
Dion PoV
Kabar tentang pembebasan Rud adalah kebahagiaan yang ingin kami dengar semenjak penculikan yang mengagetkan itu. Padamu, aku informasikan segera setelah Mbak Sharika meneleponku. Kamu merasa lega dan aku pun juga sama. Namun tiba- tiba Mbak Sharika kembali meneleponku kurang dari setengah jam sebelum jam kantor pulang. Dia ingin bertemu denganku tapi tanpa kehadiranmu. Aneh!
"Ada apa, Mbak?" penasaranku tak bisa terus aku pendam.
"Ini masalah Rud," balas Mbak Sharika dengan suaranya yang datar.
"Apakah ada sesuatu yang tidak baik-baik saja dengannya?" tanyaku lagi merasakan kejanggalan.
"Pulang kantor kesini, aja!" pinta Mbak Sharika yang makin membuatku bertanya-tanya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenyataan apa yang disembunyikan? Mengapa tidak dikatakan terus terang saja? Mengapa ...?
*****
Begitu aku mengabarimu tidak bisa menjemput sepulang kantor, aku menelepon Aryan. Sosok yang kupercaya untukmu nebeng pulang bersamanya. Lelaki yang dulu pernah dua kali kucemburui membabi buta dan kini kupercaya. Seperti katanya yang ingin menjadi kakak bagi kita bertiga, aku bisa merasakan ketulusan dari permintaannya.
"Istriku nanti mau pulang bareng, jangan digoda, ya!" titipku seraya mengancamnya.
"Kalau tidak percaya, berarti kamu meragukan ketulusanku untuk menjadi kakak kalian," selorohnya enteng.
"Kalau aku ragu, tak mungkin kuizinkan dia pulang bersamamu. Aku hanya mengantisipasi khilaf, bagaimanapun kamu lelaki kurang kasih sayang pasangan," ejekku yang tentu saja itu mengandung candaan.
"Kalau mau khilaf aku juga pilih-pilih, kali," timpalnya sok laku.
"Pilih Tya Gunawan?" godaku.
"Aseeemm ... kenapa harus dia? Agresifnya bikin aku merinding," ujar Aryan yang membuatku tergelak.
Bukankah kebanyakan lelaki itu suka dengan wanita yang menggoda. Naluri kejantanannya akan bertekuk lutut dengan gaya sensual yang mendidihkan iman.
__ADS_1
Logika tak bermain dan birahi menguasai diri.
"Bukankah kejombloanmu yang hakiki itu harus dibalaskan dengan long shift," celetukku kembali mengejeknya.
"Ngejek sekali lagi, istrimu nanti yang kuajak long shift," skak mat Aryan yang membuatku mengumpat.
"Kalau berani, aku pastikan besok pagi kamu disantet Tya," tegasku sebelum menutup telepon sepihak.
******
Setelah menutup telepon Aryan, segera kubersiap-siap untuk menuju ke butik Mbak Sharika. Mencari jawaban dari teka-teki tentang Rud yang masih disembunyikan oleh kakak perempuanku satu-satunya itu. Memacu mobil dengan kecepatan sedang, kubelah jalanan yang masih lengang. Hanya lima belas menit berkendara, mobilku sudah sampai ditempat yang kutuju.
Memarkir dengan kilat dan segera memasuki tempat yang menjadi kebanggaan Mbak Sharika. Menaiki puluhan anak tangga untuk mencapai ruangannya di lantai dua. Mengetuk pintu yang setengah terbuka dan segera masuk begitu melihat sang pemilik ruangan tersebut. Baru melangkah masuk, aku sudah langsung menghadiahinya dengan pertanyaan.
"Apa yang terjadi?" tanyaku sebelum sempat mendudukkan diri.
"Duduklah, dulu!" pinta Mbak Sharika yang kemudian kubalas dengan mendudukkan diriku di sofa.
"Mau minum apa?" tanya Mbak Sharika kemudian.
Mbak Sharika menghela napas dalam. Dia meraih HPnya dan kemudian menggeser beberapa kali dan menekan lebih dari tiga kali juga. Menyerahkan padaku dan menyuruh melihatnya. "Baca sendiri!" perintahnya kemudian.
"White room?" ucapku setengah bertanya setelah memulai membaca.
"Iya, Rud diisolasi di white room," jawab Mbak Sharika sedih.
Mendengar kalimat pembenaran dari Mbak Sharika, seketika tulangku menjadi rapuh. Berat untuk menopang puluhan kilo daging yang membalut belulangku. Kubuka kancing kemeja di lenganku dan menggulungnya. Mencari kelonggaran agar napasku yang tercekat bisa sedikit bebas.
