
Dalam ruangan dingin ini, kami sedang berbicara bertiga. Antara aku, Dion dan Pak Aryan mengulik cerita tentang kejadian yang membalikkan keadaan kami dalam semalam. Kebakaran yang berbau kesengajaan itu memang sedang dalam penyelidikan pihak kepolisian.
"Segala tuntutan yang berkaitan dengan uang, apakah sudah selesai?" tanya Pak Aryan memastikan.
"Sudah, setelah aku mengikhlaskan mobilku beralih kepemilikan," jujur Dion sambil mencoba tersenyum meskipun tetap bisa kami rasakan sรจbuah kegetiran di baliknya.
"Kalian bisa memakai mobilku," tawar Pak Aryan menawarkan kebaikan hati.
"Terimakasih, istriku tidak masalah kami hanya memiliki motor butut," ujar Dion yang kuaminkan dengan senyuman.
"Baiklah," timpal Pak Aryan setelah kukode untuk tidak ngeyel kali ini.
Ya ... Dion bukan tipe yang suka memakai barang pinjaman. Ia bangga dengan apa yang ia punya. Tak peduli dengan gengsi.
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan setelah ini?" selidik Pak Aryan mencari tahu langkah apa yang akan Dion ambil selanjutnya.
Pertanyaan sensitif yang aku hindari, lolos begitu saja dari mulut lelaki dengan kepribadian tenang itu. Aku melirik Dion, berharap semoga tak ada perubahan air muka di sana. Ketakutanku, dia menjadi kembali terbebani. Baru terlepas dari beban utang dan kini di hadapkan pada kenyataan bahwa ia adalah seorang pengangguran yang harus segera mencari pekerjaan.
"Aku bisa bekerja apa saja. Sebagai free lancer misalnya," jawab Dion dengan ketenangan yang tak kalah dari Pak Aryan.
Anggukan kepala menyambut jawaban itu bukan hanya milik Pak Aryan tapi juga milikku. Sepertinya aku tak perlu cemas berlebihan padanya. Ia adalah lelaki pantang menyerah dalam mengahadapi segala masalah.
Kupeluk suamiku tanpa malu. "Aku bangga padamu, Sayang."
"Aku akan melakukan apa pun demi membuatmu bahagia. Itu adalah janjiku," ucap Dion sambil mencium keningku.
Telepon Dion tiba-tiba berdering saat itu, memecah keharuan menjadi penasaran. Sempat berpikir sejenak sebelum mengangkatnya, dia seperti diterpa sebuah kekhawatiran. Aku dan Pak Aryan hanya saling pandang. Bertanya-tanya akan ada apa lagi, mungkinkah akan datang kabar buruk?
__ADS_1
Dion mengusap wajahnya kasar begitu telepon itu mati. Mata dia tundukkan dan benda itu pun ia biarkan jatuh sembarang di sofa. Kudekati dan mengusap punggungnya pelan. Dari apa yang kulihat, bisa kusimpulkan bahwa datang lagi masalah pelik. Dion masih belum berbicara. Aku dan Pak Aryan kembali saling memandang. Bingung mau bertanya dulu ataukah menunggu dia bercerita.
"Ada apa?" tanya itu akhirnya keluar juga dari mulut Pak Aryan.
Sedetik, lima detik dan sepuluh detik berlalu tanpa ada jawaban.
"Mas," panggilku karena merasa khawatir dengan keadaannya.
Dion mengubah posisinya. Ia senderkan punggung dan kepala kemudian memejamkan mata. Seakan sedang menguasai gejolak pikiran yang sedang bermain di otaknya. Sebentar kemudian ia sapukan pandangan pada kami berdua. Menghela napas dalam dan melepaskannya dengan panjang.
"Bukan 1 Milyar tapi 2 Milyar."
Pak Aryan mengerutkan kening. "Kok bisa?"
"Awalnya 2 Milyar dibagi dua, aku dan Aulia. Tak tahunya, si brengs*k itu biang kerok dari ini semua. Alhasil aku semua yang menanggung."
Aarrgghh!
Segera kuambilkan segelas air putih dan memberikannya pada Dion. "Minum dulu, Mas! Kamu harus tenang," hiburku sambil kembali mengusap punggungnya.
"Sayang, kita relakan apartemen kita bagaimana?" pinta Dion tiba-tiba setelah terdiam lama.
