
Telepon yang tiada berhenti berdering adalah dukungan yang sangat berarti buat kami terutama buatku. Kehilangan adalah momok yang sangat meninggalkan trauma untuk siapa saja. Tak akan ada seorang pun yang siap untuk ditinggalkan. Tak terkecuali oleh tumpuan kehidupan.
Namun, siap ataupun tidak tetap harus menerima dengan kelapangan dada. Jatuh bukan berarti membuat terpuruk tapi berjuang adalah langkah yang harus ditempuh. Tak ada guna terus menggerutu tanpa ada langkah maju. Hidup tak akan berhenti saat bibirmu selalu merutuki. Istirahat sesaat untuk bersahabat dengan penat. Lalu kembali menyambut dunia nyata, mencari rupiah untuk membayar lunas utang yang masih mengganas.
"Mas," panggilku lirih pada Dion yang masih setia dengan tidurnya meskipun dua jam sudah berlalu sejak dia memilih untuk berangkat tidur.
Dion tak bergeming walaupun aku tahu jika dia mendengar suaraku. Mungkin dia tak mau membuka mata, karena saat terjaga harus melihatku dengan wajah yang penuh rasa was-was. Lelaki itu selalu tak ingin membuat orang lain cemas.
"Aku lapar, Mas. Temani aku makan," ucapku untuk memancingnya keluar dari dunia mimpi yang kuyakin entah didatanginya atau tidak.
Sandiwaraku seolah didukung oleh perut sebagai pemeran pembantu. Pada saat aku bilang lapar, terdengar nyanyian darinya agar segera diberi jatah makan. Sesungguhnya aku pun melupakan makan hingga kelaparan pun tak aku rasakan.
Dion yang masih tak bergerak dari posisinya meskipun hanya sekedar menjawab iya, membuatku menghela napas. Tekanan yang menghimpitnya begitu besar hingga keluhanku yang biasanya mendapat perhatian darinya kini tak lagi membuatnya sadar.
kubelai lagi pipinya dengan lembut. Aku ingin menghiburnya, menguatkannya, mendukungnya tapi tidak tahu dengan cara bagaimana. Pancinganku pun tak berhasil membuatnya memakan umpan yang kusiapkan. Lalu dengan cara apa lagi aku bisa membantu melupakan sejenak beban yang membelenggunya?
"Mas, lapar," lagi-lagi aku merengek di depan tidurnya.
Kurebahkan kepalaku di dadanya. Berharap sikap manja yang kubuat bisa membuatnya segera membuka mata. Beberapa waktu kulalui tanpa kata masih dalam posisi yang sama. Hingga aku ikut diserang rasa kantuk. Sebuah sentuhan pada rambutku perlahan membuat kesadaranku kembali. Kubuka mata dan mendapatinya sudah terjaga. Senyum kecil tersungging dari bibirnya. Aku merindukan itu. Sudah beberapa hari pesona yang keluar dari bibir itu luntur.
"Katanya lapar tapi kenapa malah tidur?" ucapnya sangat lembut.
Inilah Dion. Si pencintaku yang berhati malaikat mulai kembali. Bisa menyisihkan sakit saat aku meminta dimanja. Ternyata, bebannya tak bisa meluruhkan keberadaanku secara sempurna. Ia tetap peduli walau hati sedang terhimpit, pencarian solusi yang belum usai.
"Pengen Mas suapin," ucapku manja.
Entahlah kenapa kalimat itu yang muncul. Alih-alih mengurangi beban, aku justru membuatnya semakin menambah daftar pikiran. Mungkin itu hanyalah cara terselubung untuk menguatkan. Bahwasanya ia masih ada istri yang harus ia urusi. Bukan hanya mengedepankan egois tapi juga harus realistis.
Hidup tidak sendiri. Sebagai suami ia punya tanggungan istri dan calon baby. Keputusan yang dulu masih bisa ia ambil saat masih bujang, tak bisa disamakan ketika ia punya buntut yang semakin panjang.
"Sayang, kita sudah gak punya mobil," tutur Dion dengan tatapan yang membuatku sedih.
__ADS_1
"Aku makan nasi Mas bukan mobil," jawabku sengaja membuatnya bercanda.
Dion mengusap lagi rambutku. "Kita gak bisa naik mobil kalau pengen makan di luar."
"Keluyuran pakai motor malam-malam nyari angkringan, kayaknya seru 'tuh, Mas. Mau ngajak aku, gak?" ujarku untuk membuatnya mengalihkan fokus bahwa aku bukan putri yang harus naik roda empat setiap keluar rumah.