"Apakah Rud kehilangan ingatannya?" pertanyaan terburuk langsung aku tujukan padanya.
Yang aku tahu, white room adalah ruang penyiksaan yang menyasar sakitnya korban bukan pada fisik tapi psikis. Dan pengaruhnya tidak main-main, bisa menyebabkan korban kehilangan identitas dan mati rasa indra. Selain itu, tahanan akan memiliki trauma mendalam terhadap warna putih dan kehilangan kemampuannya untuk mengenali orang-orang yang ia ketahui.
__ADS_1
"Setahu Mbak, saat ia ia masih belum bisa diajak berbicara. Walaupun hanya dalam hitungan hari di dalamnya sepertinya psikis Rud sudah terpengaruh. Dokter masih terus melakukan observasi. Semoga ini hanya trauma sementara dan ...," kalimat Mbak Sharika terhenti ketika ada sebuah panggilan masuk ke HPnya.
Kuperhatikan raut muka Mbak Sharika dengan seksama. Ada keterkejutan dan kegelisahan yang membayanginya. Ia fokus mendengarkan si penelepon. Hanya saja gerak-geriknya sangat membuatku penasaran. Rasanya tak sabar untuk mencercanya dengan banyak pertanyaan jika telepon itu sudah ditutupnya.
Aku baru saja ingin membuka mulut untuk bertanya. Helaan napas panjang Mbak Sharika mengurungkan niatku. Memilih untuk menunggu dia bercerita. Kuteguk air mineral yang ada di meja. Membasahi kerongkongan yang kering karena terus-terusan kuajak berbicara.
"Rud kehilangan ingatannya," Mbak Sharika memulai membuka cerita.
"Amnesia jenis apa yang dia derita?" tanyaku menelusuri lebih jauh.
Lagi-lagi Mbak Sharika mengulur napasnya lebih panjang. "Semua ingatan tentang masa lalunya hilang, kecuali ...," jeda, kalimat kakakku itu tak ia lanjutkan yang membuatku makin penasaran.
"Kecuali apa Mbak?" aku tak sabar menunggu ia melanjutkan kalimatnya.
"Kecuali tentang Rosa," lanjut Mbak Sharika setelah meneguk air mineral yang juga ada di meja.
"Rosa?" ulangku menyebut nama istriku yang menjadi nama yang tak bisa dilupakannya meski diserang amnesia.
"Iya, namanya selalu ia sebut-sebut dalam ketidaksadarannya. Dokter bilang itu terjadi karena begitu besarnya rasa yang ia miliki untuk istrimu itu. Tekanan psikis white room tak mampu menghilangkan ingatan tentang cintanya," penjelasan Mbak Sharika yang membuatku ternganga tak percaya.
Sebesar itukah nama Rosa bertahta di hatinya? Sedalam itukah rasa cinta yang terpaut untuk Rosaku? Hingga kengerian ruangan yang didominasi warna putih itu tak sanggup memutihkan nama yang terlanjur tersemat dengan kedalaman rasa, Rosa.
"Lalu?" aku sudah memikirkan hal-hal negatif yang akan terjadi. Pengorbanan yang akan menimbulkan luka.
"Dokter bilang, jika Rosa selalu di dekatnya, akan bisa menyembuhkan ingatannya meskipun butuh waktu yang lama. Namun, karena kita semua tahu Rosa sudah menikah, pilihan itu tak akan menjadi keputusan," terang Mbak Sharika yang membuatku berkawan dengan banyak kalimat berseliweran.
"Apa tidak ada terapi lain selain Rosa?" tanyaku untuk mendapatkan jawaban sedetail mungkin.
"Terapi medis seperti biasa tapi tak akan semaksimal jika dibanding kehadiran Rosa disisinya," ungkap Mbak Sharika yang membuatku makin dilema.
Kusugar rambutku dengan kasar. Sebuah kenyataan yang berat. Antara kasihan dan tak mungkin melepaskan sesuatu yang sudah digenggaman. Rasa kemanusiaan ataukah keegoisan masa depan.
__ADS_1
"Mereka tak memaksa Rosa, tapi takutnya Rud yang akan selalu mencari istrimu. Karena dalam ingatannya, Rosa adalah kekasihnya. Fakta yang terbalik, jika kenyataannya adalah dia meninggalkan Rosa, maka yang dia ingat adalah Rosa yang pergi, dan ia akan menemukannya kembali," jelas Mbak Sharika yang membuatku semakin gelisah.
Kusugar rambutku untuk kesekian kali. Memikirkan akan ada lagi hal sulit yang akan kami hadapi. Ketika sadar saja, Rud begitu kekeh mengambilmu kembali. Apalagi ia kehilangan ingatannya. Inikah ujian besar sebelum pernikahan?