
"Apa?"
"1 Milyar?"
"Sebanyak itu?"
Benda pintar itu ia lemparkan kasar. Dion mendudukkan diri di ranjang kemudian menyugar rambutnya, meredam emosi yang meletup-letup.
Aarrgghh!
Teriakan pelepas kepenatan ia perdengarkan. Mengusik ketenangan dan janji yang semalam telah kami ikrarkan. Melewati masalah kali ini dengan tabah. Kuusap punggungnya tanpa berkata. Nominal besar yang baru saja ia sebutkan kuyakin pasti mengacu pada jumlah dana yang masih kurang untuk menutupi segala beban yang harus dibayar.
"Lusa?"
"Tidak bisakah minta waktu?"
"Itu terlalu mepet."
Aarrgghh!
Benda itu kembali harus merasakan bantingan dari pemiliknya. Ranjang empuk menyelamatkan nyawanya untuk kali kedua. Jika saja ia bisa bicara, ia pasti memohon untuk dilepaskan. Kabar buruk yang terus saja harus disampaikan, menjadikannya kambing hitam yang disalahkan.
"Mas, sabar," ucapku selembut mungkin untuk meredam amarahnya yang semakin memuncak.
"Kamu tahu, Yang. Lusa aku harus melunasi denda 1 Milyar karena pinalti kemarin. Semua dana cadangan perusahaan sudah digunakan. Dari mana aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu cepat?
Shit!
"Jual apa yang kita miliki, Mas. Mobilku gak pernah aku pakai, kita jual aja," usulku yang langsung ditolak Dion.
"Aku tak akan menyentuh hartamu."
"Mas, kita sudah menikah. Milikku juga milikmu."
__ADS_1
"Tidak, Yang. Mobil itu adalah hadiah ulang tahunmu."
"Lalu, kita akan mencari uang ke mana?" selidikku untuk menyelami pikirannya. Jika mobilku saja ditolaknya, aku yakin jika ia juga tidak akan menerima bantuan dari orang lain.
Dion menghela napas panjang. Tak hanya sekali tapi berulangkali. Bangkit dari duduknya dan berjalan mondar-mandir. Berhenti sebentar, berdiri dengan berkacak pinggang, ia seperti mendapatkan sebuah ide brilian. "Kita gunakan tabungan kita dan jual mobil. Aku rasa itu akan cukup."
"Apakah kamu yakin akan menjual mobilmu?"
Dion menatapku serius. "Apakah kamu tidak siap kita tanpa mobil? Aku lupa kalau hidupmu sebagai putri keluarga Atmadja tak pernah hidup berkekurangan," ucap Dion yang sanggup membuat nyaliku menciut. Baru kali ini aku melihat Dion dengan amarah yang tak bisa dikuasainya.
Kutundukkan pandangan. Menghindari berdebat dengannya yang sedang tak bisa diajak berkomunikasi dua arah. Aku ingin menjawab kalimatnya tapi sekuat mungkin kutahan. Dion yang sedang di hadapanku ini bukan lelaki yang biasanya lembut dan bijak.
"Benar begitu?" kulik Dion sambil mengangkat daguku.
"Bukan begitu, Mas. Aku ikhlas kamu menjual apa saja asalkan semuanya lunas terbayar," ucapku meyakinkan Dion jika aku bukan putri keturunan Atmadja yang manja.
Saat aku mulai melihat amarah Dion sedikit mereda mendengar penjelasanku, benda pintarnya itu kembali menampakkan panggilan. Tanpa pikir panjang, gambar telepon berwarna hijau itu langsung digesernya. Siap mendengarkan kembali berita apa yang akan memanjakan telinganya.
"Aulia?"
"Kurang ajar!" umpat Dion berikutnya yang membuatku semakin dicekat rasa penasaran.
Dion segera berjalan keluar ruangan masih dengan telepon di telinga. Kuikuti diam-diam dan kulihat dia menyambar kunci mobil di meja dekat televisi. Menoleh ke arahku dan pamit ala kadarnya. Janjinya untuk segera kembali aku angguki dan menimpalkan kalimat untuk berhati-hati. Kuikuti suamiku itu sampai menghilang di balik pintu lift.
Aku terpaku. Berdiri kaku di pintu apartemen beberapa waktu. Hingga saat aku akan berbalik sebuah suara mengagetkanku. Segera kuputar badanku kembali. Dan menemukan seorang lelaki yang amat kukenal sedang berdiri tepat di pintu apartemennya dengan bersender dan memasukkan kedua tangan ke saku celana.
