Tentang Hati

Tentang Hati
Season Tiga


__ADS_3

Janji yang telah kuucapkan malam ini adalah janji yang tak ingin aku ingkari lagi. Kusadari bahwasanya selama ini aku telah dibelenggu oleh rasa yang seharusnya sudah kutinggalkan sejak lama. Mantan adalah kenangan. Harus dilupakan dengan paksa meskipun Dion meminta untuk membiarkan pergi dengan sendirinya. Aku bukan dia. Takutku jika terlalu lama waktu kusia-siakan untuk seseorang yang tak pantas untuk terus aku pikirkan.


Aku adalah istri, wajib seutuhnya menjadi milik suamiku. Termasuk kisah yang harus kubuang dan kugantikan seutuhnya dengannya. Mas Rud memang indah, tapi Dion lebih indah. Dia yang menghalalkanku bukan meninggalkanku. Suamiku adalah penawar dari luka yang Mas Rud ciptakan.


"Siap?" tanyaku dengan senyum menggoda.


"Hm ... apa?" gumaman yang kemudian berlanjut dengan pertanyaan balik Dion.


"Kupaksa yang enak," godaku lagi.


"Maaf," ucap Dion, membalikkan kata yang tadi kuucap saat dia menggodaku untuk memaksa yang enak.


Seperti sebuah ajang balas dendam, tapi bukan berakhir pada pertumpahan darah melainkan pertumpahan rasa yang berlabel cinta seutuhnya. Season tiga yang akan terasa seperti season pertama karena janji hati yang telah terpatri.


"Aku tidak bisa mendengar kata penolakan, Mas," tegasku seraya mulai memposisikan diri berhadapan sedekat mungkin dengannya.


"Lalu, aku harus apa?" tanya Dion dengan santainya.


Jantungku yang berdegup tak karuan, kuabaikan. "Kamu cukup menikmatinya, Sayang. Biarkan aku yang nakal."


"Sejak kapan kamu bisa nakal?" goda Dion seraya memegang daguku dengan sebelah tangannya.


Tak kujawab kalimatnya dengan kalimat juga. Dagu yang sudah dia raih dengan kedua jarinya semakin kudekatkan dengan dagunya. Memangkas jarak dan bertautlah dua belah bibirku dengannya yang bisa memberikan sensasi sensual yang menggoda. Tanpa ragu kupejamkan mataku dan dengan nakal seperti yang kubilang aku menelusuri setiap sisi dari dalamnya penikmat bir*hi.


Entah mendapatkan kelihaian sejak kapan, tapi kali ini kurasakan jika aku bukan seperti aku. Rosa yang biasa dituntun dan diarahkan kini menjadi penunjuk jalan. Seolah tersusupi jin mesumnya seorang Kaisar Hanz, aku seperti dibawa masuk kedalam dunia reinkarnasi cinta Ruby.

__ADS_1


Dion yang awalnya diam dan membiarkan aku menguasai permainan, mulai dibawa suasana yang semakin menaikkan gejolak. Bibir kami yang semakin basah, searah dengan napas yang mulai tersengal. Kulepaskan tautanku dan menatapnya dengan deru napas yang masih berpacu. Kami yang sama-sama sudah terlingkupi n*fsu kembali saling mendekat dan tenggelam dalam sentuhan yang kian memabukkan.


"Yang ..." panggilku dalam des*han manja karena sudah terjerembab dalam bara yang terus melaju menuju season tiga.


"Tak apa kamu yang mengawali, tetapi aku yang akan tetap menguasaimu," kalimat Dion yang terdengar begitu seksi di telingaku. Hangat napasnya menyapu daun telingaku yang begitu rentan dengan sebuah sentuhan.


Dion membalik tubuhku yang awalnya melingkupi tubuhnya. Ia berganti mengungkungku di bawah lengah kekarnya. Kaos yang membungkus tubuhnya ia lepaskan dan terserak begitu saja. Terpampanglah tubuh bagian atasnya yang mempesona. Guratan keseksian pada bagian perutnya ditunjang dengan dada bidangnya juga selaras dengan bahunya yang kekar. Sungguh membuatku tak bisa menahan saliva yang mulai diproduksi berlebihan.


"Nafsu dengan tubuh suami itu halal kok, Yang," jelasnya dengan senyum menggoda begitu kami menjeda ciuman dan bersiap untuk sesi berikutnya.


"Kenapa aku gak bisa nakal di hadapanmu?" sebalku dalam tanya seraya memainkan telunjukku di dada dan memutari perut berlekuk indahnya.


"Karena aku lebih nakal dan kamu adalah korban kenakalanku, pertama dan selamanya," ujar Dion dengan suaranya yang makin menggoda.


"Percuma aku pakai baju seseksi ini, niat menggoda tapi malah aku yang tergoda," gerutuku.


"Kamu, nakal," cubitku berikutnya setelah berhasil membuatnya tersenyum dengan ciumanku yang tak dia sangka.


