Tentang Hati

Tentang Hati
Bisakah Aku?


__ADS_3

" Kapan kalian jadian?" tanyaku teramat penasaran ketika sudah bertemu dengan Tria dan Rio.


"Sabar dong Sa, baru juga nyampek. Elap tuh keringet!" Tria mengademkan.


"Aku mana bisa sabar, kalian benar-benar buat aku surprise,'' ucapku menggebu-gebu.


"Hayo dong cerita, jangan bikin aku penasaran!" pintaku.


"Awalnya aku cuma pernah liat Rio, karena dia sering jalan sama Dion. Bener-bener gak kenal, tapi kami jadi sering ngobrol semenjak tragedi kamu dan D..I..O..N." Tria berhati-hati dengan nama yang disebutnya.


"Terus?" aku tak sabar menunggu lanjutan ceritanya.


"Aku nembak dia dan dia terima. Mana bisa dia menolak laki-laki penuh pesona kayak aku ini?" Rio tersenyum bangga.


"Baiklah ... baiklah, aku ikut bahagia untuk kalian," aku menghampiri Maya dan memeluknya.


"Maafkan kami ya, Sa!" Tria mulai terisak dalam pelukanku.


"Gak ada yang salah dengan cinta kalian," aku meyakinkan.


"Cinta kami hadir disaat yang tidak tepat,"Tria masih terisak.


"Cinta itu menghampiri semua hati manusia. Cewek cowok semuanya memiliki cinta. Tapi gak semua orang beruntung untuk meraih bahagia karenanya. Aku bahagia pernah dicintai Dion dengan segenap jiwa raganya. Aku yakin Dion juga bahagia pernah mencintaiku. Meskipun pada akhirnya kami tak bisa bersama. Dan cinta itu memilih kalian. Aku dan Dion akan bahagia bisa menjadi jalan untuk kalian menemukan cinta."


Aku mengeratkan pelukanku pada Tria. Ku sapu lembut rambut yang tergerai di punggungnya. Perlahan ku lepaskan pelukanku dan ku hapus air matanya.

__ADS_1


"Kamu harus bahagia untukku!"


Dia kembali memelukku.


"Sa, kali ini aku juga harus meminta maaf padamu. Karena aku juga akan mengundang Dion pada acara kami nanti," Rio ikut bicara.


Aku menghela nafas dan kembali tersenyum.


"Itu hak kalian. Aku akan baik-baik saja, meskipun harus bertemu dengannya," aku mencoba tegar.


Meski hatiku ragu akan ucapanku sendiri. Bisakah aku menahan perasaanku? Hei ... Apa aku masih menyimpan sesal atas Dion? Dan aku tak tahu pasti. Bagaimana perasaanku yang sesungguhnya? Tapi aku benar-benar menahan gejolak itu. Aku gak mau mereka khawatir berlebihan tentangku. Aku terus menyunggingkan senyumku selebar-lebarnya.


"Kalian udah pesen makanan? Aku dah laper," aku mencoba mengalihkan topik.


"Sa, ada telepon tuh, angkat dulu!" Tria memberitahuku.


Karena asyik mengobrol dengan mereka, aku gak sadar HP ku bergetar. Aku memang sengaja memasang mode silent tiap jam kerja.


"Baik pak," jawabku mengakhiri pembicaraan.


"Ada apa, Sa?" Rio penasaran.


"Maaf ya, aku harus balik kantor sekarang. Ada sedikit masalah dengan kerjaanku." terangku.


"Kalian harus bahagia menyambut pertunangan ini, aku akan datang!" ucapku seraya memeluk Tria dan melangkah pergi meninggalkan mereka.

__ADS_1


"Sayang, apa kamu yakin Rosa akan baik-baik saja?" tanya Tria pada Rio setelah aku tak nampak dimata mereka.


"Aku tidak yakin," Rio menuturkan.


"Tapi aku tau, Rosa amat pintar membohongi perasaannya," Rio menambahkan.


*****


Maya PoV


"Mas Ren, gak jijik apa makan bekas gigitanku?" godaku.


"Inilah cintaku padamu. Gigitanmu, gigitanku akan menjadi gigitan kita, gigitan cinta," rayu mas Rendra.


"Apa an sih, mas, garing tau!" Aku merona merah.


"Tapi kamu suka kan?" mas Rendra terus menggodaku.


"Ohya mas, kira-kira mas Rud kemana ya?"


"Alah paling dia nyari Rosa. Aku dah kenal dia lama. Gak usah kamu pikirin," perintah mas Rendra.


"Nih habisin!"


Lagi-lagi kami memakan 1 slice pizza bergantian. Sungguh romansa anak muda jatuh cinta ....

__ADS_1


__ADS_2