Tentang Hati

Tentang Hati
Berimbas Pada Hatiku


__ADS_3

Selesai sarapan, kami sepakat untuk pamit pulang. Aku dan Maya menumpang di mobil Pak Aryan. Awalnya Dion kekeh mau nganterin tapi ku yakinkan lebih baik aku nebeng mereka aja agar efisien. Toh nanti sore, dia juga bakal jemput aku untuk nyari kado buat nikahan Tria dan Rio. Untunglah rumah kami searah walaupun rumahku yang paling jauh. Jadi sebenarnya bukan aku yang nebeng Pak Aryan tapi dia yang nganterin aku.


"Kita anterin Maya dulu, ya! Kebetulan aku juga mau ketemu seseorang di sekitar rumahmu," Pak Aryan menjelaskan.


"Terserah Bapak ajalah, yang penting saya gak diculik," jawabku.


"Emang aku kurang kerjaan sampai harus nyulik kamu," tuturnya.


"Rosa jangan digombalin, ya , Pak, kalau saya sudah turun," ingat Maya sambil tersenyum smirk.


"Gak saya gombalin tapi saya tembak," seloroh Pak Aryan yang tak ku ambil pusing.


Aku tak begitu fokus dengan obrolan mereka karena harus menjawab WA Dion yang datang bertubi-tubi. Sepertinya aku masuk jebakan Dion, dia terus-terusan mengirimiku pesan agar aku tak fokus dengan Pak Aryan. Dia pasti menyesal sudah melepasku pulang dengan lelaki yang pernah membuatnya dipenuhi rasa cemburu. Terus-terusan fokus dengan HP, membuatku mengantuk. Berkali-kali menguap sampai aku tak sadar jika sudah terlelap lama di mobilnya.


*****


Pak Aryan PoV


Maya sudah turun, kini tinggalah aku dan kamu di dalam mobil. Baru saja ingin memintamu pindah ke sebelahku tapi ternyata kamu sedang tertidur. Ku pandangi wajah polosmu yang sedang terlelap. Sungguh wajah yang membuatku damai. Ku lajukan mobilku dalam kecepatan sedang agar kamu bisa terlelap lebih lama. Dan aku bisa menikmati pemandangan indah ini.


Sesekali ku curi pandang wajahmu dari pantulan spion tengah. Terlihat amat lucu dan menggemaskan. Entah kenapa mataku tak ingin ku alihkan dari bibir indahmu yang menggoda.


Obrolan yang tadi membahas soal sentuhan di bagian itu, mungkin membuatku penasaran. Bagaimana bisa tunanganmu itu, bisa tahan untuk tidak berpetualang di dalamnya. Sementara aku saja begitu tergiur untuk menyelami manisnya sentuhan pada bibir mungilmu itu.


Ish ... kotor sekali pikiranku.


Kenapa gadis ini bisa mencabik-cabik perasaanku?


Aryan ... ingat!


Dia sudah menjadi tunangannya lelaki lain, temanmu sendiri.


Tidak ... tidak boleh kamu rebut!


Ah, kenapa ia tak juga bangun?


Ku buang napas kasar. Hati-hati ku mengarahkan kamera HPku ke wajahmu.


Cekrek!


Sempurna ... wajah bantalmu pun terlihat sempurna di mataku! Begitukah cinta bermain? Ah ... indah yang menggelikan.


Indah?


Sedikit indah karena masih bisa melihatmu tersenyum dan tertawa penuh bahagia. Namun keindahan itu memudar, saat ku sadari jika aku terlambat menemukanmu untuk bisa mencintaiku.


Lagi ....


Ku lihat fotomu di galeriku. "Kamu memang menggoda, menggodaku tak ada hentinya."


*****


Dion PoV


Setelah empat puluh lima menit ku lalui dalam berkendara, akhirnya aku tiba di rumahmu. Mama sedang menyiram bunga ketika mobilku memasuki pelataran. Beliau menyambutku dengan senyumannya. Begitu lembut, mengingatkanku pada senyuman mami yang selalu ku rindukan.


