Tentang Hati

Tentang Hati
Penjaga Hati


__ADS_3

Saat tengah berpura-pura bermain HP, tiba-tiba sebuah WA masuk.


Deg!


Mas Rud!


Aku mengejanya pelan-pelan dan berulang kali. Memastikan ini benar-benar WA darinya dan bukan sekedar halusinasiku semata.


Aku ragu untuk membukanya. Pikiranku ingin, tapi jemariku seakan menolak inginku. Aku meletakkan HPku, lalu aku ambil lagi. Dion nampaknya melihat kegelisahaanku. Dia mendekatiku dan mengambil HP dari tanganku.


"Ada apa?" Dion menatap mataku.


Aku diam. Dion langsung berinisiatif membuka HPku dan menemukan WA dari mas Rud yang belum ku baca. Tanpa berpikir, dia memelukku yang tengah terduduk di ranjang pasienku.


Dion melepaskan pelukannya dan memegang kedua bahuku.


"Aku ada di sini! Bacalah! Apa pun yang dia katakan, aku akan mastiin kamu baik-baik aja!" Dion menguatkanku.

__ADS_1


"Aku takut," jawabku.


"Kalau kamu takut, berarti kamu yakin WAnya akan menyakitimu. Padahal kamu belum membacanya. Siapa yang tahu WAnya malah berisi hal yang akan membahagiakanmu?" Dion kembali memelukku.


Dion menyerahkan kembali HPku. Perlahan aku beranikan untuk membuka WA dari mas Rud.


Sa,


Kita harus mengakhiri semua ini. Maafkan aku tak bisa menepati janjiku.


Aku menjatuhkan HPku. Air mataku pun tak bisa lagi ku bendung. Rasanya benar-benar sakit. Terlampau sakit. Dia memutus tanpa penjelasan. Hanya kata maaf! Maaf untuk sesuatu yang aku gak tau apa alasannya.


Ku pejamkan mataku. Terbayang semua kisahku bersaman Mas Rud. Bagaimana awalku melihatnya, menjadi deja vu, kemudian tak sengaja takdir mempertemukan dan menjadikan ikatan indah, mengukir janji janji dan impian indah, daan ... daan akhirnya dia menghilang ... dan benar -benar meninggalkanku hanya dengan kata maaf tanpa penjelasan!


Air mata semakin deras membasahi pipiku.


Keindahan kisah yang singkat bersamanya itu, nyatanya meninggalkan luka yang mendalam. Aku mencintainya ... sungguh mencintainya! Tapi kenapa dia tega meninggalkanku seperti ini?

__ADS_1


Meleleh lagi air mataku ... semakin deras dan semakin membuatku terlihat menyedihkan.


*****


Mas Rud PoV


Sepasang mataku, menemukan gadisku yang tengah duduk di ranjang pasien. Tanganmu sibuk dengan HP di tangan kananmu. Tak berapa lama raut wajahmu nampak berubah.


"Rupanya WAku sudah sampai," gumamku.


"Maafkan aku!" keluar kata lagi dari mulutku.


Mataku kemudian mendapatimu sudah berada di pelukan seorang lelaki.


"Seharusnya pelukan itu dariku! Bukan dia! Tapi aku akan tenang meninggalkanmu, jika ada dia yang akan menggantikanku untuk memelukmu. Aku sakit! Tapi aku tak bisa jika melihatmu lebih sakit tanpa penjagaan. Dia akan bisa menggantikanku untuk menjagamu! Berbahagialah sayang! Kamu bisa tanpaku!"


Mataku pasti memerah menahan air mata. Mataku masih serius melihatmu hingga kemudian ku alihkan pandang ke HP yang ada di tanganku. Puluhan WA dan panggilan telepon terus saja menggetarkan HPku. Nampak jelas mataku makin merah. Butir air mata, sudah mulai mengintip dari ujung mataku. Aku masukkan HP ke dalam saku celanaku dan kembali memandang nanar gadis yang sedari tadi ku pandangi.

__ADS_1


Tanganku perlahan akan menyentuh gagang pintu di depanku, lama terdiam dan akhirnya aku membalikan langkah menjauhi pintu tersebut. Langkah gontaiku nampak jelas memperlihatkan jika aku sedang terseok dalam beban perasaan yang begitu berat.


__ADS_2