Tentang Hati

Tentang Hati
Sepanjang Jalan


__ADS_3

Satu jam menuju tengah malam, kami memutuskan untuk pulang. Jalanan masih cukup ramai. Di bawah sinar bulan purnama yang indah, kami memilih untuk berjalan kaki. Keromantisan yang tak selalu identik dengan kemewahan, seperti yang dihadirkan Tuan Alex untuk Rianti. Ini seperti romantisnya cinta Bang Ismed dan esteh yang tetap terpatri meski berbeda alam.


"Di, sepertinya enak, ya, kalau bisa tinggal di sini?" ucapku.


Dion berjalan tanpa melepaskan genggaman tangannya dari tanganku. "Kamu, mau?"


Ku anggukkan kepalaku. "Aku mau, tapi ...,"


"Kita ajak Mama dan Kristy," ucap Dion seolah mengerti kegalauanku.


"Mama gak akan mau meninggalkan rumah peninggalan Papa," jelasku sedih.


"Itu, kita pikirkan nanti, ya, Sayangku. Sekarang kita fokus pada rencana pernikahan kita, dulu," papar Dion seraya menatapku lembut.


Tiba-tiba Mas Rud mensejajari kami. "Kalian, yakin akan menikah? Secepat ini? Apakah kamu hamil, Sa?"


Spontan aku dan Dion berhenti dan menoleh ke arahnya. Bisa-bisanya dia kepikiran hal senista itu. Apakah dia pikir aku serendah itu? Apakah karena malam itu, dia menarik kesimpulan bahwa aku juga sudah melakukan hal yang lebih jauh dengan Dion. Picik sekali pikirannya.


Mendengar semua perkataan Mas Rud, ku rasa Dion mulai gerah. Mungkin dia sudah menahan amarahnya sejak di pendopo lawas tadi. Dia hendak membelokkan jalannya ke Mas Rud, tapi ku tahan lengannya. "Jangan merusak pernikahan Mas Rendra dengan keributan ini, Sayang. Dia memang sengaja memancing emosimu. Tenanglah," ucapku menenangkannya.


Mas Rud nampak santai menanggapi reaksi Dion. "Bagaimana jika pada akhirnya akulah yang akan menikahi Rosa?"


Ucapan Mas Rud semakin memekakkan telingaku. "Sudah ku bilang, cepatlah bangun dari mimpimu!"


Obrolan yang berlangsung dalam perjalanan ini memang memancarkan aura merah menyala. Namun jika dilihat, kami hanya seperti tiga orang yang sedang mengobrol biasa. Sungguh sebuah debat perasaan yang penuh kedewasaan, panas dalam kalimat tapi tanpa baku hantam.


"Kamu adalah satu-satunya mimpi yang harus ku wujudkan saat ini," Mas Rud terus berceloteh. "Mimpi hidup bersamamu dan anak-anak kita yang lucu. Bukankah itu mimpi yang begitu indah?"


"Teruslah bermimpi! Nanti aku yang akan mewujudkan di dunia nyata. Menikahi Rosa," Dion menskakmat kalimat Mas Rud.


"Sebegitu berharganyakah aku untuk hidup kalian? Aku bosan kalian perebutkan," tanyaku untuk menghentikan debat mereka.


Benarkah? Atau ini malah akan menjadi debat yang semakin seru. Aku ingin tahu, bagaimana mereka menempatkan aku di hatinya. Seberapa penting posisiku dalam kehidupannya?


"Tak ada harga yang bisa menukar dirimu dalam hidupku, Sayang," tegas dengan dengan senyumnya.


So sweet sekali, bukan? Gombalan seperti ini bisa membuatku melayang. Naluriku sebagai wanita yang haus pujaan, tentu saja merasa diagungkan jika mendengar gombalan usang yang mungkin hanya bualan. Toh, rasanya aku senang.


"Mas Rud, apa artinya aku dalam hidupmu? Kenapa kamu tak bisa move on dari pesonaku? Apakah di matamu gak ada wanita lain yang lebih cantik dariku?" tanyaku penuh percaya diri.

__ADS_1


"Wanita cantik? Tentu saja masih banyak wanita yang lebih cantik darimu di luaran sana. Namun bagiku , kamu adalah napas yang harus ku hela dalam setiap detik di hidupku. Enam bulan ini aku tersengal, aku berusaha mencari napas buatan tapi nyatanya hanya kamu yang aku butuhkan," terang Mas Rud mendalam.


"Aku pikir, enam bulan tanpaku kamu gak bisa hidup, Mas? Nyatanya kamu baik-baik, saja," sindirku.


"Aku seperti ter-charge kembali setelah kejadian dini hari itu di kereta," terang Mas Rud dengan sangat tenang.