"Menjual apartemen butuh waktu, Mas. Bagaimana kalau kita minta bantuan Mama atau Mami? Nanti kita kembalikan kalau apartemen kita sudah terjual," usulku yang langsung ditolak oleh Dion.
"Tidak! Aku tidak mau menutup utang dengan utang, Yang."
Keras kepala pada saat yang tidak tepat. Rasanya aku mulai terpancing emosi. Diberi solusi malah memilih pusing sendiri. Kemarin boleh mengandalkan diri sendiri tapi saat waktu semakin menghimpit bukankah tidak ada salahnya untuk mengandalkan kerabat atau bahkan sahabat.
__ADS_1
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?" selidik Pak Aryan dengan tenang.
"Sayang, apartemen kita jual, ya?"
"Mas, aku tidak masalah kamu menjual apartemen. Namun, siapa yang akan membeli secepat ini?" tanyaku balik berusaha sekuat hati meredam emosi.
"Tidak ada yang tau kalau belum dicoba," ucap Dion penuh keyakinan.
Suamiku begitu yakin, optimis. Seharusnya aku mendukung. Namun entah kenapa aku justru pesimis. Pikiranku sudah dipenuhi oleh ketidakyakinan. Padahal Dion sudah membuktikan bisa mendapatkan uang tanpa perlu berhutang, meskipun harus menjual kendaraan.
Dion mulai sibuk dengan laptop dan smartphone-nya.
Aku hanya bisa memerhatikan tanpa banyak bicara. Mau membantu menawarkan juga tidak punya teman anak sultan yang bisa membeli dalam waktu semalam. Tiba-tiba aku mengingat sebuah nama. Terlintas pikiran untuk menawarkan padanya.
๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ๐งโโ๏ธ
Pak Aryan PoV
Duduk bertiga bersama sepasang suami istri yang sedang ditimpa masalah, membuatku banyak belajar. Aku bisa tenang dalam segala suasana karena memang aku tidak pernah dihadapkan situasi seperti mereka. Masalah keuangan adalah faktor paling rawan yang akan membuat keluarga hancur berantakan. Namun itu tidak berlaku untuk Dion dan Rosa.
Usia muda bukan jaminan pikiran kekanakan dan ketidakdewasaan. Itu kulihat sendiri dari sosok di hadapanku, Dion Wijaya. Dalam usianya yang masih menginjak seperempat abad, kemandirian dan pola pikirnya sangat luar biasa. Saat orang-orang berlomba menjadi budak utang, dia sangat anti dengan sistem riba satu ini.
Suami yang sangat bertanggung jawab. Membuatku tidak menyesal, wanita yang kucinta jatuh pada lelaki yang tepat. Dia dijadikan ratu tanpa selir di kerajaan cintanya. Raja yang sempurna.
Istri setia itu, kalau boleh aku meminta pasti aku ingin memilikinya. Namun saat aku datang terlambat, maka yang bisa kulakukan bukan merebut tapi menjaga dalam ring dua. Membiarkan dia bahagia dalam takdirnya sementara aku bahagia dengan takdirku tanpanya. Melihat senyumnya aku ikut tersenyum. Melihatnya rapuh aku tak bisa menyentuh hanya berusaha membantu mengayuh dari jauh. Mengulurkan tangan tanpa terlalu kentara jika aku memberikan pertolongan.
Kuperhatikan lelaki yang gigih menebar pancingan dengan umpan tempat tinggal itu. Harga dirinya begitu tinggi. Tak kan kujatuhkan dengan bantuan cuma-cuma. Akan kulihat sejauh mana ia berusaha.
__ADS_1
Wanitanya itu pun tak luput dari pandanganku. Cinta yang begitu nyata, terpancar dari mata dan sentuhan tangannya. Memberikan dukungan tanpa perlu banyak memutar kata. Dia memahami jika sang suami tak membutuhkan penjelasan tapi keberadaan dia di sisinya. Itulah romantisnya mereka.
Ya Allah ternyata kebahagianku adalah saat melihat pasangan ini bahagia. Jagalah selalu cinta mereka meski suka dan duka datang bertubi dan silih berganti. Semoga masalah bukan menjadi penunjuk arah untuk berpisah tapi justru semakin mengikat erat.