
Begitu semua sudah siap, maka aku mulai mengetikkan ringkasan cerita di kolom detail. Kubuat dengan rangkaian kalimat cukup menarik, tidak terlalu panjang dan juga tidak terlalu singkat. Pembukaan cerita kumulai dengan sedikit pengenalan tokoh. Dilanjutkan konflik yang terjadi dan diakhiri oleh kalimat tanya tentang bagaimana akhir kisah mereka.
Senyum kuukir begitu selangkah lagi aku akan mulai mengetik bab 1. Prolog, begitu biasanya para novelis menuliskan. Namun aku memilih untuk menceritakan sebuah kisah yang dibumbui sedikit teka-teki agar para pembaca bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada bab berikutnya.
Cerita yang sudah tersusun rapi di otak, dengan mulusnya mengalir hingga satu per satu kata menyambung menjadi kalimat dan terbentuklah sebuah paragraf. Dialog-dialog menyatu dan perlahan tercukupkan ratusan dan akhirnya seribu lebih kata menjadi satu bab yang sempurna.
Kubaca kembali dengan teliti. Jangan sampai ada typo, kalimat janggal bahkan tanda baca yang salah. KBBI dan riset dari Mbah Gugel aku jadikan pedoman agar bisa menyajikan tulisan yang setidaknya layak dibaca walaupun jauh dari kata sempurna. Aku memang pemula, tetapi aku tidak mau asal dalam berkarya.
Setelah pengecekan selesai, aku setting waktu dan segera mengirim naskah. Menunggu proses review, kuregangkan otot yang sedari tadi tegang. Waktu hampir dua jam kubutuhkan untuk membuat satu bab saja. Capek dan menguras pikiran. Namun aku puas dan senang.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Dion yang baru saja keluar dari kamar. Badannya yang nampak segar kuyakin jika dia baru saja selesai mandi. Ingin rasanya mencicipi. Ups! Camilan yang dibawanya, maksudku. Ih, jangan ngeres dulu, ya!
"Nunggu review, Mas," jawabku sambil merogoh sesuatu yang ada di dalam sana. Bulat, panjang dan kenyal-kenyal geli. Ah ... rupanya isi toples yang dibawa Dion adalah sosis jumbo siap santap. Aku terkekeh sendiri, membayangkan readers sudah panas dingin tapi ternyata Aldekha Depe sekedar mengecek tingkat kemesuman.
Dion mengangguk-angguk sambil tersenyum senang. "Semoga best seller, Sayang."
"Aamiin. Niatku hanya sekedar menyalurkan hobi, Sayang. Namun kalau Mas Ridho dan Allah mengijabah, semoga berkah."
Kupeluk suami tampanku itu. Sebuah kecupan dia hadiahkan sebagai wujud kasih sayang. "Mas, ngangkring, yuk! Aku kangen suasana Jogja," ajakku meskipun waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.
"Angin malam gak bagus untuk ibu hamil, Sayang. Kalau masuk angin kan repot. Gak boleh minum obat ataupun dikerok," tutur Dion seraya membelai rambut yang kugerai.
"Nasi kucing," sebutku lirih di telinganya.
"Delivery order aja, ya?" tawar Dion yang enggan untuk mengajakku keluar malam-malam sekaligus enggan untuk membiarkanku tinggal sendirian.
"Mas yang beliin. Tapi berdua sama Pak Aryan. Boncengan naik motor."
Dion melayangkan protes karena harus berduet dengan Si Abang. Namun wajah kesal yang kupasang akhirnya berhasil membuatnya mengeluarkan kata iya. Hendak beranjak, tetapi kutahan. Permintaanku belum selesai sampai disitu. Masih ada terusan yang belum aku ucapkan.
"Mau dibeliin apalagi?" tawar Dion yang menyangka jika aku menambah titipan padahal sebenarnya bukan.
Kugelengkan kepala dua kali, ke kiri dan ke kanan. "Kalian pakai jas lengkap terus pakai songkok beludru warna hitam."
Dion terkesiap mendengar permintaanku. "Ribet amat sih, Yang. Begini aja aku langsung berangkat."
