
Lampu ruang keluargaku masih menyala terang. Televisi riuh ramai menayangkan ajang pencarian bakat menyanyi. Obrolan santai yang sesekali diselingi tawa renyah, terdengar menggema. Malam sudah menginjak pukul 21.00, tapi tumben Mama dan Kristy belum terlelap.
"Ma, laper," rengek Kristy.
"Kalau laper ya makan, itu ada nasi goreng yang mama siapkan untuk Mbakmu," jelas Mama.
"Mau yang lain, Ma," ucap Kristy.
"Ma ...," sebuah suara khas lelaki terdengar di ruang keluargaku.
Mama dan Kristy yang sedang mengobrol pun, menoleh berjamaah. Aku yang masuk bersamaan Dion, langsung menuju kamarku untuk menaruh tasku. Sementara Dion langsung menemui Mama dan Kristy
"Loh, kapan dateng, katanya seminggu di Yogya?" Mama beranjak dari duduknya.
Dion mencium tangan Mama dan menyerahkan paper bag yang di bawanya, "Tadi siang, Ma. Ini oleh-oleh buat Mama dan Kristy."
"Terimakasih, malah ngerepotin," ucap Mama.
Dion tersenyum. Mama meninggalkan ruang keluarga untuk menyimpan paper bag dari Dion. Sementara Dion, memilih untuk duduk di sebelah Kristy yang sedang asyik menonton TV sambil lesehan di karpet.
"Udah gak bisa nahan kangen sama Mbak Rosa, ya, Mas? Baru dua hari dah pulang lagi," goda Kristy.
Dion menebar senyumnya, "Adek Mas ini emang tau aja, rasanya Mas udah pengen cepet-cepet nikahin Mbakmu itu, Mas gak kuat jauh-jauh dari dia."
"Ihh ... Mas Dion, aku bilangin Mama, ya!" ancam Kristy.
"Mau bilang apa?" tanya Mama yang tiba-tiba muncul sambil membawa nampan berisi dua gelas teh anget.
"Mas Dion udah kebelet nikah, Ma," cerita Kristy.
Dion yang malu, nampak menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Senyumnya terkembang berbingkai malu tapi mau. Aku yang baru saja duduk di karpet bergabung dengan mereka, langsung ditodong pertanyaan oleh Mama.
"Sa, kapan kamu siap dinikahin, Dion?" tembak Mama.
Aku yang baru saja hendak mengambil bantal kaki kesayanganku, di belakang Dion, jadi seolah ter-pause tepat di pelukannya. Beberapa detik waktu terhenti, tanpa aku sadar menikmati aroma tubuh Dion yang menghanyutkanku. Wajah tampannya yang hanya terpaut 10 cm di hadapanku itu semakin menghipnotisku.
"Malu, diliatin Mama dan Kristy," ucapan lirih Dion menjalankan kembali waktu yang sempat terhenti. Aku menarik diriku dari hadapannya sesegera mungkin. Dion lantas mengambilkan bantal kaki berwarna coklat tua yang ada di belakangnya dan menyerahkannya padaku.
"Baru ditanya aja udah grogi, gimana kalau denger ijab qobul?" Kristy tertawa ngakak.
Aku malu, benar-benar malu. Apalagi dengan adegan tadi yang tak pantas ku pertontonkan di hadapan mereka.
"Aku, tidur dulu aja, ya. Udah malem," ucapku sambil beranjak dari dudukku.
Belum berhasil berdiri sempurna, Dion sudah menggapai tanganku untuk memintaku duduk kembali. Aku pun, mau tidak mau mengikuti arahannya.
__ADS_1
"Duduklah, aku gak akan memaksamu," pinta Dion seraya tersenyum manis.
"Mbak Rosa, jangan jual mahal, nanti ditinggalin Mas Dion nangis-nangis," Kristy lagi-lagi menggodaku.
"Mama ...!" aku mencari perlindungan dari Mama.
"Kristy ... udah! Ini udah malem, nanti di datengin warga, dianggap membuat keributan." Mama menengahi.
"Nak Dion, udah siap nih, punya istri Rosa? Masih manja begini sama Mama," malah Mama ganti menggodaku.
"Aahhh ... Mama," aku cemberut.
"Di, kamu pulang gih, udah malem, nanti digerebek warga," ucapku sambil menarik tangan Dion untuk segera berdiri dari duduknya.
"Itu emang maunya Mas Dion, Mbak, biar cepet dikawinin." celetuk Kristy dengan senyum smirknya.
"Hust ... nikah dulu baru kawin," bisik Dion lirih ke Maya, karena gak mau terdengar Mama.
Dion pun berdiri dan mendekati Mama, "Ma, Dion pamit dulu ya."
"Hati-hati, Kamu kan pasti capek baru pulang dari Yogya," pesan Mama.
"Udah-udah, ayo pulang," ucapku sambil mendorong tubuh Dion untuk segera keluar rumah.
"Kemarin kangen-kangen, sekarang diusir-usir," teriak Kristy.
