Tentang Hati

Tentang Hati
Malam Pengantin Bersama


__ADS_3

Ketukan pintu yang ketiga kalinya itu sudah membuat hasrat kami meluruh. Dion mengambilkan baju hangatku dan juga jaket hitamnya. Membuka pintu dan keluar, meninggalkan orang-orang yang memaku di depan pintu. Dua wanita yang sengaja memasang wajah imutnya, seketika seperti es batu.


Anggen dan Tya, seperti kehilangan pesona saat kami abaikan begitu saja.


"Hai, Kalian!" teriak Tya dari belakang ketika sadar sudah jauh tertinggal.


"Pengantin lawas gaya baru, tunggu aku!" lagi-lagi Tya berteriak dengan suara cemprengnya.


Sementara Tya sibuk bersuara lantang, Anggen justru sibuk mengagumi seorang lelaki matang yang baru saja lewat di depannya. Entahlah, mata gadis itu seolah tak mampu menepis pesona setiap lelaki bening yang tertangkap indera penglihatannya. Padahal Tuan Eric yang berbibir seksi itu sudah mengikrarkan diri sebagai calon suami baginya.


Aku yang sudah berbalik arah dan berhenti , seketika terpana disuguhi oleh dua situasi yang berbeda. "Kalian, kenapa?"


"Dasar Depe, mentang-mentang udah dapet yang berbulu dan lincah lalu kami dianggap sampah," ucap Tya dengan napas terengah-tengah.


Dion melihatku dengan penuh tanya. "Berbulu dan lincah?"


"Iya milikmu, berbulu dan lincah," pertegas Tya menjawab pertanyaan Dion.


"Milikku?" Dion semakin dibuat penasaran.


Aku hanya menyimak obrolan antara Dion dan Tya. Lelaki itu menggebu ingin tahu sementara Tya diselimuti kekesalan karena yang diajak berbicara tak kunjung paham. Ingin segera menghentikan obrolan tak berguna itu tapi sayangnya aku masih menikmati.


"Kamu merasa lincah gak, Mas Dion?" selidik Tya untuk memudahkan Dion menangkap pembicaraan.


"Lincah seperti apa yang kamu maksud? Apakah seperti Youngflash yang loncat dari satu pohon ke pohon lain? Atau seperti Gibran yang selalu dapat kesempatan dalam kesempitan?" telisik Dion dengan penuh keseriusan.

__ADS_1


"Lincahnya Youngflash dalam kesempatan seperti Gibran," ucap Tya membuat kesimpulan.


Kuputuskan untuk mengakhiri obrolan mereka yang mulai memanjang. Kalau dibiarkan bisa jadi malam pengantinku berubah seperti acara talkshow di televisi sebelah "Bibir Tya" dengan hastag berbulu dan lincah.


"Sayang, cukup! Kalau terus-terusan kamu ladeni, kamu bisa menua bersamanya," celetukku yang dibalas usapan kasar di puncak kepalaku.


"Kalian kenapa mengetuk pintu kamar kami?" tanya Dion setelah menyetujui permintaanku untuk tak melanjutkan membahas topik somplak, berbulu dan lincah.


"Ayo, gabung! Kami membuat api unggun di halaman belakang," terang Anggen yang baru saja sadar dari khayal liarnya dan mendekati kami.


Api unggun? Acara apa lagi? Ini malam pengantin bukan malam penutupan acara perjusami.


"Ide konyol siapa?" tanyaku dalam langkah cepat menuju acara itu diadakan. Meninggalkan Dion dan dua wanita pèmilik tingkah absurd itu. Ketidaklaziman acara itu membuatku disergap rasa penasaran.


"Itu ide brilian dari kami," celetuk Anggen dengan wajah polosnya.


Aku dan Dion? Apakah kami bagian dari zaman itu?


Api unggun sebagai pengisi malam yang seharusnya berapi-api, terdengar sangat miris. Namun, aku menghargai. Memiliki sahabat-sahabat dengan penalaran di atas level otak Doraemon, seharusnya aku sudah mempersiapkan diri dengan kejutan ini.


"Pengantin kita, datang!" seru Mas Rendra dan Maya dengan mengalungkan rangkaian nama-nama mantan di sepanjang lingkaran.


Apa lagi ini?


"Mantanmu banyak sekali, Sayang?" tanyaku saat membaca nama-nama yang sangat asing di mataku.

