
"Yakin, mau nyetir?" ulang Dion kali kedua ketika aku menawarkan diri untuk duduk di balik kursi kemudi.
"Kasihan, suami tersayangku kecapekan," balasku seraya mengecup pipinya.
Senyum mengembang di bibir manis suami tampanku itu. Meluruhkan rasa maluku jika bersamanya, selalu ingin mengecupnya. Ish ... aku jadi mesum kalau memikirkan ksatria cintaku itu. Anehnya kenapa baru sekarang aku menyadarinya. Dahulu kemana saja?
"Ya udah, ayo jalan!" perintah Dion sambil memasang seat belt-nya.
Perlahan kuinjak pedal gas mobil berwarna black metalic itu. Meninggalkan area kantor, memasuki tol dalam kota dan mengarah ke apartemen kami yang berjarak tak begitu jauh dari kantor. Membelah jalanan yang mulai padat namun jauh dari kata merayap. Fokus pada jalanan di depan tetapi sesekali menoleh pada lelaki tampan di sampingku. Menebarkan senyum karena ternyata ia juga sama, memandangku.
"Jalanan di depan sana, Sayang. Kalau di sini adalah jalan cintamu," goda Dion karena semakin sering aku meliriknya.
"Rasanya ingin belok kiri dan berhenti sekarang, Yang," balasku ganti menggodanya.
"Apakah itu tandanya kita makan malam lebih cepat?" tanyanya dengan senyum nakal.
"Mau makan apa? Kan belum masak," polosku menanggapi menu makan malam yang spesial versinya.
"Mau makan kamu," jawabnya sambil mendekatkan wajahnya padaku.
Lirikanku saja yang menanggapi ulah nakalnya. Sesungguhnya aku sudah terpancing tetapi aku sok jual mahal. Padahal sebenarnya ngarep dari tadi. Terlalu asyik berfantasi tentangnya hingga tak menyadari jika mobil mulai memasuki area parkir di basement. Mencari lokasi parkir yang enak, dan segera menghentikan mobil di sana.
*****
Malam sudah melewati jam sibuknya. Segala urusan yang berkaitan dengan acara bersih-bersih, baik itu bersih-bersih badan alias mandi ataupun bersih-bersih isi piring atau disebut makan sudah selesai dari sepuluh menit yang lalu. Kini, saatnya untuk merilekskan otot-otot yang tegang. Bersantai menikmati acara televisi bersama cemilan yang tak berhenti mengisi area mulut.
Aku duduk di karpet bulu dengan menyenderkan punggung di sofa. Sementara Dion memilih untuk merebahkan dirinya, menjadikan pangkuanku sebagai bantal.
Tanganku sibuk bermain dengan rambutnya yang mulai memanjang dan lelakiku itu menikmatinya seraya bermain HP.
__ADS_1
"Besok, berangkat subuh lagi gak, Yang?" telisikku yang sebenarnya ingin menanyakan kejadian tadi pagi tetapi aku masih ragu menanyakannya secara langsung.
"Berangkat biasa, kita bisa barengan ke kantor," jawabnya masih fokus dengan benda menyala di tangannya.
"Baiklah, hmmm ...," aku ragu untuk menyelidik lebih lanjut.
Dion masih terus fokus olahraga dengan jarinya. "Mau tanya apa, Yang?"
"Kesibukan yang tadi pagi ...?" terhenti lagi tanyaku, begitu pula dengan permainan yang kulakukan pada rambutnya.
Menyadari apa yang terjadi, Dion meletakkan HPnya. Menengadahkan kepala untuk dapat menjangkau penglihatanku. Sayangnya aku sedang mengarahkan pandanganku pada lain arah. Sengaja, agar suamiku tahu bahwasanya ada yang berbeda dari istrinya, aku. Perlahan ia bangun dan mendudukkan diri di sebelah kakiku. Kedua tangannya ia tangkupkan di wajahku dan mengarahkan ke wajahnya. "Apakah kamu siap mendengar ceritaku?"
Kuanggukkan kepalaku. "Katakan semua yang mengganggu pikiranmu, Sayang."
Dion melepaskan tangkupan tangannya dari wajahku. Menghela napas dalam dan membuangnya dengan sedikit kasar. Meraup wajahnya sendiri dan menatapku dengan tatapan yang susah kuartikan kedalamannya. "Rud diculik."
Deg!
"Lalu?"
"Belum ada kabar, Tuan Alex masih berusaha mencari jejak keberadaannya," jelas Dion dengan wajah datarnya. Ada sebuah rasa cemas di sana. Bagaimanapun penculikan itu terjadi setelah pertengkaran yang melibatkan dirinya. Terlepas dari fakta lain yang melatarbelakangi penculikan tersebut, dirinyalah yang terakhir kali terlibat kontak fisik dengannya.
