Tentang Hati

Tentang Hati
Pepet Terus


__ADS_3

"I love you," bisik Dion di telingaku. "Besok, ikutan nikah, yuk! Rasanya aku udah gak tahan, nih," ucapnya dengan wajah mesum.


Ku lirik tajam tunanganku yang berubah bernafsu itu.


"Nikahnya sekarang aja, yuk! Lirikanmu makin membuatku gak tahan,"


Makin ku tajamkan lirikanku.


"Ayo, sekarang, saja!" Dion menarik lenganku.


Menuntunku meninggalkan acara yang baru setengah jalan. Pulang ke rumah Dion dan membawaku ke kamarnya. "Lepaskan kebayamu dan pakai ini!"


"Baju apa, ini?" membolak-balik baju yang ada di tanganku.


"Sudah, pakai saja!" perintah Dion.



Kemeja berlengan pendek yang dipakainya perlahan dibuka kancingnya satu per satu. Berhasil! Ia lepaskan kemejanya dan menaruhnya sembarang di ranjang. Dia sambar jumper hitam yang ada di lemarinya dan segera ia pakai.



"Aku tunggu di depan! Cepat ganti pakaianmu," perintah Dion sebelum meninggalkanku di kamarnya.


*****


"Kita mau kemana?" tanyaku saat becak yang kami naiki mulai meninggalkan rumah Dion.


"Minggat," jawab Dion cepat.


"Ngapain minggat?" tanyaku polos.


"Biar cepet dinikahin," jelas Dion tanpa beban.


Dion konslet apa, ya?


Becak kami berhenti di pendopo lawas yang terletak di sisi timur alun-alun utara keraton Yogyakarta. Pemandangan yang tidak asing dimataku. Deretan bangku-bangku yang dipenuhi oleh kalangan milenial yang tengan menghabiskan malam minggu.



"Tri Suaka," pekikku tertahan ke arah Dion.


Dion menggandengku berjalan ke arah bangku kosong yang tak jauh dari sisi yang menjadi titik pusat perhatian di cafe ini. Lagi-lagi Dion memberiku kejutan. Tri Suaka adalah youtuber yang aku gandrungi beberapa waktu ini. Dia biasa manggung di sini, begitu yang biasa aku lihat dari channel youtube-nya. Dan sekarang aku bisa menontonnya secara langsung, karena Dion.


"Hai, malam ini, ada yang spesial, guys! Temen baru aku, yang lagi liburan ke Yogya mau ikut nyanyi juga," Tri Suaka mulai menyapa pengunjung cafe.


"Dia lebih ganteng aslinya," ceritaku pada Dion.


Dion duduk bersandar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. "Pujilah sesuka hatimu, puaskan lapar matamu! Hanya hari ini. Lain hari, aku tak mau mendengar kamu memuji lelaki lain di depanku."


Tak ku gubris segala racauan Dion. Menikmati selagi bisa, itulah yang aku lakukan sekarang. Bagaimanapun, aku adalah makhluk yang selalu membutuhkan asupan vitamin C (cowok ganteng).



"Loh, kok, Mas Rud! Ngapain, dia?" gumamku saat tamu yang dimaksud Tri Suaka adalah mantan reseku itu.


"Bang Rud, mau nyanyi apa?" Tri Suaka bertanya pada lelaki yang sudah siap menyanyi di sampingnya.


"Bisa kita duet lagu yovie n Nuno, ?" pinta Mas Rud.


"Wah, rupanya abang ganteng kita ini sedang memperebutkan hati wanita pujaannya. Siap Bang!" seloroh Tri Suaka.


Mas Rud tersenyum kecil menanggapi celotehan sang youtuber. "Lagu ini, seharusnya aku nyanyikan dengan lelaki yang kini ada di sampingmu. Namun ku rasa dia tak cukup gentle untuk melakukannya.


Ku genggam jemari Dion, menahan agar dia tak termakan oleh omongan Mas Rud yang bisa memancing emosinya. "Apa tidak sebaiknya kita pergi dari sini?"


"Kamu tidak usah khawatir, aku hanya ingin tahu apa yang bisa ia lakukan untuk merebutmu," ucap Dion santai tanpa mengubah posisinya.


Hatiku lega setelah mendengar penjelasan Dion. Kembali ku fokuskan mataku pada Mas Rud dan Tri Suaka di depan sana.


🎶🎶🎶


Semula 'ku tak tahu


Engkau juga 'kan ingin memilikinya


Bukankah 'ku lebih dulu (Mas Rud melirik tajam ke arah Dion)


Bila engkau temanku


Sebaiknya tak mengganggu (Lirikan tajam kembali ia hujamkan)


Dia untukku, bukan untukmu

__ADS_1


Dia milikku, bukan milikmu


Pergilah kamu, jangan kau ganggu


Biarkan aku mendekatinya


Kamu tak akan mungkin mendapatkannya


Karena dia berikan aku pertanda cinta


Janganlah kamu banyak bermimpi


Dia untuk aku


Bukankah belum pasti


Kamu juga 'kan jadi dengan dirinya


Dia yang menentukan apa yang 'kan terjadi


Tak usah mengaturku


Dia untukku, bukan untukmu


Dia milikku, bukan milikmu


Lihatlah nanti, lihatlah saja


Biarkan aku mendekatinya


Kamu tak akan mungkin mendapatkannya


Karena dia berikan aku pertanda juga


Janganlah kamu banyak bermimpi


Kusarankan engkau mundur saja


Dia untukku, bukan untukmu


Dia milikku, bukan milikmu…


(Sepanjang lagu Mas Rud menatap tajam Dion, lagu itu mewakili apa yang ingin disampaikannya)


🎶🎶🎶


"Bagaimana, Guys?" Kalau yang ngerebutin cinta kalian seganteng Bang Rud, kalian galau gak tuh?" celetuk Tri Suaka.


