Tentang Hati

Tentang Hati
Papa Baru


__ADS_3

Mendapati ketiadaan Mama dan Om Najendra di ruangan, aku semakin curiga. Duo single parent itu seperti tak peduli dengan pandangan kami. Pikiranku disibukkan dengan mencari jawaban tentang kelakuan mereka. Menerka kemungkinan apakah yang sedang mereka lakukan adalah puber kedua. Kuhadirkan sangkalan untuk hal itu, meskipun tak bisa kupungkiri jika pikiran tak bisa seutuhnya mengelak.


"Mereka ke mana, sih?" tanyaku kali kesekian yang tak kufokuskan pada siapa orang yang akan menjawab.


"Biarkan saja, Sayang! Sebentar lagi mereka juga bakalan balik lagi. Umur mereka tak pantas kamu khawatirkan," timpal Dion kemudian.


"Mbak Rosa gak ikhlas banget kalau Mama sama Om Najendra bahagia," celetuk Kristy yang diaminkan oleh Pak Aryan.


"Iya tuh, Kris. Dia gak mau kesaingan romantis kali," kekeh Pak Aryan menimpali ucapan Kristy.


Pikiranku tak sedengki itu. Bukan menolak bahagia atau takut lengser dari posisi pertama sebagai pasangan teromantis versi tentang hati, tetapi aku merasa kedekatan mereka tak pantas saja. Walaupun aku tak bisa memungkiri jika cinta tak mengenal batas usia. Hanya saja aku belum bisa menerima.


Ketika aku sibuk membuat penyangkalan dalam hati, datanglah pasangan yang dari tadi aku nanti-nantikan. Dengan rona bahagia mereka masuk dengan membawa beberapa kantong di kedua tangan. Tak merasa aku perhatikan, dengan santai mereka mengeluarkan berbagai cemilan. Mulai dari pisang goreng kremes, martabak, seblak, bakso dan tak ketinggalan berbagai jenis jus.


"Mau pesta?" celetukku sambil mengambil sepotong pisang goreng meskipun belum dipersilakan makan.


"Wah, jangan-jangan merayakan jadian, ini?" Pak Aryan menggoda Papanya.


"Anggap saja begitu," seloroh lelaki yang sedang aku curigai itu.


"Jangan membuat masalah, Mas. Nanti ada yang mencak-mencak" timpal Mama yang berusaha menyindirku.


Tentu saja aku yakin jika ucapan Mama itu ditujukan padaku. Lantaran dari semua anak Mama hanya aku yang merasa keberatan. Meskipun alasanku abu-abu, entah kenapa restuku juga tak kunjung bertamu. Bagiku lebih baik Mama tak menikah lagi.


"Yang mencak-mencak cuma satu, Ma. Tenang udah ada pawang buat menjinakkan," seloroh Kristy sambil mencomot martabak.


"Dion siap menjinakkan, Ma."


"Aryan juga siap, Pa."

__ADS_1


"Nah, kan!" celetuk Kristy santai.


Serangan bergerombol mereka lakukan. Mematikan ruang gerakku sebagai pelaku tunggal. Ketidakadilan yang mengatasnamakan sebuah dukungan atas cinta untuk pasangan usia paruh baya. Jika begini, sudah barang tentu aku akan tersudut. Mau tidak mau, menerima meski hati belum seutuhnya rela.


"Kalian tidak ingat kalau aku adalah bumil yang harus selalu bahagia?" sindirku sambil terus menyesap jus alpukat.


"Sini aku peluk biar bahagia," ucap Dion segera mengulurkan tangan dan merangkul bahuku.


"Kalau dipeluk suami belum bahagia, aku siap memeluk berikutnya!" celetuk Pak Aryan yang mendapatkan hadiah tendangan kecil dari Dion yang kebetulan berada tepat di sebelahnya.


"Kalian berdua gak bosan apa berantem memperebutkan Mbak Rosa? Lihat, dong! Ada jomblo cantik di sini."


"Kode keras, tuh! Halalkan, sana!" goda Dion sambil mengerlingkan mata.


"Jangan main serobot, ya! Papa yang akan menghalalkan Mama. Ya gak, Dik?"


"Mas, jangan bercanda terus. Kita adalah keluarga besar sekarang. Gak ada itu halal-halalan. Kita adalah orang tua untuk keempat anak-anak ini."


"Maumu, gimana? Seandainya Om ini jadi Papa barumu, hm?" goda Papa Pak Aryan dengan senyumnya.


"Ma? Mama mau nikah lagi?" tanyaku tak berhenti setelah mendapatkan jawaban kurang memuaskan dari pihak lelaki.


