
Pagi sudah melewati pukul tujuh. Begitu membuka mata, sudah tak kutemukan Dion di sampingku. Yang tercium justru aroma yang membuat hidungku ingin terus menghirupnya. Wangi bawang goreng yang menggoda, menggelitik nafsu makanku. Tanpa menunggu lebih lama untuk mencerna makanan apa yang Dion masak, kakiku sudah menjatuhkan langkah. Menyusuri senti demi senti dan segera sampai. Di dapur kulihat Dion sedang menaburkan sesuatu yang tadi mengusik indra penciumanku, di atas sop daging sapi. Seketika membangkitkan rasa lapar yang tadi tak begitu kurasakan.
"Sudah cuci muka, Sayang?"
"Makan dulu, Mas. Kayaknya seger banget," balasku sambil menggeser mangkuk di depan Dion dan mendekat ke arahku.
Dion mengusap kepalaku sambil menyunggingkam senyumnya. "Begini juga aku tetap cinta. Heran gak, sih?" goda Dion yang kubalas dengan cengiran senyuman.
"Gimana punggungnya?" selidik Dion sambil mengusap punggungku.
"Nyerinya mulai jam tiga dini hari sampai habis subuh, Mas. Kalau sekarang sih datang dan pergi."
Dion mengulaskan kembali senyumnya. "Makanlah yang banyak!"
🍒🍒🍒🍒🍒
Melihat tanda-tanda mau melahirkan sudah datang dan pergi, Dion memutuskan untuk tidak ke mana-mana hari ini. Aku yang sudah memutuskan resign semenjak kehamilanku memasuki usia delapan bulan, masih asyik mengetik. Berdua, sama-sama menajamkan mata pada monitor bercahaya.
"Mas, nanti ke dokternya jam berapa?" tanyaku menanyakan jadwal praktek dokter Sitta. Biasanya aku periksa hari Sabtu, tetapi karena nyeri punggung makin menjadi kami memutuskan untuk periksa malam ini juga.
"Jam enam, Sayang."
Itu berarti kami akan berangkat tiga puluh menit sebelumnya. Karena telah mendaftar lewat telepon, dan kami beruntung mendapatkan nomor urut pertama.
"Istirahatlah, Sayang. Sudahi berurusan dengan novel," nasehat Dion sambil menutup setengah layar laptopku.
"Mas," rengekku.
Dion menuntunku ke ranjang. Perlahan dia rebahkan tubuhku dengan sangat hati-hati. Kedua kaki yang masih menjuntai ia angkat dan ia nyamankan posisi berbaringku. Sebuah kecupan lembut ia sentuhkan pada kening yang tertutup rambut. "Ibu hamil saatnya bobok siang."
Aku tak lagi melawan. Bahkan saat selimut mulai menutupi tubuh bagian bawah, aku hanya bisa memandang wajahnya yang penuh kasih sayang. Kuraih jemarinya dan melingkarkan di perutku. "Mas, temani aku bobok."
Lelaki sempurnaku itu menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk lengkungan sempurna. Tersenyum. Dia segera berbaring di sisi kananku. Menjadikan salah satu lengan sebagai bantal dan lengan lainnya memeluk perut buncitku dengan mesra.
__ADS_1
Pelukannya seperti menjadi hipnotis. Mataku rasanya semakin diserang kantuk dan perlahan aku dibawa pada alam bawah sadar dengan ketenangan pikiran. Dan kurasakan Dion juga ikut terlelap. Dengkuran lirihnya terdengar di telingaku yang berada sangat dekat dengan bibirnya.
👩⚕️👩⚕️👩⚕️👩⚕️👩⚕️
Pukul setengah enam kami sudah keluar dari pintu apartemen. Baru saja akan menjejakkan kaki untuk memangkas jarak, Pak Aryan tepat keluar dari lift. Kami sama-sama melangkah dan sepakat berhenti saat jarak hanya menyisakan satu meter.
"Mau ke mana?"
"Periksa kandungan."
Pak Aryan semakin diterpa rasa penasaran. "Biasanya hari Sabtu. Apakah ada tanda-tanda mau melahirkan?"
"Punggungnya mulai nyeri dari kemarin malam. Makin ke sini makin nyeri."
Mendengarkan penjelasan dari Dion, Pak Aryan segera membalik langkahnya lagi. "Ayo, aku antar!"
Tanpa membantah, aku mengikuti langkahnya. Memang dari awal Dion berencana akan naik taksi karena kondisi kehamilanku yang sudah memasuki masa persalinan. Aku dan Dion duduk di bangku belakang, sedangkan Pak Aryan mengemudi dengan sangat hati-hati.
"Apakah nyeri punggungmu mengarah pada tanda-tanda akan melahirkan?" selidik Pak Aryan dengan menoleh sebentar ke belakang.
