
Sendiri ... membuatku mengerti bahwasanya waktu bersama itu amatlah berharga. Menyesal karena mengacuhkan, itulah perasaanku, seseorang yang kesepian karena ditinggalkan. Hargai orang yang ada di sampingmu sekarang agar ketika waktu perpisahan itu tiba, kamu sudah membuat kisah yang manis sebagai kenangan.
"Mbak Rosa, ada yang nungguin di lobi," Bang Kotan memecah konsentrasiku membaca naskah novel yang sedang ku baca.
"Siapa, Bang?" tanyaku.
Bang Kotan mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti. Lelaki di depanku ini, adalah temanku bicara sekarang, menggantikan Maya dan Mas Rendra.
Segera ku langkahkan kaki menuju lobi di mana seseorang yang di maksud itu berada. Dion ... ku pikir orang yang mencariku adalah dia. Ternyata aku salah, seseorang yang di hadapanku berbeda postur. Walaupun hampir sama, tapi aku yakin dia orang yang berbeda.
"Ini," Mas Rud memberikan HP padaku.
"Terimakasih," balasku menerima HP yang kemarin tertinggal di mobilnya.
"HPmu yang tertinggal bisa aku kembalikan tapi kenanganmu akan selalu ku simpan di hatiku," ucapnya kemudian yang berhasil membuat lidahku kelu.
Tak ada ekspresi di wajahnya, datar. Aku yang tercekat kata, tak menyadari jika dia sudah meninggalkanku. Sekali ia menolehku sejenak dan kembali berlalu. Kaca mata hitamnya itu menghalangiku untuk bisa membaca rasa apa yang tersimpan di hatinya. Segera ku kuasai diriku dan melangkah kembali ke meja kerjaku. Shok terapi pagi-pagi, semoga menyehatkan hatiku.
*****
"Coffe Break" saatnya senam mulut dengan Bang Kotan lagi, mengencaninya di pantry. Ah ... nasib nasib!
"Bang Kot, punya pacar, gak?" tanyaku ngasal, bingung mau ngobrolin apa.
"Punya dong, Mbak, dua malahan," jujurnya dengan cengengesan.
Aku perhatikan Bang Kotan dari atas sampai bawah. Hmmm ... lumayan sih, enam deh dari maksimal delapan angka, ENAMBAH DAFTAR LELAKI BUAYA.
Asemmm ... model Bang Kotan yang sebelas dua belas sama "Bang Ismed" di "Balas Dendam Cowok Kampungan" bisa punya pacar dua. Aku aja yang cantik begini, punya pacar satu aja bikin geregetan.
"Asyik loh, Mbak, punya dua pacar. Aku saranin Mbak Rosa nyobain, deh!" celetuknya.
Haishhh ... jangan buat aku salah jalan, Bang!
Hati kok buat percobaan? Kelinci aja, jadi percobaan bisa jadi terkenal sepanjang masa. Gimana kalau aku yang coba-coba main hati, apa gak dikejar-kejar paparazi?
"Mbak, beneran Pak Aryan bukan pacar, Mbak?" Bang Kotan penasaran.
"Bukan, Bang, pacarku namanya Dion," jelasku.
"Coba deh, Mbak, Pak Aryan jadiin yang kedua!" ide gila Bang Kotan.
Tuh kan, bakalan dikejar-kejar paparazi beneran, berani-beraninya jadiin seorang Aryan Satya Dharma lelaki cadangan.
"Buat serepan gitu, Bang? Boleh sih kalau perlu jangan cuma dua, tiga kek, empat atau tujuh? Biar enak ngatur jadwalnya," kayaknya aku mulai terpancing kegilaan Bang Kotan.
"Tapi jangan deh Mbak, nanti saya dipecat Pak Aryan," plin plannya saran Bang Kotan.
"Jiah ... Si Abang takut, udah ah, aku mau kerja lagi," selorohku seraya meninggalkan pantry.
*****
Sambil bersenandung kecil, ku langkahkan kakiku dengan pasti. Membelokkan ayunan menuju alamat yang ku tuju dari ruanganku menuju rooftop. Tiba-tiba aku ingin menikmati sepoi angin sore dari atas sana. Mengusir sepi yang melanda tanpa kehadirannya, entah kehadiran siapa.
