Tentang Hati

Tentang Hati
Berbagai Rasa yang Tercipta


__ADS_3

Deg!


Sebuah foto seorang lelaki tampan dengan kemeja putih yang terlepas semua kancingnya tengah menatapku dengan senyum smirknya. Nampak lekuk-lekuk tegas yang membuatnya begitu menggoda. Sebuah caption tertulis di sana. "Kamu lihat, aku sudah sehat! kapan kamu siap bertemu denganku?"


Ya ... Tuhan ... ini pahala ataukah dosa?


Aarrgghh!


Otak cerdasku ini rasanya langsung bertransformasi menjadi otak udang yang selalu dikambing hitamkan atas kebodohan seseorang. Visualisasi indahmu itu berhasil menempatkanku sebagai perempuan yang tak sanggup menghindari pesonamu. Mau bagaimanapun aku menolaknya, toh aku perempuan normal. Mataku terlalu naif untuk tak mengakui jika kamu begitu mempesona. Kenapa aku jadi pemuja keindahan fisik semata?


"Mas Rud," aku menyebut namamu lirih.


Serentetan adegan demi adegan bahagiaku denganmu kembali berputar di layar ingatanku. Deja vu tatapanmu yang lembut, caramu menggodaku, pelukan hangatmu, ah ... semuanya masih terasa begitu nyata. Waktu singkat dengan cinta pertama yang sulit ku lupa, meskipun keindahan itu berakhir luka.


Luka ....


Luka menganga yang berhasil diobati oleh Dion. Kekasihku yang begitu kekeh dengan cinta yang selalu diperjuangkannya. Cinta yang selalu membuatku dihargai sebagai ratu, permaisuri di kerajaan cintanya. Namun kenapa permaisuri ini sekarang sedang ragu dengan tahtanya?


Ya Tuhan, mengapa ini terasa berat sekali? Bukankah secara logika aku harus mempertahankan seseorang yang sudah memperjuangkanku, Dion. Itu logika! Namun, bukankah cinta tidak mengenal kata logika. Cinta berotasi dalam orbitnya sendiri yang tidak bisa dipengaruhi atau mempengaruhi rasa yang lainnya terlebih yang bernama logika.


Waktu berlalu detik demi detik dan sampailah melewati tengah malam. Mataku belum juga terpejam meski sudah berusaha ku pejamkan. HP yang membuat hatiku membuncah pun sudah ku matikan. Namun, pikiran-pikiran tentang lelaki-lelaki itu terus bermain diingatanku.


Berusaha merilekskan pikiranku dengan mengingat segala kejadian manis yang telah berlalu. Tak ku batasi dengan Dion, bahkan Mas Rud dan Pak Aryan pun ku hadirkan. Biarlah aku menjadi perempuan pemuja kebahagiaan asal mata ini bisa segera ku pejamkan. Dan akhirnya trik ini begitu manjur. Aku bisa terlelap meski sudah di penghujung dini hari.


*****


Hari ini masih hari Kamis, ingin izin tapi ku urungkan. Masih ku ingat bagaimana daftar absenku banyak lubangnya. Sesungguhnya mataku masih benar-benar mengantuk hanya saja tetap ku paksakan untuk berangkat ke kantor seperti biasanya.


"Mbak Rosa, itu matanya kenapa?" tanya Pak Joko, security kantor yang sebenarnya udah gak "joko" lagi.


Aku berlalu darinya. "ngantuk, Pak."


Mataku memang masih begitu mengantuk. Berulang kali menguap selama di perjalanan tadi, untungnya aku memilih taksi online untuk mengantarkanku. Begitu memasuki lift, langsung ku senderkan tubuhku pada dinding. Tiba-tiba kesadaranku menghilang beberapa detik terbawa dalam tidur singkat. Alhasil tubuhku sempat terhuyung hendak terjatuh. Sebelum tragedi itu terjadi, sebuah tangan kekar sigap menahan tubuhku. Seketika mataku terbuka lebih lebar dan dapat ku kenali siapa pemilik tangan itu.


"Pak Aryan," ucapku seraya berusaha menegakkan tubuhku kembali.


"Ini kantor bukan rumah, kalau mau tidur, pulang aja, gih!" seloroh Pak Aryan.


Ku bisukan mulutku dan pandanganku pun ku tundukkan. Setelah lift terbuka, langsung ku pacu cepat langkahku menuju toilet. Ku basuh muka bantalku tapi tetap saja rasa kantukku tak jua enyah.


