
Aku dan Pak Aryan berjalan dengan santai mengabaikan karyawan lain yang memandang dengan penuh tanda tanya. Memang, semenjak kehadiran Pak Aryan, gosip tentangku di kantor ini semakin menjadi. Dari mantan pacar sang manajer, jadi gebetan manajer baru. Namun, semua aku anggap sebagai mendung hitam yang nanti juga bakalan menghilang jika hujan datang.
"Pagi, Pak Aryan!" sapa Anggen dan Bu Tya bersamaan saat aku dan sang manajer melintas di depan mejaku.
Aku tak menanggapi mereka yang masih mengekorkan pandangannya pada kepergian Pak Aryan menuju ruangannya. Kududukkan diriku, menyenderkan punggung dan menengadahkan kepala pada mereka berdua. "Sssssstttt ... 'gitu amat ngelihatnya!" godaku pada dua gadis yang terpesona oleh ketampanan manajernya itu.
"Gila, Sa! Makin hari makin cakep aja, tuh si manajer," puji Bu Tya dengan saliva yang hampir membanjiri ujung bibirnya.
"Pepet terus, dong!" timpalku memprovokasi pihak wanita setelah tadi gagal memprovokasi pihak lelaki. Harus pantang menyerah!
"Semangat, pepet!" seru Bu Tya dengan mata menerawang yang kuyakin sedang membayangkan wajah tampan lelaki yang dikaguminya itu.
"Apanya yang dipepet?" celetuk Anggen dengan ekspresi polosnya.
"Yang berbulu dan lincah," ucap lirih Bu Tya seraya bergaya seperti sedang berbisik-bisik.
"Bulu, apa?" Anggen mulai tertarik, dia menggeser posisi berdirinya untuk lebih mendekatkan diri dengan kami berdua.
"Bulu, yang bikin geli-geli enak," terang Bu Tya dengan senyum terkekehnya.
Anggen makin merapat, sesekali meniup permen karet di mulutnya hingga membentuk sebuah balon besar dan meletup di hidungnya. "Bulu yang di mana, 'tuh?"
"Pe, bocorin, donk! Kamu kan dah paham masalah perbuluan," pinta Bu Tya sambil mencolek bahuku agar menyadari jika yang dipanggil Pe itu adalah aku, Rosa.
"Apaan?" balasku sok gak ngerti.
"Bulu yang lincah," Anggen menjelaskan sesuatu yang membuatnya didera rasa penasaran.
"Bulunya siapa?" tanyaku meruwetkan perbincangan.
"Bulu yang mau dipepet Bu Tya," lagi-lagi Anggen melengkapi kalimatnya agar aku segera paham dan dapat menjawab tanya yang bersarang di pikirannya.
"Hah?" pekikku.
"Bulu yang lincah punya Pak Aryan," jelas Bu Tya dengan gamblang.
Aku menutup mulut dengan sebelah telapak tangan. Mataku melotot mendengar kalimat yang mengarah pada hal tabu itu. "Bu Tya, ih. Kok bahas itu, sih?"
"Memang kenapa? Pak Aryan sepertinya memang berbulu dan lincah," ucap santai Bu Tya seperti tak merasa risih dengan topik pembicaraan kami.
"Bu Tya kapan melihat bulu lincah Pak Aryan?" Anggen kembali menelisik.
"Tak sengaja aku lihat waktu sedikit terbuka, uchh ... bikin gak tahan!" ujar Bu Tya dengan gayanya yang sensual.
__ADS_1
"Ih ... mau ...!" Anggen ikutan berseru.
"Bulu lincahnya Pak Aryan hanya buatku," tegas Bu Tya menampilkan muka garang.
"Makan 'tuh bulu hidung!" celetukku.
"Kok bulu hidung, sih?" protes Anggen.
"Terus, mau bulu ketek?" aku menawarkan pilihan lain yang membuat Anggen semakin memanyunkan bibir mungilnya.
"B-u-l-u d-a-d-a," eja Bu Tya dengan pelafalan yang sangat jelas.
"Pak Aryan, mana punya bulu dada," timpalku penuh keyakinan karena aku pernah melihatnya berganti kemeja di mobil.
Dadanya itu bidang, bersih dari yang namanya bulu-bulu halus yang menggoda untuk dimainkan. Perutnya bersekat dengan indahnya. Ah ... pelukable banget pokoknya.
"Tau banget kamu, Pe?" Anggen mulai ikutan memanggilku Depe.
"Tentu saja, dia pernah melepaskan kemejanya di hadapanku," akuku santai tanpa berpikir panjang jika kalimat pengakuanku ini akan berbuntut panjang.
