Tentang Hati

Tentang Hati
Kotak Hitam Tergembok


__ADS_3

Ini pagi pertamaku sebagai seorang istri beneran. Bangun pagi dan menyiapkan sarapan. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 semua sarapan sudah terhidang di meja. Dion yang berpenampilan rapi dengan setelan baju kerjanya, sudah duduk di meja makan dengan tebaran senyum yang tiada habisnya.


"Nyiapin apa 'nih buat sarapan pagi pertamaku, Sayang?" tanya Dion setelah meneguk air putih yang sudah kusiapkan.


"Maafin, ya, aku cuma ngangetin masakan yang semalam dibawa Mama. Atau kamu mau sarapan pakai roti, aja?" tawarku setelah mengakui jika aku tak memasak pagi ini.


"Aku bisa makan apa, aja," ucap Dion dengan segera membalik piring dihadapannya.


Segera kuambil piring ditangan Dion dan mengambilkan nasi dengan porsi yang cukup. " Mau pakai lauk apa?" tanyaku memastikan karena banyak jenis masakan yang Mama bawa semalam.


"Ayam goreng, jangan lupa lalapan dan sambalnya, ya, Yang," terang Dion dengan lengkap.


"Mas, gak jaga makan?" penasaranku karena makanannya apa aja tapi kok badannya bagus.


Dion tersenyum mendengar pertanyaanku. "Jaga badan bukan berarti gak makan, apalagi yang nyiapin makanannya istriku tersayang.


"Kenapa kamu selalu manis, sih? Aku kan makin cinta," akuku malu-malu.


"Manisku memang untuk selalu membuatmu jatuh cinta padaku," gombalnya sembari melanjutkan makannya.


"Kamu, berhasil," akuku seraya berdiri dan memeluknya dari belakang. Menyandarkan daguku di pundaknya dan mulai bermanja.


"Mau aku suapin? Kenapa kamu gak makan tapi malah memelukku, Sayang?" tanya Dion seraya memutar tubuhnya dan menarikku ke dalam pangkuannya.


Aku pun melingkarkan kedua lenganku ke belakang lehernya. "Kangen."


"Aku bahkan belum berangkat tapi kamu udah kangen. Makan siang aku pulang, Sayang. Kita kan mau ke butik buat fitting baju," tutur Dion untuk melonggarkan rindu yang terlanjur membelengguku.


"Entahlah, aku juga gak tahu. Kenapa aku gak ingin pisah darimu," akuku.


"Sepertinya kamu sudah kena peletku," ucap Dion sambil terkekeh.


"Jadi, selama ini kamu melet aku?" Pantesan aku gak bisa sedetik pun melupakanmu. Wajahmu selalu terbayang, senyummu selalu menawan bahkan cemburumu aku rindukan," paparku seraya menatap Dion lekat.


Dion menjulurkan lidahnya. "Nih, aku pelet."


"Huft ... dasar," gerutuku sebal.


Dion menyelesaikan makannya dan kembali meneguk air putih. "Aku boleh kerja, gak, 'nih?"

__ADS_1


Kalau ditanya begitu, kuingin menjawab tidak. Jangan kemana-mana! Tetaplah di sini, disisiku sepanjang waktu. Namun bukankah cinta itu bukan sekadar menghabiskan waktu bersama tapi juga ada waktu untuk yang lain, bekerja contohnya. Memang bakalan kenyang kalau cuma makan cinta. Kamu harus realistis, Rosa. Matrelah, sedikit!


Haist!


Bisikan apa lagi, ini? Apakah setan kredit mulai mencari mangsa? Bak bisnis MLM yang menjamur dimana-mana. Ah ... entahlah, yang jelas uang itu bukan hanya bisa menjerat nikmat tapi juga kadang menjadi laknat.


"Kamu harus bekerja keras, Sayang. Bahkan harus lebih keras, bukankah biaya hidup bertiga, berempat, berlima, ber ... itu lebih mahal dibandingkan biaya hidup berdua?" godaku seraya mengelus perut.


Dion ikut menempelkan telapak tangannya di atas telapak tanganku yang tengah membelai manja perut rataku. "Apakah di dalam sana sudah berdiam Dion junior, Sayang?"


"Mungkin saja, mengingat tiap seasonya kamu selalu ...," ucapku sengaja tak meneruskan kalimat. Kulepas satu lenganku yang masih melingkar di lehernya. Beranjak dari pangkuannya dan mengambil tangan kanannya. Kucium punggung tangan tersebut dan memutar senyum. "Berangkatlah, Sayang. Hati-hati di jalan!


"Kayak lagunya Rita Sugiarto," tutur Dion sembari mengecup keningku.


"Lagu dangdut pun, kamu tahu juga?" tanyaku heran.


"Aku serba tahu, hanya satu yang aku gak tahu. Kenapa kamu menolakku selama sepuluh tahun?" sindir Dion dengan senyum smirknya.


"Aku antar ke depan, ya?" pintaku sambil membawakan tas kerja Dion, mengabaikan pertanyaannya yang sebenarnya juga tak tahu harus kujawab apa.


Dion menjawabnya dengan usapan lembut di puncak kepalaku. Dia merangkulku dan berjalan beriringan sampai pintu apartemen. Mengambil tas berwarna hitamnya dari tanganku dan kemudian melambaikan tangan, pergi. Kutatap keberangkatannya sampai ia menghilang di balik pintu lift.


*****


Benda pipihku juga sepi. Tak ada WA ataupun pemberitahuan yang biasanya bersliweran silih berganti. Mencoba membuka sosmed, tak ada bedanya. "Tumben, apa karena hari Senin?"


