Tentang Hati

Tentang Hati
Diam


__ADS_3

Baru saja aku menerima WA dari Kristy. Dia bilang mereka, Mama dan Kristy tidak bisa menemaniku di rumah sakit. Sekelebat bayang tentang kesendirian langsung menyerangku.


"Akankah, malam ini ku lalui sendiri?" kataku lirih.


Aku sebenarnya seorang gadis pemberani. Tapi membayangkan harus tinggal sendirian di ruang ini, membuat nyaliku menciut.


"Mas Rud, tak taukah engkau jika aku sakit? Sesakit ini, Mas! Bukan sekedar sakit ragaku, tapi aku sakit karenamu yang tiba-tiba menghilang," suaraku mulai tak terkontrol.


Ku ambil lagi HPku. Tak juga ada tanda-tanda dia menghubungiku.


"Haruskah aku yang WA lagi? Lagi? Terus? dan terus-terusan?" emosiku mulai meninggi.


Tanganku rasanya mulai gatal untuk mengetik. Tapi pikiranku sedikit mencegah. Berulangkali begitu. Dan akhirnya ku membalik HPku dan meletakkannya sembarang di ranjang pesakitanku. Ku pejamkan mataku, berharap tidur dapat melupakan kegelisahanku.


*****


Dion PoV


Aku berjalan melewati lorong panjang rumah sakit. Di depanku 50m itulah pintu masuk ke ruangan rawatmu. Aku melihat seorang lelaki berpostur tinggi berdiri di depan pintu masuk tersebut. Aku mengurangi laju kakiku. Menatap lelaki itu yang sudah 5 menit tak beranjak dari berdirinya.


"Rosa, menunggumu!" Aku melontarkan kata-kata setelah mendekati lelaki tersebut.


Lelaki itu masih belum membuka suara. Matanya masih menatap ruangan di depan kami. Sebentar kemudian langkahnya berbalik, ekspresinya datar. Dia menepuk pundakku dan melangkah pergi tanpa membuka mulutnya. Aku menatap lelaki itu dan mencoba memahami arti isyarat yang ku dapat.


*****


Aku sebenarnya mengetahui saat Dion sudah kembali menemaniku. Tapi entah kenapa aku tak berusaha untuk membuka mataku. Aku masih terjaga, tapi aku masih ingin dia melihatku sedang tertidur.

__ADS_1


Baru saja Dion duduk, aku sudah mendengar suara HPnya berdering. Dia berdiri menjauhiku dan mengangkat teleponnya.


"Udah bangun?" tanyanya padaku saat sudah menyelesaikan teleponnya.


"Makan lagi, ya?" tawarnya.


"Aku masih kenyang, minum aja Di," pintaku.


Dia mengambilkanku minum dan dengan telaten memegang gelas itu hingga aku meminumnya. Kemudian meletakkan kembali gelas itu di meja. Dia duduk kembali di kursi samping ranjang pasienku.


"Di," aku memanggilnya.


"Apa?" jawabnya sambil menatapku.


"Hmmm ...!" aku ragu untuk mengucap kata.


Aku menatapnya dan dia pun tersenyum menatapku.


"Gak usah kaget gitu. Aku tau itu yang akan kamu omongin, iya, kan?" yakinnya.


"Bukan," aku berbohong.


"Terus apa?" tanyanya.


"Hmmm ... itu ... kenapa kamu bisa di sini?" aku menemukan pertanyaan untuknya tiba-tiba.


Dia menggenggam tanganku. Aku mencoba menepisnya, walaupun aku merasa nyaman. Aku tau ini salah! Aku gak mau terlihat murahan di depannya.

__ADS_1


"izinkan aku melakukan ini!" pintanya serius.


Dan bodohnya aku, kali ini aku tak bisa menolak pintanya. Aku kehilangan keketusanku yang pernah 10 tahun ku lakukan padanya dulu. Aku membiarkannya menggenggam jemariku.


"Mengizinkanku menggenggam jemarimu, gak akan merubah penilaianku terhadapmu. Kamu tetap gadisku yang terjaga," ucap Dion.


"Apa maksudmu?" tanyaku.


"Aku tak kan menilaimu gampangan, meskipun aku tau, kamu punya pacar dan membiarkan aku menggenggam tanganmu," jelas Dion lagi.


Kenapa lagi-lagi dia bisa membaca pikiranku?


"Aku sudah 10 tahun lebih bersamamu, apa kau lupa itu?" Dion berkata lagi.


Laki-laki ini! Dia lagi-lagi menjawab tanya dalam batinku. Oh My God!


"Di," aku ragu untuk bertanya.


Dion melihatku, bersiap mendengar pertanyaanku berikutnya.


"Mas Rud," aku hanya sepenggal bercerita.


Dion mengusap puncak kepalaku.


"Dia gak akan meninggalkanmu begitu saja tanpa alasan! Dia tau aku akan mengambilmu jika itu sampai terjadi. Jangan berpikiran yang gak-gak!" kata-kata Dion menghiburku.


Aku sungguh tak mampu berkata-kata lagi. Dion seperti bisa membaca pikiranku. Bisa menjawab tanya yang bahkan masih ku lukis di batinku.

__ADS_1


__ADS_2