Ku sandarkan tubuhku pada pagar pembatas. Melihat awan putih yang tergores semburat cahaya matahari, membiaskan keindahan yang memanjakan mata.
"kamu merindukanku?" sebuah suara bermain di telingaku. Menoleh ke kanan dimana suara itu berasal. Tak ku sadari Pak Aryan sudah mematung dengan postur tegapnya. Berdiri dengan dua tangan yang ia sembunyikan di saku celananya. Pandangannya lurus menatap kejauhan yang memperlihatkan langit sudah mulai beranjak sore.
"Kapan pulang?" tanyaku.
__ADS_1
Menoleh ke arahku dengan senyum manisnya. "Baru sampai."
"Baru sampai?" aku mengulang kalimatnya.
Dia menaikkan kedua alisnya. "Di sana gak ada teman yang seasyik, kamu."
Bapak pinter banget ngelesnya, jujur saja kalau memang kangen, Pak. Ah ... tanpa dia jujur pun, aku juga sudah tahu. Dan gak akan berpengaruh apa-apa juga kalau aku tahu.
"Mana oleh-oleh buat saya, teman yang Bapak bilang paling asyik?" tanyaku untuk mengakrabkan suasana.
Pak Aryan tersenyum nyengir. "Gak ada, di sana semua mahal. Gajiku sebagai manajer gak cukup buat beli oleh-oleh."
"Dasar pelit! Jalan-jalan gak ngajak, oleh-oleh pun gak ada," gerutuku.
"Nanti aku ajak ke pasar malam terus kita beli gulali, gimana?" tawarnya.
"Bapak pikir saya anak Bapak, diajak ke pasar malam aja udah girang," celetukku.
"Mana mau aku punya anak kamu, mauku kamu jadi ibu dari anak-anakku," ucapnya sambil menaikkan kedua alisnya.
"Ayo, Pak, saya antar ke Grogol!" ucapku sambil menggandeng tangannya.
Turun dari rooftop dan menuju lantai di mana ruangan kami berada.
"Kenapa ini, orang-orang pada menatapku?" gumamku.
Oh No! Aku gak sadar jika menggandeng tangan Pak Aryan. Sebalnya dia juga diam saja. Ah ... tentu saja dia senang. Seketika ku lepaskan tangannya dari genggamanku. Senyum bahagianya itu mengiringi kepergianku meninggalkannya.
Ish ....!
*****
"Ayo, pulang," ajak Pak Aryan.
"Coba, lihat orderanmu!" perintahnya.
Segera ku perhatikan apa yang Pak Aryan minta.
Huft!
Lagi-lagi aku ceroboh. Kenapa gak ngeh kalau terjerumus menjadi penumpangnya? Ku pikir dia sudah pensiun bermain-main menjadi sopir taksol.
"Jangan di cancel!" peringatannya seolah bisa membaca pikiranku.
"Ayo!" Pak Aryan ganti menggandeng tanganku seperti sore tadi ketika aku menggandengnya.
"Lepasin, Pak! Saya gak mau orang-orang makin salah sangka," jelasku.
Dia pun melepaskan genggamannya. Ku ikuti langkahnya menuju parkiran dan segera menaiki mobil.
"Sesuai aplikasi, ya , Mbak?" ucapnya sambil tersenyum.
Ku balas gurauannya dengan cengiran.
"Tumben, gak dijemput?" tanyanya.
"Gak, dia lagi banyak kerjaan," jelasku.
Malam ini jalanan terasa lebih lengang. Mungkin karena sekarang sudah pukul 18.30. Orang-orang sudah pada pulang pukul 17.00 tadi. Tiba-tiba mobil Pak Aryan putar balik dan berhenti di parkiran dekat pasar malam.
__ADS_1
"Turun, aku mau beliin kamu gulali," jelasnya sebelum aku sempat bertanya.
Dan anehnya aku nurut begitu saja. Mataku berbinar bahagia, sudah lama sekali aku tidak bermain-main di pasar malam. Dan saat ini, aku kembali bisa merasakannya lagi. Ini sungguh membahagiakan. Ku susuri sepanjang jalan area pasar malam itu. Beraneka makanan dan minuman yang dijajakan membuat air liurku menggila.
"Nih," Pak Aryan memberiku sebungkus gulali.
"Terimakasih, Pak. Kita cobain bakso tusuk, yuk," tawarku.