Kuputuskan untuk keluar apartemen. Niatku ingin menghirup udara segar. Merasakan rindangnya berdiam di bawah pepohonan dengan mencicipi jajanan dari abang gerobak yang sedang mangkal. Kutuju taman apartemen yang ramai dengan lalu lalang orang. Duduk di sebuah bangku sambil menunggu pesanan, seporsi seblak super pedas.


"Mengapa sendirian? Dimana suamimu?" tanya sebuah suara dari arah sampingku.


Suara yang sangat familiar di telingaku itu membuatku segera menoleh tanpa pikir panjang. Sosoknya yang sudah kulupakan tiba-tiba saja muncul lagi. Kali ini tanpa tatapan dingin yang menusuk tapi lebih lembut meskipun masih tak seperti tatapan yang dulu membuatku deja vu.


Aku pun sudah bisa menguasai diriku. Perasaan yang sudah kutenggelamkan rupanya tak lagi melayang. Ia tetap mengendap dan tak terburai. "Suamiku mencari nafkah."


"Tentu saja, dia sudah punya tanggungan untuk menghidupimu," jelasnya dengan posisi punggung yang menyender serta kedua tangan terlipat di dada.


Aku berdiri, berniat untuk meninggalkannya. Tak akan baik jika berdua dengan mantan meskipun di tempat ramai dan merupakan suatu kebetulan. Benarkah kebetulan? Bagiku iya, tapi entah baginya.


"Jangan pergi! Aku tak akan mengganggumu. Aku hanya menunggu makananku yang juga sedang aku pesan," tuturnya yang akhirnya membuatku duduk kembali.

__ADS_1


Tak ada guna aku selalu menghindarinya. Itu hanya akan membuatnya berpikir jika aku masih menginginkannya padahal itu tidak benar. Aku bukan Rosa yg di Jogja kemarin. Rosa yang gamang memilih antara masa lalu atau masa depan. Pilihan yang telah kujatuhkan tak akan membuatku termangu untuk terus dihantui masa lalu.


"Selamat untuk pernikahanmu!" ucapnya dengan senyum yang tak menampakkan garis-garis halus dikedua sudut matanya, itu artinya bukan senyum yang tercipta bahagia.


Kutatap kejauhan tak ingin bertemu pandang dengannya. "Terimakasih, Mas." Hanya itu, tak ada embel-embel kalimat lain yang ingin kusampaikan. Tepatnya yang bisa kusampaikan.


"Maaf, aku hanya bisa memberi ini. Janji yang harus kutepati," Mas Rud menyerahkan sebuah kotak hitam polos yang tergembok tanpa ada kunci yang ia serahkan.


"Apa ini?" tanyaku penasaran karena kalimat yang ia sampaikan.


"Simpan saja, kuncinya ada padaku!" perintah Mas Rud seraya berdiri dan melangkah pergi begitu saja.


Kutatap punggung yang semakin menjauh itu. Teka-teki apalagi yang sedang ia mainkan. Sikapnya dibuat biasa tapi malah membuatku semakin bertanya-tanya. Langkahnya yang pasti membuatku yakin jika ia tak akan kembali meskipun aku panggil. Kuperhatikan kotak yang kini berada di tanganku.


"Apa, ini?"


*****


Mataku masih melekatkan pandangan pada kotak hitam itu. "Janji Yang Harus Kutepati", kalimat itu seperti menyimpan sesuatu yang amat dalam. Sayangnya aku melupakan kisah yang melatarbelakangi kalimat itu. Aku yakin jika dulu saat kami bersama, ada celetukan canda yang terlahir sebagai nadzar. Namun tak sempat tersimpan di ingatanku yang hanya terfokus pada manisnya cinta yang berubah menjadi perihnya luka.


Ddrrtt-ddrrtt-ddrrtt!


Teleponku yang bergetar mengalihkan pikiranku yang tengah mencari sebuah jawaban dari sebuah teka-teki. Tertera nama Dion yang menjadi pemanggilnya. Dion? Bukankah nama itu seharusnya sudah berganti? Entah my sweety, My Honey atau my my yang lain.


"Hai, Nyonya," sapa manis Dion dengan senyum termanisnya.


"Kapan pulang?" tanyaku tak menanggapi sapaannya.


"Sebelum makan siang aku pulang, kamu siap-siap, ya! Nanti kita langsung berangkat," suruh Dion dengan manisnya.


"Baiklah, satu jam sebelum Mas pulang aku siap-siap. Sekarang mau rebahan dulu, ah. Mumpung libur," janjiku yang kemudian dihadiahi senyuman sebelum telepon dimatikan.


*****


Mobil berhenti di depan sebuah butik. Kueja nama butik ini perlahan untuk memastikan jika aku pernah dua kali mengunjungi tempat ini. Ya ... ini adalah butik tempatku dan Mas Rud pernah membeli kebaya couple-an untuk pertunangan Tria dan Rio. Ada sedikit rasa dari masa lalu yang sempat memutarkan kenangan. Secepatnya kutepis agar aku tidak kembali terjebak dengan goresan cinta yang sudah kuhapuskan.


"Pernah kesini?" tanya Dion setelah melihatku tak henti membaca papan nama yang tertera nama butik tersebut.


Hanya anggukan kecil yang kuberikan. Dan itu sudah menjawab pertanyaannya.

__ADS_1


Dion melepaskan seat bealt-nya tapi tidak segera turun dari mobil. "Mau masuk, gak, 'nih?"


Aku sedikit gelagapan mendapat hadiah pertanyaan itu. Segera melepaskan diri dari kungkungan sabuk pengaman, aku mendahului Dion keluar mobil. "Ayo!"


__ADS_2