Tentang Hati

Tentang Hati
Membisu


__ADS_3

"Kalian jangan pulang kalau belum bisa berbaikan. Bicarakan dari hati ke hati!" Om Septian meninggalkan kunci motornya di meja dan segera beranjak pergi.


Hening.


Riuh yang menggema di seantero kafe karena alunan melodi yang mendendangkan nyanyian-nyanyian sakit hati, tak mampu mencairkan kebekuan diantaraku dan Dion. Dia yang tetap setia dengan sikap dinginnya membuatku juga terpaku pada posisi yang sama.


Pura-pura menikmati lagu yang menyerukan luka, padahal hati seperti tak bisa lagi menahan perih yang meraja. Sesekali kumainkan HPku, mengusir jemu yang melanda karena tiada kata yang tercipta. Dia pun sama, lebih memilih berkutat dengan benda pipih di tangannya.


Tak ada lagi sisa lemon tea hangat yang ada di dalam gelasku. Minuman ini kujadikan tumbal untuk mengembalikan suhu tubuhku pada kategori normal. Malam yang dingin ini, semakin beku saat kami terpaku dalam kebisuan. Kehangatan yang harusnya kudapatkan darinya terasa nyeri saat harus terganti oleh segelas lemon tea.


Waktu berlalu, menit berganti seolah tengah berlari mengejar jam yang semakin menuju pada kelamnya malam. Tak ada juga kata yang terucap, seolah sedang berpacu dengan deru waktu dalam perlombaan bertema keheningan.


Kaku dan benar-benar membisu. Jangankan kata, mata pun enggan untuk sekedar melirik dari sudut pandang sang indra penglihatan. Lurus dan menunduk, begitulah posisi paling favorit dari kepala dua orang manusia yang bernama Rosalia Citra Atmadja dan Dion Wijaya.


"Ayo, pulang!"


Akhirnya keluarlah dua kata itu dari mulutnya. Bukan kata yang merujuk pada langkah untuk memulai sebuah perdamaian, melainkan ajakan untuk kembali pulang. Tanpa menungguku, dia melangkah begitu saja. Menjauhi area kafe dan menuju parkiran luas yang menjadi peraduan dari kunci motor yang Om Septian serahkan.


Dia sudah siap di atas jok motornya dengan backsound knalpot khas motor CB. Tanpa menunggu perintah, kududukkan diriku di jok belakangnya. Tanpa kata darinya kubalas dengan tanpa sentuhan dariku. Ah entahlah kenapa kami saling menguji kekuatan dalam perlombaan mengunci mulut.


Motor mulai melaju dengan kecepatan sedang cenderung pelan. Masih diam, kami masih betah untuk tak bersuara. Bahkan ketika separuh perjalanan pulang sudah kami lewati, masih saja kami mengaktifkan mode kebisuan. Sampai kapan ini akan terjadi? Aku juga tak dapat menjanjikan saat itu terjadi.


Setengah perjalanan yang tersisa pun sudah mencapai finish-nya. Motor yang kami kendarai mulai berbelok ke arah pintu gerbang kediaman keluarga besar Eyang. Pintu besi yang tertutup terpaksa membuat ban harus rela disentuh kasar oleh rem. Memangkas jarak yang tadi sudah ku bentangkan. Menyentuhnya adalah pantangan saat kami saling mendiamkan.


Aku turun dan berusaha membuka gerbang. Sayangnya, pintu itu digembok dari dalam.


Sepertinya Om Septian serius dengan ucapannya. Tak ada kata pulang sebelum kami berbaikan.


Menyadari apa yang terjadi, Dion turun dari motor dan berjalan kesebuah sisi gerbang. Menekan bel yang sengaja dipasang di sana.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, pintu itu dibuka oleh seorang Bapak yang sudah kukenal, Pak man, begitulah panggilannya. Dia adalah seseorang yang dipercaya Eyang untuk mengurusi segala tumbuhan di area rumah ini.


Kuberikan senyumanku saat nampak wajah beliau di hadapanku. Langsung kutinggalkan Dion tanpa menolehnya. Berjalan menuju rumah Dion dengan asa untuk segera beristirahat. Sayangnya, langkahku tertahan. Di sana ada Om Septian, Mas Rendra dan juga Maya tengah mengobrol dengan diselingi gelak-tawa.


"Aku masuk dulu, ya. Maaf, gak bisa gabung," ucapku seraya memulas senyum senatural mungkin.


"Sa," panggil Maya dengan mimik melasnya itu membuatku luluh juga.


Kuambil tempat duduk di sebelah Maya. Ia pun lantas memelukku seolah sudah lama tidak bertemu. "Aku kangen kamu, tau."


"Malu, ah. Masa calon ibu masih manja begini?" sindirku menanggapi gelayutan Maya di tanganku.


"Tokcer bener, baru semalam udah jadi. DP dulu ini kayaknya," celetuk Om Septian tanpa dosa.


"Siapa dulu, dong? Rendra, gitu!" sombong Mas Rendra sambil membusungkan dadanya.


"Sini, ponakan yang lagi patah hati!" panggil Om Septian saat Dion melewati kami dan hendak berlalu begitu saja.


Tangan Om Septian berhasil menyambar lengan Dion sebelum dia sempat melangkah masuk. Usahanya untuk melepaskan tangannya gagal dan terpaksa membuat Dion mematung pasrah untuk mendengarkan pemberitahuan.


