
Maya PoV
"Mas Rendra, Dion itu siapanya Rosa?" aku penasaran.
"Kok, tanya aku? Emang tadi gak nanya langsung sama Rosa?" jawab Mas Rendra.
"Gak enak, Mas! Kita kan tau apa yang terjadi," jelasku.
"Sementara, jangan bahas masalah Rud dulu kalau Rosa gak nanya!" perintah Mas Rendra.
"Iya, Mas. Aku kasihan sama Rosa!" aku sedih.
"Keadaan Rud juga gak kalah menyedihkan," jelas Mas Rendra.
"Mengapa cinta gak berpihak sama mereka ya mas? Padahal kita tau, bagaimana indahnya pertemuan mereka yang berakhir jadian dan restu dari kedua orang tua," aku berpendapat.
"Kita gak tau jodoh mereka, May. Doakan saja mereka bahagia," pinta Mas Rendra.
Aku mengaminkan doa mas Rendra. Perjalanan pulang dari rumah sakit ke kantor itu kami habiskan untuk membahas masalah Rosa yang tragis.
*****
Aku merasa, aku sudah sangat sehat. Namun dokter bilang, aku baru boleh pulang besok setelah kunjungan dokter. Dion pun menasihatiku, untuk menuruti kata dokter. Dan reaksiku? Ya nurutlah! Kata Dion itu, ibarat sabda pandita ratu yang wajib ku patuhi. Dan anehnya aku menurutinya tanpa protes.
" Di, kamu pulang aja dulu! Mandi, ganti baju dan istirahatlah! Nanti kan Maya bakalan kesini," kataku.
__ADS_1
"Aku gak bisa meninggalkanmu sendiri di sini! balas Dion.
"Kamu butuh mandi!" alasanku.
"Aku sudah mandi 2x di situ!" Dion menunjuk kamar mandi di ruang rawatku.
"Kamu harus ganti baju!" alasanku lagi.
"Kamu gak liat, aku udah ganti baju," aku melihat baju Dion lagi.
Benar kata Dion. Kemarin dia berkemeja hitam yang lengannya digulung sampai siku. Sementara sekarang ia nampak santai dengan kaos putihnya.
"Tapi, kamu harus istirahat!" ucapku lagi tak mau kalah.
"Sofa ini bisa jadi tempat tidurku, Rosa sayang! Udah jangan nyari alasan untuk ngusir aku! Gak mempan," Dion malah beranjak dari laptopnya dan mendekatiku.
"Aku ingin kamu istirahat. Aku gak mau kamu kecapekan. Nanti kalau kamu sakit gimana?" jelasku.
"Aku akan menjagamu! Dan untuk itu, aku sudah lebih dulu menjaga kesehatanku sendiri. Kamu gak usah khawatirin aku," Dion meyakinkan.
"Kamu manis sekali, Di," aku tak sengaja memujinya.
"Aku dah manis gini aja, masih kamu tolak! Gimana kalau aku aseemm?" godanya sambil tertawa.
"Jangan mengungkit dosa lama!" nadaku ketus.
__ADS_1
Dion hanya tersenyum dan kembali mengacak rambutku.
*****
Pintu kamar mandi ruang rawatku terbuka. Dion keluar dengan aromanya yang segar menandakan dia baru saja selesai mandi. Kaos yang melekat ditubuhnya sudah berganti, menjadi jemper hitam yang menambah cool penampilannya kali ini.
Upssss ... kok jadi terpesona!
Stop ... stop ... stop!
Aku segera berakting seolah-olah sibuk dengan HPku, agar tidak ketahuan sedang mengagumi pilihan pakaiannya yang keren.
Saat tengah berpura-pura bermain HP, tiba-tiba sebuah WA masuk.
Deg!
Mas Rud!
Aku mengejanya pelan-pelan dan berulang kali. Memastikan ini benar-benar WA darinya dan bukan sekedar halusinasiku semata.
Aku ragu untuk membukanya. Pikiranku ingin, tapi jemariku seakan menolak inginku. Aku meletakkan HPku, lalu aku ambil lagi. Dion nampaknya melihat kegelisahaanku.
Dia mendekatiku dan mengambil HP dari tanganku.
"Ada apa?" Dion menatap mataku.
__ADS_1
Aku diam. Dion langsung berinisiatif membuka HPku dan menemukan WA dari mas Rud yang belum ku baca. Tanpa berpikir, dia memelukku yang tengah terduduk di ranjang pasienku.