"Aku maunya begitu," gerutuku. Segera kubangkit dari duduk dan memilih jalan untuk keluar apartemen. Dion mengikuti seraya memanggilku. Langkahku yang sedikit tergesa, membuat Dion sanggup mengejar setelah aku sudah berdiri di depan pintu apartemen Pak Aryan dan telah sekali memencet bel.
Begitu pintu terbuka, aku langsung masuk ke ruang di mana kami biasa bersantai. Duduk bersandar sambil melipat tangan di dada. Beberapa detik setelahnya, Dion datang diikuti Pak Aryan. Mereka duduk di sebuah sofa panjang yang terletak di seberang meja.
Pak Aryan menghela napas dalam. Mengambil dua botol air mineral yang selalu tersedia di mejanya. Membaginya satu-satu, untukku dan untuk lelaki di sampingnya. "Minum, dulu!"
__ADS_1
Perintah Pak Aryan sudah telat satu detik. Penghilang dahaga itu sudah kuteguk sebelum dia menyuruh. "Bang, beliin aku nasi kucing, dong!"
"Suamimu siapa? Kenapa aku yang membelikan?" tolak Pak Aryan dengan melempar pertanyaan.
"Dia gak mau," laporku sambil kembali meminta Pak Aryan untuk membelikan.
"Kenapa gak mau?" Pak Aryan terus mengejar jawaban.
Aku dan Dion saling diam. Menunggu siapa yang akan menjelaskan duluan. Sebenarnya aku gak mau mengumbar perdebatan di depan Pak Aryan. Namun, amarah tiba-tiba datang. Membuncah dari kedalaman perasaan tanpa bisa aku kendalikan. Walaupun jika kupikir lagi, permintaanku memang berlebihan dan terlalu mengada-ada. Sayangnya, semua itu seolah terbit sendiri.
"Baiklah, aku bakalan belikan. Namun jangan salahkan jika lama-lama istrimu ini akan berpaling padaku!" ancam Pak Aryan seraya menyambar kunci mobil yang ada di meja.
"Kita beli berdua." Dion menahan kepergian Pak aryan. Setelahnya mendekat dan membangunkanku dari posisi duduk. Menggandeng untuk kembali ke apartemen.
"Jangan marah, Sayang! Tunggulah, aku akan membelikanmu nasi kucing."
Dion bergegas ke kamar dan segera melewatiku dengan senyuman. Berpakaian resmi seperti hendak mengucapkan ijab qabul, ia berangkat untuk mengabulkan permintaanku yang tadi sempat ia tolak.
🍚🐈🍚🐈🍚🐈
Dion PoV
Berboncengan di atas motor butut memakai setelan jas rapi pada malam hari adalah kekonyolan terparah yang pernah kulakukan. Penampilan dan kendaraan yang tidak sepadan membuat kami seperti sepasang pengantin dari kelas terlarang.
"Katanya kamu Abang," timpalku mengingatkan status yang selalu ia minta.
"Calon anakmu memang cerdas! Tahu aja punya uncle pengertian," balas Aryan membanggakan diri.
"Ya udah, kalau gitu jangan menggerutu!"
Perjalanan kami terhenti saat sudah sampai di angkringan ramai milik Mas Joss. Ini adalah tempat nongkrong lesehan paling moncer yang sering aku datangi dengan Rendra. Pemiliknya asli Kota Gudeg, sehingga rasa makanannya pun benar-benar bisa mengobati kerinduan dengan tanah kelahiran. Selain itu sajian musik tradisional yang menyajikan lagu-lagu jawa khas anak muda membuat suasana makin mirip di Jogja.
Lagu Denny Caknan seperti Prolimanjoyo, Sugeng Dalu, Los dol, Kartonyono Medot Janji dan Sampek Tuwek selalu wara-wiri memanjakan telinga pengunjung yang rata-rata didominasi kaum milenial. Gubahan lagu milik almarhum Didi Kempot pun tak kalah laris diminta untuk dinyanyikan. Cidro, Pamer Bojo dan Banyu langit adalah lagu yang akan selalu menghadirkan antusiasme pengunjung. Tak jarang suasana sudah seperti konser karena mereka semua ikut menyanyikan lagu yang dibawakan sang penyanyi.