"Kamu pikir, sepuluh tahun bersamamu aku tidak menguatkan iman untuk tidak tergoda menyentuhmu. Gaya berpakaianmu yang suka pakai rok pendek ketika keluar atau pun hotpant saat aku bermain ke rumahmu, apakah itu tidak menguji imanku? Aku lelaki normal Sayang," terangnya mengingatkan pada kebiasaanku yang suka cuek berpenampilan.


Cengiran senyum aku pamerkan padanya. Merasa tertohok dengan kalimatnya yang memang berbicara fakta. Seperti wanita lain, aku juga selalu mengikuti tren pakaian yang sedang booming. Korban mode, begitulah aku menyebut diriku sendiri.


"Tapi, jangan harap sekarang aku membiarkan kamu memakai pakaian seperti itu. Kecuali di hadapku, kamu tidak usah berpakaian," ucapannya yang semakin menaikkan level kemesuman.


"Apakah aku perlu melepas pakaianku sekarang?" godaku mengikuti alur pembicaraannya.

__ADS_1


"Jangan buru-buru! Malam masih begitu panjang," tolaknya yang menumpuk telapak tangannya di atas tanganku yang siap membuka tali pengait pada baju tidur pendekku.


"Apakah sekarang aku sudah tidak menggoda imanmu lagi?" gerutuku yang merasa ditolak Dion.


"Kamu makin menggodaku, Sayang. Hanya saja aku bisa menjamahmu kapan pun aku mau. Oleh karenanya aku tak ingin menyia-nyiakan waktuku untuk bercengkrama denganmu. Bicara dari hati ke hati, ini adalah pengganti kamu mencuekkanku kemarin," ucap Dion dengan mulai menyentuhkan bibirnya pada jenjangnya leherku yang terpampang tanpa penghalang.


Kubiarkan kedua tanganku bebas di sisi tubuhku. Dengan lembut, Dion menyusuri lengan atasku, sedikit bermain nakal dan menelusupkan jemarinya di sela jemariku. Tanpa sedetik pun melepaskan permainan bibir tebal nan kenyalnya disetiap inci leherku. Menelusuri kemulusannya dan beberapa kali meninggalkan jejak cinta di sana.


"Besok aku kerja, sudah cukup tanda merahmu," ingatku dengan napas yang mulai memburu.


"Biar semua tahu kejant*nanku, Sayang," terang Dion dengan senyum nakalnya.


Lagi, dia kembali menjelajah di jalan mulus itu. Berjalan semakin merangsek sudut gairahku. Menemui saudara kembar yang siap memanjakan atau malah dimanjakan oleh kelihaiannya. Mulai bermain di sana dengan melembutkan sentuhan pada bagian yang tak rata. Terus meninggi untuk mencapai titik puncak yang merupakan sisi paling sensitif. Memutari dan kadang sedikit menggigit untuk menambah sensasi. Sungguh permainan yang memabukkan.


"Sudah siap untuk Dion junior?" tanya Dion ambigu begitu ia menciumi perut rataku. Makin nakal dengan sesekali menurunkan ciumannya mendekati titik paling bahaya di bawah sana.


Sentuhannya membuatku tak menyadari kapan helaian benang itu melepaskan diri dari tubuhku. Kepolosan yang nyata di hadapan Dion membuatku malu dan berusaha menutupi dengan tanganku tapi aku lupa jika tanganku juga berada di bawah kendalinya. Kupalingkan wajahku, malu melihat matanya yang bebas mengeksplor seluruh tubuhku.


"Kamu masih saja malu-malu, Sayang?" godanya seraya kembali bermain dengan bibirku dan membelit indah indra pengecapku.


Perlahan ia lepaskan sentuhannya di sana dan memulai bermain dengan bagian tubuhku dibawah sana. Melicinkan perjalanan yang akan dilalui oleh sesuatu yang lincah. Mempermainkan lidah dengan gerakan yang lembut, menghisap dan kadang mengetes kepanjangannya. Detik berganti dan gerakannya semakin membelit. Meleburkan dua cairan hangat yang akan berkembang menjadi seorang Dion junior yang punya karisma yang menawan.


Lelehan keringan yang mengalir dan meratakan ke seluruh raga, melemaskan tenaga yang tadi perkasa seperti singa yang siap memangsa habis buruannya. Merebah bersama di atas ranjang dengan kepuasan yang sukar dilukiskan.


"Terimakasih, Sayang. Ini adalah rasa terindah yang yang engkau berikan. Aku selalu mencintaimu," ucap lembutnya seraya memelukku dan berkali-kali mencium keningku."

__ADS_1


Kusambut dengan sebuah senyuman kebanggaan. Bahwasanya kali ini aku membahagiakannya murni , sebagiai Dionku tanpa bayang-bayang lelaki lain. "Aku juga semakin mencintaimu, dalam dan semakin dalam."


__ADS_2