
Menghabiskan malam dalam pelukannya, merasakan sentuhan kulitnya di kulitku dan mendengar deru napasnya di belakang telinga, rasanya aku tak ingin pagi datang begitu saja. Mataku masih terpejam tapi aku bisa melihat bagaimana dia juga merasakan apa yang aku rasakan, nyaman. Jika saja tak mengingat ini hari kerja, aku ingin menghabiskan hari dalam keadaan begini. Bersamanya, dalam dekapannya, kurasa aku sudah kenyang meskipun hanya makan cintanya.
Dering telepon Dion, mau tak mau memaksanya untuk melepaskan pelukannya pada tubuhku. Meraih benda pipih yang bergetar di nakas meskipun mata masih belum sepenuhnya ingin terbuka. Dengan mengerjapkan indra penglihatan berkali-kali untuk bisa mengenali, tiba-tiba ia mendudukkan dirinya. Baru mengangkat telepon, langsung dia sibak selimut yang dari semalam menghangatkan tubuh kami. Dengan gerakan cepat beranjak bangun dan keluar menuju balkon.
Sedari tadi aku hanya memerhatikan gerak-gerik anehnya. Aku menjadi penasaran dengan si penelepon. Siapa? Ada apa? Mengapa Dion langsung terjaga padahal tadi masih belum terbangun sepenuhnya? Ini pertama kali Dion mengangkat telepon menjauh dariku.
Aku menjadi bingung, apa yang sebaiknya kulakukan. Lebih baik sok tidak peduli dengan berpura-pura tidak menyadari semuanya? Atau bangun dan menunggu dia kembali untuk menanyakan apa yang terjadi? Hmmm ... dia pergi, berarti dia tak ingin aku mengetahui. Baiklah aku tidak akan memaksanya.
Bersandiwara, kupejamkan kembali mataku. Menghangatkan diri di dalam selimut karena ini masih terlalu pagi. Bahkan waktu subuh pun belum datang. Memaksa tidur beneran tapi pikiranku menolaknya. Terus penasaran, ada kabar apa dan dari siapa hingga jam segini menghubungi. Akhirnya berusaha kupejamkan lagi kelopak penglihatanku.
Meskipun berpura-pura tak mengetahui semuanya, aku bisa tahu saat Dion kembali masuk kamar dan duduk di sisi ranjang. Dari balik punggungnya aku bisa menyintip jika ia sedang sibuk mengetik. Perlahan aku mulai menggerakkan badanku seolah baru terbangun. Menurunkan sedikit selimut sampai perut dan melihatnya dari belakang.
"Udah, bangun?" tanya Dion begitu menyadari aku mulai membuka mata.
Kuanggukkan kepalaku membalas pertanyaannya. Perlahan mendudukkan diri, dan kembali bertanya padanya. "Mas, kok udah bangun juga?"
"Ada telepon tadi," jujurnya dengan senyum seperti biasa.
Menggeser tubuh dan aku ikut duduk di sisi ranjang sebelahnya. "Siapa yang telepon jam segini? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Mendengar kejujurannya, aku semakin yakin untuk terus bertanya. Ia tidak bohong dengan teleponnya, mungkin saja ia akan bercerita apa yang membuatnya gelisah tadi. Namun jawabannya yang terjeda membuatku berpikir negatif. Ia berusaha bersikap senormal mungkin tapi aku bisa menangkap gelagat yang tak seperti biasanya.
"Aku harus berangkat lebih pagi, kamu bisa berangkat sendiri, kan, Yang?" tanya Dion seraya mencium keningku untuk menutupi kejanggalan sikapnya.
"Tentu saja, dulu aku kan juga begitu," yakinku dengan senyuman.
"Ya udah, aku mandi dulu, ya?" ucapnya seraya mengacak membelai rambut panjangku.
Benar, pasti ada sesuatu yang terjadi. Berangkat sepagi ini, terlalu diluar nalar juga jika itu berkaitan dengan masalah pekerjaan. Hal lain apa yang sedang mengganggu pikiran suamiku?
*****
"Sa, kok gak dianterin tadi?" tanya Pak Aryan yang tiba-tiba sudah ada dibelakangku saat aku memasuki lobi.
"Berangkat duluan, Pak," balasku memilih kalimat tak utuh.
"Harusnya, kamu bilang aku. Kan bisa berangkat bareng," tukas Pak Aryan seraya mengikutiku masuk lift.
"Kami nginep di rumah Mama," tuturku sambil memundurkan langkah mencari senderan di dinding lift yang berjalan.
__ADS_1
"Kamu, sakit?" tanya Pak Aryan setelah menoleh ke arahku dan mendapati aku menjauh darinya.
Aku menggeleng. "Ngantuk."
"Makanya kalau begadang tahu waktu adik, Sayang," goda Pak Aryan dengan menaruh tangannya di puncak kepalaku dan mengacaknya.
"Siapa yang bedagang? Saya bangun sebelum subuh," balasku sambil merapikan rambut yang tadi diacak Pak Aryan.
"Kalian harus bikin jadwal, 'tuh. Jangan sampai bikin kusut pagi-pagi, begini," nasihat Pak Aryan dengan senyumnya yang selalu manis itu.
Aku meninggalkan posisi senderanku dan berdiri lebih maju darinya. "Bapak 'tuh yang harusnya bikin jadwal. Sepertinya dua karyawati Bapak naksir, 'tuh," jelasku sebelum meninggalkannya begitu pintu lift terbuka.
"Seperti itukah?" tanya Pak Aryan dengan menaikturunkan kedua alisnya bergantian.
"Jangan sok gak tau, deh, Pak," cicitku sambil terus berjalan.
