Tentang Hati

Tentang Hati
Bertiga, Saudara


__ADS_3

Bertiga di meja makan apartemen kami, dua manusia berjenis laki-laki dan seorang wanita tengah menikmati sandwich dan susu hangat. Ada canda di tengah acara sarapan pagi mereka. Bahkan sesekali ada keriuhan tawa ledekan yang ditujukan untuk menggoda seorang lelaki yang berkemeja abu gelap itu. Terkadang ada sentilan hidung untuk sang wanita yang tak lain adalah aku. Ya ... aku sibuk bercanda dan lupa makan hingga suamiku tersayang menjadi gemas karenanya.


"Barter sarapan gini, enak, ya? Hemat," gurauku menanggapi acara tukar sarapan pagi ini. Pak Aryan tiba-tiba bertamu pagi-pagi dengan membawa tiga porsi sandwich dalam kotak bekalnya. Sementara Dion menyiapkan tiga gelas susu hangat untuk kami semua. Aku? Dimanjakan dua lelaki tampan itu. Enak sekali kan jadi aku?


"Tiap hari aja, yuk! Sarapan sendirian itu, gak enak. Sepi," ungkap Pak Aryan selalu dapat alasan untuk bisa bergabung dengan kami.


"Kalau Bapak mau nyesek tiap pagi, sih, silakan aja!" celetukku.


"Kayak gini, nih, contohnya," Dion langsung mempraktikkan ucapanku dengan mengambilkan segelas susu hangat dan menyentuhkan langsung ke bibirku. Memaksa secara tidak langsung untuk meminum susu, minuman yang amat tidak kusukai. Dengan terpaksa aku meneguknya meskipun tidak lebih dari sepertiganya.


"Tidak masalah. Jangankan jadi obat nyamuk, jadi nyamuknya juga aku rela," balas Pak Aryan santai.


"Kalau kalian berdua barter sarapan, aku enak nih, pagi-pagi nyantai," akuku sambil nyengir.


"Kakak yang baik adalah kakak yang membahagiakan adik-adiknya," terang Pak Aryan dengan tangan yang hampir terulur untuk mengacak puncak rambutku tapi segera dialihkan untuk menggaruk kepalanya begitu ia sadar tak bisa melakukannya di depan Dion.


Aku yang menyadari itu hanya bisa menahan tawa dengan menggembungkan kedua pipiku. Dion yang melihatku menjadi penasaran dan akhirnya memilih untuk bertanya.


"Apa sih yang lucu?" pertanyaan itu terlontar dari Dion karena melihat ulahku dan ulah Pak Aryan yang tersenyum canggung sambil menggaruk rambutnya.


Kuperhatikan wajah Pak Aryan. Tak mungkin aku jujur dengan Dion, bisa ada tindak pengusiran nanti. Dan terdengarlah sountrack lagu Kumenangis khas sinetron Indos*ar. Bukankah itu akan menghebohkan dunia pernovelan, ada anak raja perfilman diusir dengan nyesek seperti adegan sinetron yang biasa digarap Bapaknya. Ah ... keruwetan yang hakiki.


"Lucu aja, Yang, kalau inget Pak Aryan dipepet sama Bu Tya. Yang satu canggung, yang satunya godainnya gak tanggung-tanggung. Ha-ha-ha ...," yang awalnya hanya untuk mengalihkan alibi akhirnya aku malah beneran tertawa geli.


"Samber aj, Bro! Cakep, dia," ujar Dion dengan senyum smirknya.


"Aku aja lewat, loh, Pak. Buruan gebet!" aku terus saja memprovokasi.


"Mungkin cakep, mungkin kamu lewat, lewat depannya, tapi sampai sekarang aku belum tergoda," aku Pak Aryan dengan gaya cueknya.


"Witing tresno jalaran soko kulino (Tumbuhnya cinta karena terbiasa bersama)," seloroh Dion tumben menggunakan pepatah jawanya.


Pak Aryan mengernyitkan dahi karena roaming dengan bahasa yang asing di telinganya itu. "Apa itu?"

__ADS_1


"Tya Gunawan jodohnya Pak Aryan," celetukku sambil tertawa ngakak yang dihadiahi sodoran susu ke mulutku seperti yang tadi dilakukan Dion.


Akhirnya aku terbatuk-batuk karena tak sengaja menelan susu yang disuapkannya. Pak Aryan dan Dion nampak terkejut melihatku. Rasa bersalah yang dirasakan Pak Aryan seolah sempurna karena juga mendapatkan omelan dari Dion.


"Maaf, aku gak bermaksud membuat Rosa tersedak," minta maafnya pada Dion yang beranjak mendekatiku dan mengusap punggungku lembut.


"Aku gak apa-apa," redamku agar Pak Aryan bebas dari kemarahan Dion.