Mama bilang, semenjak pulang dari apartemenku kamu langsung tidur. Bangun salat zuhur dan kemudian melanjutkan mimpi yang sempat kamu hentikan sementara.

__ADS_1


"Mama bangunin aja, ya? Tunanganmu itu kalau sudah tidur siang bisa lupa waktu," ucap Mama.


Belum sempurna Mama berdiri dari duduknya, tiba-tiba bel di pintu gerbang berbunyi. "Mama buka pintu dulu, kamu bangunin aja, pintunya gak dikunci, kok," Mama mempersilakanku menemuimu di kamarmu.


"Baik, Ma," jawabku mengiyakan.


Segera ku masuki rumah dan menuju ke kamarmu di lantai dua. Perlahan handle itu ku putar dan pintu pun terbuka. Melangkah masuk dan duduk di pinggiran ranjang. Ku lihat wajahmu sangat tenang sehingga membuatku tak bisa berpaling untuk tidak menatapmu. Sebentar kamu menggeliat dan pindah posisi tidur.


"Aku lelaki normal, Sayang. Tidak mungkin aku tak tergoda melihat kemolekan tubuhmu. Namun bukan berarti aku akan memuaskan inginmu sekarang. Semua ada waktu yang tepat, Sayang!" sapuan lembut di keningmu ku hadiahkan dari sentuhan bibirku.


"Bangun, Sayang, jadi pergi gak?" pelan-pelan ku membangunkanmu.


Bergerak sebentar kemudian tertidur kembali. Dengan sabar, ku bangunkan lagi. Dan begitu berulangkali. Hingga ku biarkan saja kamu tertidur lagi menikmati mimpi yang mungkin sedang indah-indahnya. Sekali lagi ku cium keningmu dan ku tinggalkan kamu bersama bunga tidurmu.


"Rosa bangun, gak?" tanya Mama setelah aku kembali ke teras.


Ku ukir senyumku. "Sepertinya dia masih ngantuk, Ma."


"Dasar anak itu, jarang tidur siang, sekalinya tidur siang malah susah bangunnya," terang Mama.


"Biarkan saja, Ma, Dion tunggu sampai Rosa bangun," jelasku.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul 14.30 saat aku sudah berhasil mengumpulkan seluruh nyawaku. Terlalu lama memejamkan mata membuatku semakin malas untuk segera beranjak dari ranjang. Namun jika tak ku paksakan, kemalasan ini bisa beranak-pinak, dan melahirkan cucu-cucunya. Akhirnya ku turunkan kakiku dari ranjang dan bergegas ke kamar mandi untuk cuci muka.


Setelah badan terasa lebih segar, aku keluar untuk mengambil air minum. Berjam-jam tidur berteman AC harus segera diimbangi dengan banyak minum air putih agar tidak dehidrasi.


"Dion sudah nungguin dari tadi di depan, temuin sana!" perintah Mama.


"Bukannya kalian sudah janjian beli kado untuk pernikahan Tria," Mama mengingatkan.


"Oh iya, Rosa lupa, Ma," ucapku sambil menepuk jidat.


Kenapa sama sekali gak ingat, sih. Udah jam berapa lagi, nih? Rosa ... Rosa ...!


"Udah lama?" sapaku basa-basi setelah sampai di teras rumah.


Dion memperhatikanku dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Lain kali, kalau ada tamu, ganti baju dulu. Celanamu ini terlalu pendek untuk kamu pakai di luar kamar," ucap Dion seraya melepaskan kemejanya yang dipakai sebagai luaran kaos polosnya.


Memang bajuku kenapa? Hmmm ... aku ganti memperhatikan diriku sendiri. Aku lupa hanya memakai kaos putih polos oversize dan hotpant. Kemeja itu pun langsung aku pakai untuk menutup kakiku bagian atas.


"He-he-he ... maaf aku lupa," ucapku sambil nyengir.


