
H-5 Sebelum proses pencatatan pernikahan secara resmi terjadi, aku dan Dion sepakat untuk menghabiskan hari di apartemen. Pesta lajang semalam membuatku harus membayar ganti rugi atas waktu yang seharusnya untuknya. Seharian ini, ia memintaku untuk menemaninya, mengobrol dari hati ke hati, begitu katanya.
"Mas, semalam beneran nginep sama Aryan?" tanyaku memulai pembicaraaan sambil menonton saluran ikan terbang.
"Hm," jawab Dion dengan gumaman singkat.
"Marah? Jawabnya kok 'gitu, sih?" tanyaku lagi tapi dengan menatap wajahnya.
Dion menuntunku untuk rebahan di pangkuannya, padahal biasanya dia yang merebahkan diri di pangkuanku. Perlahan dia membelai rambutku. "Aku mau jujur, apakah kamu mau mendengar?"
Aku mendongakkan kepalaku. Penasaran dengan kata jujur yang dipilihnya. Kebohongan macam apa yang dia lakukan hingga dia mau membuat sebuah pengakuan? Padahal selama ini, aku menganggap Dion adalah lelaki yang tak pernah berbohong.
"Aku akan mendengarkan, bicaralah," ucapku lembut.
"Kemarin, kamu bilang tidak mau lagi menemui Rud, yakin?" tanya Dion dengan sedikit terbata.
"Tentu saja," jawabku dengan keyakinan penuh.
"Bagaimana jika Rud memintamu untuk menemuinya satu kali saja?" pertanyaan Dion semakin menyudutkanku, seolah tidak percaya dengan kata-kataku.
"Sudah kubilang Mas, aku tak akan menemuinya lagi bahkan jika itu adalah hari terakhirnya bernapas," balasku mengulang janji malam itu.
"Jika hidupnya berada di tanganmu, bagaimana?" tanya Dion lagi yang semakin membuatku geregetan.
Aku menarik diri dari pangkuannya. Duduk menghadapnya dan menatap lekat mata hitam itu. "Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan tentang Mas Rud?"
Mengenal Dion lebih dari sepuluh tahun membuatku tahu kapan lelaki ini bicara pada level ketenangan atau sedang terjerembab pada kegundahan. Dan kali ini aku tahu betul jika ia sedang tidak berada pada posisi damai. Ada yang mengganjal di hatinya tentang Mas Rud, aku yakin itu.
"Mas," panggilku ulang begitu melihatnya hanya diam tanpa menjawab pertanyaan yang kulayangkan.
"Rud amnesia ... dan ... hanya kamu yang diingatnya," jelas Dion dengan kalimat yang terjeda beberapa kali.
__ADS_1
Kutatap lembut matanya yang dia tundukkan. Pipinya aku tangkup dengan kedua tanganku. Mengangkatnya hingga pandang mata kami bertemu. "Apa kamu takut aku akan pergi menemuinya, hm?"
Bibir Dion tetap mengatup tapi matanya mengatakan iya. Dari sorotnya bisa kubaca sebuah ketakutan yang berusaha keras ia sembunyikan. Dia tak akan bisa lagi membohongiku, pura-pura biasa padahal sedang galau tingkat dewa. Aku sudah cukup pintar untuk membaca hatinya.
"Bawa aku pergi jauh dari sini, kalau kamu takut aku akan pergi menemui Mas Rud!" pintaku sambil menggenggam tangannya.
Dion menggeleng. "Seberapa jauh kamu pergi kalau hatimu masih di sini, semua percuma. Aku tidak ingin memaksamu mencintaiku."
"Aku yang akan memaksamu untuk tidak melepaskanku," ucapku sambil menggenggam jemarinya.
"Dia membutuhkanmu," Dion terus beralasan agar aku meninggalkannya.
"Aku membutuhkanmu," timpalku balik.
"Kamu mencintainya," vonis Dion sok tahu dengan hatiku.
"Aku mencintaimu," kalimat pembungkamku untuk kalimatnya yang terus menyudutkanku.
"Tidakkah kamu melihatku dengan hatimu, Sayang? Aku sekarang ini bukan Rosa yang perasaannya terombang-ambing. Rosa yang di hadapanmu ini adalah Rosa yang kekeh menolakmu selama sepuluh tahun perjalanan hidupmu. Dan sekarang Rosa yang telah mencampakkanmu berkali-kali, akan memaksamu untuk mencintaiku sampai kamu bosan mendengar kata cinta yang aku ucapkan," jelasku sepenuh hati.
