
Tak ada manusia yang selalu benar dalam hidupnya. Salah adalah hal lumrah. Maaf adalah kunci agar kesalahan bisa lepas dari kata benci. Menghapuskan dendam dan menjalin kembali persaudaraan dengan hati yang suci. Mengucapkan kata maaf, tak perlu menunggu hari tertentu. Semakin cepat maka akan semakin tepat. Setiap detik adalah waktu terbaik.
"Ma, maafkan Rosa. Selama ini, Rosa sering menyakiti hati Mama. Membantah dengan kata "ah" ketika Mama memerintah."
Dengan penuh kasih, Mama membelai rambutku yang sedang merebahkan diri di pangkuannya. "Maafmu datang terlambat."
"Kok, Mama gitu? Gak boleh dendam loh, Ma," ujarku sambil memamerkan cengiran senyum.
"Siapa yang dendam? Yang ada, Mama udah maafin sebelum kamu minta maaf."
"Tuh, dengerin! kasih Mama itu sepanjang masa," celetuk Pak Aryan yang ikut ngumpul di apartemen setelah tahu Mama datang berkunjung.
"Bukannya kasih Ibu yang sepanjang masa itu?" timpal Kristy yang sedang asyik lesehan di samping Pak Aryan sambil ngemil kacang kulit goreng.
"Kalau kasih ibu itu, lagu!" celetuk Dion yang baru saja datang dari membeli cemilan tambahan, padahal Mama sudah membawa banyak makanan.
Pak Aryan dan Kristy tiba-tiba berdiri dan menyanyikan lagu Kasih Ibu karya SM Mochtar dengan gaya yang meyakinkan. Sok-sokan memilih pecah suara, dan menggunakan teknik falseto. Gokil. Apalagi, diakhir lagu Kristy langsung memeluk Mama dengan histeris. Sementara si Abang hanya tersenyum dari posisinya.
"Mama, Kristy juga banyak salah. Karena yakin udah Mama maafin, jadi Kristy minta uang jajan ditambahin aja. Ya, Ma?" ujar Kristy yang bukannya bikin terharu tetapi malah membuat semua orang gemas ingin menyentilnya.
"Enak bener nih anak satu, uang jajan aja dipikirannya," timpalku masih asyik bermanja di pangkuan Mama.
"Enaklah, anak bungsu."
Sementara aku dan Kristy sibuk berdebat, Pak Aryan dan Dion sibuk di dapur. Entah apa yang mereka lakukan, tapi sepertinya tidak jauh dari masakan. Keluarga ini memang beda. Kalau biasanya anak perempuan yang selalu berkutat di dunia perdapuran, maka di sini para anak lelakilah yang melakukan.
"Bantu Masmu, sana! perintah Mama menanggapi kebawelan Kristy.
__ADS_1
Bukannya menuruti, malah bergelayut manja di bahu Mama. Melingkarkan lengan, memeluk. "Mama, Mas dan Abang gak perlu dibantu. Mereka adalah chef-chef andal."
"Private chef," celetukku, mengingat obrolanku dan Dion beberapa waktu lalu.
"Enak banget jadi Mbak Rosa. Aku mau deh nanti punya suami yang pinter masak," seloroh Kristy santai.
"Jodohin sama si Saipul, Ma! Dia kan juragan Bakmi Jogja. Pinter masak tuh, pasti."
Tawaku menggelegar. Mengingat siapa itu si Saipul aku tertawa geli. Lelaki dengan kegantengan selevel dengan Bang Ismed itu selalu tebar pesona dengan para pelanggannya. Poni lempar yang jadi ciri khasnya itu ia jadikan alat untuk menggaet cinta. (Visual yang muncul di benak kalian, siapa? Kalau Depe sih bayangin Babang Tamvan, mantan vokalis Kenjen Ben)
"Saipul, siapa?" Dion kepo ketika mendengar nama lelaki lain kusebut dengan mulutku.
"Pengagum rahasianya Mbak Rosa, Mas."
Celetukan Kristy itu, berhasil membuat Dion mengernyitkan dahi. Dia langsung melihatku, mencari jawab atas pernyataan yang baru saja ia dengar. Akibatnya, aku bergegas bangun dan mendekati suamiku yang sedang digelitik cemburu itu.
"Pengagum rahasiamu?" tanya Dion belum juga puas dengan penjelasanku.