"Kenapa berat banget nih mata?" gumamku lirih.


Ku lepaskan satu napas kasar. Ternyata jatah tidur itu gak bisa diganggu gugat, apalagi jatah hati. Pantas saja Dion begitu marah. Aku sudah tega merampas jatah hatiku untuknya.


Sayang ....


Mengapa kamu tak juga meneleponku?


Huh!

__ADS_1


Kembali ku hempaskan napas kasar. Ku pandang lagi wajahku di pantulan cermin toilet. Mata panda menghias wajah lusuhku. Sedikit ku poles kembali wajahku untuk menyamarkan bias-bias lesu yang tak sanggup ku sembunyikan. Setelah ku rasa jauh lebih baik segera ku langkahkan kakiku keluar.


*****


"Kenapa 'tuh mata?" tanya Maya yang baru datang.


"Emang keliatan banget, ya?" aku balik bertanya sambil bercermin di layar Hp.


Maya mendekatkan jaraknya padaku lalu mundur dua langkah dan kembali ke posisinya semula. " Kayak abis ditonjok selingkuhan mantan."


Aku masih bercermin. "Beneran? Sepet banget mataku, pengen rebahan."


"Ya udah, rebahan aja, gitu aja kok repot," celetuk Maya seraya menuju mejanya.


Enteng banget nyuruh rebahan. Emang kantor ini punya nenek moyangku? Cuma karyawan rendahan aja banyak tingkah. Nanti kalau di pecat gimana? Dikit-dikit cuti, apalagi latarbelakang cutinya karena hati. Fix, bakal dipecat secara tidak hormat.


"Lagi berantem sama Mas Dion, ya? Sampai gak bisa tidur, 'gitu?" selidik Maya.


"Hmmm," gumamku.


Sebenarnya aku tak suka mengumbar masalahku walaupun itu dengan Maya atau Mas Rendra sekalipun. Namun aku sadar jika aku bohong mereka pasti juga akan tahu. Wajahku ini memang tak bisa diajak berakting, terlalu jujur. Sehingga sandiwara apapun yang sedang ku lakoni akan mudah dibaca.


Maya melongok ke mejaku. "Ada masalah apa?"


"Jealous, dia," jawabku seperlunya.


Maya makin penasaran. "Sama siapa? Pak Aryan? Mas Rud?"


"Nadeo lagi ... Nadeo lagi! Bosen aku dengernya. 'Kan udah aku bilang, Mas Dion itu lebih baik dari Nadeomu itu. Nadeomu itu cuma ada diangan-anganmu, sementara Mas Dion itu nyata. Bisa kamu peluk, bisa kamu marahin, bisa kamu omel-omelin, bisa masakin, bisa buat manja-manjaan, bisa suruh bayar belanjaan ....," omel Maya seraya duduk kembali ke kursinya.


Memang benar semua yang Maya katakan. Namun tetap saja berbeda. Mengidolakan Nadeo itu bagian dari kecintaan seorang fans terhadap idolanya. Suka ... sekedar suka, gak lebih dari itu. Apalagi berharap ada hubungan yang berubah status.


Sementara Dion, dia tetap kekasihku. Orang yang akan selalu aku repotkan dengan segala tingkahku yang menyebalkan. Jadi, bukankah terlalu berlebihan jika Dion dan Maya juga memarahiku karena itu.


Pertengkaran kecil dengan Maya ini sebenarnya bisa mengurangi sepertiga dari rasa kantuk yang menyerangku. Namun sayangnya, menambah setengah dari keresahan hatiku. Otak, mata, dan hatiku sudah tak bisa disinkronkan untuk kembali bekerja. Ku ambil keputusan untuk sejenak menghirup udara segar. Berharap akan bisa melepaskan segala gundah dan resah yang membelengguku.


*****


Rooftop ....


Tempat yang dikenalkan Pak Aryan kemarin, menjadi pilihanku untuk menetralkan kembali asam basa kegalauanku. Bayang-bayang hijaunya dedaunan yang basah oleh titik-titik air membuatku tak ragu untuk melangkah menghampirinya.


Begitu nyaman berada di sini, di tengah hamparan tanaman yang menghijau dan sepoi angin yang menyapa. Ku biarkan diriku bersantai di bangku ceper yang telah menarik perhatianku sejak pertama menginjakkan kaki di tempat ini.


