Tentang Hati

Tentang Hati
Deja Vu


__ADS_3

"Kalian?" tanya Tante Ani penuh selidik.


"Doakan tante," jawab mas Rud santai.


Aku memelototi mas Rud. Dia hanya tersenyum membalasku.


"Keponakan nakal, bisa-bisanya menyembunyikan kabar gembira kayak gini," Tante Ani menggerutu.


"Jenk, sebentar lagi kita akan jadi besan," Tante Ani laporan sama mama.


Mereka nampak bahagia. Mas Rud juga tak pernah sekalipun melepaskan senyum dari bibirnya.


Aku?


Sama!


Aku juga bahagia. Bahagia yang keluar dengan sendirinya, tanpa kubuat-buat.


Mungkin aku memang benar-benar mencintainya, hanya saja aku gak sepenuhnya mengerti. Apakah ini artinya aku pacaran dengan mas Rud mulai saat ini? Tanpa acara nembak romantis seperti yang aku hayalkan selama ini? Toh diusia yang sekarang ini, sudah bukan saatnya memulai hubungan dengan prosesi nembak-menembak.Mungkinkah aku bisa disebut pacarnya sekarang? Aku juga bingung.Ya sudahlah,aku jalani saja,selama itu membuatku bahagia. Toh aku juga gak berbuat salah jika kami bersama,setahuku dia single dan aku juga sama.


*****


I hate monday. Itu dulu! Karena sekarang aku merindukannya. Bukan merindukan hari seninnya, tapi merindukan orang yang akan aku jumpai pada hari senin. Bahkan meski senin pagi ini suasana mendung berkabut. Namun langkahku dari parkiran untuk menuju lobby kantor amat bersemangat.


Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba sapuan angin yang akan menjemput hujan mengarahkan bola mataku pada sosok lelaki tampan, yang baru saja keluar dari mobilnya. Angin itu menyibakkan rambutnya yang hitam dan tebal. Menampilkan senyum tipisnya yang seolah menjadi bulir-bulir yang menghipnotis mata yang memandangnya. Pancaran yang bersinar dari matanya lembut dan penuh pesona.


Blasssshhtt ...


Mata itu ...


Mata yaaaaangg ...

__ADS_1


Deg!


Deja vu...


Kenangan beberapa bulan lalu itu kembali hadir di pelupuk mataku.


Benarkah?


Dia lelaki yang membuatku penasaran kala itu?


Mata kami bertemu pandang.


Persis ...


Ini memang wajah lelaki itu!


Pandang mata kami semakin dekat, dekat daannn ...


"Sa," lelaki itu melambaikan tangan di depan wajahku.


Pyaaarr ... ! Aku mulai tersadar dari lamunanku. Mendapati lelaki misterius itu.


Dia ...


Dan dia adalah ...


"Mas Rud," suara Maya benar-benar membuyarkan lamunanku.


"Mas Rud," batinku.


"Kalian pagi-pagi dah kencan, ayo masuk!" ucap Maya sambil menarik tanganku.

__ADS_1


Aku mengikuti langkah Maya. Namun mataku masih saja menatap ke arah mas Rud. Ku pandang dan semakin ku pandang. Seolah aku terbawa pada memori dimana hujan mempertemukan kami untuk terakhir kalinya.


Hujan itu!


Wajah itu!


Tatapan lembut itu!


Senyuman itu!


Orang itu ... Apakah orang itu sama dengan orang yang ada di depanku sekarang?


Ketika hatiku masih terus bertanya-tanya, pandangan kami menghilang di balik pintu lift yang tertutup.


*****


Aku sudah duduk di belakang meja kerjaku. Tapi rasanya aku masih melihatnya. Melihat lelaki itu, dengan segala deja vu yang ku alami selama ini. Meski sempat terlupakan, tapi kejadian tadi pagi benar-benar memutar kembali deja vu-deja vu yang sempat memenuhi otakku dengan rasa penasaran.


Dan kini, aku semakin penasaran. Apakah lelaki deja vu itu adalah lelaki yang amat dekat denganku sekarang? Lelaki yang mungkin boleh ku sebut sebagai pacarku, meskipun tak pernah terlontar kata jadian dari mulut manisnya.


Tapi, jika melihat perhatian darinya, siapa pun bisa melihat bahwa hubungan diantara kami bukan sekedar teman biasa, apalagi sekedar atasan dan bawahan.


Jika benar itu dia?


Mengapa dia tak pernah bicara padaku.


Ada rahasia apa dibalik deja vu ini?


Inikah pertanda jodoh diantara kami?


Lelaki yang mempesonaku hanya lewat tatapan, membuatku penasaran, menjadi deja vu, sempat ku abaikan dan kini aku merengkuhnya. Perjalanan yang amat indah, terukir dengan sempurna. Semoga memang ini adalah takdir yang sudah menuliskan dia untukku.

__ADS_1


__ADS_2