"Udah baikan?" tegas Om Septian.


Dion terlihat enggan untuk menjawab. Terlebih sikapnya yang tak menyunggingkan senyum itu sudah dapat menjelaskan bahwasanya kami masih saling berdiam diri. Dia membuang napas kasar dan terpaksa duduk di kursi yang paling jauh dariku. Dan itu semakin menegaskan bahwa kami masih belum bisa mengendorkan keegoisan untuk saling berbicara dari hati ke hati.


"Sa, kalau kamu putus sama Dion mending buruan balikan sama Rud, deh. Hati jangan dibiarkan kosong berlama-lama," Mas Rendra memprovokatori.


Kalimat penuh pancingan emosi itu belum mampu menelan korban. Dion masih duduk santai dengan ekspresi datarnya. Bahkan ia sesekali mengambil cemilan dan menelannya tanpa kesusahan. Seakan menunjukkan jika dia baik-baik saja dengan status kami sekarang.


"Aku juga siap menjadi sandaran hati barumu," aku Om Septian dengan menaik turunkan kedua alisnya.

__ADS_1


"Om menampung bekas Dion?" seloroh Mas Rendra enteng.


Om Septian memperhatikanku seraya mengernyitkan dahi. "Kurasa, ponakan bucinku itu belum mencicipinya," sindir Om Septian sambil melirik Dion yang lebih fokus mengupas kacang kulit daripada mendengarkan obrolan kami.


"Ah ... iya, mungkin dia udah diduluin Rud," lagi-lagi Mas Rendra sengaja memancing Dion untuk berbicara.


"Mas, jangan ngomong gitu, perasaan kali sama Rosa," Maya berusaha memahami perasaanku.


Perasaan seorang wanita yang disudutkan karena kesalahan yang berakar dari hatinya. Sebuah penghianatan kecil yang semakin disulut menjadi bara api besar yang akhirnya sanggup membakar sebuah hubungan. Menghanguskan sebuah bangunan yang berlandaskan cinta dan merobohkannya begitu saja.


"Gak 'pa 'pa, May," ucapku sedatar mungkin.


Itu memang sebuah kenyataan. Kenyataan yang percuma untuk kusangkal. Aku mengakui semuanya, perasaan yang salah, membuat perasaan yang benar terabaikan dan kini aku terabai dengan segenap rasa bersalah. Kuambil napas panjang, menyiapkan diri untuk mengucap kalimat yang sesungguhnya tak pernah ingin kusampaikan.


"Om, Mas Ren, May, besok Rosa balik ke Jakarta. Terimakasih untuk semuanya, beberapa hari di sini memberiku banyak kenangan yang tak 'kan terlupakan. Semoga silaturahmi kita tetap terjaga, ya," ungkapku seraya menahan buncahan perasaan sedih.


Kumenahan agar airmataku tak meleleh di hadapan mereka. Berusaha tetap tersenyum, meski pada akhirnya airmata itu tetap meleleh juga. Maya segera menghambur kepelukanku. Mengusap punggungku lembut, memberikan kekuatan dengan sentuhannya. Tak banyak kalimat yang ia utarakan tapi dekapannya sudah membuatku mengerti semua yang ingin diucapkannya.


"Tak akan ada yang berubah dengan kita, Sa. Kamu tetap sahabatku," lirihnya dengan suara menahan tangis.


Tak ada kata yang bisa kuutarakan untuk membalasnya. Hanya kueratkan pelukanku, mengisyaratkan bahwa ia pun masih memiliki kedudukan yang sama di hatiku, sampai kapan pun. Beberapa lama kami terhanyut dalam kedalaman rasa.


Perlahan kukendurkan sentuhanku, memberikan senyuman untuknya. Bicara lewat mata bahwa aku akan baik-baik saja. Setelah kurasa waktu sudah cukup untuk berpamitan, aku pun beranjak. "Semuanya, aku masuk dulu."


Tanpa menoleh ke arah Dion, aku melangkah masuk ke rumah. Membuang napas kasar, lega. Semua unek-unek sudah kusampaikan. Tinggal kembali ke Jakarta dan membuka hari baru tanpa luka. Biarlah lara ini kutinggalkan di Jogja bersama pemiliknya.


*****


Segera kurebahkan tubuhku begitu memasuki kamar. Mata ingin terpejam tapi pikiran lebih dulu datang. Menampilkan adegan demi adegan kebisuanku dan Dion. Aku sebenarnya masih ingin berjuang tapi melihatmu menyerah, aku ikut menyerah. Tak ingin kupaksakan rasaku, jika kamu tak lagi ingin mencintaiku. Mungkin kamu sudah didera kelelahan. Biarlah sesalku menyerang saat cinta itu mulai datang.

__ADS_1


Kuambil fotomu yang ada di dalam dompetku. Cara menyimpan yang usang tapi justru inilah kedalaman rasaku. Kamu berada dimanapun saat aku ingin melihatmu. Kucium gambar dirimu yang tengah selfi, mengulum senyum, membuatku rindu dengan lengkungan indah di bibirmu itu.


Airmataku kembali meluruh. Menyadari jika kini rasaku padamu begitu dalam. Menoreh luka dan mengendapkan lara. Kupejamkan mataku, mendekap gambarmu dalam pelukku. Pikiranku melayang dan akhirnya tenggelam di alam mimpi yang mungkin tak ingin ku tinggalkan.


__ADS_2