Tentang Hati

Tentang Hati
Ketidakjujuran Bukan Berarti Bohong


__ADS_3

Jam pulang kantor sudah terlewat lima menit. Aku masih ragu untuk nebeng Pak Aryan sesuai perintah Dion. Rasa takut menghinggapi hatiku, bagaimana jika orang-orang berpikiran yang tidak selayaknya tentang kedekatanku dengan manajerku itu. Meskipun pada kenyataannya kami tak memiliki hubungan di luar lingkar pertemanan dan persaudaraan ala-ala, tapi bagi orang yang tidak tahu pasti akan menafsirkan lain.


"Ayo, pulang!" ajak Pak Aryan dengan nada perintah, lembut tapi tegas.


"Kami gak diajak pulang juga, Pak?" tiba-tiba Tya menyela dan tanpa malu menawarkan dirinya.


"Maaf, ya. Aku udah dibooking suaminya untuk mengantarkan pulang," balas Pak Aryan dengan senyum ramahnya.


"Mau dong, punya suami kayak Mas Dion?" celetuk Anggen dengan konyolnya.


"Mau jadi pelakor?" sindirku sembari menampakkan wajah sangar.


"Resiko punya suami tampan," celoteh Anggen dengan gaya songongnya.


"Tuh, Pak Aryan gebet, gih! Dia gak hanya tampan tapi juga menawan, hartawan dan yang jelas jomblowan. Jangan ganggu suamiku!" ujarku panjang lebar.


"Aku gak mau saingan sama Tya. Cakep-cakep gitu, mainnya santet, dia," celetuk Anggen dengan santainya tanpa sadar yang dibicarakan sudah ada di belakangnya.


"Siapa yang mainnya santet?" tanya Tya dengan senyum diimut-imutin tapi jatuhnya malah nyeremin.


"Aku gak ikutan, ya. Papay," pamitku menghindari perang saudara, saudara somplak.


Dengan langkah pasti kutinggalkan perawan yang cantiknya beda alam itu, eh ... beda kebangsaan maksudku. Tya cantik ala ala bule, sedangkan Anggen cantik ala asia. Dan aku? Cantik dimata suamiku. Ha-ha-ha ... benar-benar Trio Somplak yang paripurna.


"Kalian bercandanya seru, ya?" tanya Pak Aryan begitu kami sudah berada di mobil untuk perjalanan pulang.


"Kami atau mereka? Atau Tya?" godaku dengan menaik turunkan kedua belah alis.


"Dia terlalu dewasa, adik abang yang cantik. Abang suka yang ketus manja," seloroh Pak aryan tanpa memandangku.


"Stop!"

__ADS_1


Tadi Bapak bilang kalau suamiku nitipin istri cantiknya ini ke Bapak?" tanyaku setelah tiba-tiba teringat obrolan dengan Trio Somplak tadi.


"Hmmm," Pak Aryan menjawabnya hanya dengan sebuah gumamam.


Ish!


Suamiku, memangnya istrimu ini barang apa? Kenapa dititip-titipin? Iya kalau yang dititipin amanah, kalau amaAryan begini, kan resiko?


"Nitipin sama abang sendiri, aman," balas Pak Aryan seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.


"Aku lupa kalau punya Abang," ungkapku santai.


"Tak masalah kamu melupakanku, asal jangan kamu lupakan suamimu," ujar Pak Aryan bercanda tapi aku menangkap ada sesuatu yang berbeda.


Adakah sesuatu dibalik rangkaian kata JANGAN MELUPAKAN SUAMIMU? Ah ... itu hanya kalimat asal yang lolos begitu saja dari mulut Pak Aryan. Tak perlu aku ambil pusing karena aku yakin hatiku sudah kupatenkan pada suamiku.


******


Dion PoV


"Haruskah aku beritahu Rosa tèntang keadaan Rud, sekarang?" tanyaku pada Mbak Sharika.


"Apakah kamu siap untuk kemungkinan terburuk?" tanya balik Mbak Sharika yang sesungguhnya membuat kadar kekalutanku makin meningkat.


"Apakah aku egois jika menginginkan Rosa tetap di sisiku?" tanyaku tak menjawab pertanyaan yang diajukan Mbak Sharika.


"Dia istrimu, mempertahankannya adalah kewajibanmu," tutur halus Mbak Sharika.


Itu jugalah yang akan aku lakukan, tak mentolerir keadaan Rud. Kurasa aku harus menjadi jahat, kali ini. Namun, bagaimana jika suatu saat semuanya terbongkar. Kamu tahu keadannya, kenyataan perih tentang ingatannya. Apakah aku tidak akan kamu salahkan?


