Tentang Hati

Tentang Hati
Dion? Nadeo? Kepa?


__ADS_3

Dion, suami super romantisku itu selalu punya cara untuk membahagiakanku. Aku yang punya selera nyeleneh, tak pernah menjadi masalah baginya. Terutama hobiku yang menyukai sepak bola. Memang tak sedikit wanita yang mempunyai hobi sepertiku tapi baginya aku tetaplah wanita yang istimewa.


Masih kuingat jelas, bagaimana dia memberiku kejutan dengan menjadikan Nadeo Argawinata sebagai sosok yang melancarkan lamarannya. Itu dia lakukan karena tahu aku sangat mengidolakan kiper muda nan tampan tersebut. Dan kali ini, aku kembali dia berikan sebuah kejutan.



Duduk berdua diantara ribuan penonton yang bersorak-sorai di tengah Stamford Bridge Stadium. Melihat secara langsung idolaku, Kepa Arrizabalaga tengah fokus menjaga gawangnya dari serangan lawan. Sosok tampan yang sedang berpeluh keringat itu, semakin mengagumkan di mataku. Hingga tak kusadari jika teriakanku sudah membahana, berulang kali memanggilnya dengan nada tinggi.


"Sayang, aku cemburu," bisik Dion saat aku sudah berhenti meneriakkan nama Kepa dari mulutku.


Mataku menembus mata beningnya yang tengah merajuk. "Aku mencintaimu," rayuku untuk meluruhkan endapan lara di dasar hatinya.


"Kamu tidak pernah meneriakkan namaku saat melihatku bertanding dulu," curhatnya sok dingin.


"Dulu aku mendukung tim sepak bola sekolah, Sayang. Bukan mendukungmu," aku memelankan kalimat terakhirku yang kutahu itu sensitif baginya.


Memang benar, dulu aku menonton pertandingannya. Namun itu untuk mendukung sekolah, bukan mendukungnya. Yang kuteriakkan pun bukan namanya karena waktu itu aku sebal dengan kelakuannya yang selalu mengikutiku kemanapun aku pergi.


"Setidaknya jangan teriakkan nama lelaki lain di hadapanku, dong, Sayang," pintanya untuk sebuah kisah yang sudah lama berlalu.


Ya, dulu aku selalu memanggil "Akbar", nama second striker di timnya. Mungkin memang kejam tapi itu semua kurasa tak berlebihan. Boleh Dion menjadi idola karena menjadi striker utama, bukan sekadar karena skill mumpuninya tapi juga wajah menariknya. Namun bagiku tidak suka tetaplah tidak suka, tidak bisa dipaksa. Toh, Akbar juga memiliki wajah manis yang tak kalah menawan.


"Akbar?" jelasku dengan menggenggam jemarinya.


"Nadeo?" kumemilih satu nama lagi sebagai pilihan.


"Kepa?" kusebutkan nama lelaki terakhir yang baru saja kuteriakkan namanya.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulutnya. Aku tahu, semuanya benar. Ketiga nama itu membuatnya cemburu. Matanya tak melihatku meskipun jemarinya masih melekat erat di jemariku.


"Dion Wijaya, aku mencintaimu," teriakku tak memedulikan orang disekelilingku yang menoleh heran. Nama yang kusebutkan tidak ada dalam daftar nama pemain kedua kesebelasan yang sedang bertanding. Kulirik wajah suamiku yang merona merah. Aku yakin hatinya sedang berbunga, tak menyangka bahwa aku bisa melakukan hal segila ini. Mimik mukanya membuatku gemas dan tak kuasa untuk tak melayangkan sebuah kecupan di pipinya.


Cup!


Dion terkesiap. Tak berpikir akan mendapatkan dua hal tak terduga secara berkesinambungan. Namun ia kemudian dapat menguasai dirinya. Tersenyum bahagia dan mengusap lembut rambut di puncak kepalaku. Mendekatkan bibirnya ke telingaku dan berbisik mesra. "Aku juga sangat mencintaimu, Sayang. Pulang, yuk! Season tiga," godanya dengan mengerling manja.


Kucubit perutnya dengan gemas. Protes dengan kemesuman yang semakin meningkat levelnya. Selalu ingin mencicipi dan menghabiskan waktu dengan bertarung rasa dalam cinta. "Belum gol, tunggu sampai tim lawan kebobolan, dong," aku mencari alasan untuk mengulur waktu yang hanya tinggal lima belas menit waktu normal.

__ADS_1


"Aku juga bisa ngegolin, loh, Yang. Kamu masih belum lupa kan kalau aku striker?" tutur Dion dengan senyum smirknya.


"Kamu udah dua kali ngegolin, Sayang. Emang mau nyetak hattrick?" selidikku sekilas melihatnya dan kembali mengawasi setiap gerakan Kepa di bawah garis gawangnya.


"Hattrick, yuk!"


Ku cubit gemas pahanya. "Istirahat dulu, Sayang. Waktu normal dan injury time sudah habis. Kita mulai pertandingan dua hari kedepan," terangku ganti mengerlingkan mata padanya.


"Ini pertandingan persahabatan, Sayang. Diluar jadwal pertandingan resmi," terangnya terus saja mencari celah untuk memuluskan aksinya.