Pak Aryan hanya menjawabnya dengan senyuman. Selalu mengikuti langkahku, kemanapun aku pergi.
"Ehmmm ... enak juga," nilainya setelah mengambil satu buah bakso dari tusukan yang ku pegang.
"Lagi dong," ia mendekatkan bibirnya ke tusukan bakso di tanganku.
"Rosa ... Rosa ... gimana kalau Dion tahu kalau kamu selingkuh? suara cempreng Anggen mengusikku yang tengah asyik menikmati bakso tusuk dengan Pak Aryan.
Dengan langkah santai ku dekati ketua geng gabut itu. "Bilang, saja!" ucapku kemudian kembali membalikkan langkah. Belum genap dua langkah ku ayun, terpaksa ku berhenti karena ucapan Anggen yang tak enak ku dengar. "Selingkuh itu lebih hina dibandingkan menjadi istri kedua, bilang itu sama Dion! Seenaknya saja menghinaku padahal tunangannya lebih hina."
Pak Aryan mendekati Anggen. "Anda salah paham, Nona. Rosa tidak seperti yang Anda pikirkan. Perkenalkan saya Aryan, kakaknya Rosa," ucap lembut Pak Aryan dengan senyum termanisnya.
Ambyar ... ambyar deh itu si Anggen. Meleleh disenyumin cowok ganteng. Aku pun mendekati Anggen yang tengah terpana itu. "Dion itu selalu jadi nomor satu di hatiku, tidak sepertimu."
Kulit wajahnya yang putih itu memerah seketika.
"Santuy, Nggen," ucapku sambil mengitarinya dan teman wanitanya yang ku kenal bernama Syala Yaya.
"Sebentar deh, seingatku Syala dulu berpacaran dengan cowok bernama Krisna. Apakah itu ...?" gumamku.
"Syala ... Anggen ... Krisna ...," aku mengeja nama dua wanita dihadapanku dan lelaki yang berhubungan dengan mereka.
"Jadi ... Tuan Krisna adalah suami kalian berdua?" cercaku.
"Mantan," jelas Syala.
"Mantan Pacar tepatnya," Anggen menambahkan.
"Jadi ... Anggen menikahi dudamu, Syala?" aku kembali menyelidik.
"Stop!" Anggen menghentak-hentakkan kakinya sambil mengerucutkan bibirnya. "Tuan Krisnaku adalah suamiku, hanya suamiku, satu-satunya dan selamanya. Jadi jangan pernah sebut aku istri kedua Tuan Krisna!" ungkap Anggen marah dan kemudian berjalan pergi
Syala hendak pergi tapi ia menghentikan langkahnya. "Tuan Krisna mantan pacarku berbeda orang dengan Tuan Krisna suami Anggen."
Ups!
Aku menutup mulutku karena telah salah paham. Salah paham karena ucapan Dion. Apakah Dion juga tahu kenyataan ini? Ah ... Dion bikin masalah aja.
"Ada apa, sih, sebenarnya?" tanya Pak Aryan ingin tahu apa yang terjadi.
"Biasalah "Tentang Hati", Pak," jelasku sekaligus ngiklan di lapak sendiri. Ups!
"Wanita itu tak mau berbagi, ya, kalau urusan hati?" tanya Pak Aryan setelah Syala pergi menyusul Anggen.
"Wanita itu maunya jadi yang pertama dan satu-satunya selamanya, Pak. Sepertinya gak cuma wanita kok, laki-laki juga sama," aku memperjelas.
"Aku, tidak," aku Pak Aryan dengan senyum yang bisa melelehkan hati.
Ku hentikan langkahku di hadapannya. "Bapak harus bahagia, Bapak harus menikah. Saya akan membantu mencari wanita yang tepat," ungkapku.
"Tidak untuk saat ini, Sa! Aku belum ingin mencari penggantimu di hatiku," jelasnya.
__ADS_1
"Namun, jangan berharap pada saya, Pak! Nanti Bapak akan semakin terluka," ingatku.
"Sudahlah, kamu tidak perlu mencemaskan hatiku. Cukup biarkan aku jadi temanmu, atau kakakmu," jelasnya sambil kembali mencomot bakso dari tusukan yang masih ku pegang. "Aku bahkan sudah sangat bahagia bisa makan bakso tusuk begini, denganmu."