"Ih, kalian sudah ngapain, aja?" Anggen memekik histeris yang akhirnya menjadi perhatian orang seruangan.
Kami bertiga akhirnya hanya menyengir berjamaaah. Pagi-pagi sudah ngerumpiin bulu yang lincah hingga membuat gaduh dan melupakan kalau kami di tempat ini ada untuk bekerja. Untungnya, mata-mata mereka itu segera berbalik pada tumpukan pekerjaan setelah Pak Aryan berjalan melewati meja kami pada saat yang tepat.
"Ada, kamu," gumam Bu Tya dengan matanya yang berkedip-kedip mirip anak yang menderita cacingan.
"Aww ... kenapa menyikutku, sih, Nggen?" pekik Bu Tya tak menyadari jika kelakuannya itu tidak pantas dilakukan oleh seorang wanita, apalagi sekelas Bu Tya.
"Jaim, dong!" perintah Anggen yang diabaikan Bu Tya.
Seketika Pak Aryan berdehem karena terganggu dengan polusi suara yang dihasilkan oleh dua gadis itu. "Semua, kembali bekerja! Rosa, ikut ke ruangan, saya!" perintah Pak Aryan kemudian.
Bu Tya dan Anggen langsung kasak-kusuk begitu aku dipanggil ke ruangan manajer kesayangannya. Aku langsung memberikan kode pada mereka untuk kembali bekerja. Namun mereka masih tetap meneruskan acara ghibahnya.
"Pe, salam untuk bulu lincahnya. Bilang kalau Tya Gunawan yang bohay siap menguyel-uyel," ujar Bu Tya dengan manja.
"Aku juga mau kenalan, Pe, sama bulu lincah, tanyakan kapan dia punya waktu luang?" titip pesan Anggen yang membuatku geleng-geleng kepala.
"Kalian, somplak!"
"Kita, Trio Somplak!" tegas Bu Tya dengan semangatnya.
"Hu uh!" Anggen ikut membenarkan.
__ADS_1
Orasi Bu Tya dan Anggen tentang Trio Somplak hanya kutanggapi senyuman dalam hati. Merasa aneh tapi sesungguhnya aku bahagia. Kehilangan sahabat seperti Maya dan Mas Rendra yang gesrek, diganti kontan dengan dua gadis somplak yang mengikrarkan dirinya sebagai Trio Somplak.
*****
Kantin kantor, tempat kami bertiga menghabiskan waktu untuk makan siang. Mengambil 3 nampan berisi beraneka menu makan siang, tetapi pada kenyataannya kami tetap menghabiskannya secara bersama-sama. Saling mencicipi makanan di piring seberang. Rasanya memang Trio Somplak adalah julukan yang pas untuk kami. Dan sejak sematan nama geng kami itu, panggilan Bu untuk Tya dibumihanguskan.
"Kita lanjutin bahas perbuluan!" semangat Tya dengan wajah seriusnya.
"Setuju!" timpal Anggen tak kalah semangatnya.
"Jadi, apa yang kalian lakukan hingga tahu kalau Pak Aryan tak berbulu?" selidik Tya dengan menajamkan pandangannya padaku.
"Kami gak ngapa-ngapain," jawabku santai setelah meneguk air putih langsung dari botolnya.
"Aku, gak percaya. Kalian pernah main lincah-lincahan, ya?" telisik Tya lebih lanjut.
"Main apa'an 'tuh?" Anggen mencari tahu.
"Sssstttt! Kamu diem dulu, Anggen!" perintah Tya yang membuat Anggen menjadi kesal.
Aku masih bersikap santai. "Kupastikan Pak Aryan itu gak berbulu, tapi kalau lincah aku gak tahu, karena aku belum pernah main dengannya," jelasku panjang lebar yang sepertinya dimengerti oleh Tya.
"Yang jelas berbulu dan lincah itu suamiku," pamerku kemudian dengan rasa bangga yang mencapai puncaknya.
"Mau ...!" seru Tya dengan nada menggoda.
"Enak, aja. Dia sudah hak patenku," ucapku sambil segera berdiri karena telah menyelesaikan aktivitas makan siangku.
"Mau yang berbulu dan lincah," teriak Tya agar bisa kudengar.
"Sebenarnya apa, sih, yang berbulu dan lincah? Kemoceng? Lutung? Atau ...? Itu! Ya ... mungkin itu.
Berbulu? Iya.
Lincah? Iya.
Bikin geli? Iya.
Dia adalah ulat bulu. Gak lucu, ya? Garing?
Ah ... dikata kerupuk kali, garing.
Selamat datang, Trio Somplak!
__ADS_1