
Mata terasa berat untuk membuka. Perlahan kukerjapkan, dan mengitarkan pandangan. Merasa bingung kenapa aku bisa ada di sini. Seolah kembali dihadirkan deja vu, setengah tahun yang lalu. Ketika aku membuka mata pertama kali, dan menemukan Dion yang tengah menjagaku. Sekarang pun sama. Dia tersenyum manis saat aku melihatnya. Hanya saja, aku tahu ini adalah kamar kami.
Dengan usapan lembut di rambutku, Dion terus saja mengulaskan senyumnya. "Sayang, apa yang kamu rasakan?"
Pertanyaan Dion membuatku memikirkan apa yang baru saja kurasakan beberapa waktu lalu. Ingatan tentang sakit yang tiba-tiba menyerang dan membuatku jatuh tak berdaya. Gelap. Ah, apakah aku baru saja sadar dari siuman?
"Sayang, maafkan Mas, ya!"
Kumenggeleng sambil menggenggam jemarinya erat. "Aku yang seharusnya minta maaf, Mas."
Dion membelai rambutku dengan sangat lembut. "Mas izinkan kamu menulis, Sayang. Namun harus kamu ingat, jangan sampai lupa waktu. Tetap jaga kesehatan dan beri kesempatan badan dan pikiranmu untuk beristirahat."
Aku sadar jika memang terlalu menghabiskan waktu dengan tulisan. Berusaha maksimal untuk membahagiakan pembaca sampai lupa jika aku sendiri juga harus bahagia. Sesungguhnya aku bahagia tapi sepertinya Dion yang merasa tidak kubahagiakan.
"Untung saja aku pulang tepat waktu, bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kamu dan dedek bayi kita?"
Dion mengambil semangkuk bubur ayam dan mulai menyuapiku. Dengan cekatan mengambil selembar tisu dan mengelap bubur yang cemong di sudut luar bibirku. Dengan lembut ia memperlakukanku.
"Mas tadi ke mana? aku cari ke taman gak ada," tanyaku di sela kunyahan.
Dion mengernyitkan dahi. Seperti terkejut dengan penuturan kisah yang baru aku ceritakan. "Aku ngobrol sama Aryan."
Hanya di depan dan aku kelimpungan. Mencari ke sana ke mari hingga menjadikanku didera kelelahan dalam pencarian. Mengabaikan sakit yang pada akhirnya membuatku dihimpit penyakit. Kurasa asam lambungku naik karena beberapa hari terakhir semenjak menulis novel jadwal makanku berantakan. Waktu lebih banyak kuhabiskan di depan laptop daripada melihat menu makanan dengan mata melotot.
Dion yang biasanya kujadikan tempat bermanja, juga kuanggurkan begitu saja. Kencan malam mingguku bukan lagi dengannya melainkan dengan novel tercinta. Prioritasku berubah, bukan suami tapi hobi. Ah, betapa berdosanya aku.
"Aku pikir, Mas marah."
"Memang."
"Sekarang?" selidikku sambil melihat raut mukanya yang tidak memperlihatkan kegarangan.
__ADS_1
"Aku tidak mau kamu duakan. Apalagi dengan sebuah tulisan. Anjlok harga diriku, seorang Dion yang tampan dan jadi rebutan kini kalah saing dengan benda mati yang hanya bisa diam." ungkap Dion panjang lebar.
Kuusap punggungnya. Meredam amarah yang dia keluarkan sebagai curhatan. Aku memahami perasaannya lantaran semua yang dikatakannya juga aku rasakan. Kebenaran yang menyebalkan. Bedanya aku pelaku dan dia korban.
Kugenggam jemari kiri Dion yang bebas dari pegangan sendok. "Bagiku, kamu selalu menjadi nomor satu, Sayang. Hanya saja, saat ini aku sedang terbuai oleh pesona dunia halu yang berubah menjadi candu. Membuatku tak sadar telah terjerembab dan susah keluar dari jebakan."
"Hipnotis aku kembali, Sayang! Biar Noveltoon meradang karena seorang suami berhati malaikatku yang paling romantis bisa mengalahkan daya pikat online-nya."
Dion mengecup keningku mesra. "Itu pasti, Sayang. Suamimu ini akan selalu menjadi pemenang pertama."
Kukecup pipi kiri Dion. "Aku selalu mencintaimu, Sayang."