"Nanti kamu bisa kedinginan Yang kalau hujan."
Ku tatap mata Dion dengan penuh rasa. "Kan ada kamu Mas selimut terhangatku.
"Kamu bisa hitam kalau selalu terpanggang terik matahari."
"Apakah kalau aku menjadi hitam, kamu juga akan memblacklist aku dari hatimu?" selidikku sambil beracting membentuk bibir menjadi huruf U.
"Apakah kamu pikir suamimu ini petugas samsat yang berwenang memutihkan dan mendaftar hitam nama seseorang, Sayang?"
"Kamu selalu di hatiku, Sayang. Meskipun aku kehilangan semua harta, kamu akan tetap kupertahankan sebagai hartaku yang paling berharga. Jika aku diam beberapa hari ini, bukan berarti sedang menyisihkanmu. Namun aku sedang menjaga tahtamu di hatiku."
"Mas, kehilangan harta bisa aku relakan. Namun jika harus kehilanganmu, rasanya aku tak mampu. Kita tetap bisa melangkah meskipun tanpa kendaraan mewah, tabungan menipis rezeki masih bisa kita kais. Tiada kamu di sisiku, aku akan menjadi raga tak bernyawa."
Sebuah ciuman menyentuh keningku. "Aku di sini, ada untuk mencintaimu selamanya."
"Mas, lapar," selaku merusak suasana romantis dan penuh haru.
Dion mencubit hidungku penuh semangat. "Makan aku aja, ya!" godanya yang kuhadiahi cubitan di lengan.
"Aku mau disuapin, Mas. Bukan menyuguhi makan singa lapar," sindirku mulai beringsut dari rebahan di dadanya.
Dion menarik pinggangku saat posisi belum sempurna bergeser dari tubuhnya. Aku terjatuh tepat di hadapannya. Wajahku tinggal beberapa inci dari wajahnya. Sehingga napas kami saling beradu untuk menunjukkan tahta siapa yang lebih berkuasa. Tiba-tiba Dion mengecupku, sekilas tapi mampu membuat darahku berdesir hebat. Rindu belaian mungkin itulah yang terjadi selama beberapa waktu ini.
"Aku juga bisa menyuapimu dengan ini," ucapnya sambil memberikan usapan lembut pada bibirku dengan ibu jarinya.
__ADS_1
Cup!
"Aku juga bisa menyuapimu dengan ini, Sayang," balasku dengan menyalin kalimat yang baru saja ia ucapkan.
"Perlu berapa lagi suapan untuk bisa membuatmu kenyang, Sayang?" godanya yang membuatku ngeri akan kelanjutan aksi berikutnya.
"Aku mau makan nasi, Mas," akuku yang segera dia berikan suapan.
"Nasi itu, suapinnya begini, Sayang."
Dion menyentuhkan bibirnya perlahan. Dengan lembut membuka celah pada katupan bibirku. Sedikit bermain dengan gerakan lidah dan kemudian menjelajah. Menelusuri tiap sisi yang menciptakan sensasi rasa yang membangkitkan gejolak. Gairah yang menunjukkan gejala segera diobatinya dengan segera. Luma*an penuh kenikmatan ia manjakan. Hingga suapan nasi sanggup membebaskanku dari rasa lapar tapi membuat hati berdebar.
"Mau makan pakai apa lagi, Sayang?"
Bibirku terkunci.
"Mau pakai sosis dengan lumuran mayonise? Atau roti isi selai?"
Kupalingkan wajah dari tatapannya. Seringai senyum yang ia sunggingkan adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang sedang memburu di sana. Memilih menghindar atau terjerumus semakin dalam. Itu adalah sebuah pilihan.
"Mas, ayo!" ajakku manja yang disalahartikan sebagai jawaban iya untuk hasrat dalam dirinya.
"Mau di mana? Di sini? Di ranjang? Atau di Bathtub?"
Aku menegakkan badan dan menariknya untuk ikut berdiri. Perlahan ia meninggalkan posisi rebahan dan duduk tepat di hadapanku. Segera kutarik tangannya "Mau di meja makan."
"Anti-mainstream sekali, Sayang?"
"Hm,"
"Aku suka itu, gaya baru."
__ADS_1
"Makan dari dulu juga duduk di meja makan, Sayang. Sendok ditangan untuk mengambil nasi dan lauk, lalu disuapkan ke mulut. Gaya baru seperti ap yang kamu maksud?" tuturku sambil tersenyum smirk.