Tentang Hati

Tentang Hati
Kamu Mengagetkanku


__ADS_3

Hari ini, tidak ada yang istimewa di kantor. Waktu berlalu begitu saja, masing-masing dari kami berjibaku dengan pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tak ada obrolan penting yang memecah keheningan. Hingga makan siang pun, aku habiskan dengan Maya dan Mas Rendra seperti biasanya. Aku harus berlapang hati, untuk kembali menjadi saksi kebucinan cinta mereka. Menjadi obat nyamuk, obat hama, bahkan obat panu pun aku sudah tak mempedulikannya.


"Kamu, gak berniat pindah ke kantornya Dion aja, Sa? Aku kasihan liat kamu kesepian begini," tanya Mas Rendra.


"Pindah aja, Sa! Nanti kan gak perlu nahan rindu," Maya menimpali.


Aku cemberut, "Kalian ngusir aku? Maaf, ya, aku masih betah di sini. Belum minat pindah ke manapun, termasuk kantor Dion."


"Bukan ngusir, Sa, tapi kami memberikan solusi terbaik." papar Mas Rendra.


"Iya, Sa, kamu gak perlu kesepian kayak sekarang ini kalau pindah ke kantornya," lagi-lagi Maya mempertegas ucapan tunangannya.


"Siapa yang kesepian? Saya siap menemani," tiba-tiba suara Pak Aryan memecah obrolan kami.


Beliau membawa makan siangnya dan duduk di kursi sebelahku, memang itulah satu-satunya kursi kosong di meja kami. Tanpa sungkan dan permisi, dia ikut nimbrung obrolan kami. Mas Rendra nampak saling pandang denganku dan Maya. Aku dan Maya pun kompak mengangkat bahu tanda tak mengerti.


"Kok, jadi sepi? Jadi, siapa yang kesepian?" tanya Pak Aryan setelah melihat kami terdiam.


"Rosa kesepian, Pak, pacarnya lagi di luar kota." jelas Mas Rendra seperti ingin mempertegas statusku yang tak lagi sendiri.


Pak Aryan lantas memandangku dan tersenyum, "Punya pacar, bukan berarti gak boleh punya banyak teman. Jika pacarmu sibuk, 'kan masih ada teman-teman yang siap mengajakmu menikmati waktu."


Aku menangkap ada kode rahasia di balik kalimat yang diutarakan oleh Pak Aryan. Walaupun sikapnya nampak santai, aku yakin batinnya tak setenang itu. Aku seperti menangkap pesan Mas Rendra tempo hari "Kutukan Manajer Baru". Meski begitu, aku tak mau keGRan, aku takut salah mengartikan sikapnya.


"Marilah kita berteman, agar tidak ada lagi rasa kesepian diantara kita," ucap Pak Aryan.


Kalimatnya memang "kalian", tapi aku mengartikannya lebih sempit dari itu. Pandangannya memang menyapu kami bertiga, tapi aku yakin, sebenarnya hanya aku yang jadi titik pusatnya.


"Baiklah, kita berteman." Mas Rendra menjawab ajakan Pak Aryan.

__ADS_1


Aku dan Maya tersenyum mengiyakan. Bukankah, silaturahmi harus selalu dijalin.Punya banyak teman itu, akan selalu menyenangkan, asal tau kode etiknya.


*****


"Sayang, udah makan siang kan?" pertanyaan Dion setelah aku mengangkat teleponnya.


"Iya, tadi makan siang rame-rame," jawabku.


"Paling yang rame Rendra dan Maya," tukas Dion.


Aku hendak membuka mulut, untuk menceritakan tentang Pak Aryan bersama kami saat makan siang tadi. Namun, niat itu aku urungkan. Masih ada keraguan di hatiku, merasa harus segera ku bilang, tapi aku takut Dion akan salah paham.


"Itu pasti, Sayang. Mereka malah nyuruh aku pindah ke kantormu," cerita yang justru keluar dari mulutku.


"Kan, kemarin-kemarin aku udah nyaranin begitu," Dion menguatkan.


"Aku masih nyaman di sini," jawabku menolaknya halus.