"Cintai calon penerusku yang ada di rahimmu."
"Tentu saja aku juga mencintainya," jelasku seraya mengelus perutku.
"Kalau kamu mencintainya, maka hal ini tidak akan terjadi."
"Minum, ini!" Dion memberiku empat butir obat dengan berbagai warna dan ukuran. Bubur ayam yang sudah habis kumakan harus segera dikejar dengan penghilang rasa sakit untuk penyakit yang tiba-tiba datang mencubit.
"Mas, sakit lambungku bisa disembuhkan dengan obat-obat ini. Lalu, kecanduanku menulis novel apa obatnya?" candaku dengan memasang wajah menggoda.
"Sembuhin dulu lambungmu, nanti aku hilangkan candu halumu."
Kalimatnya belum tercerna secara sempurna oleh otakku. "Apa obatnya?"
"Maumu yang dosis tinggi atau dosis rendah, Sayang?"
Jawabannya semakin terasa janggal. Kucium aroma-aroma kemesuman yang tersiar dari kalimat yang ia ucapkan. Apalagi, senyum smirk yang menghias bibir tebalnya itu, menandakan ada sesuatu yang ia sembunyikan.
"Kamu mencurigakan sekali, Mas."
__ADS_1
"Bagaimana bisa kamu mencurigaiku?" kilah Dion sambil beringsut dari duduknya. Membawa peralatan makanku yang sudah kosong ke luar kamar.
Kunyamankan posisi dudukku di sandaran ranjang. Ternyata makanan itu sangat penting bagi tubuh. Buktinya pening dan rasa lemas yang kurasakan seketika menghilang. Menyisakan rasa perih yang masih sedikit mengusik.
"Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Dion setelah kembali masuk kamar.
"jauh lebih baik, Mas."
"Kalau begitu, sudah siap aku berikan obat penghilang kecanduan akutmu?"
"Masa gak ada jarak minum obat, Mas? Nanti aku over dosis, gimana?" kilahku menghindar dari pengobatan yang ia tawarkan.
"Over dosis obatku aman, Sayang."
Dion mulai mendekat, duduk sejajar denganku. Menyandarkan punggung dan saling bicara dengan santai. "Seingatmu, kapan terakhir kita saling bertukar cerita begini, Sayang?"
Rasanya pertanyaan Dion ini menghujam tepat di ulu hatiku. Kalimatnya santai tetapi menyasar pas di titik tujuan. Aku semakin sadar jika ini sindiran halus untuk waktu yang terlalu banyak kusisihkan untuk dunia maya dan menepikan keberadaannya di dunia nyata.
"Sebelum aku mengenal aplikasi baca," ucapku sambil menundukkan pandangan, menghindari tatapan yang mungkin akan segera bertemu. Meskipun pada kenyataannya Dion setia dengan pandangan lurusnya.
"Aku pikir, dengan menulis novel maka waktumu membaca akan berkurang. Tak ada lagi begadang lewat tengah malam.
Itu benar. Ketika disibukkan menulis, maka jam bacaku menjadi sangat minim. Namun, waktuku mengetik kata semakin banyak.
"Aku memang jarang membaca, Mas. Hanya saja setelah up, aku masih menyisihkan waktu untuk membalas komentar yang singgah di novelku. Entah itu reader sejati atau sesama author yang mengharap saling mendukung. Aku merasa, jika tanpa mereka apalah artinya cerita yang kupunya. Sehingga aku selalu bersemangat untuk membalas komentar." jelasku panjang lebar.
Dion mendesahkan napas panjang. "Aku setuju pemikiranmu, Sayang. Readers adalah aset paling berharga bagi novelmu. Namun, aku mohon jangan menepikanku dari sudut pandanganmu."
Kupeluk suamiku itu. "Sayang, maafkan istrimu ini! Aku janji, untuk selalu menomorsatukanmu. Jika aku ingkar, aku akan meninggalkan dunia literasi. Fokus untuk menjadi yang terbaik untukmu."
Dion membalas pelukanku dengan penuh kasih. "Jalani ini seiring jalan, Sayang. Kewajibanmu bukan hanya untuk membahagiakanku, tetapi kamu memiliki hak untuk membahagiakan dirimu sendiri asal keduanya tidak saking bertentangan."
__ADS_1
Kami saling memandang. Mengukir senyum dalam kelegaan pikiran yang sudah tersalurkan lewat sesi komunikasi.