__ADS_1


"Mantan apa ini? Wanita yang pernah menerima kata cintaku hanya kamu, Sayang. Kamu tolak berulangkali, seharusnya namamulah yang bertengger tanpa rival di sini," ujar Dion sambil membaca barisan nama, mulai Syala, Asa, Veyona dan entah siapa, Dion tak merasa mengenalnya.


Mas Rendra mendekat dan menunjuk satu per satu nama itu. Paipai, dia anak umur 5 tahun yang sudah daftar sebagai istri Dion kalau udah besar nanti. Brontok, dia gadis sebelah rumah di Jogja yang saking tergila-gilanya denga suamimu ini sampai membeli kucing Persia dan dinamai sama seperti idolanya, "Dion Wijaya". Kalau Mbah Plentis ini, dia janda tua kaya raya yang ngejar-ngejar sepupu tampanku ini sampai dia rela suntik botoks, vitamin C dan segala macamnya."


Mataku melotot tak percaya. Penjelasan ini membuatku sadar bahwasanya orang-orang di sekelilingku mempunyai keanehan yang seharusnya diperiksakan. Bukan lagi pada psikiater tapi pada orang pinter. Sepertinya ketidakwarasan mereka semakin akut.


"Kamu, merusak citraku sebagai pencinta yang high level," timpal Dion hendak melepas rangkaian bunga di lehernya tapi segera dilarang oleh Mas Rendra.


"Seru-seruan, Brother!"


Akhirnya Dion pun membiarkan dirinya dijadikan korban keisengan teman-temannya. Setelah menolak nama mantan yang disematkan untuknya, dia memperhatikan satu nama yang memenuhi lingkaran di leherku, Rud. Tanpa banyak protes, suamiku yang pasti didera cemburu itu segera melepas belenggu di leherku. Menjadikan bahan bakar pada api unggun yang mulai menyala dengan bara yang mulai membesar. Hal yang sama juga dia lakukan untuk belenggu lehernya.


"Semuanya, Dion dan Rosa adalah cinta sejati. Mantan adalah kenangan yang harus dimusnahkan. Agar suatu hari tidak memantik api dan membuat hati kembali terbagi."


Sensitif, orasi Dion itu seperti sedang memposisikan semua orang berada pada jalan sempit yang diapit oleh dua jurang. Yang satu landai berbatu, sisi lainnya adalah jurang rawan longsor yang amat dalam. Simalakama, maju kena mundur kena. Jadi sebaiknya diam, tidak usah ditanggapi karena akan membuat suasana menjadi tak terkendali. Membahas mantan itu seperti membuat emosi wanita yang sedang PMS, baperan dan pasti akan marah tanpa arah.


Kuraih jemarinya yang baru saja menghapus cerita lama. Kudekap dalam dada dan menatapnya penuh kedalaman rasa. "Mas, Di sini hanya ada namamu. Sedalam perasaan yang pernah aku berikan pada nama yang telah kamu bakar, yakinlah jika perasaanku tertanam jauh lebih dalam. Sudah memiliki akar yang bukan hanya menghujam kedalam hatiku namun juga menjalar bersama aliran darahku."


Kusimpulkan senyum, membalas kedua sudut bibirnya yang terangkat sempurna. Sejenak kubiarkan senyum itu melengkung dengan indahnya. Tanpa ragu, kujinjitkan kaki dan mengecup benda kenyal itu. Rasa malu telah kusingkirkan demi membuat tenang sang malaikat cinta. Terkejut, dia tak menyangka aku akan melakukan tindakan ini.


"Saat aku putuskan untuk menikah denganmu, maka keberanianku untuk menolak segala cinta lain yang datang jangan pernah engkau ragukan, Sayang."


"Jangankan di sini ... satu kali. Bahkan yang lebih ini aku berani jika itu untuk membuktikan bahwa cintaku padaku tak bisa disepelekan."


Dion meraihku ke dalam pelukannya. "Cukup, Sayang. Aku tak izinkan kamu menjadi perhatian orang lain. Jangan lagi bermain dengan ini selain berdua denganku," ujar Dion sambil menunjuk bibirku yang baru saja mengumbar ciuman di hadapan semua orang meskipun mereka adalah teman.

__ADS_1


"Suit ... suit ...!" goda Mas Rendra dengan siulannya yang kemudian dibalas seruan semua orang.


__ADS_2