Para gadis itu nampak histeris.


Sama aku, aja, Bang!


Ku tunggu dudamu, Abang Rud yang tampan!


Babang Tamvan, aku siap kamu jadikan pelampiasan!


Riuh sekali ...


Tanpa kusangka, Mas Rud berjalan ke arah kami. Dan tanpa dosa duduk di samping kananku. Berada di antara dua lelaki yang penuh cinta itu rasanya seperti sedang diintimidasi. Ku geser tubuhku ke arah Dion. Mencondongkan diri pada hati yang telah ku pilih. Dion menyadari bahasa tubuhku dan segera bertukar tempat denganku.


"Masih belum menyerah, juga?" tanya Dion dengan gaya santainya.


Mas Rud tersenyum smirk. "Menyerah itu makanannya Aryan, bukan Rud dinata."


"Mengapa kamu bawa-bawa nama Aryan?" Dion masih bergaya cuek.


"Karena sainganmu bukan hanya aku, tapi dia juga. Ketenangannya jangan sampai membuatmu lengah," ingat Mas Rud.


"Rosa tak punya perasaan apapun padanya, untuk apa aku khawatir?" ungkap Dion.


Mas Rud tersenyum ambigu. "Berarti kamu mengakui kalau Rosa masih mencintaiku."


"Itu hanya ada di pikiranmu, saja," Dion tak terpancing juga.


Dion berdiri dan berjalan ke arah Tri Suaka. "Bang Tri, bolehkah aku menyabotase lapak Abang sebentar?" Suara Dion terdengar lengan speaker yang sengaja ia pegang.


"Malam ini bakalan seru, Guys! Sainganku banyak, he-he-he. Silakan saja, Bang!" Tri Suaka memberikan waktu pada Dion untuk berbicara.


"Halo, teman milenial semuanya! Kenalin aku Dion. Kali ini aku mau nyanyi sebuah lagu yang aku persembahkan khusus untuk gadisku. Buat mantannya yang masih belum move on juga, dengarkan ini!" Dion mengawali, setelahnya Bang Tri menyerahkan gitarnya pada Dion.


"Kalian sudah siap mendengarku bernyanyi?" ucap Dion dengan senyum termanisnya.


Fiuh ... ajak gelud aja, Bang!

__ADS_1


Mencintai pacar orang!


Ku tunggu jandamu!


Jreng ... sebuah petikan gitar Dion membuat riuh yang diciptakan pengunjung cafe, meredam seketika. Mereka nampak menunggu, lagu apa yang akan Dion nyanyikan.


 


🎶🎶🎶


 


**Aku Lelakimu**


 


Datanglah bila engkau menangis


Ceritakan semua yang engkau mau


Percaya padaku aku lelakimu


Mungkin pelukku tak sehangat senja


Ucapku tak menghapus air mata


Tapi ku di sini sebagai lelakimu


Aku lah yang tetap memelukmu erat


Saat kau berpikir mungkinkah berpaling


Aku lah yang nanti menenangkan badai


Agar tetap tegar kau berjalan nanti


Sudah benarkah yang engkau putuskan


Garis hidup sudah engkau tentukan


Engkau memilih aku sebagai lelakimu


Aku lah yang tetap memelukmu erat


Saat kau berpikir mungkinkah berpaling


Aku lah yang nanti menenangkan badai


Agar tetap tegar kau berjalan nanti


Aku lah yang tetap memelukmu erat


Saat kau berpikir mungkinkah berpaling


Aku lah yang nanti menenangkan badai


Agar tetap tegar kau berjalan nanti


Aku lelakimu


Aku lelakimu


Aku lelakimu


Aku lelakimu


🎶🎶🎶


Di sana Dion mengukuhkan posisinya di hatiku, di sini Mas Rud masih berusaha menggulingkan pemilik tahta dan berusaha menjadikan dia penguasa baru.


"Seberapa yakin, kamu memilihnya?" kulik Mas Rud.


"Seyakin aku untuk melupakanmu," jawabku tenang.


"Dia itu hanya pelarianmu. Aku yakin suatu saat kamu akan kembali berlari ke pelukanku," ucap Mas Rud penuh keyakinan.


"Bangunlah, jangan terus-terusan bermimpi," ingatku.


"Aku mau bangun, kalau kamu yang mengusik tidurku," senyum smirk ia pamerkan lewat bibir seksinya.


"Aku hanya akan mengusik tidur kekasihku," jelasku.


"Apakah kamu sudah pernah tidur dengannya?" ucapnya menelisik.

__ADS_1


"Itu bukan urusanmu!"


__ADS_2