Tentang Hati

Tentang Hati
Menguatkanku


__ADS_3

"May, sakit!" aku berucap.


"Menangislah!" jawab Maya.


"Tangisanku udah membabi buta, liat tuh jemper Dion dah basah kuyup!" aku sedikit tersenyum.


"Aih, enaknya ada yang meluk!" Maya menimpali senyumku.


"Tapi, ini masih sakit," aku menampakkan ekspresi sedih.


"Nanti juga akan sembuh. Buka hati dan pikiran! Kami semua sayang kamu," hibur Maya.


"Buka Pelukanmu, May! Aku sakit," aku menepis pelukan Maya.


Maya cengar-cengir menyadari aku merintih bukan karena Mas Rud, tapi karena pelukannya yang terlalu erat.


"Maaf!" ucap Maya cengengesan.


Aku pun membalasnya dengan cengiran yang menampakkan kalau aku baik-baik saja.


Ya ... aku emang pribadi yang gak suka mengumbar kepedihan hatiku untuk semua orang, termasuk sahabatku sendiri. Hanya Dion yang aku percaya untukku berbagi.


Kenapa dia?


Aku pun tak tau!


Kalau dipikir lagi, sebenarnya kejam sih. Aku udah jahat banget dengan perasaannya, tapi saat aku rapuh, aku baliknya ke dia lagi.


Habis manis sepah dibuang gitu gak sih?


I don't know!


"Ini, kenapa ada bekas air mata? Cantikmu ilang 50%!" Maya mencoba mengajakku bercanda.


"Sengaja tau! Biar bidadari gak cemburu padaku," aku membalas candaan Maya.


"Ini fix udah sehat ya berarti?" Maya bertanya.


"Fisikku sehat, May, tapi hatiku yang sakit!" gumamku lirih.


Itu hanya gumamanku. Aku menampakkan raut wajah bahagia di hadapan Maya. Aku gak mau terlihat lemah dan menyedihkan. Dikasihani adalah hal yang paling aku benci.


Tapi lagi-lagi itu tidak berlaku dihadapan "DION". Di depannya aku bebas menjadi diriku sendiri. Melihat tawaku, sedihku, ketusku, amarahku adalah warna untuk harinya, bahkan semenjak 10 tahun yang lalu. Dan itu sepertinya baru aku sadari.

__ADS_1


"Katanya sehat, kok ngelamun?" kejut Maya.


"Aku baru inget sesuatu!" kataku.


"Apa?" Maya bersemangat.


"Kapan kalian lamaran? Mana undangan buatku?" tanyaku dobel.


"Siapa yang lamaran, siapa yang semangat?" Maya sebel.


"Ya, kalau kamu ngikhlasin Mas Rendra buat aku, aku siap kok gantiin posisi kamu!" kebiasaan humorku mulai kambuh lagi.


"Boleh, asal Dion buat aku ya?" Maya mulai nakal dengan mata genitnya.


"Coba aja! Siapa tau dia mau," balasku.


"Ikhlas nih?" goda Maya.


"Hmmmm ... gak jadi deh! Mas Rendra udah tua, alot!" balasku.


"Yang alot itu lebih greget!" Maya semakin liar.


"Nakal nih ... nakal nih ...!" aku semakin semangat menggoda Maya.


*****


Mas Rendra PoV


Aku dan Dion tersenyum melihatmu dan Maya bisa tertawa lepas.


"Rosa emang hebat menyembunyikan luka!" aku tersenyum simpul.


"Dia emang gadis hebatku!" Dion menimpali.


"Apa kamu masih mencintainya?" aku menelisik.


"Ku rasa ini pertanyaan terbodohku!" aku menjawabnya sendiri.


Dion hanya tersenyum dengan tingkahku.


*****


"Nih, undangan buat kamu!" Maya ragu-ragu menyerahkan sebuah undangan berwarna coklat keemasan.

__ADS_1


Awalnya, Maya tidak berniat memberikan undangan itu sekarang. Apalagi dengan kejadian yang dilihatnya di depan pintu kamar rawatku tadi. Tapi setelah mendengar canda tawaku, akhirnya Maya yakin untuk memberikannya detik ini juga.


"Nama lelakinya gak salah kan?" godaku.


"Gak dong! Dion dan Maya!" jawab Maya nakal.


"Eittssss aku bilang Mas Rendra nih!" ancamku.


"Mas Ren, May ...!" belum sempat aku laporan, Maya sudah membungkam mulutku.


"Apa?" tiba-tiba saja Mas Rendra sudah berdiri di belakang Maya.


"Gak ada apa-apa mas!" Maya memelototiku.


"Hahahaha ...!" aku tergelak.


Ekspresi Maya yang salah tingkah membuatku tak sanggup menahan tawa. Melihat kelakuan aneh kami Mas Rendra pun kebingungan.


"Kayaknya Rosa udah gak sakit lagi nih! Pulang aja yuk!" ajak Mas Rendra pada Maya.


"Ayo mas! Disini aku diceng-cengin mulu,"aku Maya sok sebel.


"Kok, pulang sih? Kirain mau nginep," kataku sedih.


"Tuh dah ada dia!" Mas Rendra mengisyaratkan matanya ke arah Dion.


"Apa?" tanya Dion yang berjalan mendekat ke arah kami bertiga.


"Jagain Rosa, ya, kami pamit dulu!" pinta Maya genit.


"Mas Ren, Maya genit tuh!" laporku.


"Dion mana mau sama Maya!" ucap Mas Rendra tenang.


"Ihhh ... Mas Rendra kok gitu, sih!" Maya gak terima ucapan Mas Rendra.


"Aku ngambek ah! Ya udah, aku balik dulu!" jelas Maya sambil memelukku singkat.


Maya berbalik langkah dan berjalan menjauhi kami. Dia berhenti sebentar di dekat Dion.


"Dion, hati- hati! Rosa gigit, jangan deket-deket!" Maya mengingatkan.


"Tenang aja, Rosa dah jinak kalau sama aku!" jawab Dion sambil tersenyum.

__ADS_1


" Ya udah, kami balik dulu ya! Dada pawang dan si jinak!" Mas Rendra terkekeh sambil mengikuti Maya yang sudah hampir mencapai pintu.


__ADS_2