
Dion PoV
Telepon Rianti sudah berlangsung lebih dari lima menit. Namun belum menampakkan tanda-tanda akan segera ditutup. Fokusku bukan pada rentang waktu, tapi pada ekspresi serius Kristy yang membiaskan gurat rasa terkejut sekaligus keresahan yang makin memuncak.
"Aku tidak bisa memutuskan sendiri, Ri. Nanti aku bicarain sama Masku, ya," ucap Kristy yang semakin membuatku penasaran. Penyebutan Mas pada kalimatnya itu kuyakin merujuk padaku. Jadi kupastikan jika mereka sedang membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan istriku. Dan Rud adalah sosok yang pasti menjadi tokoh utamanya, mengingat siapa itu Rianti.
Pikiranku yang menerka-nerka pembicaraan mereka membuat aku sedikit melamun dan tak sadar jika telepon itu sudah selesai. Tepukan pada bahuku menyadarkanku. Rupanya Aryan yang melakukannya karena Kristy memanggilku berkali-kali tapi aku sama sekali tidak merespon.
"Ada apa?" tanyaku tergagap.
"Tadi Rianti bilang kalau ...," Kristy menjeda kalimatnya.
Aryan yang menyadari situasi segera pamit untuk berpindah tempat tapi kutahan. Aku ingin dia mendengarnya juga. Bagiku, Aryan adalah sahabatku dan Abangku, yang sekaligus merangkap penasihat hatiku.
"Di sini, saja. Kita adalah keluarga," ucapku yang dibalas senyum olehnya.
Aryan yang sudah berdiri akhirnya duduk kembali. Aku pun mengarahkan pandanganku kembali pada Kristy. Isyaratku ditangkap dengan baik. Ia mulai bersiap untuk menjelaskan kabar yang baru saja didengarnya. Suara deheman keluar dari mulutnya. Mengeluarkan grogi yang menjalar dan mengganti dengan ketenangan.
"Apakah Mas sudah tahu keadaan Mas Rud?" Kristy bertanya dengan sangat hati-hati.
"Hm," gumamku.
"Rianti tanya, bisakah Mbak Rosa menemui Mas Rud sekali saja?" Kristy semakin hati-hati memilih kata.
Aku sudah menduga jika pertanyaan seperti ini pasti akan sampai di telingaku. Cepat atau lambat hanya soal waktu. Dan itu tandanya aku harus bersiap jika kamu mendengarnya, entah dariku terlebih dari orang lain. Mempersiapkan jawaban, itulah yang harus aku lakukan. Alasan, dibalik aku merahasiakan semua ini.
Harusnya persiapanku lebih dari itu. Aku harus menyiapkan diri untuk kau tinggalkan jika kamu memilih untuk berada di dekatnya saat dia seperti ini. Ya ... persiapan untuk terluka sendiri.
"Untuk apa Rosa menemui Rud?" sela Aryan dengan pertanyaannya.
"Aku belum memberitahumu, Rud amnesia. Yang diingat hanyalah Rosa," terangku singkat pada Aryan yang mengetahui kasus penculikan Rud tapi tidak mengetahui keadaannya pasca dibebaskan oleh Tuan Alex dan anak buahnya.
__ADS_1
Ketenangan yang biasa dikuasai Aryan kali ini seperti sedikit terusik. Wajahnya memperlihatkan keterkejutan yang gampang terbaca. Deheman, itu juga yang ia lakukan untuk kembali menguasai diri. Sama dengan yang dilakukan Kristy tadi.
"Apakah Rosa tahu tentang ini?" tanya pertama Aryan.
"Aku belum memberitahunya," jelasku sambil menghela napas panjang.
"Setelah masalah penculikan kemarin, apakah Rosa mengambil sebuah sikap tentang hubungan kalian?"
Aryan seolah bisa membaca rahasia kita. Akhirnya aku bercerita jika ada janji yang terucap olehmu untuk tak lagi menemui Rud bahkan jika itu adalah hari terakhir napasnya berembus. Janji indah yang terucap tanpa kamu tahu bagaimana keadaan Rud kini. Terjatuh dalam ingatan yang salah, yang kuyakin akan mengolengkan janjimu padaku, jika saja kamu tahu.
"Rosa sudah mengambil sikap, sekarang adalah saatnya untuk membuktikan yang dia katakan. Jika dia tetap memilih bersamamu berarti memang kalian berjodoh. Namun jika dia tak sanggup meninggalkan Rud, kamu juga harus berbesar hati. Tak ada gunanya kamu memaksa cinta," tutur Aryan dengan sangat bijaksana.
"Aku sudah mengambil sesuatu yang sangat berharga darinya, apakah masih bisa aku melepaskan dia begitu saja?" tanyaku pada diriku sendiri sambil menyugar rambutku penuh keresahan.