Begitulah pacarku yang manis, itu. Mencintaiku tanpa pernah memaksa. Makanya, dia bisa sepuluh tahun bertahan di sampingku, tanpa kepastian dan hanya berupah keketusanku. Selama rentang waktu tersebut, aku sebenarnya gak nyaman dengan kehadirannya di manapun aku berada. Namun, entah kenapa juga, aku masih bisa dan tetap bisa menerima hadirnya di sisiku.


"Di, aku kangen," entah kenapa kata-kata itu bisa ku utarakan.


Membayangkannya selalu sabar untuk menggenggam cintaku, rasanya membuatku beruntung bisa seiring jalan dengan bingkai cinta kami.


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi, kita akan bertemu. Biarkan rindumu itu sedikit menyiksa, agar kamu bisa merasakan bahwasanya kamu perlahan mencintaiku." pinta Dion.


"Baiklah, aku akan menikmati kerinduanku padamu," aku mulai manis dengan kata-kataku padanya.


Telepon itupun, ditutupnya setelah mengucapkan bye-bye manja padaku. Sepertinya, aku mulai tertular virus bucinnya Dion. Aku mulai tak segan untuk membalas kata-kata rayuannya, meskipun aku sedang berada di kantor. Ternyata begini rasanya, kala cinta menjatuhkan pilihannya pada hati seorang insan.

__ADS_1


*****


Pulang kerja, kami sepakat untuk nonton bareng. Awalnya aku menolak, aku masih ingat betul, bagaimana momen di bioskop kala itu. Aku keracunan keromantisan yang disajikan oleh Maya dan Mas Rendra. Dan, aku bukan orang bodoh yang akan sudi untuk terjatuh di lubang yang sama. Namun, hatiku luluh, saat Pak Aryan mengajukan diri untuk ikut nonton bareng kami. Setidaknya, aku gak akan jadi korban tunggal keganasan virus bucin dari sepasang tunangan itu.


"Jadinya, mau nonton apa?" Pak Aryan mengingatkan setelah kami sampai di lobi kantor.


"Marriage Order aja, yuk, film baru tuh, yang diangkat dari Noveltoon karya Viviani. Kata temen-temenku yang udah nonton, bagus loh, penuh keromantisan sekaligus menguras emosi." papar Maya.


"Aku gak jadi ikut kalau kita nonton film romantis, aku gak mau kejebak situasi." tolakku.


"Kan ada aku," Pak Aryan tersenyum smirk.


"Kita nonton " Balas Dendam Cowok Kampungan" aja kalau gitu," Mas Rendra mengusulkan.


Aku merasa, kalau Mas Rendra mencoba menjaga jarakku dan Pak Aryan. Menonton film romantis akan membuat suasana yang tak akan bisa diprediksi. Aku menduga jika Mas Rendra gak ingin aku dan Pak Aryan berbuat yang lebih.


"Itu yang karya Linanda Anggen, yang dari Noveltoon juga, kan?" selaku.


"Iya, kita sudah lelah bekerja, film kocak ini akan melemaskan otot-otot kita yang tegang." alasan Mas Rendra.


Akhirnya kami sepakat dengan usulan Mas Rendra. Namun, satu masalah kembali harus kami pecahkan, dengan mobil siapa kami akan berangkat.


Pak Aryan mengusulkan aku ikut dengannya, sementara Maya akan semobil dengan Mas Rendra. Tentu saja usul itu tak disetujui Mas Rendra, ia gak akan ambil resiko. Membiarkanku berdua dengan Pak Aryan, sama saja memberi jalan mulus bagi Pak Aryan untuk mendekatiku. Begitulah yang ada di pikiran Mas Rendra, yang bisa ku tangkap.


Ketika jalan keluar belum kami temukan, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan kami. Seorang laki-laki bercelana chino berwarna abu muda yang dipadu kemeja putih, keluar dari mobil tersebut.


Senyum manis tersungging di bibirnya yang indah. Hidung yang mancung itu terlihat menambah ketampanan yang dimilikinya.


Lelaki itu berjalan ke arahku. Aku tak menyangka bisa bertemu dengannya kali ini, apalagi saat ini, aku merasa bukan waktu yang tepat untuk kami. Aku belum siap bertemu dia, aku belum bisa mengawali bagaimana kami harus mengawali kata.

__ADS_1


Kamu, mengagetkanku!


__ADS_2