Tidak segera menjawab, Mama justru memilih memutar pandangan pada semua orang dan berhenti pada lelaki yang kucurigai. Saling memandang yang makin membuatku penasaran, dua orang tua kami itu justru melebarkan tawa.


"Kami hanya berteman. Orang yang sudah sepuh seperti kami jika bertemu dengan orang yang seusia akan saling bercerita tentang masa muda. Saling berbagi, kawan dalam kesepian," terang Mama dengan mengulas senyumnya.


"Dan itu bukan berarti kami sedang berpacaran apalagi akan menikah. Itu sekarang, gak tau nanti," tambah Om Najendra.


Hati yang sudah lega mendengar penuturan Mama, bertambah bahagia saat Om Najendra menguatkan pernyataan wanita sebayanya. Sayangnya, kembali dijatuhkan dalam keraguan saat kalimat terakhir ia ucapkan.

__ADS_1


"Jangan cemberut dong! Walaupun kami hanya berteman, kamu tetap Om anggap anak. Mulai sekarang, panggil Papa!" pinta Om Najendra dengan mengusap rambut dikepalaku.


"Aku tersingkir nih?" sindir Aryan saat Papanya memberikan perhatian padaku. Bertindak seolah seorang Bapak kepada putri kandungnya. Dan aku merasakan kehangatan itu. Jadi mengingat bagaimana dulu, Papa sangat memanjakanku dengan kasih sayang.


Mataku mulai melahirkan butiran bening. Ada rasa haru yang tiba-tiba saja menyeruak. Sentuhan ini membuat ingatan masa lalu hadir kembali. Kerinduan yang selalu kurasakan seperti sedang diberi pengobatan. Menyembuhkan luka karena lama tak bersua.


"Jangan menangis, Nak. Bukankah sekarang kebahagiaanmu sempurna. Kamu sudah memiliki suami yang mencintaimu begitu dalam, serta calon buah hati yang sangat lucu. Dalam waktu bersamaan kamu mendapatkan Papa dan kakak laki-laki yang menyayangimu. Maka, kamu harus bahagia."


Kuanggukkan kepala. Aku sangat beruntung dilahirkan sebagai Rosa. Pernah kehilangan banyak orang yang kucintai tetapi kini mendapatkan lebih banyak yang mencintaiku. Sungguh, aku bahagia. Meskipun masih ada yang mengganjal, kupikir semua akan terselesaikan pelan-pelan.


"Terimakasih, Om," ucapku dengan menatapnya lembut. Pandangan kualihkan pada sang putra keluarga Najendra Dharma. Lelaki yang berada tak jauh dari kami itu segera mendekat. "Pak Aryan, terimakasih karena sudah bersedia menjadi Abang buat kami."


"Kita semua adalah keluarga. Mari saling berbagi suka dan duka. Jangan ada kecemburuan dan rasa saling curiga!" Pak Aryan mengambil benda pintarnya dan mempersiapkan kamera. Meminta kami saling merapat dan membuat sebuah foto layaknya keluarga. Papa dan Mama duduk berdekatan. Sementara kami berempat mengelilinginya.


"Aryan, cetakin yang besar nanti kita pajang di rumah!" perintah sang Papa dengan senyum bahagia.


"Siap, Pa!"


Aku merasakan bahagia. Mendapatkan keluarga baru yang melengkapi bagian yang pernah hilang. Ruangan ini menjadi saksi, enam raga dari keturunan Adam dan Hawa sedang mengikat tali persaudaraan. Senyum tak henti terlukis dari wajah kami. Membiaskan bahagia yang tak bisa jika hanya diungkapkan dengan kata.


"Mumpung semua berkumpul, Dion juga mau menyampaikan sebuah kabar."


Kuarahkan indra penglihatan pada suamiku ini. Mencari tahu hal apa yang ia rahasiakan. Semakin kupikir semakin aku tak menemukan jawaban. Satu-satunya hal yang bisa dikabarkan adalah kehamilanku. Namun itu bukan rahasia bagi mereka. Jadi, apa yang akan Dion sampaikan?


Kami semua fokus menunggu. Hening. Masing-masing pikiran kami diserang rasa penasaran. Tak sabar mendengar kalimat yang akan Dion utarakan. Sayangnya dia seperti sengaja membuat kami semakin penasaran.


"Ini kabar tentang Isni,"


Deg!

__ADS_1


Jantungku seketika memilih berhenti berdetak. Penyebutan nama Isni yang kemarin membuatku didera cemburu kini semakin memburu. Rasa yang sudah kulupakan kini kembali diingatkan.


"Apa?"


__ADS_2