Memang kenyataannya aku baik-baik saja. Tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan. Dan kuakui jika semua ini memang aku yang memulai. Pak Aryan hanya bereaksi, menunjukkan ketidaksukaannya dengan candaan yang kulontarkan. Aku mengerti bagaimana sebalnya dipasang-pasangkan dengan seseorang yang tak kita sukai.


"Ayo, kita berangkat! Sudah siang, nanti dimarahin bos," ucapku sambil tersenyum untuk mengembalikan suasana yang sempat tidak enak.


"Hari ini, aku sopirin kalian, ya!" ucap Pak Aryan dengan senyumnya yang sudah kembali.


"Mau nyopirin atau nebeng?" celetuk Dion sambil bersiap-siap dengan tas kerjanya.


"Apa aja asal semobil sama kalian, bukankah keluarga itu harus rukun?" ujarnya dengan senyum bahagia.


Bertiga segera keluar dari apartemen Dion dan menuju parkiran. Memilih tempat duduk sendiri-sendiri sesuai dengan posisi yang diinginkan. Pak Aryan dibalik kemudi sementara aku dan Dion memilih bangku belakang. Kami saling melempar senyum melihat Pak Aryan seperti layaknya sopir beneran.


"Gimana persiapan resepsi kalian?" Pak Aryan mulai membuka pembicaraan.


"Semua diurus keluarga besar, Pak. Kita gak boleh ikut campur malah," jelasku seraya tersenyum nyengir.


"Kalian mau kado apa dariku?" tanya Pak Aryan membuatku memandang Dion untuk mencari jawaban.


"Kado yang kemarin aja belum kami buka, Bro," timpal Dion.


Oiya, kenapa kami lupa membuka kado dari Pak Aryan. Saking sibuknya sampai melupakan sebuah benda besar yang dihadiahkannya. Kira-kira apa ya isi kotak tersebut?


"Yang kemarin isinya apa sih, Pak?" aku ingin tahu langsung dari sang pemberi hadiah.


"Isinya , aku ...," seru Pak Aryan dengan kekehannya.

__ADS_1


"Terus yang di sini, siapa?" Gebetannya Bu Tya?" ejekku.


"Hei Rosa, adik abang, jangan menggoda terus, ya. Nanti Abang nikahin sama Dion, kesenengan lagi," balas Pak Aryan dengan senyum menyebalkannya.


"ish ... dia emang suamiku tersayang yang tampan, Abang," ucapku sambil mencium pipi kiri Dion.


Sang empunya belahan pipi, merasa terkejut dengan sentuhan tiba-tiba dariku. Dengan gemas mencubit hidungku dan kubalas dengan memeluknya. "Jangan manja di sini, Sayang. Kasihan Abangmu yang masih jomblo," Dion ikut menyindir Pak Aryan.


"Maaf, ya. Abang udah kebal dengan kelakuan kalian," gaya Pak Aryan sok kuat.


"Bang, nanti ke kawinan adik, bawa gandengan ya, Bang!" pintaku penuh modus dalam kemanjaan.


"Tenang, ada Kristy," timpal Pak Aryan santai.


"Mau mengikuti jejakku, Abang Bro?" Dion yang sedari tadi hanya mendengarkan ocehanku dan Pak Aryan akhirnya ikut bersuara.


"Gak dapat kakaknya, adiknya pun okelah. Toh sama-sama lucunya," ujar Pak Aryan seraya membelokkan mobil yang dikendarainya ke arah kantor penerbitan kami.


"Emang Kristy mau apa, sama Om-Om?" ledekku membawa-bawa usianya yang terpaut sembilan tahun dengan adik tersayangku.


"Lelaki itu semakin matang semakin bikin ketagihan," seloroh Pak Aryan yang kusangkal dengan segera.


"Yang ada juga alot," timpalku.


"Kamu kan belum pernah nyoba, jangan sok tahu!" balas Pak Aryan yang kuhadiahi wajah menyebalkanku.


"Udah-udah, buruan turun! Sampai kapan kalian mau berdebat?" ingat Dion sambil mencium keningku dan kubalas dengan mencium punggung tangan kanannya.


Kami bertiga turun dari mobil. Pak Aryan berdiri menyejajariku, sementara Dion berpindah ke bangku depan, menjadi sopir untuk dirinya sendiri.


"Hati-hati, Sayang! pesanku sambil melambaikan tangan.


Mobil Dion pun kembali melaju setelah membalas lambaian tanganku dengan senyumannya. Kemudian, aku dan Pak Aryan kompak berbalik dan kembali melangkah. Berjalan berdua, meneruskan debat yang tadi dipotong oleh Dion. "Jangan menggodaku terus, kalau khilaf aku bisa berubah dari Abang jadi Sayang!" ancam Pak Aryan mengacak puncak kepalaku dengan gaya sok gak sengaja.

__ADS_1


__ADS_2