"Kenapa karyawati baru itu langsung naksir aku, sementara kamu dulu, gak?" sindir Pak Aryan dalam perjalanan menuju ruangannya. Saat aku berhenti di mejaku, ia ikut berhenti. Mengeluarkan sebuah kotak bekal dan meletakannya di mejaku. Tanpa bilang apapun ia langsung pergi.
Kubuka kotak yang ada di hadapanku itu. Maskipun tak menyerahkan tapi aku yakin jika ia memberikannya padaku. Salad buah dalam porsi sedang mengisi kotak berwarna putih tersebut. Segera kuketikkan kalimat di benda pintar kesayanganku.
Terimakasih kakak sulungku, ini bukan modus, kan? Inget, aku istri orang! Kamu terlalu tua untuk aku taksir.
Setelah terkirim beberapa detik, ada balasan masuk darinya tak lama setelah itu. Namun kuabaikan karena mulai berkutat dengan laptopku. Satu menit kemudian, HPku berdering. Siapa lagi kalau bukan, dia? Tetap kuabaikan. Kalau diladeni gak akan ada akhirnya.
*****
"Mas," sapaku begitu Dion mengangkat telepon, video call-ku tepatnya.
"Apa, Sayang? Maafkan ya aku belum sempat menghubungimu dari pagi," ujar Dion yang nampak disibukkan dengan berbagai kertas yang berserakan di mejanya.
"Sepertinya kamu sibuk sekali? Jangan lupa makan siang, ya!" ingatku dengan senyuman menyemangati.
"Iya, kamu juga jangan lupa makan siang yang bergizi, ya!" nasihatnya yang kubalas dengan pamer salad buahku.
"Kamu, diet?" Kenapa makan salad?" pertanyaan Dion dengan memfokuskan wajahnya untuk melihatku.
Sebuah cengiran senyum aku balaskan untuk pertanyaannya. "Sekali-kali, gak apa-apa, kan?"
"Nanti, aku masakin buat makan malam. Pengganti makan siangmu yang gak bikin kenyang itu," janji Dion yang kupikir akan melelahkan mengingat tumpukan pekerjaan yang menantinya.
__ADS_1
"Gak usah, Sayang. Aku aja nanti yang masak," tawarku karena melihatnya terlalu capek jika harus memasak setelah pulang kerja.
Saat sedang asyik mengobrol, kudengar ada seseorang yang sedang mengetuk pintu ruangannya. Alhasil, obrolan kami sengaja kuputuskan segera. Sepertinya dia memang sangat sibuk hari ini. Aku pun memilih fokus dengan saladku, misiku selanjutnya adalah melahapnya hingga habis.
"Kok baru dimakan sekarang?" Pak Aryan datang saat aku mulai mencicipi salad buatannya.
Kutolehkan wajahku ke arah kedatangannya. "Tadi pagi udah sarapan berat, Pak."
"Ngapain, Bapak ke sini? Kan harusnya makan siang?" sedikit rasa penasaranku mendapatinya di rooftop bukan di kantin.
"Aku risih sama wanita-wanita itu kalau gak ada kamu," jelasnya seraya duduk di sebelahku.
"Bapak harus membuka hati untuk mereka, siapa tahu jodoh," celetukku santai.
"Apa menurutmu aku sudah terlalu tua?" tanyanya keluar jalur topik yang kusajikan.
Kupandang wajahnya dengan seksama. Tak ada kerutan, cenderung awet muda malah dibandingkan usianya. Apalagi jika ia berpakaian santai. "Kalau berdua 'gini mungkin banyak yang ngira kita sepasang kekasih, Pak. Atau pengantin baru, he-he-he ...," gurauku menanggapi keingintahuannya.
"Sayangnya, aku kakakmu sekarang," ujarnya seraya kembali mengacak rambutku.
"Bapak jangan begini terus, nanti ada yang salah paham," gerutuku sambil mengembalikan kerapian rambutku.
"Apakah salah seorang kakak melakukan ini pada adiknya?" tanyanya enteng.
"Sayangnya, Bapak itu kakak plus-plus," ucapku yang menimbulkan tanya lagi baginya.
Jika Pak Aryan itu sungguh kakak sulungku tentu saja aku sangat bahagia. Tingkah manis seperti mengacak rambut tadi pasti sangat aku nikmati. Masalahnya hubungan kakak beradik kami ada karena anggapan dari Mama. Tak ada hubungan darah melainkan dihubungan rasa yang awalnya bernama cinta.
"Maksudmu aku kakak tapi mencinta, 'gitu?" tebaknya denga tawa yang sumringah.
"Itu, tahu," pastiku dengan membersihkan sisa-sisa salad di kotaknya.
"Aku tulus menganggapmu adikku, seperti tulusnya aku mencintaimu, dulu," terangnya yang ingin kutimpali tapi kuurungkan karena melihat raut wajahnya.
"Dulu?" tanyaku seraya menerima sebotol air mineral yang disodorkannya.
"Sekarang kamu istrinya adikku, mana mungkin aku merebutmu," tandasnya.
Lagi-lagi kutatap wajahnya dengan lembut. Menemukan satu lagi lelaki tulus yang mencintaiku selain suamiku. Dia, kakak sulungku. "Pak, jadilah kakakku, jika itu memang bisa membahagiakanmu!"
__ADS_1
"Izinkan aku untuk melakukan ini, sebagai kakakmu. Aku akan tahu situasi, tidak sembarang melakukannya di hadapan orang lain," pintanya dengan ketulusan yang terpancar dari sorot matanya seraya kembali mengacak rambutku lembut untuk kali ketiga.
Aku mengangkat tangan kananku dan mengacungkan jari kelingking di hadapannya. Dia pun menautkan jari kelingkingnya. Saling mengulas senyum dan sama-sama berkata. "Kakak-adik."