"Tanggung jawab, tuh! Jelasin sama Mas Dion!" perintahku pada Kristy yang terus saja tertawa karena berhasil membuat Dion dilema.
"Iya, Mas. Saipul itu pengagum Mbak Rosa." Kristy semakin menjadi. Bukannya menjernihkan malah memperkeruh keadaan.
Dua bersaudara itu terus saja saling berbicara. Semakin Dion kelabakan maka Kristy juga semakin semangat mengerjai. Kupilih untuk meninggalkan mereka. Berjalan ke dapur, melihat apa yang sedang dilakukan Pak Aryan.
"Bang, sibuk amat? Bikin apa, sih?" tanyaku sambil mencomot pisang goreng yang baru saja ditiriskan. Tau baru keluar dari penggorengan tapi aku tak sabar mencobanya karena penampilan yang sangat menggiurkan. Warnanya yang kuning keemasan dan nampak crunchy itu membuat seleraku tergugah seketika saat melihatnya.
"Pelan-pelan makannya, masih panas."
__ADS_1
Berbarengan dengan kedatanganku, rupanya Pak Aryan juga menyelesaikan gorengan terakhirnya. Alhasil dia menemaniku duduk di meja makan. Melihatku secara seksama dan selalu saja mengulaskan senyum seperti biasa.
"Kenapa ke sini? Nanti dicariin suamimu."
"Dia lagi ngobrol sama Kristy."
Pak Aryan mengalihkan pandangan ke arah ruangan tempat mereka berada. Meskipun sedikit terhalang pembatas ruangan, tetapi masih cukup terlihat bagaimana kedua saudara itu saling memutar kata. Bahkan sesekali Mama terlihat menimpali dan tertawa bersama.
"Bang, aku mau minta maaf." ucapku sambil menggigit pisang gorengku.
"Aku tidak menerima maafmu."
Pisang goreng itu kutelan lebih cepat. Segera mengambil air putih dan meneguknya untuk menghilangkan dahaga. "Aku serius, Bang. Sebentar lagi, aku berangkat umrah. Di sana aku ingin semua ibadahku dimudahkan. Oleh karena itu aku ingin meminta maaf. Karena aku sadar jika kesalahan yang kusengaja sangat banyak. Apalagi yang tidak aku sengaja, pasti lebih banyak lagi. Jadi, maukah Abang memaafkanku?"
Pak Aryan memutar tubuhnya hingga menghadapku. Mengulur tangan untuk mengacak puncak kepalaku. "Tak ada yang perlu kumaafkan karena aku merasa kamu tak pernah punya salah."
"Abang jangan kayak gitu. Salahku itu banyak banget, Bang."
Tetap kutatapkan pandangan lurus ke meja makan. Mengabaikan Pak Aryan yang berada di sisi kiri. Kuhela napas panjang sesaat setelah kepala kutundukkan. Beberapa waktu aku bertahan dengan posisi seperti itu. Perlahan kuputar badan untuk berhadapan dengan si Abang. Mengangkat kepala dan menatap erat manik matanya.
"Beri aku, maaf!"
Pak Aryan melihatku dengan mata sedikit dibulatkan. Kembali mengulas senyuman dan mengacak puncak kepalaku untuk kali kedua. "Maafku selalu ada sebelum kau minta, bahkan sebelum kamu melakukan kesalahan."
Maaf yang kuharapkan itu akhirnya ia katakan. Lega, itulah rasa yang mengukir di hatiku. Bagaimanapun, sebelum aku berangkat maka aku akan mengharap maaf dari semua orang yang kukenal. Hanya satu orang yang belum bisa kutemui dan kudengar kata memaafkan dari bibirnya. Dia yang entah di mana. Ya ... itu adalah maaf dari Tya. Gadis itu tiba-tiba resign setelah mengambil cuti satu minggu. Aku kehilangan kontaknya. Pak Aryan pun tak mengetahui. Namun aku berdoa semoga dia bisa memaafkanku suatu hari nanti, jika memang sekarang maafnya belum ikhlas ia ucapkan.
Sebenarnya masih ada satu lagi. Maaf untuk seseorang yang pernah aku sakiti. Ah, mungkin dia yang menyakitiku, tetapi aku juga ingin meminta maaf. Mungkin saja sakit itu ada karena aku menyakitinya tanpa sengaja.
__ADS_1