"Mungkin. Makanya kami memilih periksa saja. Takutnya kami terlalu santai dan terlambat di tangani," timpal Dion tanpa menghentikan sentuhannya pada belakang tubuhku.
Pak Aryan tak lagi bertanya. Ia fokus mengarahkan stirnya untuk berbelok memasuki area rumah sakit. Langsung menuju parkiran tanpa menurunkan kami di lobi. Dia bilang, ada jalan tembus yang lebih dekat. Dan kami hanya menurut saja, yang penting demi kebaikan maka akan kami lakukan. Benar saja, ternyata ada pintu belakang yang menghubungkan parkiran mobil dan ruang praktek dokter kandungan.
"Pulanglah, kamu pasti capek karena baru pulang kerja!" nasehat Dion untuk Pak Aryan yang ikut duduk mengantre.
"Aku akan menemani kalian."
"Terimakasih, Bang," ucapku pada lelaki yang duduk di sebelah kiriku.
"Jangan terus-terusan mengucapkan kalimat itu. Sekarang, yang harus kamu lakukan adalah berdoa."
Tepat ketika Pak Aryan menyelesaikan kalimatnya, suster keluar dari ruang praktek dokter dan memanggil namaku. Segera kami tinggalkan Abang di kursinya untuk bergegas masuk ke ruangan. Dokter Sitta membuka lembaran di mejanya.
__ADS_1
"Apa ada keluhan, Bu?" Biasanya periksa hari Sabtu."
"Punggung istri saya nyeri-nyeri dari kemarin malam, Dok."
"Ini kenapa tekanan darah ibu jadi 140/110? Padahal selama ini sampai terakhir periksa semua normal. Ibu rilekskan pikiran!"
"Apakah itu berbahaya, Dok?" tanya Dion mulai dihinggapi kekhawatiran.
"Kita periksa dulu saja, ya!" saran dokter Sitta yang segera memintaku untuk berbaring dan melalukan USG.
Sekian waktu dihabiskan untuk melihat dengan jeli apa yang ada di rahimku, akhirnya proses pengecekan selesai. Aku dan dokter Sitta kembali ke meja. Ada gurat yang tertangkap, dokter Sitta menghela napas sebelum berbicara.
"Air ketuban Ibu sedikit dan tekanan darah ibu tinggi. Punggung yang nyeri bisa menjadi tanda-tanda akan melahirkan. Oleh karena itu, silakan ibu melakukan tes urine dulu. Nanti akan.dipanggil lagi setelah keluar hasilnya."
Kalimat demi kalimat yang dokter ucapkan membuat aku dan Dion saling pandang. Ada gusar yang tiba-tiba melebar. Genggaman jemari Dion sedikit memberiku ketenangan. Seorang suster mengajakku keluar ruangan dokter lewat pintu belakang. Menuju sebuah meja yang mirip dengan meja resepsionis. Di sana aku diberikan sebuah benda yang digunakan untuk menampung urine.
Perasaanku sudah gak karuan. Deg-degan yang tak bisa kukendalikan. Dengan langkah yang seolah diberi beban berat aku memasuki toilet. Melakukan perintah dokter dan seketika kutemukan ada bercak pada sesuatu yang semakin menguatkan tanda akan melahirkan.
Melewati pintu toilet, kuistirahatkan kaki sebentar.
"Ya Allah, jika tanda-tanda ini adalah petunjuk untuk kelahiran buah hati hamba, maka permudahlah prosesnya."
Kuambil napas panjang dan membuangnya dengan perlahan. Menciptakan ketenangan agar tidak kembali menaikkan tekanan darah yang sudah terlanjur melonjak. Menghampiri Dion yang menunggu di ujung lorong dan menyerahkan cairan bening itu kepada suster yang tadi memberiku wadah.
"Silakan kembali ke ruang tunggu ya' Bu! Nanti akan kami panggil lagi jika hasilnya sudah keluar."
Dion menggandengku untuk kembali menemui Pak Aryan. Duduk bersebelahan dengan jantung yang semakin kencang berdebar. Pertanyaan menggantung memenuhi pikiran yang bingung. Kecemasan menghantui. Tentang tekanan darah yang tiba-tiba menjadi tinggi? Apa dampaknya? Bagaimana dengan air ketuban yang sedikit? Dan juga kenapa harus tes urine? Bagaimana jika hasil tesnya tidak sesuai dengan harapan?
Ah, aku cemas sekali.
Seolah bisa merasakan kegelisahanku, Dion mengeratkan genggamannya. Menarikku ke dalam pelukan dan mengusap rambutku perlahan. Pak Aryan sepertinya bisa mendeteksi kejanggalan. Matanya menatap tajam mencari jawab atas rasa penasaran.
"Ada apa?"
__ADS_1