu modus, Sayang."


"Aku tulus, Mas."


"Modus."


Dion tetep kekeh. Dan aku juga gak mau mengalah. Sama-sama ngotot dan akhirnya menyerah. Tanpa sengaja, berbarengan berucap cinta. "Aku mencintaimu, Sayang."

__ADS_1


__ADS_2