
Perjalanan suci rasanya seperti mimpi. Di ingatanku, baru kemarin hendak berangkat. Nyatanya sembilan hari telah terlewati dan sekarang kami sudah berada di sini lagi, apartemen.
Setelah mengistirahatkan diri semalam, pagi ini kami sudah kembali bugar. Capek karena perjalanan pulang yang panjang rasanya sudah hilang. Ingatan tentang kedamain batin yang tak bisa dibeli, membuncahkan rasa untuk bisa segera kembali ke sana lagi.
Berbagai oleh-oleh yang sengaja kami beli langsung di Pasar Zakfariah, rencananya hari ini akan kami antarkan pada pemiliknya. Tidak banyak, hanya untuk keluarga dekat. Mama, Papa dan Mbak Sharika.
Perjalanan dimulai dengan mengetuk pintu ruang kerja kakak iparku. Alih-alih menemuinya di rumah, kami justru datang ke butik. Bukan sekadar mencari pemiliknya melainkan juga sekalian melihat koleksi terbaru rancangan dari saudara tunggal suamiku ini.
"Di sana gak ada masalah kan dengan kehamilanmu?" tanya Mbak Sharika begitu aku memeluknya.
"Alhamdulillah, semua sehat, Mbak. Gak ada halangan sama sekali," balasku jujur.
"Lepaskan topimu, gak sopan banget dalam ruangan memakai penutup kepala."
Dion tersenyum. Ia memang tidak percaya diri dengan kepala plontosnya. Rambut yang biasa tebal dan sedikit bergelombang itu kini tak lagi bersemayam. Berganti dengan silau yang memukau.
"Sekali-kali gak masalah, Mbak."
Dion membalik topinya sehingga nampak lebih aman dari cercaan yang akan dilayangkan saudara tuanya. Sang kakak hanya menggelengkan kepala. Tak lagi cerewet karena ia tahu hal itu hanya akan menjadi angin lalu. Menghilang dari pendengaran tanpa dimasukkan dalam bentuk perbuatan.
"Ini madu Kashmir, ya?" selidik Mbak Sharika saat membuka oleh-olehku dan mendapati sebuah botol berukuran sedang.
Dion memberikan anggukan.
"Lalu, ini apa?" tanya Mbak Sharika lagi begitu mengambil sebungkus makanan tanpa membaca dulu kemasannya.
"Itu buah tin yang sudah dikeringkan, Mbak."
Mbak Sharika mengangguk-angguk. Rasa penasaran yang menggantung dipikiran membuatnya tak sabar untuk segera membuka. Mencicipinya dan menampakkan wajah suka. Pujian pun terlantun dari bibirnya. Bukan kata lezat melainkan sedap.
"Oleh-oleh kalian gak seperti kebanyakan orang. Tetapi Mbak suka, terimakasih, ya."
Kami pun mengulaskan senyum sebagai pengganti kata sama-sama. Harapan untuk bertemu Arrki menjadi kasih tak sampai. Lantaran keponakan lucu itu berada di rumah. Tak ikut sang ibu bekerja. Alhasil, kami pun segera pamit setelah Mbak Sharika memberikan baju hamil untukku yang khusus dirancangnya. Jadilah sebuah barter, oleh-oleh versus baju hamil.
💐💐💐💐💐
__ADS_1
Kediaman kedua yang kami datangi adalah rumah Mama. Sayangnya, di sana tak ada siapapun. Mama sedang ada urusan di perkebunan. Sedangkan Kristy disibukkan oleh jadwal kuliahnya yang semakin padat. Akhirnya, kami hanya meninggalkan oleh-oleh untuk mereka dan menitipkan sejumlah barang untuk dibagikan pada saudara-saudara dari keluarga besar Mama.
Istirahat sebentar di kamar kesayanganku sambil menunggu waktu makan siang. Bu Iyah, yang membantu mengurus rumah beberapa bulan terakhir ini sudah memasak banyak. Dan kami bisa menikmatinya.
"Sayang, pegel-pegel gak badanmu?" tanya Dion saat aku memilih segera merebahkan diri di ranjang begitu sampai di kamar.
"Sedikit."
Tanpa aku suruh, Dion langsung memijat kakiku. Sentuhan penuh kelembutan itu, memanjakan dan membuatku dibawa dalam kenyamanan. Seperti menghipnotis dan melayangkan kesadaran. Perlahan, memasuki alam mimpi dan tak sadar lagi, kapan pijatan itu berhenti.
Entah berapa lama aku terlelap, saat tersadar, sudah ada lingkaran lengan yang mengunci perutku yang mulai membuncit. Aroma tubuh yang menguar mendeteksi dengan cepat bahwa lelaki yang tengah mendekapku ini adalah suami tercinta.
Niat untuk membuka mata seterusnya, seketika aku urungkan. Kehangatan yang ia berikan membuatku tak ingin melepaskan pelukan. Hangat yang ditawarkan terlalu sayang jika aku hempaskan. Berada dibalik kungkungannya adalah kedamaian yang tak bisa digantikan.