"Melihat apa?" tanyanya sambil mencari tahu ke arah yang tadi kutuju, lift.
"Mas Dion, buru-buru banget pergi," jelasku singkat.
"Apa ada masalah lagi?" Pak Aryan beranjak dari posisinya dan mendekat ke arahku.
"Hm,"
__ADS_1
"Boleh aku mendengarnya?"
Kulangkahkan kaki meninggalkan lorong apartemen dan menuju taman Alexandrite yang merupakan tempat bermain dan berolahraga warga apartemen. Pak Aryan mengikutiku dari belakang. Aku memilih tempat ini karena merasa kurang nyaman jika bicara berdua di sebuah ruangan tertutup.
Sebuah meja taman dengan empat kursi panjang pada masing-masing sisinya aku pilih menjadi tempat untuk bertukar cerita. Pak Aryan memilih duduk berseberangan denganku. Menjaga jarak dari fitnah orang-orang yang mencari keuntungan. Pada awalnya kami diam. Dia menungguku bercerita sementara aku masih menata hati untuk mulai berbagi.
"Kami kuwalahan membayar semua tuntutan, Pak. Lusa kami harus menyiapkan 1 Milyar, sementara harta yang kami punya tinggal apartemen, mobil, motor butut dan tabungan," curhatku jujur.
"Bolehkah aku membantu?" tawar Pak Aryan dengan sangat hati-hati.
Kugelengkan kepala. "Sepertinya tidak. Mobilku saja ditolak Mas Dion. Apalagi pertolonganmu, dia pasti tidak akan mau," terangku penuh keyakinan.
"Kalau tidak mau menerima bantuan orang lain, apakah kalian memilih terseok beban sendirian? Apa gunanya punya teman?" cerca Pak Aryan tetap dengan sikap tenang.
Kuhela napas penuh keresahan. Sejujurnya aku juga tak mengerti mengapa Dion bisa seegois ini. Kemarin dia sudah menolak uluran tangan dari keluarga Wijaya, kali ini pun ia menolak usulku yang notabene adalah istrinya.
"Dion ingin berdiri di atas kakinya sendiri. Tak ingin berhutang budi." terangku pada Pak Aryan.
Lelakiku itu memang seorang pria sejati. Bukan hanya pada cintanya tapi berlaku juga pada pekerjaannya. Meskipun berasal dari keluarga yang mapan, tapi tak lantas membuatnya malas dan mengandalkan orang tua. Dia lebih bangga bisa sukses dengan kerja kerasnya. Segala yang diraih adalah hasil kerja kerasnya, itulah pegangan hidupnya.
"Namun sekarang dia tak hanya seorang diri. Ada dirimu dan calon anak kalian. Egoisnya harus disingkirkan, apa dia ingin kalian hidup dalam kesusahan?" ujar Pak Aryan dengan kalimat penuturan yang benar.
"Aku bisa berhemat. Selama selalu bersama, percayalah jika kami akan tetap berbahagia meskipun harta kami tak berlebihan. Bapak tidak perlu khawatir," yakinku dengan mengulas senyum kecil.
"Aku yakin Dion akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu. Kalian harus selalu bersatu hati dalam suka dan duka," nasihat Pak Aryan dengan penuh ketulusan.
Orang lain saja bisa melihat bagaimana Dion begitu mencintaiku. Apalagi aku yang merasakan? Setiap detik selalu dimanjakan dengan perhatian, manisnya kata dan hangat perlakuan. Jadi wajarlah jika aku sangat yakin untuk terus mendukungnya, apapun itu keputusannya.
"Lalu, kenapa dia pergi terburu-buru?" tanya Pak Aryan yang kembali mengingatkanku tentang kegelisahan yang sempat terlupakan.
Pikiranku kembali bergerilya mencari ingatan tentang kejadian sebelum dia segera pergi meninggalkan aku sendiri. "Dia menyebut nama partnernya mendirikan perusahaan dengan kaget. Setelah itu mengumpat dan pergi," jelasku sambil terus mengingat agar tak ada kejadian yang terlewat.
"Sepertinya Dion dikhianati partnernya," celetuk Pak Aryan sangat yakin dengan analisanya.
__ADS_1
Pengkhianatan?