"Awas ya kena kartu merah kalau kamu kebanyakan protes, wasitnya galak," tegasku dengan ekspresi yang kubuat tampak garang.


"Jangan dikartu merah sebelum si merahmu datang, Sayang. Masa lagi honeymoon disuruh puasa," suara Dion manja.


Menilik suara yang memanja itu, aku geli sendiri. Beginikah seorang lelaki yang haus akan dimanja? Okelah kalau Dion merajuk begini, wajahnya ada imut-imutnya ngegemesin. Coba kalau bodyguard-bodyguard berwajah garang sedang merajuk, apakah itu tidak menurunkan level kegalakannya?


Kugeleng-gelengkan kepalaku sembari menahan senyum dengan mata terpejam. Mengusir khayal liar yang tidak pantas kupikirkan. Bukankah setiap lelaki memiliki hasrat yang sama? Terlepas bagaimanapun tipe wajahnya, apakah baby face, si balok es, ataupun tipe muka komedian, mereka boleh merajuk mendamba cinta.


"Jangan berpikiran jorok!" ingat Dion sambil mencubit hidungku.


"Habis, dari tadi tingkah kamu aneh," ungkap Dion dengan menunjukkan sebuah foto padaku. Gambar yang melukiskn seorang gadis dengan ekspresi yang baru saja kujelaskan. Ya ... gadis itu adalah aku.


"Coba ceritakan padaku, apa yang ada di pikiranmu?" perintah Dion kemudian.


Aku bingung mencari jawaban. Tak mungkin aku jujur, jika membayangkan lelaki lain yang merajuk seperti dirinya. "Aku hanya berpikir kalau kembar tujuh di dunia itu beneran nyata," alasanku berikutnya yang kurasa bisa diterimanya.


"Kepa dan aku?" selidik Dion berikutnya.


"Dan juga Nadeo," tambahku dengan senyum sempurna.




Dion Wijaya


Benarkan? Ketiga lelaki yang kupuja ini ternyata memiliki kemiripan rupa. Dion, strikerku adalah Nadeo versi Indonesia. Secara, Nadeo masih ada bule-bulenya sementara Dion berwajah Indonesia asli. Padahal Nadeo dikenal sebagai Kepanya Indonesia. Terdengar rumit, tapi sebenarnya tidak serumit itu. Intinya mereka bertiga mirip, secara wajah dan kecintaannya terhadap sepak bola. Bedanya Kepa dan Nadeo adalah penjaga gawang, sementara Dionku adalah pencetak gol, perobek gawang.

__ADS_1


*****


Original Merchandise Shop Chelsea, disinilah sekarang kami berada. Memilih merchandise asli dari tim kesayangan asal Inggris ini. Jersey Kepa dan segala tentangnya, itulah yang sedang kuburu. Memilih dari satu sisi ke sisi yang lain, akhirnya aku mendapatkan yang aku inginkan. Sepasang jersey dan jaket couple-an serta beraneka pernak-pernik Chelsea, seperti gantungan kunci, gelas dan syal masuk keranjang belanja kami.


"Terimakasih, ya, kamu memang suami terbaikku," pujiku untuk kejutan kesekian yang Dion berikan, menghadiahiku merchandise asli Kepa.


"Season tiga, jangan lupa!" ingat Dion dengan seringai tawanya.


"Kamu, gak tulus, ya?" gerutuku sebal.


"Aku kurang tulus, apa coba? Kamu mengagumi lelaki lain aku biarkan. Malah aku belikan semua yang akan mengingatkanmu tentangnya. Mana ada suami sepertiku di dunia ini?" papar Dion dengan PDnya.


Cup!


Sebuah kecupan manis di pipi kiri, aku hadiahkan untuknya. Cinta yang begitu manis yang dipenuhi oleh ketulusan itu dia curahkan hanya untukku. Kurang beruntung apa coba menjadi Rosalia Citra Atmadja?


"Mau minta apa? Kenapa kamu manis sekali hari ini?" Dion bisa membaca akal bulusku.


"Season tiga," godaku berikutnya.


Dion memelototkan matanya. Tak menyangka jika aku minta sesuatu yang memang sudah ada di ubun-ubunnya. "Kita, pulang sekarang!"


"Season tiga, Kepa, Sayang. Aku ingin berfoto dengannya?" ucapku dengan memamerkan puppy eyes.


"Season tiga, Dion Wijaya," tegasnya.


"Kepa Arrizabalaga," tegasku.


"Dion Wijaya," timpalnya seraya menggandengku keluar dari merchandise shop dan menyusuri trotoar.


"Nadeo Argawinata," ucapku semakin kemana-mana.


"Dion Wijaya," tegasnya tak ingin diduakan atau ditigakan.


"Dion Wijaya," balasku untuk terakhir kalinya.


"Dion Wij- Dion Wijaya," ucapnya sempat terjeda dan kemudian ditegaskan untuk terakhir kalinya sebelum merangkulku sepanjang langkah. Menyusuri jalanan dengan tawa bahagia. Berpayung langit cerah dan udara yang ramah. Cinta dalam kehalalan itu memang indah.

__ADS_1


__ADS_2