"Seandainya aku memberitahu keadaan Rud, kira-kira apa yang akan dilakukan Rosa?" tanyaku sambil menundulkan kepala.

__ADS_1


"Menilik dari kejadian kemarin, aku yakin dia akan meminta izin untuk menjenguk Rud," pikir Mbak Sharika.


"Jika sekali aku izinkan, apakah akan ada izin yang kukeluarkan untuk kali kedua dan setelahnya?" aku terus saja mencari jawaban yang akan terjadi jika memilih mengizinkanmu menemui Rud.


"Mungkin ... dan bisa jadi dia bakalan minta izin untuk merawat Rud hingga sembuh," ujar Mbak Sharika.


"Apakah itu berarti jika dia akan meninggalkanku?" tanyaku sambil meraup wajah kusutku.


Saudara kandungku satu-satunya itu mendekatiku dan mengusap punggungku lembut. "Jangan berpikir terlalu jauh. Percayalah jika Rosa tidak akan melakukan itu. Meskipun kita tahu bagaimana mereka menyimpan rasa, tapi pernikahan bukanlah hal yang bisa dipermainkan begitu saja. Rosa akan tetap di sisimu."


"Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang, Mbak?" tanyaku meminta saran.


"Pulanglah! Fokus pada resepsi kalian saja. Masalah Rud, kita hanya bisa mendoakan. Jalan takdirnya sudah dituliskan, dia harus menjalani, meskipun itu pahit," nasihat Mbak Sharika yang akhirnya membuka pikiranku.


Setiap jiwa sudah punya jalan hidupnya sendiri. Kita sudah berjalan menyusuri jalan yang panjang, mana mungkin memilih untuk putar balik. Yang harus kita fokuskan adalah meneruskan langkah, selalu bersatu hati untuk menghadapi segala rintangan yang akan menghadang.


*****


Malam ini, aku sudah memantapkan hati untuk memberikan jatah malam untuk suamiku. Kekecewaannya semalam, harus aku tebus dengan lebih indah. Pahalaku harus dijemput. Untuk melengkapi jatah malamnya, aku juga sudah menyiapkan jatah perutnya, makan malam. Makanan yang kusiapkan sudah terhidang lengkap di meja sebelum pukul tujuh malam. Untungnya, Dion belum pulang. Jadi masih ada waktu untukku membersihkan diri.


Kuringkas prosesi mandiku, memangkas beberapa adegan yang akan memakan waktu lebih panjang. Aku sengaja meninggalkan sesi berendam agar bisa sedikit memoles wajahku. Sapuan tipis bedak dan lipgloss sudah cukup untuk membuatku tampak lebih segar. Tak lupa semprotan parfum beraroma tipis-tipis manja sudah menguar dari tubuhku.


Dengan senyum sempurna yang kulengkungkan dari kedua sudut bibirku, aku melangkahkan kaki menunggu kepulangannya. Hendak menuju sofa di depan televisi tapi kumenangkap kehadiran sosok di meja makan. Ya ... suamiku itu rupanya sudah pulang.


"Udah lama?" sapaku sambil memeluknya dari belakang setelah aku mencapai ruangan dimana ia berada.


Dion menoleh dan menampakkan senyum bahagianya. "Aku gak bisa membiarkan istriku terlalu lama merindukanku."


"Kamu pulang, aku makin rindu. Rindu sentuhanmu," bisikku dengan nada menggoda.


Rambutku yang tergerai membuatnya tak ragu untuk membelai. Menarikku perlahan dari kursi di belakangnya dan mengarahkanku untuk bermanja di pangkuannya. Posisi ini membuatku makin dilanda gegana. Ingin makan, eh bukan, tapi memakannya. Dengan tatapan manja, kulingkarkan kedua lenganku membentengi lehernya. Mengungkungnya dengan nakal dan mendaratkan sebuah kecupan tanpa ragu.

__ADS_1


Sentuhan tipis dan sekilas waktu, rupanya membuat gejolak makin menggila. Darah semakin berdesir dan kulit semakin sulit untuk menolak sentuhan dan merindukan belitan pada indra pengecap. Secepat aku dibakar hasrat, secepat itu pula, Dion mengenalkanku pada ciuman tempo cepat dan sedikit beringas. Masih terasa kelembutan seperti biasanya, hanya saja ada kehangatan yang makin lama makin meningkatkan titik didihnya.


"Makannya pindah ke kamar, aja, Yang!" pinta Dion dengan suara serak menggoda.


__ADS_2