Kupejamkan kembali mataku. Dan kurasakan lingkaran tangan ini semakin erat. Deru napas terasa semakin hangat. Mata rasanya semakin lekat terjerat oleh kantuk yang masih mendekap. Kami kembali melelapkan diri. Tidur siang di kamar yang sudah lama kutinggalkan. Ranjang kesayangan dengan lelaki pujaan menemani tidurku yang panjang.
🍥🍥🍥🍥🍥
Jarum jam yang menunjukkan pukul tiga sore, menjadi saksi kedatangan kami di kediaman mewah Papa baru, keluarga Najendra Dharma. Kebetulan, sang pemilik yang biasanya sibuk sekali itu sedang ada di rumah. Ditemani oleh putra semata wayangnya, kami berempat mengobrol di ruang keluarga.
Papa bercerita tanpa kami minta. Mengungkapkan kebahagiaan hatinya karena bisa setiap hari bertemu dengan sang putra tercinta. Ada hikmah dibalik perjalanan suci kami. Keluarga yang sempat LDR dapat bersatu kembali.
"Hari ini, Aryan bakalan balik bareng mereka ke apartemen, Pa."
"Apa gak sebaiknya, Abang tinggal sama Papa, aja? Kasihan beliau sendirian," timpalku menasehati.
"Dia gak akan tenang kalau jauh dari kalian," terang Papa dengan senyumnya.
Dua lelaki dengan nama belakang Dharma itu terus saja berdebat. Bukan ngotot dalam kemarahan, tetapi saling sindir dalam senyuman. Aku dan Dion yang menyaksikan hanya bisa ikut tersenyum. Memang seperti itulah duo lelaki jomblo itu.
"Pa, ini ada sedikit oleh-oleh dari kami," ucapku sambil memberikan paper bag bermotif batik.
Dengan senyum yang lebar, Papa menerima barang yang kuberikan. Berterimakasih dengan sangat tulus. Sang anak yang tak kami berikan bungkusan, melayangkan protes. Dion yang membalas, jika oleh-oleh buatnya ada di mobil. Itu karena, dia bilang akan kembali ke apartemen. Oleh karena itu, untuk apa menyerahkannya sekarang?
"Pulang sekarang aja, yuk! Aku gak sabar melihat oleh-oleh buatku."
__ADS_1
"Dasar Aryan! Kamu ngusir tamu?"
Si Abang hanya tersenyum mendengar kalimat Papa. Hendak menjawab tetapi tertahan oleh bunyi teleponnya. Segera ia angkat dan memilih untuk sedikit menjauh agar tak mengganggu obrolan yang sedang kami lakukan.
"Sa, bagaimana novelmu?" Tiba-tiba Papa menanyakan kegiatan baruku yang tak pernah aku ceritakan. Mama ataukah Pak Aryan yang sudah membocorkan?
"Hanya pengisi waktu luang, Pa. Alhamdulillah sambutan pembaca bagus. view semakin meningkat."
"Kenapa gak diterbitin, aja?" selidik Papa sambil memberi saran.
"Rosa masih belajar, Pa."
"Dion sudah menyarankan begitu, Pa. Namun, dia mau ikutkan kontes dulu. Kalau menang juga akan diterbitkan, Pa."
Dion menjelaskan dengan gamblang. Sehingga Papa manggut-manggut sebagai tanda menerima apa yang suamiku itu coba jelaskan. Obrolan terhenti saat Pak Aryan kembali dan terburu-buru untuk kembali ke apartemen karena ada sesuatu yang harus diambilnya di sana. Alhasil kami segera pamit. Papa yang sepertinya masih ingin berbincang bersama, meminta kami untuk sering-sering mampir. Kami mengiyakan karena diantara kami memang terikat rasa sayang. Merasa sebagai keluarga, beliau Papa dan kami adalah anak kandungnya.
🚘🚘🚘🚘🚘
Di dalam mobil Pak Aryan yang tadi kami gunakan untuk mengantarkan oleh-oleh, sudah bertambah satu lagi kepala. Dua lelaki yang sedang duduk di bangku depan, serta aku yang santai di bangku belakang.
"Kalian memilihkan oleh-oleh apa buatku?" Pak Aryan semangat sekali menyelidiki barang yang yang kami bawakan dari tanah suci.
"Abang, gak sabaran banget, sih."
Aku segera mengambilkan sebuah kotak berwarna biru dengan pita berwarna putih yang mempercantiknya. Menyodorkan pada Pak Aryan dari belakang. Dia pun bergegas membuka dengan rona bahagia. Namun seketika raut wajahnya berubah begitu isi dari kotak itu berada di tangannya.
Dia memutar badannya ke bangku belakang di mana aku berada. " Mukena?"
Alis kunaikkan bersamaan. Tanda bahwa pertanyaannya mendapatkan jawaban iya.
"kenapa memberiku mukena?" gerutunya masih tetap mengarahkan badan ke belakang.
"Buat mahar, Bang," timpalku dengan senyum yang aku tahan agar tidak berubah menjadi tawa menggelegar.
Pak Aryan mengacak rambutku asal. "Dasar kalian, adik-adik yang perlu dihajar!"
__ADS_1