Secepat kilat Dion sudah mencengkeram kemeja depan Mas Rud. "Kalau bukan karena besok hari pernikahan Rendra, ku pastikan kamu bakal babak belur kali ini. Ku ingatkan lagi padamu, Apa yang kamu lakukan pada Rosa kemarin tak akan berpengaruh apapun pada perasaan Rosa padamu, apalagi berimbas pada hubungan kami. Aku bisa dengan mudah menghapus tindakan kejimu dari ingatannya. Ingat, itu!" Dion melepaskan cengkeramannya dan menggandengku, melangkah cepat untuk meninggalkan Mas Rud yang masih mematung.


"Jangan melihat ke belakang! Atau dia akan semakin yakin kalau pikirannya selama ini tentang perasaanmu padanya adalah kebenaran," ingat Dion seraya terus membawaku dengan langkah cepat.


"Berhenti sebentar, Di! Aku kehabisan napas," pintaku setelah berjarak cukup jauh dari Mas Rud, setidaknya dia sudah tak nampak di mata kami.


"Ini bukan modus buat minta gendong, kan?" sindir Dion.


Aku menegakkan badanku dan mengatur napasku yang sempat terengah-engah. Menghela napas panjang dan siap melangkah lagi.


"Kamu lupa Rosa itu siapa? Mana ada cerita aku jadi cewek lemah macam drama korea," sungutku sambil berlalu meninggalkannya.


Dion harus berlari kecil untuk dapat mengejarku. "Percuma fisikmu kuat kalau hatimu lemah," sindir Dion.


"Kalau hatiku selemah yang kamu pikir, aku sudah meninggalkanmu," jawabku ketus sambil terus berjalan tanpa mengindahkannya.


"Kembali pada Rudmu, itu?" telisiknya.


"Benarkah? Tapi sepertinya kamu terbuai dengan ciumannya," selidik Dion penuh kecemburuan yang menggelora.


"Aku akan mencari guru lain yang lebih berpengalaman masalah ciuman," selorohku membalas kecemburuannya.


"Siapa?"


"Pria matang yang masih bujang," yakinku.


"Aryan?"


Entahlah, obrolan apa yang sedang kami mainkan. Emosi seperti apa yang bergejolak di hati kami. Aku juga tak mampu menjelaskannya. Apakah kami sedang marah? Saling sindir? Gurauan? Ataukah sebuah kecemburuan?


"Aku lebih berpengalaman dibanding Aryan. Aku paling muda tapi aku paling multitalenta," jelas Dion menyombongkan diri setelah aku tak menjawab pertanyaannya.


"Kamu multitalenta tapi kenapa stag di aku yang gak ada apa-apanya?" aku meminta penjelasan.

__ADS_1


"Itulah cinta, saling melengkapi," jelas Dion.


"Apa kamu gak berminat dengan wanita lain?" tanyaku ngasal.


"Tidak," tegas Dion.


Aku berhenti dan berjalan satu langkah di depannya dan puter balik. Tepat setengah meter di hadapannya. "Aku kenalin sama Tya Gunawan, ya?"


Dion diam. Seolah sedang menungguku berbicara kembali untuk menjelaskan siapa itu nama yang ku sebut.


"Dia itu cewek bohay yang doyan cowok tampan dan mapan, gak nyesel deh, pokoknya," ucapku seraya menaik turunkan kedua alisku.


Masih diam juga.


"Atau mau Linanda Anggen? Cantik, putih, tinggi, bermata sipit, pinter ngelawak, jago karate, ahli bikin kue, novelnya bany ...," belum sempat ku selesaikan kalimatku Dion sudah menyela.


"Cariin yang lahirnya tanggal 19 April!" syarat Dion.


"Itu, kan tanggal lahirku," kataku.


"Cariin yang kuat menolak cintaku selama sepuluh tahun!" syarat keduanya.


Aku berpikir. "Aku, lagi."


"Cariin gadis yang lagi dikejar-kejar mantannya sekaligus bosnya!" syarat ketiganya.


"Hei, itu semua aku! gerutuku.


"Memang hanya kamu yang aku mau. Sudah gak usah sibuk mencarikan jodoh lain untukku, karena jodohku adalah kamu," yakin Dion sambil mengusap puncak kepalaku. "Masuklah, istirahat!


Tak terasa ternyata kami sudah sampai di depan rumah. "Kamu, mau kemana?"


"Aku mau ke tempat Rendra, gak enak tadi main kabur-kabur aja," ucap Dion seraya melempar senyum manisnya.


*****


Sepanjang jalan author menulis novel ini, author mendapatkan banyak teman baru yang saling mendukung. Oleh karena itu, ayo bantu dukung novel temen author!


__ADS_1


Ohya teman, ada juga loh 3 kaos per bulan yang bisa kamu dapatkan dari temen author. Mau tahu caranya? Silakan baca NIKAH KONTRAK by: TYA GUNAWAN!



__ADS_2