Tentang Hati

Tentang Hati
Semakin Gencar


__ADS_3

Dua hari di awal minggu ini, berlalu tanpa ada mereka yang biasanya selalu menghiasi hariku. Dion, kekasih yang selalu memanjakanku juga Maya dan Mas Rendra, sahabat konyolku yang selalu membuatku tertawa. Bayangkan saja jika mereka tak ada, alangkah sepinya hariku.


Ini adalah pagi ketiga yang menyapaku di kantor tanpa Maya yang biasanya selalu berteriak histeris menyambut kedatanganku. Dia bilang hari ini akan masuk tapi di mana dia? Mas Rendra pun tak terlihat batang hidungnya. Mungkinkah mereka memperpanjang cutinya?


"Ini," Pak Aryan menyerahkan sebuah undangan berwarna maron berpadu warna keemasan.


Senyumku mengembang sempurna mengalahkan kegeraman karena Maya dan Mas Rendra. "Alhamdulillah, akhirnya Bapak menikah, juga."


"Aku belum menemukan wanita sepertimu," ucap Pak Aryan seraya meninggalkanku menuju ke ruangannya.


Belum menemukan? Bukankah itu berarti kalau Pak Aryan belum menemukan jodohnya. Lantas, ini undangan pernikahan siapa? Ku sambar langsung kertas tebal di mejaku itu.


"Tria dan Rio"


Ups!


Aku salah lagi. Bagaimana ini? Kenapa aku gak ingat sih, bukannya kemarin dia baru bilang gak punya pacar. Mana mungkin bisa tiba-tiba menikah. Emang ada jodoh turun dari langit.


Arrghh!


Aku langsung berdiri dan melangkah dengan membawa undangan di tanganku. Ku masuki ruangan Pak Aryan dan langkahku terhenti sejenak saat ku dapati Pak Aryan sedang melepaskan jasnya. Iya, aku memang nyelonong masuk ke ruangannya. Mengetuk pintu dan langsung masuk tanpa menunggu jawaban darinya.


Pak Aryan tak sedikitpun terganggu dengan ulah brutalku. Dia senang sekali duduk bersender di mejanya jika aku menemuinya. Begitu pun kali ini, dia juga menempati posisi tersebut. "Duduklah!"


"Tidak perlu, Pak. Saya hanya ingin meminta maaf tentang ini," aku menunjukkan undangan yang ku pegang.


Pak Aryan mengambil undangan itu dan membukanya. "Tria dan Rio," gumamnya. "Aku bisa memaafkanmu jika nama di undangan ini diganti Rosa dan Aryan." Senyum smirk itu kembali mengembang di bibirnya. "Rosa ... Rosa ... wajahmu lucu sekali kalau ketakutan begitu. Udah kerja sana, aku banyak kerjaan."


Mengusirku?


Dasar manajer gak jelas. Rugi aku sudah merasa bersalah dan meminta maaf padanya. Undangan itu ku ambil dari tangannya dan ku pukulkan ke lengannya. "Saya cabut permintaan maaf saya, Pak. Ternyata, Bapak lebih menyebalkan dari yang saya pikirkan." Melangkah keluar adalah keputusan yang tak lagi ku tunda-tunda.


Hari-hari berat benar-benar di ujung mataku. Namun, rasanya itu tak akan terjadi lagi. Ku lihat Maya sedang duduk di kursinya.


"Hai," aku menepuk pundaknya dari belakang.

__ADS_1


Maya menoleh, kemudian bangkit dari duduknya dan memelukku erat. "Kangen."


"Aku lebih kangen, tega ya cuti berhari-hari gak bilang," omelku.


"Nih," Maya menyerahkan sebuah undangan berwarna coklat muda.


Buru-buru ku buka undangan itu. Aku tak mau kejadian barusan terulang lagi, salah sangka tentang pemilik undangan. Sementara aku membuka undangan dari Maya, tanganku yang lain masih memegang undangan dari Tria.


"Kalian ...?" aku tak mampu melanjutkan kata-kataku. Maya mengangguk. Kembali ku hadiahkan sebuah pelukan untuknya. Rasa bahagia terpancar jelas dari wajahnya. Dan tentu saja, kebahagiaannya juga adalah kebahagiaanku. Kebahagiaan yang kadang tak lagi menjadi sebuah senyuman tapi malah sebuah tangisan. Seperti saat ini, Maya menitikkan air mata di sela kebahagiaannya.


"Kenapa kamu menangis?" tanyaku setelah mendengar isaknya.


Maya berusaha menghentikan tangisannya. "Hari jumat aku terakhir masuk kerja, aku resign dan bakalan pindah ke Yogya setelah menikah."