"Apakah jika kamu memaksakan untuk bertahan hubungan kalian akan baik-baik saja? Apakah kalian bertiga tidak saling tersakiti?" cerca Aryan yang makin membuatku galau.
"Kecuali Rosa memilih bertahan, maka kamu harus mencari cara agar Rud berhenti berjuang," timpal Aryan lagi sambil menepuk bahuku.
Haruskah aku membawamu pergi jauh dari Rud? Yang dibilang Kristy benar, saat Rud menghilang tanpa kabar, hari-hari kita terasa menyenangkan. Namun saat dia kembali datang, semua jadi sulit. Kupikir kamu memang hanya butuh waktu untuk melupakannya. Jadi, haruskah kita pergi dan kembali suatu saat nanti?
"Kalian jangan khawatir, kami akan baik-baik, saja. Aku akan mencari jalan terbaik agar tidak menyakiti semuanya," kucoba tegar untuk membuat mereka yakin jika ini bukan masalah berat buatku.
"Jalan bahagia, untuk Mas Dion dan Mbak Rosa," timpal Kristy dengan senyumnya.
"Jalan bersama yang bahagia untuk Dion dan Rosa," Aryan melengkapkan kalimat Kristy.
Aku bahagia melihat mereka bisa tersenyum. Meskipun dalam senyum itu ada rasa khawatir. Masalahku biarlah aku yang merasakan beratnya. Tak perlu melibatkan banyak orang. Karena cinta ini, akulah yang memulai, manis ataupun pahit akan kutanggung semuanya sendiri.
"Kris, Mama masih lama, gak, ya? Kayaknya kita udah mau balik ini, tadi aku gak pamit Mbakmu," ujarku berikutnya setelah melihat jam di pergelangan tanganku yang sudah menunjukkan jam sembilan lewat.
"Mama kalau udah ngobrol sama temennya emang suka lupa waktu, Mas. Kalau mau balik sekarang, gak 'pa 'pa, nanti aku pamitin ke Mama," balas Kristy yang kemudian kuikuti sarannya.
__ADS_1
Bergegas pulang, sebenarnya bukan khawatir kamu mencariku tapi aku ingin mengistirahatkan pikiran.
Apalagi dengan menaiki mobil Aryan sebagai pènumpang, aku berusaha memejamkan mata ketika mobil mulai berjalan.
"Kamu ngantuk apa suntuk?" tanya Aryan saat melihatku memijat kedua pelipisku dalam keadaan mata terpejam.
Aku tak berniat menjawab pertanyaannya. Tapi bukan Aryan namanya kalau menyerah begitu saja. Ia punya seribu cara untuk membuatku bicara. Termasuk cara-cara pancingan yang penuh intrik.
"Gak usah suntuk, kalau emang Rosa milih Rud, kamu udah menang banyak. Status tetap perjaka tapi sudah membuka segelnya. Bukankah itu sebuah keuntungan?"
"Kamu pikir aku nikahin siri dia buat nyari untung?" Bisa nikahin dia itu sebuah keberuntungan bukan keuntungan," gerutuku.
"Kalau kamu merasa sudah beruntung, jangan semudah itu melepaskan keberuntunganmu. Belum tentu ada keberuntungan untuk kedua kalinya," terang Aryan sambil fokus menyetir.
"Justru aku adalah kesempatan kedua di hatinya. Yang pertama adalah Rud," jujurku seraya kembali mengingat bagaimana aku kembali setelah memutuskan pergi dari sisimu.
"Maksudmu?" Aryan mulai mengorek kisahku.
"Aku dan Rosa adalah kisah panjang yang membutuhkan waktu untuk diceritakan," jelasku dengan menatap jalanan yang terbentang di depan. Sama-sama panjang, hanya bedanya jalan ini lurus sedangkan jalan cintaku berliku.
"Aku menyiapkan waktu sepanjang malam ini untuk mendengarkan kisahmu," terang Aryan dengan senyumnya.
"Kenapa aku harus menceritakannya padamu?" tanyaku berikutnya.
Aryan menaikturunkan kedua belah alisnya. "Karena aku adalah penasihat pengganti untuk hatimu. Jadi aku harus tahu detail kisahmu agar tidak salah memberikan saran. Iya, gak?" alasan Aryan untuk mendapatkan persetujuanku.
"Hm," balasku dengan gumaman.
"Oke! Kita akan bercerita sepanjang malam," yakin Aryan memastikan.
"Hm," lagi-lagi hanya kubalas dengan gumaman.
__ADS_1
Aryan tersenyum. Gumamanku dianggapnya persetujuan. Sebenarnya aku juga tidak keberatan melakukannya. Mungkin bercerita padanya akan lebih meringankan dan ada jalan keluar. Memendam sendiri bukan jalan yang terbaik.