Ku hirup udara segar dengan perlahan. Merasakan kesegaran yang satu per satu memasuki tiap pori-pori kulitku. Menembus aliran darah, bergerak mengikutinya dan menyebarkan kedamaian dalam sel-sel yang sempat memanas karena banyaknya luapan kemarahan atas nama cinta.


Tubuhku terasa lebih rileks dan pikiranku pun lebih terkondisikan. Hingga tak ku sadari, aku sudah memasrahkan tubuhku untuk rebahan di bangku lesehanku. Alam mimpi pun menjemputku untuk mengajak bermain manja di sana.


*****

__ADS_1


Pak Aryan PoV


Rutinitas pagiku yang monoton, tiba-tiba berubah. Saat baru saja memasuki lift untuk menuju ke ruanganku, gadis yang mampu memikatku itu, rupanya juga sedang berada di sana. Ia bersender di dinding dengan mata yang terpejam.


"Mengapa matamu terpejam? Apakah kamu tak ingin melihatku?" gumamku sambil terus memperhatikanmu.


Lift yang hanya memuat dua penghuni, aku dan kamu, membuatku leluasa untuk menikam wajahmu dengan manik mataku.


Ku dekati tubuhmu. "Apakah berdosa jika melihatku?"


Itu wujud sindiranku padamu yang belum juga membuka mata. Tiba-tiba aku kaget saat tubuhmu terhuyung. Langsung ku tahan agar kamu tak terjatuh.


Deg!


Jantungku memacu lebih cepat. Posisi ini membuatku leluasa menikmati wajah cantikmu. Matamu yang membuka kemudian membuat pandanganku menancap pada pandanganmu. Lagi-lagi jantungku terpacu untuk berdetak lebih kuat. Meski hanya sekejap karena kamu buru-buru menegakkan kembali tubuhmu tapi rasa ini berhasil membuatku tak bisa melupakannya. Gadis cantikku yang gak ada jaim-jaimnya ini, semakin membuatku jatuh cinta.


"Pak Aryan," ucapmu kaget setelah melihatku menopang tubuhmu yang hendak terjatuh itu, ku dengar seperti panggilan sayang yang begitu merdu.


"Ini kantor bukan rumah, kalau mau tidur, pulang aja, gih!" selorohku untuk menutupi debaran jantungku yang menggila.


Beruntung kamu lekas melangkah pergi setelah lift terbuka. Kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana meredam rasaku ini. Meski sebenarnya aku ingin waktu berhenti detik ini, menikmati indahmu dan merengkuhmu dalam pelukanku.


Aryan, kendalikan perasaanmu! Kamu sudah terlambat datang ke hatinya. Cintai dia tapi jangan rebut kebahagiaannya.


Entah kenapa, susah sekali menguasai hatiku setelah kejadian tadi. Bayangan wajahmu masih begitu jelas tergambar di ingatanku. Bahkan, layar laptop yang seharusnya menampilkan detail pekerjaanku, malah dipenuhi oleh senyum manismu.


Ku tinggalkan mejaku, aku sudah tak tahan karena kegilaan ini. Wajahmu memenuhi semua ruang pikirku.


Rooftop ....


Tentu saja adalah tempat yang ku pilih untuk mewaraskan kembali jiwaku. Namun, tak ku sangka, aku justru melihatmu sedang rebahan di bangku itu.


Kamu tertidur?


"Hmmm ... bisa-bisanya kamu memilih tidur di sini? Bagaimana jika orang lain menemukanmu?" gumamku.


Wajah ini, mengapa begitu menggemaskan? Ingin rasanya ku membelai pipimu, mengecup lembut keningmu dan mengucapkan kata-kata mesra untukmu.


Aarrgghh!


"Mengapa aku harus terlambat menemukanmu?" ucapku sambil menarik lagi tanganku yang hendak menyentuh pipimu.


*****


Hai pembaca setia "Tentang Hati" Selamat Hari Raya Idhul Fitri" Sugeng Riyadin.


Mohon maaf lahir batin, ya.


Maafkan jika cerita ini membuat emosimu naik turun, timbul tenggelam, sesungguhnya memang begitu tujuan author, heee

__ADS_1


Jangan lupa fav, rate5, like, komen n vote jika berkenan.


Salam sayang dari keluarga Tentang Hati.


__ADS_2