"Jadi pergi, gak?" tanyanya kemudian.


"Jadi dong, tapi aku masih bingung mau beli apa?" curhatku.


"Kasih aja foto kita, dibingkai terus kasih kata-kata, kan kamu suka nulis, Sayang. Selain itu, kamu bisa tambahin sesuatu yang couple-an." saran Dion.


Pikir-pikir-pikir!


Good idea!


Unik dan pasti memorable. Sesuatu yang aku suka, beda!


"Ya udah, ayo kita cari kadonya," ajakku penuh semangat.

__ADS_1


"Emang, udah mandi?" sindir Dion.


Aku tersenyum, tertohok dengan kalimatnya yang tepat sasaran. "Aku mandi dulu maksudku."


*****


"Di, kok, gak bilang kalau naik motor?" tanyaku setelah tak menemukan mobil Dion terparkir di halaman rumah.


"Kenapa? Gak mau?" Dion malah balik bertanya.


"Bukan 'gitu, untung aku pakai celana, kalau pakai gamis kan repot," kilahku.


Dion memakaikan helm ke kepalaku. " Lagian kapan kamu pakai gamis waktu jalan sama aku? Kamu kan tomboy, pakai rok kalau mau ke kantor aja."


Aku tersenyum merasa tertampar dengan pernyataan Dion. "Ayo, berangkat!"


Kenapa jadi aku yang begitu semangat? Mungkin karena aku sudah lama tidak berboncengan naik motor dengan kekasihku. Terakhir kali yang ku ingat, aku seru-seruan berboncengan dengan lelaki itu, menikmati hawa dingin karena guyuran hujan menerpa badan. Mas Rud! Kenapa jadi inget dia lagi, sih? Lupakan!


Aku senderkan daguku di pundak Dion sebelah kiri. "Tumben, bawa motor?"


"Biar romantis, kayak Dilan dan Milea," celetuknya.


Dilan dan Milea, lagi? Seperti gombalan Mas Rud dulu, Dilan dan Milea. Ah, lagi-lagi!


"Dilan mah kalah romantisnya dari Abang," seruku mengeratkan pelukan di perutnya.


"Abang? Emang aku Abang Ismed? Orang cakep begini, Panggil aku Mas!" perintahnya.


"Bibirku ku dekatkan dengan telinganya yang tertutup helm. "Nanti barter sama ini, tunjukku pada bibirnya."


"Ish ... sekarang kamu itung-itungan," gerutunya. "Nanti malem, ya?" serunya lagi.


"Apa?" tanyaku semangat.


"Tidur, kita barternya di mimpi, aja," Dion mengulaskan senyum smirknya.


*****


Sesampainya di Mall, kami langsung menuju lantai lima di mana ada toko khusus yang menjual segala hal yang berbau couple-an. Banyak yang menarik mataku untuk melihatnya sampai aku kebingungan untuk memilih yang mana.


"Punya ide, gak, Di?" tanyaku saat berada di puncak kegalauan.


Dion melihat-lihat sekeliling dan berhenti di depan handuk putih yang tergantung. Terajut kalimat unik di sana "Keramas, menu sarapan pengantin baru". " Kalau ini, gimana? Biar mereka lebih rajin mandi."


Dahiku berkerut seiring terperasnya otakku untuk menemukan arah pembicaraannya. "Apa hubungannya?"


Sebuah senyum smirk ia perlihatkan. "Ah, rupanya tunanganku ini masih polos."


Ku cubit lengan kirinya. "Apa?"


"Handuk ya buat dipakai sehabis mandi, biar bersih, kan kebersihan sebagian daripada iman," Dion menjelaskan secara terperinci seperti guru TK yang menjelaskan pada muridnya.


"Aku yakin bukan itu, hayo dong, apa?" Aku terus-terusan merengek manja.


"Apa?" Dion berusaha menggodaku seraya berjalan mundur menghindari gelitikanku pada pinggangnya. Tiba-tiba ...


"Bruk!

__ADS_1


__ADS_2