"Sayang, aku salah karena selalu menduakanmu dengannya. Namun aku tak ingin salah untuk kesekian kalinya. Pernah menyesal karena kamu tinggalkan, rupanya tak cukup membuatku belajar. Jangan izinkan aku menyesal untuk kali kedua, Sayang. Biarkan aku di sisimu!" pintaku dalam penyesalan rasa masa lalu.
Dion menatapku dengan nanar. Air matanya jatuh satu-satu. Mengalir hingga membentuk anak sungai yang semakin deras dan bermuara pada isakan yang tak mampu untuk menguntai kata. Aku seka kristal beningnya. Sama-sama terjerat oleh kebekuan kata, hanya mata yang saling bertaut. Berbicara lewat sorotnya bahwa tak bisa saling melepaskan.
Pelukan, merasakan kehangatan untuk menghilangkan beku yang bersatu padu. Mengunci mulut untuk saling bicara cinta. Menggembok hati yang memang sudah tertutup untuk hati yang telah menyakiti.
"Kamu adalah suamiku, Mas. Beri aku kesempatan untuk berbakti sebagai istrimu. Jangan membuatku jadi wanita jahat yang meninggalkan suami untuk seorang mantan," ucapku dengan menatap lekat matanya.
Dion mengusap pipiku. Wajahnya semakin mendekat dan menyapukan bibirnya pada keningku. "Kamu adalah istri terbaik untukku. Kita akan melewati hari yang penuh warna berdua, Sayang."
Senyum tersungging di bibirnya. Kubalas dengan tak kalah manisnya. Kami sama-sama mengukir bahagia.
__ADS_1
"Sayang, aku bahagia kamu sudah memutuskan untuk memilihku. Namun, ada yang mengganjal di pikiranku," ungkap Dion dengan tautan jemarinya di jemariku.
"Ada apa, Mas?" tanyaku dipenuhi rasa ingin tahu. Bukankah kegamangan hatiku adalah masalah terberat buatnya. Aku sudah memberi keputusan, lalu?
"Aku ingin egois tapi nuraniku tak mampu. Kamu harus menemui Rud, beri dia kekuatan. Perjalanan hidupnya terlalu sakit untuk dihadapinya sendiri. Hanya kamu pelipur laranya," pinta Dion yang tak bisa kucerna dengan pikiranku.
"Mas!" seruku dengan nada sedikit meninggi.
"Kita tidak bisa bahagia di atas penderitaannya, itu menyalahi nuraniku," ungkap Dion dengan tatapannya yang menyimpan resah, entah resah tentang Mas Rud atau tentang aku dan yang jelas tentangnya yang merasa sebagai juru kunci untuk kelanjutan hidup Mas Rud berikutnya. Padahal Dion tak harus menanggung ini, perasaan Mas Rud, hidup lelaki itu adalah miliknya sendiri. Hanya karena perasaan Mas Rud untukku dan aku adalah miliknya maka Dion rasa dia punya andil untuk semuanya.
Ah ... aku tak bisa memahami hati malaikatnya.
"Aku tidak mau!" tegasku.
Perasaan yang dengan susah payah kulepaskan, mana mungkin kembali aku datangi. Aku bukan Dion dengan hati malaikatnya. Aku adalah Rosa yang yang berhati manusia. Seringkali dikuasai setan yang terkutuk walaupun tak jarang berpayung di jalan yang lurus.
"Kita pergi bersama," bujuk Dion dengan lembut.
"Tidak, Mas! Aku tidak mau melukaimu, lagi," tegasku.
"Kali ini aku yang menginginkan," ujar Dion dengan penuh kelembutan.
"Mas, jangan memancingku bermain api. Nanti kamu yang akan terbakar," alasan tegasku terus menolak keinginannya.
"Sekali saja,demi rasa kemanusiaan," bujuknya lagi.
"Sekali tidak, selamanya tidak!" tegasku seraya memilih untuk meninggalkannya.
Maafkan, Mas! Jangan menyulut kembali rasa yang sudah kupadamkan. Keputusanku untuk memilihmu jangan kau goyahkan dengan keadaannya atas nama kemanusiaan. Biarlah aku menyakitinya sama seperti dia menyakitiku. Izinkan aku untuk membahagiakanmu meskipun tak akan pernah bisa menyamai caramu membahagiakanku selama ini.
*******
__ADS_1