"Tenanglah, Tuan Alex pasti akan mengerahkan anak buahnya untuk membebaskan Mas Rud dalam kondisi selamat," tuturku yang entah mendapatkan kekuatan darimana bisa berbicara sekuat itu. Padahal ragaku sebenarnya lunglai. Aku mengkhawatirkan keadaannya, sebagai seorang manusia terlebih sebagai seseorang yang pernah membelitkan rasa berdua.
Dion meraihku ke dalam pelukannya. "Seharusnya aku yang menguatkanmu. Aku yakin jika kamu lebih mencemaskan keadaannya."
Bisa jadi yang Dion katakan itu benar adanya. Namun aku merasa bangga bahwasanya Dion adalah seorang rival sejati. Mengetahui pesaingnya menghilang tiba-tiba bukannya senang tapi malah merasa kehilangan. Sungguh sebuah sikap ksatria.
"Semoga Mas Rud baik-baik saja dan segera bisa berkumpul bersama kita lagi," doaku yang tak kusadari jika kalimat yang terakhir adalah sesuatu yang tak seharusnya aku panjatkan.
__ADS_1
Tak ada sanggahan dari Dion. Mungkin dia memaklumi keadaan yang membuatku tak sadar, doa itu terlantun begitu saja. Padahal jika ditelaah lebih dalam, doaku itu akan berimbas pada hubungan kami karena dia akan kembali mengusik kedamaian rumah tangga yang baru mulai kami bina.
"Aku mengkhawatirkannya sebagai seseorang yang mengenalnya bukan sebagai seseorang yang pernah melewati waktu bersamanya," jelasku kemudian begitu menyadari kesalahan yang telah kuperbuat tanpa sengaja.
"Aku tidak mempermasalahkan itu, aku hanya ...," jeda Dion seraya mengarahkan pandangannya pada langit-langit, menahan sesuatu yang membuat sesak di dadanya.
Kuambil jemarinya, kugenggam dan kubiarkan dalam tautan jemariku tanpa berniat melepasnya. "Apakah Dionku merasa takut? Apakah seorang Dion masih mengganggap Rosanya rapuh? Apakah Dion pikir Rosa akan kembali berpaling dengan Rud?" cercaku tanpa terjeda.
Tak ada kata yang keluar dari mulut suamiku itu. Hanyalah sebuah pelukan yang ia berikan. Merengkuhku ke dalam hangat perasaannya. Merasakan debaran jantungnya yang lebih kencang daripada biasanya. Kepalaku yang ia benamkan di dadanya membuatku yakin jika dia ingin menunjuklan bahwa dialah sandaranku.
"Dion dan Rosa adalah kepingan hati yang telah melebur menjadi satu," tegas Dion seraya tanpa henti mencium puncak kepalaku.
Kueratkan lingkaran tanganku yang melingkupi perutnya. Semakin menipiskan jarak yang sebenarnya sudah tak ada. Kutengadahkan kepalaku, mendapati air mata yang meluruh di pipinya. Kuringankan tanganku, mengusap lembut butiran bening itu. "Sayang, menangislah! Jangan menjadi seseorang yang terlalu kuat hingga aku tak tahu bagaimana bisa menjadi berarti di dekatmu."
Dion berusaha mengulaskan senyum tipis.
"Jadilah lelaki lemah kali ini, Sayang. Bermanjalah! Jangan selalu berusaha kuat untukku, izinkan sesekali aku yang menguatkanmu," ucapku sambil menarik kepalaku dari benaman di dadanya dan beralih membenamkannya di pelukanku.
Sungguh, bisa kurasakan kerapuhan hati yang sedang menderanya. Kekuatan yang selalu ia perlihatkan sebenarnya hanyalah kamuflase dari hatinya yang ingin melepas tapi dia tak kuasa. Sekuat apapun dia ingin menjagaku dengan raganya, di sisi lain aku juga ingin menjaganya dengan perasaanku. Ijab Qobul kemarin sudah menautkan hati yang diliputi cinta. Dan cinta akan selalu ada kata saling untuk menguatkannya. Seperti sekarang, kami saling menguatkan ketika drama penculikan Mas Rud mengharuskan kami dibelenggu dua rasa antara kecemasan dan ingin dia bebas tanpa luka.
******
Dion, rapuh?
Lelaki juga boleh menangis, kok. Jangankan Dion, Tuan Krisna yang akrab dengan senjata api saja, pernah berapi-api ketika dihadapkan dengan dua istri.
Kepo, gak, gimana cerita utuhnya?
Mampir novel keren, ini deh!
__ADS_1