Ku cari-cari tanggal pernikahan mereka di undangan yang ku pegang. Apa? Malam minggu depan dia menikah. Oh My God! Kenapa secepat itu? secepat itu atau dia yang sengaja terlambat memberitahuku?


Ingin sekali aku mengomelinya tapi melihat air matanya yang begitu deras meleleh, aku menjadi tak tega. Kembali ku peluk tubuhnya. "Dimana pun kamu berada, aku tetap sahabatmu."


"Udah ... udah ... kayak beneran pisah aja, tuh Rosa juga bakal jadi sepupumu, gak usah lebay," Mas Rendra ikut gabung dalam pelukanku dan Maya.


Jadi sepupumu?


Menikah dengan Dion?


Rasanya hatiku langsung bergemuruh membayangkan itu terjadi. Ku tarik napasku lebih dalam dan panjang.


"Sa, ini undangan satunya punya siapa?" Kamu sama Dion?" tanya Mas Rendra yang melihat dua undangan di tangan kanan dan kiriku.


"Undangan temen SMPku, Mas," terangku.


Kenapa Mas Rendra berpikiran ini undangan pernikahanku? Bukankah ia akan lebih dulu tahu jika aku akan menikah dengan Dion, mereka kan sepupuan.


"Hari jumat, pulang kerja kita rayain perpisahan kita, yuk!" ajak Maya.


"Untuk apa merayakan perpisahan? Aku akan kehilangan Maya dan oh ... aku juga akan kehilanganmu, Mas," selorohku setelah mengingat jika aku akan kehilangan sahabat bukan hanya seorang tapi dua sekaligus.

__ADS_1


Tak bisa ku bayangkan hari itu. Hari panjang yang harus ku habiskan tanpa kalian. Dengan siapa aku harus berteman? Tinggal Pak Aryan yang ada di sini. Ish ... kenapa harus dia?


"Hai, calon pengantin!" Pak Aryan sudah berdiri di belakangku.


"Katanya banyak kerjaan, Pak, ngapain di sini?" sindirku tanpa menoleh.


"Kalian sangat ribut, mengganggu konsentrasiku. Ada apa, sih?" Pak Aryan menelisik.


"Nyicil perpisahan, Pak," jelas Mas Rendra.


Kening Pak Aryan nampak berkerut, menandakan dia sedang berpikir mencari jawaban dari penjelasan Mas Rendra. "Ini, pasti Rosa yang baper karena bakalan jauh dari kalian. Tenang, Sa! Aku ada di sini, bukankah aku juga temenmu."


"Jumat sore, ikut kami merayakan perpisahan, pak," pinta Mas Rendra.


"Ok!" yakin Pak Aryan sambil melirikku.


Diam-diam aku kembali ke mejaku. Ku biarkan mereka bertiga mengobrol di meja Maya. Kata-kata Pak Aryan yang bilang akan menemaniku setelah kepergian Maya dan Mas Rendra membuatku sedikit terganggu.


"Gak sopan kamu, Sa, orang lagi ngobrol main ninggalin aja," Pak Aryan sudah berdiri di belakangku.


"Kerja, Pak, bukankah Bapak juga banyak kerjaan?" ingatku.


"Ke ruanganku sebentar, ada yang ingin ku bicarakan!" perintahnya.


Lagi? Ke ruangannya? Untuk apa coba?


Ah, bodo amat! Paling juga gak penting. Mending aku fokus kerja saja. Baru saja ku sentuhkan jemariku di keyboard, teleponku berbunyi. "Temenku yang cantik, buruan ke ruanganku!"


Huft!


Dasar manajer diktator. Gerutuku terus berlanjut sepanjang jalan menuju ke ruangannya. Mbak Indah, sekretarisnya yang biasa ku sapa, kini pun luput dari sapaanku. Segera ku buka pintu ruangannya tanpa permisi. Jika dia manajer yang suka sok merintah, maka aku bisa jadi bawahan yang kurang sopan.


"Buatmu," lagi lagi Pak Aryan duduk bersender di mejanya dan menyerahkan sebuah kotak berpita pink padaku.


Tak ku ambil benda yang diserahkannya itu. Ku berdiri mematung di hadapannya. Otakku masih terus bekerja keras untuk bisa memahami hal apa lagi yang sedang dia mainkan untukku.

__ADS_1


Tiba-tiba saja dia mengambil tangan kananku, dan meletakkan kotak itu di telapak tanganku yang diambilnya. "Bekerjalah kembali!"


Pak Aryan kembali ke kursinya dan mengabaikanku yang masih mematung. Dia kembali berkutat dengan laptopnya tanpa sedikitpun menoleh, apakah aku sudah pergi atau belum. Aku semakin geram karena diabaikan. Aku meletakkan kotak itu di mejanya dan aku pun pergi tanpa menghiraukannya.


__ADS_2