"Makin jatuh cinta aku sama Jogja kalau begini," tutur Aryan yang begitu asyik menikmati gorengan sambil mendengarkan lantunan lagu Pamer Bojo.
"Asal gak makin jatuh cinta sama istrinya pangeran bucin asal Jogja, aja."
"Rosa, maksudmu?" timpal Aryan cepat paham arah sindiranku.
"Ini, Mas pesenannya!" ucap Mas penjaga angkringan yang menghentikan obrolanku dan Aryan.
__ADS_1
Dengan sigap segera kubayar dan meninggalkan tempat ini. Rasa malu sudah lama kutahan karena sedari datang kami menjadi pusat perhatian. Bukan karena ketampanan, tapi karena kami yang salah kostum berkunjung kemari. Pengunjung lain berpakaian santai, kaos oblong dan celana pendek. Kami seperti pengantin mau ijab qobul datang berduaan.
"Kalau bukan karena Rosa ngidam, aku gak mau kayak gini," ucapku seraya memerhatikan pakaian yang kukenakan.
Aryan ikut melihat apa yang ia pakai. "Aku biasa, aja. Dia minta pas gak ngidam pun rela aku begini," timpal Aryan santai.
Lelaki satu ini selalu saja rela membuat Rosaku bahagia. Namun anehnya, cemburuku tak terlalu jika padanya. Mungkin gak normal tetapi memang begitulah kenyataannya. Dan juga, sepertinya calon buah hatiku meminta untuk diakrabkan dengan calon uncle-nya ini.
Motor yang kupacu telah sampai di parkiran apartemen. Tanpa menunggu waktu berlalu lebih lama, segera kumenyerahkan nasi kucing yang kubawa pada sang pemintanya. Istriku nampak bahagia seolah mendapatkan berkah yang melimpah.
"Tunggu, dulu!"
Kalimat penjeda itu sudah membuatku berpikiran negatif. Alamat akan ada sesuatu yang tidak menyenangkan yang harus kami lakukan.
"Mas, Bang, makan deh nasi kucingnya!"
Aku dan Aryan serentak saling memandang. Kami pikir nasi itu akan kamu makan dengan lahapnya. Namun kenapa justru kami yang harus menghabiskan. Ini namanya mengerjai. Jika tahu kami yang harus memakan, lebih baik makan di tempat sambil dengerin lagu pop jawa yang easy listening.
Matamu yang menatap lekat, akhirnya membuat kami pasrah. Mengambil bungkusan kecil itu dan membukanya. Ketika hendak membuat suapan, sekali lagi langkah kami dihentikan. Napas kasar tak sengaja terbuang bersamaan.
"Suap-suapan!"
Lagi-lagi permintaan itu membuat tercengang. Rasa geli menghinggapi. Mana mungkin sesama lelaki saling menyuapi? Apa kata dunia pernovelan? Kami bergidik jijik.
"Papa dan uncle, harus saling sayang."
Aku mulai gerah. Ini bukan ngidam tapi aksi balas dendam. "Aku suapin kamu aja, Sayang."
"Aku mau lihat kalian suap-suapan!"
Kekeh.
Merasa tak ada guna membantah, dengan terpaksa kami menuruti. Bersikap romantis dengan sesama diri. Rasanya hati teriris, normal dikata yang satu jadi ban*i.
"Matanya saling pandang!"
Entah kenapa kami mengikuti perintah itu tanpa membantah. Mata berada dalam satu garis lurus. Tergambar jelas di pupil bagaimana kami berpadu tatapan.
"Pose yang bagus."
Seketika menoleh bersama. Kudapati senyummu terkembang dengan benda pintar yang baru saja mengabadikan momen nakal yang kamu paksakan. Kusegera bangkit untuk mengambil benda di tanganmu, menghapus kenangan mengerikan.
__ADS_1
"Terkirim."
Sebuah unggahan di media sosial dengan gambar yang barusan kamu ambil menjadi status baru. Aku menghela napas lelah. Ya sudahlah, kelakuan ibu hamil memang tak pernah salah. Dilarang marah, diikuti semakin membuat jengah. Sabar! Lelaki hilang taji kalau sudah begini. Tak berkutik.