
Kata-kata Pak Dhe benar-benar mengacaukan pikiranku. Meski sudah ku tenggelamkan tubuhku ke ranjang, tapi nyatanya kekalutan ini masih mengapung di hatiku.
"Aarrggghhh!" aku berteriak.
"Papa," selalu kata itu yang terlintas dipikiranku setiap kali aku mendapatkan ketidakadilan.
Di pikiranku masih saja tertanam, jika semua ini tidak akan terjadi jika papa masih ada di sini. Andaikan papa tidak pergi secepat ini, pasti aku masih bisa menikmati hari bahagiaku tanpa tekanan dari siapapun. Apalagi tekanan dengan kata "Anak Janda" yang amat aku gak suka ngedengernya.
Ku coba untuk membuka Hp, ingin rasanya aku mengadu pada Mas Rud. Tapi WA ku tak dibacanya. Aku berpikir sepertinya dia sudah tidur. Kecapekan karena nyetir tadi siang. Aku mencari cara mengurangi kekacauan pikiranku, namun pikiranku ngeblank.
"Apa aku harus kabur?" pikiran tak logisku mulai bermain.
Aku mengacak-acak rambutku.
"Tapi mau kabur kemana? Haruskah aku tinggal sendiri? ngekos misalnya?" otakku terus ku paksa berpikir.
Tak juga ku temukan jawab. Hingga pukul 04.00 aku masih terjaga. Rasa kantukku rasanya hilang. Aku mengambil wudhu dan menghadap sang Maha Tinggi. Ku bicarakan semua yang tak bisa ku ungkapkan kepada orang lain. Ku lelehkan tangisanku! Terpekur dalam doa yang panjang. Bermohon penuh untuk jalan keluar yang harus segera ku dapatkan.
*****
__ADS_1
"Mbak Rosa, tumben pagi-pagi gini udah sampai kantor?" Pak Yadi,security kantor menyapaku.
Aku membalasnya dengan senyum dan berlalu. Ini memang masih pagi-pagi buta. Jam segini biasanya aku masih bermalas-malasan di ranjang. Tapi penat yang membelengguku, membawaku ingin segera meninggalkan rumah. Aku yang biasanya paling betah di rumah, karena Ardi rumah menjadi tempat yang paling harus segera ku hindari.
Kepergianku tadi juga tanpa pamit mama.
Aku benar-benar kacau. Imageku sebagai anak baik-baik akan berganti stempel anak durhaka, jika situasi ini akan terus berlanjut.
Aku tau siapa aku! Aku orang yang gak bisa dipaksa untuk menyukai sesuatu, terlebih masalah hati. Big No untuk perjodohan!
"Maaf, Sayang, semalem aku gak balas WA kamu! Ada apa? Hari ini aku gak masuk kantor. Aku keluar kota 2 hari." WA Mas Rud.
Aku belum yakin untuk menceritakan masalah semalam pada Mas Rud. Apalagi dia akan ke luar kota. Aku gak mau membebaninya dulu, karena dia pasti ada urusan penting. Aku akan menunda waktu untuk bercerita padanya.
*****
"Kamu, di mana? Jam segini tumben belum dateng," WA ku pada Maya.
"Aku ambil cuti, Sa," balas Maya.
__ADS_1
"Tumben, ada ap?" tanyaku kepo.
"Nemenin Mas Rendra menemui orang tuanya," balas Maya lagi.
Udah bisa ku tebak apa jawaban selanjutnya jika aku terus bertanya. Paling ujung-ujungnya juga tentang masalah lamaran.
"Semoga berhasil!" doaku.
"Aamiin!" Maya mengamini setulus hati.
*****
"Sa, jangan BT ya gak ada kami!" WA Mas Rendra kemudian.
"Jangan pamer! Udah buruan pergi trus balik lagi! Aku kehilangan sahabat karenamu!" balasku dengan emoticon wajah merah bertanduk.
"Jangan marah! 'Ni aku kirim foto biar kangenmu terobati," jelas Mas Rendra.
5 Foto saat kami di pantai kemarin bermunculan di WA ku. Ada foto berempat selfi di pantai, foto 2 pasang sejoli saling berpelukan yang tak lain kamilah pemerannya, ada foto Maya dan Mas Rendra berdua, ada foto Mas Rendra dan Mas Rud lomba makan mie level 10, dan 1 lagi fotoku dan Mas Rud yang tengah bermain ombak.
__ADS_1
Hatiku senang melihatnya. Tapi ada kesedihan di balik kesenanganku. Aku bahagia memiliki mereka. Tapi aku takut suatu saat aku akan kehilangan mereka. Terlebih kehilanganmu Mas Rud!
Ahhh pikiran apa ini ...?