*****
Ku baringkan tubuhku di ranjang. Mengistirahatkan jiwa ragaku yang sudah lelah seharian. Bukan hanya lelah karena bekerja, tapi juga karena harus berurusan dengan perasaan dua lelaki. Mulai ku pejamkan mataku, berusaha untuk sesegera mungkin bermain di alam mimpi. Namun, tiba-tiba saja HPku berdering. Telepon pertama ku abaikan, meskipun aku penasaran identitas si penelepon. Dering yang kedua, tak bisa ku abaikan lagi. Akhirnya ku ambil HP yang ada di nakas.
"Pak Aryan," gumamku.
Ngapain telepon? Angkat gak ya? Apa gak akan jadi masalah, kalau aku mengangkatnya? Atau ku biarkan saja kali ya? Mungkin dia berpikir kalau aku sudah tidur. Namun ....
"Iya, Pak. Ada apa?" akhirnya ku putuskan untuk mengangkatnya.
"Aku pikir, kamu sudah tidur," tukas Pak Aryan.
"Belum, Pak. Apa ada masalah dengan pekerjaan saya, kok Bapak menelepon saya jam segini?" tanyaku.
"Apakah aku hanya boleh meneleponmu masalah pekerjaan? aku ingin meneleponmu sebagai seorang teman," tutur Pak Aryan.
Aku merasakan bahwasanya kekhawatiran Dion padaku mulai menunjukkan kebenarannya. Menurutku, telepon Pak Aryan malam ini, hanya sebagai modus semata.
"Bapak boleh menelepon saya sebagai teman, kok, kalau ada yang penting," jawabku.
__ADS_1
"Bagaimana tadi nontonnya?" tanya Pak Aryan kemudian.
Apa aku salah sangka? Dia hanya menanyakan rencananya yang gagal tadi. Mungkin dia hanya tak enak hati karena meninggalkan acara yang sudah dia gagas bersama kami.
"Kami, tidak jadi nonton, Pak," jawabku.
"Kamu, jadinya pergi sama pacarmu, ya?" terasa ada senyuman dari pertanyaannya.
"Iya, Pak," jawabku jujur.
"Aku senang, akhirnya bisa mengenal pacarmu," ungkap Pak Aryan.
Mengapa dia senang bisa mengenal Dion? Apakah itu tanda jika ia bisa mengetahui seberapa tangguh rivalnya untuk merebutku. Aish ... kenapa aku jadi selalu negatif thinking padanya.
"Aku bisa merasakan, kalau pacarmu itu begitu mencintaimu. Kamu beruntung mendapatkannya," tutur Pak Aryan.
"Bapak, benar. Dion memang begitu mencintai saya. Butuh banyak perjuangan untuknya sampai bisa mendapatkan hati saya, Pak," jelasku bermaksud untuk menceritakan bagaimana besarnya cinta Dion untukku.
"Mendapatkanmu harus pantang menyerah, ya? Justru itu yang membuat lelaki makin tertantang," kata Pak Aryan.
Sebentar, Pak! Yang Bapak maksud ini, perjuangan pacarku ataukah perasaan Bapak untuk harus memperjuangkanku. Oh My God, negatif thinking lagi ... maaf Pak, aku selalu berpikir buruk terhadapmu.
"Oh ya, Sa, kapan jadinya kita akan merayakan pertemanan kita?" tanya Pak Aryan.
"Kita, Pak?" aku memperjelas.
"Iya, kita," Pak Aryan meyakinkan.
"Maksud Bapak, Maya, Mas Rendra, dan saya kan?" tanyaku terbata.
"Iya," Pak Aryan tenang sekali menjawabnya.
"Kamu pikir, aku akan mengajakmu nonton berdua? Kamu gak usah takut, aku tau kamu punya pacar, kok," Pak Aryan membuatku sedikit lebih nyaman.
"Saya hanya memastikan, Pak," alasanku.
Bapak yang membuat aku ketakutan. Bukan takut karena hatiku akan terbagi, tapi aku takut Bapak semakin menyukaiku dan tak bisa meredam perasaan yang timbul setelahnya. Bagaimanapun, aku bisa merasakan perlakuan Bapak padaku itu lebih dari anggapan Bapak sebagai teman. Aku bisa merasakan dari tatapanmu padaku, bahwasanya ada rasa lebih yang tersimpan di hatimu.
"Tenang, Sa, aku bukan perebut pacar orang, kok. Perebut calon istri orang, mungkin." ucapnya seraya tertawa.
"Pak ...!" aku memanggilnya penuh penekanan.
"Aku bercanda," ucapnya kemudian.
"Baiklah, aku hanya ingin memastikan kamu masih mau berteman denganku, setelah aku berkenalan dengan pacarmu tadi. Selamat beristirahat, ya!" punutup telepon dari Pak Aryan.
__ADS_1
Kalimat-kalimat penutupnya itu perlu ku cerna lebih dalam. Apa maksud yang dia sembunyikan?
Pak Aryan, Jangan Menggodaku!